Gregoria Mariska Tunjung, peraih perunggu Olimpiade, turun lagi di SEA Games. Walaupun kehadirannya di tim Indonesia terasa kurang ideal, dia tetap profesional.
07 Des 2025 15:28 WIB · Olahraga
Kompas/Rian Septiandi
Setelah menjalani program dalam kalender 2025, pebulu tangkis tunggal putri kebanggaan Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, semestinya sedang menikmati libur di akhir tahun ini. Namun, alih-alih bisa beristirahat, dia justru harus turun gunung dan kembali bertarung untuk tim ”Merah Putih” di SEA Games Thailand 2025.
Hanya 19 menit waktu yang dibutuhkan Gregoria untuk memenangi pertandingan melawan wakil Myanmar, Eaint Chit Phoo, 21-9, 21-7, di Stadion Gymnasium 4 Universitas Thammasat Rangsit, Bangkok, Thailand, Minggu (7/12/2025). Gregoria menjadi tunggal kedua Indonesia dalam laga perempat final beregu putri SEA Games tersebut.
”Happy” sih karena kan bisa bermain untuk tim, di Olimpiade itu kan enggak ada beregu.
Pertandingan itu berlangsung searah. Gregoria seperti sedang mengajarkan cara bermain yang efektif kepada yuniornya di pemusatan latihan nasional. Wajar saja jika level mereka begitu timpang. Gregoria berstatus peraih perunggu Olimpiade Paris 2024 saat Myanmar menurunkan pemain 18 tahun yang berada di peringkat ke-481 dunia.
Gregoria, 26 tahun, kembali ke SEA Games setelah terakhir kali tampil dalam edisi Vietnam 2021. Dia semula tidak direncanakan untuk turun di Thailand. Namun, dengan target besar yang dibebankan terhadap bulu tangkis, PP PBSI terpaksa menggantikan atlet 18 tahun Thalita Ramadhani Wiryawan dengan Gregoria.
”Happy sih karena kan bisa bermain untuk tim, di Olimpiade itu kan enggak ada beregu. Di sini ada dan aku main enggak membawa nama aku sendiri gitu. Aku bersama timku. Jadi, pastinya beda dan aku bangga sih dipilih oleh PBSI untuk ikut lagi,” kata Gregoria yang sudah turun sejak SEA Games Singapura 2015.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/07/653b0fd8fc72cb0381e0bdead862b6db-DSC02453.JPG)
Gregoria mengambil sisi positif dari pemanggilan itu. Selain bisa berjuang bersama rekan-rekannya, dia juga membawa misi pribadi untuk menghapus memori buruk saat terakhir kali turun di SEA Games. Di Vietnam, Gregoria tidak berhasil memberikan satu pun kemenangan untuk tim putri yang pulang dengan raihan medali perak.
Sang olimpian kalah saat menjadi tunggal pertama dalam semifinal beregu versus tuan rumah Vietnam. Indonesia tetap lolos ke partai puncak berkat kemenangan tiga wakil selanjutnya. Di final, versus Thailand, Gregoria tidak diturunkan. Penampilannya jauh di bawah standar ketika itu. Dia seperti sedang mengalami krisis kepercayaan diri.
Gregoria berkata, masa-masa itu masuk dalam periode titik terendah dalam kariernya. ”Waktu itu ya sih, aku merasa lagi enggak ada di level yang baik gitu secara permainan dan juga mental, ya. Tapi, setelah (hampir) empat tahun berlalu, aku ada di sini dengan kondisi yang sudah lebih dewasa. Aku berharap bisa lebih dewasa juga di lapangan,” tuturnya.
Di Thailand, Gregoria menjalani peran berbeda. Dia tidak lagi menjadi tunggal pertama Indonesia, seperti di Vietnam. Peran pembuka laga diambil oleh yuniornya, Putri Kusuma Wardani (23), yang sekarang menempati peringkat ketujuh dunia. Kata Gregoria, beban sebagai tunggal pertama tentu jauh lebih berat.
Putri merasakan sendiri tekanan besar itu saat membuka perjalanan tim tadi. Dia susah payah mengalahkan wakil Myanmar, Thet Htar Thuzar, lewat tiga gim, 17-21, 22-20, 21-13. Pemain lawan yang berada di peringkat ke-116 itu bahkan mendapatkan momen match point pada gim dua, 20-19, sebelum momentum akhirnya berbalik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/07/9f6589512e2b91c023d63328e18edf2e-Putri7_WomensTeam_QF_SEAGames2025_PBSI_20251207.jpg)
Putri berkata, ini merupakan pengalaman pertamanya sebagai tunggal pertama. ”Ya, tadi cukup sedikit ada pressure. Sebelumnya pernah juga main pertama, tetapi itu kan karena Kak Grego enggak main. Aku tunggal kedua seharusnya. Apalagi ini laga pertama (di SEA Games), pasti enggak gampang,” ucapnya.
Tunggal pertama biasanya menjadi pembuka dalam pertandingan beregu. Karena itu, hasil laga tersebut bisa sangat memengaruhi nuansa batin dalam pertarungan di nomor-nomor berikutnya. Jika menang, kepercayaan diri seluruh tim otomatis terangkat. Situasi sebaliknya akan terjadi seandainya sang pembuka jalan menelan kekalahan.
Gregoria mengaku senang, tetapi bukan karena tidak lagi menggendong beban besar sebagai tunggal pertama. Dia lebih fokus terhadap pertumbuhan sang yunior. Harapannya, Putri bisa semakin dewasa dengan pengalaman kali ini. Adapun nomor beregu dalam ajang multicabang hanya ada di SEA Games dan Asian Games.
”Jadi, mungkin hal bagus juga untuk KW (Putri) karena hari ini, walaupun mungkin situasinya juga sulit, akhirnya bisa menang. Jadi, bagus untuk belajar. Karena dulu aku juga butuh penyesuaian, mungkin agak struggle juga gitu. Belum lagi setiap beregu, tunggal pertama lawan kan pasti yang terbaik di negara itu,” kata Gregoria.
Perjalanan awal tim putri Indonesia berakhir manis dengan kemenangan sempurna 3-0 atas Myanmar. Gregoria dan rekan-rekan sudah dinanti Malaysia di semifinal. Ujian selanjutnya pasti akan lebih sulit. Malaysia diperkuat ganda putri peringkat kedua dunia, yaitu Pearly Tan/Muralitharan Thinaah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/07/303908ccfcfad207507d6dcc427b8dbd-TimIndonesia_WomensTeam_QF_SEAGames2025_PBSI_20251207.jpg)
Presensi Gregoria di Thailand menunjukkan prioritasnya terhadap Indonesia. ”Kalau tidak ikut seharusnya aku sudah selesai (tahun ini) karena terakhir itu kemarin di Australia. Jadi, mungkin nanti baru mulai persiapan lagi di 2026. Cuma ya aku ikut SEA Games, jadi liburnya mundur dikit, he-he-he,” ujarnya dengan wajah semringah.
Penulis:
Kelvin Hianusa dan Rebiyyah Salasah dari Bangkok, ThailandEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti