Dari Sopir Bus ke Penjara Brooklyn

Kisah perjalanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam rangkaian foto.

05 Jan 2026 12:05 WIB · Internasional

AP/Ariana Cubillos

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengendarai bus dari bandara menuju di Istana Miraflores di Caracas seusai perjalanan penggalangan dana di Venezuela, 17 Januari 2015. Dengan jaket merah, ia melambaikan tangan kepada pendukungnya yang berkumpul di sepanjang jalan. Senyum tak lepas dari wajah Maduro.

Foto itu seakan mengingatkan rakyatnya akan asal usul presidennya. Nicolas Maduro, yang lahir pada 23 November 1962, sebelumnya dikenal sebagai sopir bus yang aktif dalam kegiatan serikat pekerja. Ia dikenal sebagai sosok yang berani dan vokal sampai akhirnya dipercaya memimpin serikat buruh.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro tiba di Istana Miraflores, mengendarai bus dari bandara setelah kembali ke rumah dari perjalanan penggalangan dana selama dua minggu, di Caracas, Venezuela, 17 Januari 2015.

Pada tahun 2000 Maduro terpilih menjadi anggota Majelis Nasional yang sering disebut perpanjangan tangan pemerintah. Posisi ini juga merupakan pintu masuknya ke lingkaran elite kekuasaan yang dipimpin Presiden Hugo Chavez saat itu.

Kedekatan ideologinya dengan presiden membuat ia dipercaya menduduki posisi penting, dari Menteri Luar Negeri sampai ditunjuk menjadi Wakil Presiden pada 13 Oktober 2012, mendampingi Chavez. Saat Presiden Chaves meninggal pada 5 Maret 2013, Maduro dianggap sosok yang paling siap menggantikannya.

Anggota parlemen pro pemerintah, (dari kiri ke kanan) Nicolas Maduro, Francisco Solorzano, dan Cilia Flores, dikelilingi oleh para pendukung, meninggalkan gedung Kongres Nasional setelah memboikot sesi parlemen, di Caracas, Venezuela, 12 Juni 2003.
Presiden Venezuela Hugo Chavez berbicara dengan Menteri Luar Negeri Nicolas Maduro di Montevideo, Uruguay, 18 Desember 2007.
Menteri Luar Negeri Venezuela Nicolas Maduro menghadiri upacara yang menyatakan Presiden Hugo Chavez sebagai pemenang resmi pemilihan presiden di Dewan Pemilihan di Caracas, Venezuela, 10 Oktober 2012. Di momen itu, Chavez mengumumkan bahwa dia menunjuk Maduro sebagai wakil presiden barunya.
Presiden Bolivia Evo Morales, Wakil Presiden Venezuela Nicolas Maduro, dan Jaksa Agung Cilia Flores  berjalan dalam prosesi membawa peti mati mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez dari rumah sakit tempat dia meninggal ke akademi militer, 6 Maret 2013.
Nicolas Maduro memeluk Presiden Majelis Nasional Diosdado Cabello setelah Maduro dilantik sebagai penjabat presiden Venezuela di Majelis Nasional di Caracas, Venezuela, 8 Maret 2013.
Penjabat Presiden Venezuela saat itu, Nicolas Maduro, memegang topi pekerja pertanian dengan sosok burung yang bertengger di mahkota topi saat rapat umum kampanye pemilihan presiden di Catia La Mar, Venezuela, 9 April 2013. Maduro meyakinkan selama rapat umum kampanye bahwa mendiang Presiden Hugo Chavez muncul kepadanya sebagai ”burung yang sangat kecil” untuk memberinya restu.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro tiba di Istana Miraflores dengan mengendarai bus dari bandara setelah kembali ke rumah dari perjalanan penggalangan dana selama dua minggu, di Caracas, Venezuela, 17 Januari 2015.
Penjabat Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengibarkan bendera nasional di atas para pendukung setelah mendaftarkan pencalonannya sebagai presiden untuk menggantikan mendiang Presiden Hugo Chavez di dewan pemilihan nasional di Caracas, Venezuela, 11 Maret 2013.

Menggandeng Partai Sosialis Bersatu, Maduro berhasil memenangi pemilihan presiden khusus yang digelar pada 14 April 2013. Dengan perolehan 50,6 persen, ia akhirnya dilantik sebagai Presiden Venezuela lima hari kemudian. Setelah itu Maduro selalu bisa memenangi pemilihan presiden tahun 2018 dan pada 2024 walaupun kemenangannya selalu dipermasalahkan oleh lawan politiknya dan dunia internasional. 

Selama masa pemerintahannya, Venezuela mengalami banyak krisis, termasuk krisis ekonomi, yang menyebabkan penduduknya meninggalkan negaranya dan bermigrasi ke Amerika Serikat. Trump dalam beberapa kesempatan menuduh Maduro terlibat dalam peredaran narkoba ke wilayah Amerika. 

Presiden Nicolas Maduro berbicara kepada pendukung pro pemerintah setelah referendum mengenai klaim Venezuela atas Essequibo, sebuah wilayah yang dikelola dan dikendalikan oleh Guyana, di Caracas, Venezuela, 3 Desember 2023.
Presiden Nicolas Maduro, ditemani oleh ibu negara Cilia Flores, mengangkat tangannya saat rapat umum kampanye pemilihan penutupnya di Caracas, Venezuela, Kamis, 25 Juli 2024.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro meletakkan tangannya di dadanya saat berbicara dengan pejabat tinggi selama upacara militer pada hari pelantikannya untuk masa jabatan ketiga, di Caracas, Venezuela, 10 Januari 2025.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengacungkan pedang yang dikatakan milik pahlawan kemerdekaan Simon Bolivar selama acara sipil-militer di akademi militer di Caracas, Venezuela, 25 November 2025.

Serangan darat dan udara yang dilancarkan militer Amerika Serikat atas perintah Presiden Donald Trump pada 4 Januari 2026 dini hari mengakhiri kekuasaan Maduro. Ia dan istrinya ditangkap di kediamannya di Venezuela, dibawa dengan helikopter dan diterbangkan dengan pesawat ke Amerika Serikat.

Sebuah foto yang diunggah Trump lewat media sosial Thruth menunjukkan Maduro dengan tangan di borgol dan ditutup matanya menjadi bukti serta menjawab teka-teki keberadaannya. Sebelumnya publik bertanya-tanya akan keselamatannya setelah serangkaian serangan di basis militer Venezuela. 

Cuplikan layar dari sebuah postingan Presiden Donald Trump di akun Truth memperlihatkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di atas USS Iwo Jima, di Laut Karibia.
Cuplikan layar ini yang diambil dari akun X milik Rapid Response 47 menunjukkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (tengah) dikawal oleh agen Badan Penegakan Narkoba AS (DEA) di Lower Manhattan, New York, Amerika Serikat, Sabtu (3/1/2026). Presiden AS Donald Trump mengatakan pada 3 Januari bahwa Amerika Serikat akan mengelola Venezuela dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang besar setelah menangkap Maduro dalam serangan bom di Caracas. Rapid Response 47 merupakan akun respons cepat resmi Gedung Putih.
Tangkapan layar akun X Respon Cepat 47, akun resmi Gedung Putih, menunjukkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dikawal oleh agen DEA di dalam markas besar Administrasi Penegakan Narkoba AS (DEA) di Manhattan bagian bawah, New York, pada 3 Januari 2026.

Kabar terakhir menyebutkan, Presiden Nicolas Maduro ditahan di penjara Brooklyn. Sebuah tempat yang pernah digunakan untuk menahan Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez yang diadili karena menyelundupkan ratusan ton kokain ke AS. (AP/AFP/REUTRES)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto