Perusahaan asal China Zhejian Huayou menggantikan konsorsium LG dari Korea Selatan yang cabut dari proyek baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat.
24 Apr 2025 14:47 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Zhejiang Huayou Cobalt Co Ltd akan menggantikan LG Energy Solution yang hengkang dari investasi baterai kendaraan listrik di Indonesia. Pemerintah mengklaim dinamika yang biasa terjadi ini tidak akan mengganggu target program pengembangan mobil listrik di Indonesia.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (24/4/2025), menyatakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan mundurnya LG Energy Solution dari investasi proyek kendaraan listrik (EV) di Indonesia. Alasannya, posisi tersebut akan digantikan oleh mitra investasi baru dari perusahaan China, yakni Huayou.
Perusahaan yang berkantor pusat di Tongxiang Zhejiang ini bergerak dalam kegiatan penelitian, pengembangan, serta manufaktur material baterai lithium-ion energi dan material kobalt. Komponen tersebut biasanya digunakan untuk elektronik hingga kendaraan listrik.
”Dalam sebuah konsorsium bisnis atau proyek skala besar, pergantian investor merupakan hal yang lazim terjadi. Ini tidak mengganggu dari target program pengembangan EV di Indonesia. Akselerasi pengembangan untuk ekosistem kendaraan listrik di Indonesia tetap berjalan sesuai perencanaan dan targetnya, apalagi sudah ada yang berproduksi,” kata Agus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/14/9d664264-ebba-4663-aed3-2ff7a38603f4_jpg.jpg)
Kabar hengkangnya LG muncul di kantor berita Yonhap, kantor berita Korsel, Jumat (18/4/2025). LG dikabarkan memutuskan menarik proyek senilai sekitar 11 triliun won atau 7,7 miliar dollar AS itu atau setara Rp 129 triliun.
Diresmikan oleh Presiden ke-7 Joko Widodo pada 3 Juli 2024, proyek itu berlokasi di Karawang, Jawa Barat. Pabrik yang telah beroperasi dengan kapasitas produksi tahunan sebesar 10 gigawatt-jam (GWh) ini merupakan kerja sama antara Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution melalui PT HLI Green Power.
Karena memang negosiasi ini sudah terlalu lama, sedangkan kita, kan, ingin semua ini berjalan dengan baik, dengan cepat, karena negosiasinya sudah berlangsung lima tahun.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Rosan Roeslani pada konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (23/4/2025), menyatakan, hengkangnya LG dari investasi baterai kendaraan listrik justru keputusan yang dibuat Pemerintah Indonesia.
Surat resmi tentang pemutusan kerja sama ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 31 Januari 2025. Surat itu selanjutnya diberikan kepada CEO LG Chem dan LG Energy Solusy.
”Kenapa dikeluarkan surat itu? Karena memang negosiasi ini sudah terlalu lama, sedangkan kita, kan, ingin semua ini berjalan dengan baik, dengan cepat, karena negosiasinya sudah berlangsung lima tahun,” ujar Rosan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/06/a9ce9933-d7b5-4f88-bf32-47871e7dc8e4_jpg.jpg)
Pemerintah, masih menurut Rosan, berkomitmen melanjutkan proyek baterai kendaraan listrik dengan menggandeng Huayou, sedangkan LG tetap berkomitmen menanamkan investasi di bidang lain. Pemerintah juga tetap membuka peluang kepada LG untuk dapat berinvestasi di bidang yang sama.
Rosan menuturkan, Huayou bukanlah pemain baru di industri ini. Perusahaan itu sudah ada dalam konsorsium LG sejak 2024 dan memahami seluk-beluk di industri baterai kendaraan listrik.
Huayou bahkan sudah berinvestasi di Weda Bay, Maluku Utara, dan memiliki sumber daya untuk terjun ke industri ini. ”Sebenarnya dalam konsorsium LG itu memang sudah ada Huayou. Jadi, mereka sekarang yang menjadi leading konsorsium, itu saja,” katanya.
Sebenarnya dalam konsorsium LG itu memang sudah ada Huayou. Jadi, mereka sekarang yang menjadi leading konsorsium, itu saja.
Mengutip laman resmi Huayou Indonesia, perusahaan asal China ini telah memiliki sejumlah proyek di Indonesia. Pertama, Indonesia Pomalla Industry Park (IPIP) di Sulawesi Tenggara yang merupakan bagian dari rantai industri baterai litium.
Kedua, proyek Huayue hidrometalurgi high pressure acid leach leaching (HPAL), di Sulawesi Tengah. Ketiga, proyek Huafei HPAL di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Keempat, proyek Huake rotary kiln electric furnace (RKEF), di Pulau Halmahera, Maluku Utara.
Kelima, proyek Kolaka Nickel Indonesia (KNI) HPAL, di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Keenam, proyek Sorowako di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/04/8f889e46-d492-4f9a-919d-c43368691d7d_jpg.jpg)
Saat ini, kembali mengutip siaran pers Kementerian Perindustrian, sudah ada dua perusahaan yang memproduksi baterai untuk motor listrik. Kedua perusahaan itu ialah PT Industri Ion Energisindo dan PT Energi Selalu Baru.
PT Industri Ion Energisindo memiliki kapasitas produksi sebanyak 10.000 pcs baterai per tahun dengan investasi senilai Rp 18 miliar. Sementara, PT Energi Selalu Baru memiliki kapasitas produksi 12.000 biji baterai per tahun dengan investasi senilai Rp 15 miliar.
Ada pula dua industri baterai sel untuk mobil listrik, yaitu PT HLI Green Power dan PT International Chemical Industry. PT HLI Green Power merupakan konsorsium antara Hyundai Group dan LG sebagai produsen sel baterai.
Kapasitas produksi tahap pertama sebanyak 10 GWh dengan total nilai investasi mencapai 1,1 miliar dollar AS. Industri ini akan memasok sel baterai untuk 150.000-170.000 unit kendaraan bermotor listrik melalui PT Hyundai Energy Indonesia.
Sementara itu, PT International Chemical Industry memiliki kapasitas produksi mencapai 100 MWh per tahun atau setara dengan 9 juta sel. Target total kapasitas produksi sebesar 256 MWh per tahun atau setara dengan 25 juta sel.
Selain itu, terdapat satu produsen baterai pack lainnya, yaitu PT Gotion Green Energy Solutions Indonesia. Memiliki nilai investasi lebih dari 8,7 juta dollar AS, perusahaan itu mempunyai kapasitas produksi sebanyak 17.952 unit per tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/19/b8a273a26808a92a213b0578d388fa0e-IMG_4968.jpeg)
Seiring dengan pembangunan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, jumlah kendaraan listrik di Indonesia meningkat setiap tahun. Pada 2024, total populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 207.000 unit atau 78 persen dibandingkan dengan 2023 sebanyak 116.000 unit.
Agus mengatakan, perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia yang semakin tumbuh dengan kapasitas jauh melampaui perkembangan pasar itu juga didorong oleh berbagai kebijakan strategis pemerintah.
Di antaranya adalah kebijakan pemberian kepastian dan kemudahan usaha, penyusunan peta jalan, serta pengoptimalan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Pada 2030, Kemenperin menargetkan industri otomotif di dalam negeri dapat memproduksi 9 juta unit sepeda motor listrik roda dua dan tiga serta 600.000 unit mobil dan bus listrik.
”Target tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap pengurangan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebesar 21,65 juta barel atau setara pengurangan emisi CO2 sebanyak 7,9 juta ton secara total,” kata Agus, masih mengutip siaran pers yang sama.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/18/7963832e-34ec-4cf5-b342-9e112efc0b47_jpg.jpg)
Terdapat sembilan perusahaan yang memproduksi mobil listrik dengan kapasitas produksi 70.060 unit per tahun dan investasi senilai Rp 4,12 triliun. Ada pula tujuh perusahaan yang memproduksi bus listrik, dengan jumlah kapasitas produksi sebanyak 3.100 unit per tahun dan total investasi sebesar Rp 0,38 triliun.
”Jadi, keseluruhan investasi tersebut sebesar Rp 5,63 triliun. Investasi ini yang perlu kita jaga karena membawa multiplier effect bagi perekonomian, termasuk pada peningkatan jumlah tenaga kerja di Indonesia,” katanya.
Agus menambahkan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia sejalan dengan kebijakan hilirisasi yang juga menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program yang dimaksud adalah melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/28/a25663e3-9efb-40c1-a894-142b8a188a1d_png.png)
”Menciptakan nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia, khususnya nikel, dan membuat industri baterai EV nasional lebih mandiri dan kompetitif sehingga tidak lagi bergantung pada impor,” ujar Agus.
Kemenperin juga mendorong pengembangan teknologi daur ulang baterai dalam mendukung terciptanya ekosistem baterai kendaraan listrik secara terintegrasi. Pengembangan itu bertujuan untuk memastikan keberlanjutan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia.
”Jadi, kami ingin adanya integrasi industri baterai EV dari hulu (pengolahan nikel) hingga hilir (produksi baterai), termasuk dalam pengembangan teknologi daur ulangnya,” kata Agus.
Penulis:
Aguido Adri, Iqbal BasyariEditor:
FX Laksana Agung Saputra