Aksi suporter Norwegia dengan ”Viking Row” atau kayuhan Viking menjadi salah satu ikon Piala Dunia 2026. Setiap pendukung tim membawa ciri khas masing-masing.
28 Jun 2026 12:59 WIB · Olahraga
AP/Mark Stockwell
”Ro... ro... ro...!” Demikian teriak para suporter Norwegia saat memberikan dukungan kepada Erling Haaland dan kawan-kawan pada laga di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat. Dengan aba-aba seorang penabuh genderang, para suporter itu menirukan gerakan mendayung para prajurit Viking yang hendak menuju medan perang.
Mereka melakukannya sambil duduk di kursi tribune, seperti duduk di kapal Viking, dengan kedua tangan dijulurkan ke depan, memegang dayung. Mereka berteriak ”ro...!” dan menggerakkan badan mereka ke belakang dan ke depan seperti gerakan mendayung.
Itulah Viking Row, aksi suporter yang paling ikonik dan viral selama Piala Dunia 2026. Temponya dimulai dari lambat, kemudian semakin cepat. Dipimpin oleh seorang penabuh drum, setiap dua tabuhan cepat, pendukung berteriak ”ro...!” demikian seterusnya dengan tempo yang semakin cepat sampai puncaknya ketika mereka berdiri dan bersorak bertepuk tangan.
Setelah absen selama 28 tahun dari panggung dunia, tidak hanya striker Haaland yang performanya menarik perhatian di AS, Kanada, dan Meksiko. Para pendukung Norwegia juga menjadi viral dengan aksi dan dukungan mereka yang unik tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/e072afe56c1c239413cc0e033eb666af-IMG_20260622_204327625.jpg)
Tim asuhan Stale Solbakken ini berhasil memenangi dua laga pembuka mereka di Piala Dunia 2026 sebelum akhirnya harus mengakui keunggulan Perancis pada laga pamungkas grup yang sudah tidak menentukan lagi. Norwegia mengalahkan Irak, 4-1, kemudian membekuk Senegal dengan skor 3-2, sebelum kalah 1-4 dari Perancis.
Para pemain Norwegia juga ikut melakukan gerakan Viking Row itu di lapangan selepas laga lawan Senegal, dipimpin oleh sang kapten Martin Odeegard. Pelatih Solbakken juga ikut masuk ke dalam jejeran pemainnya untuk mendayung ”perahu” bersama.
Pada laga melawan Perancis, Haaland sengaja disimpan oleh Solbakken sehingga tidak bisa menambah pundi-pundi golnya. Haaland, yang telah mengemas empat gol, kini bersaing dengan Lionel Messi (5), Kylian Mbappe (4), dan Vinicius Junior (4) dalam perebutan pencetak gol terbanyak atau Sepatu Emas.
Bukan hanya di stadion, aksi Viking Row itu juga mereka lakukan di tempat publik, seperti eskalator terminal, stasiun, dan di dalam kereta api yang mengangkut mereka ke stadion. Menariknya, ritual yang awalnya terinspirasi dari para prajurit kuno yang hendak menuju medan perang itu menjelma menjadi simbol persatuan, kegembiraan, dan perdamaian di Piala Dunia.
Bangsa Viking, mereka mendayung. Mereka mendayung sebelum pertempuran. Ini seperti para pemain yang bertarung di lapangan.
Demam ”ro” tidak hanya berhenti di stadion. Para anggota parlemen Norwegia bahkan sempat ikut melakukan gerakan mendayung ini sebagai bentuk dukungan. Ketika fans berkumpul di New York menjelang laga di MetLife, mereka sempat menguasai Times Square dan menyuguhkan aksi mendayung massal yang sukses membuat turis terpukau.
Meski memiliki identitas sendiri, gerakan ”ro” ini terinspirasi dari Thunderclap (Tepukan Guntur) ikonis milik Eslandia yang mengguncang Euro 2016. Kala itu, saat Eslandia mengejutkan dunia dengan mengalahkan Inggris 2-1, aksi para pendukung mereka di tribune dengan bertepuk tangan di atas kepala yang diawali dengan tempo lambat dan semakin cepat sangat melegenda. Gerakan mereka kemudian ditiru oleh berbagai suporter klub ataupun tim lain.
Mengutip sejumlah media, Viking Row diciptakan oleh Ole Froystad, pemimpin Oljeberget, klub suporter utama tim nasional Norwegia. ”Bangsa Viking, mereka mendayung. Mereka mendayung sebelum pertempuran. Ini seperti para pemain yang bertarung di lapangan. Ini untuk tim, mereka butuh dukungan kami sepanjang laga, tidak penting menang atau kalah, kami akan mendukung mereka, dengan semua chant, termasuk ’ro’,” kata Froystad dalam wawancara dengan FIFA.
Oljeberget dan federasi sepak bola Norwegia pun mengeluarkan video petunjuk cara melakukan chant Viking Row menjelang Piala Dunia 2026. Debut chant ini tejadi pada Maret 2026 pada laga persahabatan melawan Swiss.
Akan tetapi, Viking Row bukan satu-satunya aksi suporter yang menarik perhatian selama gelaran Piala Dunia 2026. Dengan ekspansi Piala Dunia yang kini diikuti 48 tim, fans dari seluruh penjuru dunia rela menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mendukung timnya di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Mereka tak lupa membawa dan menampilkan identitas nasional dan budaya dari negara masing-masing.
Salah satu yang menarik adalah pendukung Skotlandia, Tartan Army. Fans Skotlandia, terutama kaum prianya, cukup unik karena mereka sering memakai pakaian khas seperi rok yang disebut kilt. Mereka juga terkadang membunyikan alat musik yang bernama bagpipes.
Bagpipes bukanlah satu-satunya instrumen unik di sekitar turnamen ini. Penggemar asal Swiss pun mudah dikenali lewat suara dentang lonceng sapi mereka. Akan tetapi, ada satu suara fenomenal yang bakal tidak pernah lagi terdengar di Piala Dunia, vuvuzela, terompet plastik yang terkenal karena suaranya yang sangat berisik. Piala Dunia Afrika Selatan 2010 terkenal dengan vuvuzela, tetapi penggunaannya telah dilarang.
Pendukung ikonik lainnya adalah seorang suporter RD Kongo yang berjulukan Lumumba Vea. Suporter bernama Michel Nkuka Mboladinga itu membawa spirit perlawanan seperti perdana menteri pertama RD Kongo, Patrice Lumumba.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/c6542355590de86957344d98e4b3f002-Scotland_WCup_Soccer_139297690.jpg)
Lumumba secara luas dipuji sebagai aktivis nasionalis yang membantu mengakhiri pemerintahan kolonial Belgia atas RD Kongo pada tahun 1960. Ia dipandang sebagai salah satu pemimpin baru Afrika yang paling menjanjikan. Akan tetapi, Lumumba terbunuh dalam perjuangan melawan gerakan separatis yang didukung Belgia di wilayah Katanga yang kaya mineral.
Aksi Mboladinga ikonik dan terkenal karena ia hanya berdiri, persis seperti patung, hampir sepanjang pertandingan. Ketika jeda paruh pertama di laga kontra Kolombia, Mboladinga terekam beristirahat sejenak dan meladeni permintaan foto bersama.
Jika ingin menyaksikan bagaimana aksi para suporter dari seluruh penjuru dunia tersebut, kawasan Times Square di New York adalah tempatnya. Meski tim mereka bermain di kota lain, atau bahkan sedang tidak bermain, para suporter tersebut sering berkerumun mengambil alih kawasan wisata populer dunia itu. Mereka bernyanyi-nyanyi atau meneriakkan chant, bersaing dengan para penampil jalanan yang biasanya menguasai lokasi itu.
Suporter Meksiko dengan topi khasnya, sombrero, sering berkumpul di kawasan ini meski tim mereka tidak bermain di Amerika Serikat. Mereka berbaur bersama dengan suporter Ekuador, Maroko, Brasil, Inggris, tuan rumah Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain. Kendati berdesak-desakan, tak ada gesekan atau keributan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/28/0e450a375e9d621f0e509cc2b9573d5b-Congo_Colombia_WCup_Soccer_139328230.jpg)
Sebagai jurnalis asal Indonesia yang mendapat tugas meliput di Amerika Serikat, saya sering membayangkan bagaimana rasanya kalau timnas ”Garuda” lolos ke Piala Dunia 2026. Bagaimana suporter Indonesia bakal beraksi?
Dalam bayangan saya, lagu ”Tanah Airku” gubahan Ibu Soed yang melegenda itu bakal berkumandang di Stadion MetLife, selepas laga dan viral seperti Viking Row. ”Tanah Airku, tidak kulupakan, kan terkenang, selama hidupku….” Bermimpi tentu boleh saja.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, ASEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar