Alwi Farhan akan menjadi tulang punggung tunggal putra dalam bulu tangkis SEA Games Thailand 2025. Alwi akan membawa energi positif dari perjalanan pada 2025.
01 Des 2025 10:26 WIB · Olahraga
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Alwi Farhan berhadapan dengan Mohammad Zaki Ubaidillah pada sesi latih tanding di pelatnas bulu tangkis Cipayung, Jakarta, Rabu (26/11/2025). Latihan dengan suasana kompetitif itu sesekali diselingi canda.
Alwi, juara dunia yunior 2023, dan Zaki, finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025, menjadi bagian dari atlet muda Indonesia untuk cabang bulu tangkis SEA Games Thailand 2025. Perebutan tujuh medali emas akan berlangsung pada 7-14 Desember, diselingi satu hari tanpa pertandingan pada 9 Desember, karena dilangsungkan upacara pembukaan.
Alwi menjadi anggota tim SEA Games Kamboja 2023 pada beregu putra, tetapi tak sempat bermain karena Indonesia selalu menang 3-1 lebih dulu dari Singapura di semifinal dan Malaysia di final. Dalam persaingan beregu, pertandingan berlangsung dalam lima partai yang terdiri dari tiga tunggal dan dua ganda. Pemenang adalah tim yang memenangi tiga partai lebih dulu.
Di Kamboja, Alwi berperan sebagai tunggal ketiga, di bawah Chico Aura Dwi Wardoyo dan Christian Adinata. Dia pun tak memiliki kesempatan bermain karena mendapat giliran tampil pada partai kelima. Adapun dalam kategori perorangan, Indonesia menurunkan Chico dan Christian yang lebih senior. Christian mengalahkan Chico di final.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/52e1a280dc6b10ebf71eed1f8301eab1-FAK_1271.jpg)
Ketika belum punya pengalaman bermain di ajang multicabang, Alwi mengandalkan pengalaman saat membantu Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie pada masa persiapan untuk tampil di Olimpiade Paris 2024. Dalam persiapan menuju ajang besar, setiap sektor di pelatnas bulu tangkis selalu melibatkan atlet-atlet muda dalam latih tanding. Alwi pun melihat tekanan dan perjuangan berat kedua seniornya itu.
”Melihat persiapan Koh Jo dan Aa Ginting, saya bisa mengatakan, atlet adalah extraordinary people. Ketika yang mereka lakukan dirasakan orang biasa, mungkin mereka stres. Makanya, yang bisa mengatasi kondisi itu dan menjadi juara Olimpiade adalah orang-orang luar biasa,” kata Alwi.
Selain pengalaman mendampingi para seniornya menjalani persiapan menuju Olimpiade, Alwi akan membawa pola pikir dan energi positif yang selalu dia rasakan saat bermain dalam ajang beregu ke Thailand 2025. Alwi membela Indonesia dalam meraih perunggu Kejuaraan Dunia Yunior Beregu Campuran 2022 dan perak pada tahun berikutnya.
Pada level senior, dia bermain dalam kejuaraan beregu putra Piala Thomas 2024 saat Indonesia mencapai final dan mendapat kesempatan bermain pada penyisihan grup. Pada ajang beregu campuran Piala Sudirman 2025, Alwi bermain ketika Indonesia mengalahkan Denmark, 4-1, pada fase penyisihan dan turut menyumbangkan kemenangan saat berhadapan dengan Anders Antonsen. Dia juga menang saat melawan Korea Selatan pada semifinal meski Indonesia kalah 2-3.
”Saya akan membawa pengalaman dan antusiasme bermain pada ajang beregu di SEA Games. Setidaknya ada modal antusiasme. Apalagi, Malaysia dan Thailand full team. Yang terpenting, kami harus percaya diri dengan kemampuan masing-masing, tidak perlu takut. Jangan menempatkan diri kita di bawah mereka,” kata Alwi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/b6470121dc626d09e9c3830cd44836a7-FAK_1369.jpg)
Alwi juga sangat antusias ketika sebagian besar tim SEA Games 2025 adalah atlet-atlet muda meski Raymond Indra/Nikolaus Joaquin dan Thalita Ramadhani Wiryawan tak jadi bermain. Pembentukan ikatan di antara sesama atlet muda, kata Alwi, lebih mudah terjalin. ”Sama senior juga baik-baik saja, tetapi kadang ada beberapa bahasan yang dewasa banget kalau satu tim bersama mereka,” katanya.
Bagi Alwi, membela ”Merah Putih” di SEA Games 2025 bagaikan reuni bersama beberapa atlet yang juga tampil pada Kejuaraan Dunia Yunior 2022 dan 2023. Alwi, Mutiara Ayu Puspitasari, dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu yang tampil pada dua ajang tersebut akan bermain di Thailand.
Perjalanan dalam turnamen BWF World Tour yang intens pada 2025 dibandingkan setahun sebelumnya juga akan menjadi bekal bagi Alwi. Performanya naik turun, tetapi Alwi mempunyai pengalaman melawan atlet top dunia pada turnamen level tinggi, Super 750 dan 1000. ”Tentu, tampil pada level itu sangat berpengaruh. Saya jadi percaya diri saat bermain pada turnamen lain. Saya juga belajar berbagai hal dari atlet top dunia,” ujarnya.
Berbagai faktor yang dipelajari saat melawan atlet-atlet top dan bagaimana cara dia mengatasi tekanan dipaparkan Alwi setelah latihan pada Rabu siang itu. SEA Games Thailand 2025 akan menjadi tugas terakhir Alwi pada tahun ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/5d9b7436549c49611a97d7d138ac17dd-FAK_1479.jpg)
Bagaimana kamu melihat perjalanan pada 2025, tahun pertama ketika intens tampil dalam BWF World Tour?
Tahun ini rangkaian World Tour Series sudah selesai. Enggak gampang bagi saya buat ada di sini sekarang. Buat saya menghadapi semua ini, jujur enggak mudah. Tapi, saya tahu kemampuan diri saya sampai di mana. Saya cukup senang, tapi saya masih mau lebih.
Tahun ini banyak sekali up and down, seperti roller coaster, naik turun performa. Pengalamannya banyak banget karena tahun ini PBSI mengirim saya ke banyak sekali turnamen. Jadi, pengalaman tahun ini cukup banyak, banyak kesenangan, banyak kesakitan, pembelajaran dari semua yang dilalui tahun ini.
Tahun depan akan lebih berat untuk mencapai target yang lebih tinggi. Tapi, Alwi Farhan yang ada di sini sekarang adalah Alwi Farhan yang berjuang mati-matian sepanjang tahun ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/8b787132e2d335fa5c78f5e9b2db7981-20251201_H14_KID_Bulu_Tangkis_mumed.png)
Perbedaan apa yang paling terasa saat bersaing di level Super 500 ke atas dibandingkan masa yunior?
Banyak tricky, ya. Saya bilang pemain bulu tangkis itu tricky.
Setiap pemainnya, apalagi yang top 10, top 15, menurut saya tricky. Setiap pemain punya ciri khas permainannya masing-masing. Jadi, setiap ketemu lawan harus mempersiapkan strategi variatif karena setiap pertandingan bisa sangat berbeda.
Saya pun terus mengumpulkan pengalaman. Selagi saya bisa menikmati, tahu kelebihan dan kekurangan saya, saya pasti akan perbaiki ke depannya.
Pada awal bermain di BWF World Tour, sering kali langsung bertemu pemain top di awal dan kalah. Bagaimana caramu menghadapi situasi tersebut?
Momen-momen itu saya kumpulkan jadi pengalaman untuk tahun berikutnya.
Persaingan tunggal putra jadi salah satu yang paling berat, menurut saya. Bermain di level Super 300 saja, lawan sedikit sekali membuat kesalahan. Jadi, cukup susah, tapi saya juga senang dan antusias mendapat pengalaman itu. Kalaupun kalah di awal, saya tidak boleh terbawa suasana terus.
Memang, pada level Super 750 dan 1000, saya belum bisa bertahan sampai delapan besar atau semifinal, tapi saya belajar dari setiap turnamen, siapa pun lawannya, berapa pun ranking mereka, baik di atas maupun di bawah saya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/6c7db21a14b5ab3427d268c26558bb6e-WhatsApp_Image_2025_11_20_at_10.04.55_1_.jpeg)
Tunggal putra senior di pelatnas tinggal Anthony Ginting. Jadi, saat ini, kamu sangat diandalkan di sektor ini. Di sisi lain, kamu ada di tahap awal persaingan level atas. Bagaimana melihat tantangan ini?
Saya tahu, pasti itu tidak gampang. Bisa dikatakan, ekspektasi orang lain jadi naik terhadap saya dan itu memunculkan target, tekanan, dan lain-lain. Tapi, itu memang harus saya atasi karena menjadi tanggung jawab saya.
Saya melihatnya ini adalah proses untuk menjadi seorang pemain hebat yang bisa bertahan di level atas. Banyak perjuangan saat latihan dan di luar latihan yang dilakukan, yang saya rasa banyak orang tidak tahu dan saya tidak mau menunjukkan itu. Saya merasa, saya harus kuat.
Saya punya orang-orang yang membuat saya kuat, seperti orang tua, keluarga, psikolog, terutama pelatih yang sehari-hari bertemu saya. Jadi, saya tidak merasa sendirian dalam mengemban tugas ini.
Orang-orang di sekitar bisa membantu. Ibaratnya bagi-bagi tugas, jadi tidak mentok di diri saya saja dan kunci utamanya adalah komunikasi. Apalagi, saya orangnya cukup terbuka menerima saran. Saya tidak peduli masukan itu dari siapa pun. Selagi saya merasa itu bermanfaat, pasti saya dengarkan.
Apakah kamu cukup terbuka untuk memulai komunikasi di saat membutuhkan dukungan orang lain?
Pasti, pasti. Saya orangnya cukup terbuka dan bisa dibilang aktif, sih. Jadi, ketika itu untuk kebaikan saya, saya akan cari di mana pun, kapan pun masukan itu.
Saya sudah dibiayai oleh negara dan ditunggu oleh orang-orang yang mendukung saya.
Saya melihat, banyak teman saya yang juga ingin membanggakan Indonesia, tetapi mungkin mereka terhalang situasi, tidak bisa ikut kompetisi, dan lain-lain. Jadi, saya yang mewakili. Saya harus bisa mengemban tanggung jawab ini.
Apakah kamu memperhatikan pendapat orang lain tentang kamu, terutama melalui media sosial?
Kalau ditanya itu, saya pasti dengerin dan pasti melihat. Mau membantah dengan bilang tidak melihat, pasti enggak mungkin. Saat buka Youtube saja untuk melihat lagi permainan saya, pasti ada komentar yang muncul. Saat buka Tiktok, X, Instagram, pasti tidak bisa dihindari melihat komentar orang lain.
Cuma, semuanya balik lagi ke saya. Saya merasa sudah belajar untuk menyikapi secara lebih dewasa, menyikapinya dari beberapa sudut pandang. Jadi, saya belajar setiap harinya untuk bisa lebih baik daripada hari kemarin.
Jadi, apakah tahun pertama di BWF World Tour ini bisa dikatakan sebagai tahun pembelajaran untuk kamu?
Bagi saya, belajar itu enggak akan pernah habisnya. Saya merasa ilmu itu enggak akan pernah ada habisnya. Saat saya nanti harus bersaing di top level, pasti saya akan belajar juga. Itu menguras mental dan fisik, tetapi, balik lagi, saya punya tanggung jawab untuk menghadapi ini.
Mungkin, saya orang yang dipilih oleh Tuhan untuk bisa menjalani ini. Saya selalu berpikir dengan cara seperti itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/fba64c74d3c784e831e3d0225d15c2a8-FAK_1571.jpg)
Jika mengevaluasi diri kamu, apakah ada hal lain selain kemampuan teknis yang berpengaruh pada perkembanganmu di lapangan?
(Saat menjuarai Makau Terbuka, Alwi menyebutkan bahwa hasil itu diraih karena dia belajar mengerem ambisi. Ada juga suara penonton bulu tangkis bahwa ekspresi Alwi ketika menang berlebihan.)
Saya merasa setiap orang punya sifat yang berbeda. Jadi, apa yang dilihat orang, itu memang alami diri saya. Mungkin banyak orang menilai, saya terlalu begini atau begitu. Enggak apa-apa sih, karena saya juga belajar pada setiap turnamen, mencari jati diri saya.
Saya mencari tahu, apa yang membuat Alwi nyaman? Apa sih yang membuat Alwi lebih perform dan bisa mendapat poin di momen kritis? Saya mencari tahu untuk kebutuhan di pertandingan. Jadi, ketika saya harus teriak, saya akan teriak meskipun itu sebenarnya tidak nyaman. Saat kebutuhannya jangan teriak, saya akan menahan.
Jadi, kamu sudah seterbuka itu untuk mengubah sikap sesuai kebutuhan?
Ya. Setiap orang punya karakter yang tidak bisa diubah. Tapi, ketika saya butuh bersikap lain, saya bisa berubah. Misalnya, saat bertemu lawan yang mau diajak nekat-nekatan, mau diajak psywar, saya harus seperti itu. Saya juga bisa berbeda saat lawan sikapnya lebih tenang. Jadi, saya pun belajar tentang hal ini.
Alwi menggunakan kata ”seru” untuk menggambarkan pengalaman belajarnya menghadapi lawan, bukan hanya dengan teknik berbeda, melainkan juga yang memiliki karakter berbeda. Pemain Eropa seperti Anders Antonsen (Denmark) cenderung lebih ekspresif dan bisa terkesan provokatif dibandingkan atlet-atlet Asia.
Bermain melawan atlet top dunia membuka pandangan Alwi menjadi lebih luas. Meskipun mengawali langkah pada level senior dengan bekal menjadi juara dunia yunior 2023, dia belum ada apa-apanya dibandingkan mereka yang memiliki segudang pengalaman di BWF World Tour. Ketika bisa mendapat poin hanya dengan beberapa pukulan pada level yunior, hal serupa tidak berefek apa-apa di level BWF World Tour.
”Mental pemain-pemain senior itu sangat tangguh, sulit untuk digoyang. Tetapi, terkadang, ada juga yang di luar ekspektasi saya. Seru. Saya bisa bilang seru, bisa juga bilang susah. Tapi, saya juga bisa bilang wow melihat perjalanan karier ini,” katanya.
Adapun dari atlet muda, Alwi belajar untuk bersikap nothing to lose. Dia bercerita ketika Raymond/Nikolaus menjuarai Australia Terbuka dengan mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri di final. Pada dua babak sebelumnya, atlet berusia 21 dan 20 tahun itu menyingkirkan ganda putra Malaysia ranking lima besar dunia.
”Mata saya terbuka saat melihat mereka. Wah, ngeyel banget nih orang. Jadi, kalau mau juara tuh, harus seperti itu. Mereka ngeyel dan nekat, jadi mungkin pemain seniornya panik,” tutur Alwi.
Sebelum SEA Games, kamu mendapat hasil buruk di Australia Terbuka. Bagaimana kamu melihat ini?
Itu kejadian yang sangat berat. Saat nomor lain bisa mengirim wakil ke final (Australia Terbuka), tunggal putra tidak bisa. Saya senang dengan pencapaian sektor lain, tetapi saya seharusnya bisa menjalankan tanggung jawab dengan baik.
Saya melihat pelatih saya sedih, saya juga sedih dan merasa tidak mudah menghadapi ini. Akan tetapi, tidak bisa berlarut-larut dalam kesedihan karena ada SEA Games.
Saya hanya bisa belajar ketika menghadapi momen seperti itu harus seperti apa agar tidak menjadi trauma.
Momen yang disebut Alwi adalah ketika dia bermain dalam perempat final Australia Terbuka di Sydney melawan Chou Tien Chen. Saat memasuki lapangan, Alwi memiliki ekspektasi tinggi yang tak sekadar angan-angan. Dia sudah mempelajari keadaan lapangan dan kondisi lawan, juga mempersiapkan taktik bermain melawan atlet senior Taiwan itu.
Harapan itu hampir terwujud ketika Alwi memiliki enam match point sejak skor 20-15 pada gim kedua. Namun, hasil akhir berbalik. Alwi kalah 21-13, 21-23, 16-21.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/abb6eae44bf1194fb8853aa052bd0c05-WhatsApp_Image_2025_11_21_at_09.50.52_2_.jpeg)
Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?
Saya merasa tegang dan takut disalip lawan, pokoknya campur aduk. Berdasarkan pengalaman dari pertandingan lain, saya mencoba bersikap tenang karena adakalanya lawan membuat kesalahan. Saya mencoba bermain lebih berani menyerang dengan selisih lima poin.
Saya mencoba segalanya karena tinggal membutuhkan satu poin, tetapi tetap tak berhasil. Saya berusaha mengeset ulang pikiran dan mental pada gim ketiga, tetapi rasanya susah sekali. Waktu saya bangkit melawan Weng Hong Yang pun rasanya susah sekali, tapi saya bisa melewatinya. Jadi, ke depan, saya hanya bisa belajar dari situ.
Pertandingan melawan Weng Hong Yang yang disebut atlet berusia 20 tahun itu terjadi pada perempat final Korea Terbuka di Suwon, Korea Selatan, September. Alwi terpuruk pada gim pertama, lalu bangkit dan menang 4-21, 21-16, 21-17 meski dihentikan Jonatan Christie di semifinal.
Dengan hasil tersebut, Alwi bercerita bahwa dia malu untuk bertemu orang. ”Rasanya sampai seperti itu. Saya merasa sungkan bertemu sektor saya sendiri,” ujarnya.
Namun, belajar dari pengalamannya dan atlet-atlet lain, Alwi berusaha tak tenggelam dalam kekecewaan. ”Sejak di Sydney, saya memutuskan, ketika saya sudah sampai di Indonesia, saya sudah enggak mau memikirkan kejadian itu. Apalagi, kalau melihat ke belakang, sudah banyak juga saya melalui kesakitan lain. Ini juga menjadi bagian dari perjalanan.”
Seberapa sulit melihat sisi positif dari momen ketika jatuh, apalagi momen Australia Terbuka dikatakan sangat menyakitkan?
Susah, tapi kan banyak orang enggak tahu dan saya enggak mempermasalahkan itu. Tidak apa-apa karena pada umumnya orang hanya menilai dari hasil akhir. Itu memang sudah jadi tanggung jawab saya.
Dari momen itu, saya mendapat pelajaran untuk mengontrol diri saat memiliki ekspektasi tinggi. Susah sekali, tetapi saya harus belajar.
Caramu untuk bangkit dari keterpurukan seperti apa? Apalagi, ada SEA Games menanti dalam waktu dekat.
Pasti saya diskusi dengan orang-orang dekat, kalau dipendam sendiri bisa stres. Saya sharing dengan orang-orang sekitar, seperti pelatih, orangtua, dan psikolog. Mereka adalah orang-orang yang tahu apa yang saya lalui.
Sebenarnya kalau sudah kalah, ya kalah, tetapi saya mendapat kalimat yang bisa menenangkan dari psikolog, yaitu bahwa saya mendapat pengalaman yang belum pernah dirasakan dan itu akan sangat berguna bagi perjalanan berikutnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/603c7150931e03e39cb1a704d2ebf382-FAK_1679.jpg)
Ketika harus menyebut sosok yang paling berperan dalam perjalanan menjadi atlet, bisa jadi Alwi memilih orangtua, terutama ayah. Ayahnya begitu bercita-cita memiliki anak dengan profesi atlet. ”Dua kakak saya bermain bulu tangkis, pernah bermain di PB Djarum, tetapi jalan mereka tidak sejauh saya. Maka, saya jadi harapan terakhir Ayah,” katanya.
Tak hanya bermain bulu tangkis, Alwi kecil juga jago bermain sepak bola. Dia pernah mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah untuk cabang sepak bola di Surakarta, Jawa Tengah.
”Makanya, kulit saya hitam. Dulu banyak bermain bola, ha-ha-ha. Saya latihan bola di rumah. Mama saya marah, takut gucinya pecah. Ayah saya bodo amat,” cerita Alwi.
Selain itu, Alwi juga jago renang dan pernah berlatih tinju. Dia bercerita tentang kegemarannya mengikuti olahraga sambil memperlihatkan video ketika memukul samsak saat latihan tinju. Alwi sering melihat-lihat video masa kecilnya itu sebagai sumber motivasi.
Dia akhirnya fokus pada bulu tangkis karena kerap geram ketika rekan satu tim tak tampil baik saat bermain sepak bola. Alwi merasa lebih cocok menekuni cabang individu.
Namun, ketika diajak ngobrol soal sepak bola, terutama tentang Manchester United, Alwi sangat antusias. Dia pun terkadang tak kuasa menolak godaan menonton pertandingan MU yang tayang di Indonesia pada malam hari.
Pembaca yang budiman, harian Kompas membuka rubrik Surat untuk Atlet, yang berisi pendapat, penyemangat, atau komentar terkait penampilan atlet Indonesia di SEA Games Thailand 2025. Kirimkan komentar singkat Anda, minimal dua kalimat dan maksimal enam kalimat, dengan mengisi kolom di bawah ini. Komentar yang terpilih akan kami muat di harian Kompas saat pelaksanaan SEA Games 2025.
Penulis:
Yulia Sapthiani, Rebiyyah Salasah, Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti