Kejutan kembali terjadi di Piala Dunia 2026. RD Kongo yang tidak diunggulkan menahan imbang 1-1 Portugal. RD Kongo mampu bermain sangat efektif sepanjang laga.
18 Jun 2026 06:07 WIB · Olahraga
AP Photo/Ashley Landis
HOUSTON, KAMIS — Magis Cristiano Ronaldo bersama Portugal ditahan Republik Demokratik Kongo. Di hadapan 68.777 penonton di Stadion Houston, Texas, Amerika Serikat, Kamis (18/6/2026) dini hari WIB, kedua tim bermain imbang, 1-1.
Laga pembuka Grup K ini menjadi alarm keras bagi Ronaldo cs yang datang dengan ambisi besar. Sebaliknya, hal ini menjadi sinyal positif bagi skuad ”Leopard” yang baru saja kembali ke Piala Dunia setelah absen selama 52 tahun.
Laga kali ini menyajikan benturan filosofi yang kontras. Portugal yang mengusung formasi 4-2-3-1 coba mengentak sejak peluit pertama dibunyikan.
Inisiatif bermain ofensif itu langsung membuahkan hasil pada menit ke-6 saat gelandang muda Joao Neves berhasil menyambut umpan lambung Pedro Neto. Sundulan jarak dekat Neves bersarang telak ke sudut kanan gawang RD Kongo.
Portugal tampaknya akan berpesta gol setelah unggul 1-0 secara cepat. Namun, alih-alih mendominasi permainan, Portugal justru terjebak dalam ritme lambat yang membosankan.
Penguasaan bola masif Portugal sangat tidak efektif. Terbukti, mereka hanya menciptakan dua peluang sepanjang babak pertama.
Di sisi lain, RD Kongo bermain pragmatis dengan formasi 5-3-2 yang sangat fleksibel dalam transisi. Mereka pun tidak panik setelah tertinggal. Mereka tetap bertahan dengan disiplin sembari menunggu kesempatan mencuri bola dari lawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/ed18068ccf99f22b06a29a78d6a6a2f5-Congo_Portugal_WCup_Soccer.jpeg)
Dengan kekuatan fisiknya, pemain RD Kongo berulang kali memenangi duel perebutan bola. Setelah mendapatkan bola, mereka melancarkan serangan balik cepat dari sisi sayap yang dikomandoi Aaron Wan-Bissaka dan Arthur Masuaku. Efektivitas RD Kongo terlihat nyata dengan torehan enam peluang di babak pertama.
Upaya tanpa kenal lelah RD Kongo akhirnya membuahkan hasil di pengujung babak pertama. Berawal dari skema sepak pojok pendek pada menit ke-45+5, Masuaku mengirim umpan lambung tajam ke jantung pertahanan Portugal.
Penyerang Yoane Wissa lantas melompat melampaui para pemain Portugal untuk menyundul bola ke pojok kiri gawang lawan. Skor 1-1 menutup paruh pertama.
Salah satu sorotan tajam dalam laga ini tertuju pada performa megabintang sekaligus kapten Portugal, Cristiano Ronaldo.
Bermain sebagai penyerang tunggal, Ronaldo tampak terisolasi dan kehilangan magisnya. Tidak ada pujian di akhir laga seperti yang didapat pesaingnya, Lionel Messi, pencetak tiga gol di laga perdana.
Sepanjang babak pertama, dia hampir tidak menyentuh bola. Pemain berusia 41 tahun itu tidak mampu mengimbangi kecepatan rekan-rekannya serta selalu kalah beradu fisik dengan pemain-pemain RD Kongo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/ba29088d6d6c49c9fb3c94767bb7022c-Portugal_v_Congo_DR__Group_K_FIFA_World_Cup_2026.jpeg)
Memasuki babak kedua, Pelatih Portugal Roberto Martinez coba memecah kebuntuan dengan memasukkan Francisco Conceicao menggantikan Bernardo Silva. Kelincahan Conceicao perlahan membuat alur serangan Portugal lebih bervariasi.
Pemain sayap berusia 23 tahun itu berulang kali mampu menembus pertahanan lawan dan memberikan umpan-umpan kunci.
Pada menit ke-55, bek sayap Joao Cancelo sempat menggetarkan jala RD Kongo lewat tendangan salto spektakulernya seusai menerima umpan matang dari Conceicao. Sayangnya, gol itu langsung dianulir wasit karena Cancelo berada di posisi offside.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/60422d398ecf1235b52793ecb9e9a2ca-APTOPIX_Congo_Portugal_WCup_Soccer.jpeg)
Berkat umpan-umpan tarik Conceicao pula, Ronaldo akhirnya bisa menciptakan peluang pada menit ke-69 dan menit ke-74.
Akan tetapi, dua tembakan satu sentuhan Ronaldo masih gagal menemui sasaran, satu melebar di sisi kanan gawang dan satu lagi dapat diblok barisan pertahanan RD Kongo.
Hingga akhir laga, kontribusi nyata Ronaldo sangat minim. Kehadirannya di lapangan pun patut dipertanyakan.
Mempertahankan Ronaldo yang telah berumur 41 tahun seolah menjadi tembok yang membendung potensi deretan pemain muda di bangku cadangan Portugal. Padahal, pemain muda memiliki kecepatan dan kesegaran fisik untuk membongkar pertahanan rapat lawan.
Sebagaimana data statistik resmi FIFA, Portugal menutup laga dengan keunggulan penguasaan bola hingga 60 persen berbanding 32 persen. Meski demikian, RD Kongo justru unggul dalam melahirkan peluang dengan delapan berbanding tujuh.
Data itu menegaskan penguasaan bola Portugal hanya dominasi semu. Hasil imbang itu pun menjadi tamparan keras sekaligus modal buruk untuk Portugal yang diunggulkan menjuarai Grup K.
Mereka dituntut melakukan evaluasi taktis, termasuk keberanian meregenerasi lini depan jika tidak ingin pulang lebih awal dari Piala Dunia kali ini.
Martinez dilansir seusai laga mengakui timnya sedikit kehilangan kedalaman serangan, kelancaran dalam penguasaan bola, dan membiarkan lawan mendapatkan bentuk permainan mereka. Situasi semakin sulit saat lawan mendapatkan kepercayaan diri sehabis menyamakan kedudukan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/3f5ddbd2d0dd2af4bf4e4c94ed338d1d-Congo_Portugal_WCup_Soccer_1_.jpeg)
Martinez pun mengisyaratkan akan merombak skuad pada laga berikutnya. ”Saya sangat puas dengan sikap tim. Itu bukan masalah kurangnya komitmen atau semangat. Tim sudah berusaha sampai akhir. Namun, kami dapat belajar banyak dari pertandingan ini,” ujar mantan pelatih Belgia tersebut.
Sebaliknya, RD Kongo mampu menerapkan gaya sepak bola modern yang menuntut efektivitas. Hasil satu poin itu pun layaknya kemenangan. Datang dengan status tidak diunggulkan, RD Kongo membuktikan siap menuliskan sejarah baru sejak debut sekaligus penampilan terakhir mereka yang hanya tertahan di putaran grup Piala Dunia 1974.
Pelatih RD Kongo Sebastien Desabre bangga terhadap perjuangan para pemain. Mereka menunjukkan komitmen luar biasa memberikan yang terbaik, terutama kedisiplinan menjalankan skema permainan yang telah direncanakan.
”Saya sangat bangga dengan para pemain saya karena mereka mewakili RD Kongo dengan cara yang sangat positif. Hasil ini kami persembahkan untuk seluruh masyarakat RD Kongo,” ujar pelatih asal Perancis tersebut. (REUTERS/AP)
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar