Kawasan wisata New York yang terkenal dengan drama musikal Broadway, Times Square, dikuasai oleh dua kelompok suporter Brasil dan Maroko jelang laga kedua tim.
13 Jun 2026 13:05 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko P
Brasil menyongsong pertandingan perdana melawan Maroko di Stadion MetLife, New Jersey, Sabtu (13/6/2026) sore waktu setempat atau Minggu (14/6/2026) pagi WIB, dengan beban ekspektasi tinggi yang selalu melekat pada juara dunia lima kali ini. Sebaliknya, Maroko ingin meneruskan status mereka sebagai salah satu kekuatan baru sepak bola dunia.
Aroma pertarungan kedua tim terlihat sehari sebelumnya, Jumat (12/6/2026) siang hingga malam waktu setempat, di salah satu kawasan wisata paling populer di kota New York. Wilayah Times Square, yang terkenal dengan pusat hiburan dan distrik teater global, yang identik dengan papan reklame LED raksasa itu benar-benar dikuasai ribuan suporter kedua tim.
Persimpangan sibuk di Manhattan yang juga menjadi magnet global untuk hiburan, belanja, dan seni publik itu berubah menjadi lautan kuning dan merah yang dikenakan para pendukung kedua tim. Ribuan suporter itu berkelompok dan berusaha saling mengalahkan dengan meneriakkan yel-yel dukungan kepada tim.
”Dima Maghrib” yang berarti ”Selalu Maroko” berulang-ulang diteriakkan para pendukung. Yel-yel itu dibalas dengan nyanyian ”Eu Sou Brasileiro” (Saya orang Brasil) oleh para pendukung ”Selecao”. Meskipun bercampur, tidak terjadi gesekan di antara kedua kelompok suporter.
Nyanyian para pendukung Brasil dan Maroko itu seakan hendak menggantikan drama musikal Broadway yang selama ini menjadi salah satu daya tarik di Times Square. Kawasan ini dikenal dengan drama musikal legendaris seperti Hamilton, Moulin Rouge! The Musical, dan & Juliet.
Para pengunjung lain tampak menikmati duel nyanyian suporter tersebut, yang terasa sangat berbeda dengan budaya suporter di ”Negeri Paman Sam”.
Di pertandingan bola basket, misalnya, suporter paling meneriakkan ”defence, defence” berulang-ulang saat timnya diserang, atau di sepak bola Amerika yang paling hanya mengibas-ngibaskan handuk.
”Laga ini akan sangat berat bagi kedua tim. Saya memprediksi skor 1-1,” kata Saber Boukhari, seorang suporter Maroko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/bfa8b4d27147ba53f9295a4f3188e867-1000115714.jpg)
Boukhari (@sabnero), yang merupakan seorang influencer dengan jumlah pengikut Instagram lebih dari 1 juta, datang dari Meknes, Maroko, untuk mendukung timnya selama Piala Dunia 2026.
”Ini kesempatan sekali seumur hidup. Jadi, meskipun mahal, saya tetap datang ke AS untuk mendukung Maroko,” katanya sambil menyebut bahwa Raphinha, bukan Vinicius Junior, yang paling membuatnya khawatir bakal mengancam gawang ”Singa Atlas”.
”Raphinha, dia cepat, bisa finishing, dan selalu bekerja keras ikut pressing, membantu pertahanan,” kata Boukhari.
Dari statistik pertemuan kedua tim, Brasil masih unggul, tetapi hasil laga terakhir memihak Maroko. Kedua tim pernah bertemu tiga kali, dengan Brasil mencatatkan dua kemenangan, salah satunya hasil 3-0 pada Piala Dunia 1998 di Perancis.
Akan tetapi, dalam pertemuan terakhir tahun 2023, Maroko menang 2-1 pada laga persahabatan. Hasil itu menunjukkan Maroko adalah lawan sepadan Brasil.
Bagi Brasil, meski memenangi Piala Dunia lebih banyak dibandingkan dengan negara-neraga lain, trofi terakhir direbut sudah lebih dari dua dekade lalu, tepatnya pada edisi Korea-Jepang 2002.
Artinya, selama lima edisi terakhir, Brasil tampil jauh di bawah ekspektasi. Mereka bahkan mengalami tragedi kelam ketika kalah telak 1-7 dari Jerman di semifinal saat menjadi tuan rumah pada 2014.
Kini, di bawah asuhan Pelatih Carlo Ancelotti, Brasil menunjukkan sisi lain tim yang lebih terstruktur dibandingkan dengan ciri khas tim ”Samba” sebelumnya. Ancelotti memprioritaskan organisasi pertahanan dan kendali di lini tengah, membangun tim di sekitar talenta Vinicius Junior dan Raphinha.
Jika ada pelatih yang memiliki keahlian untuk mengeluarkan kemampuan terbaik seorang bintang, dia adalah Ancelotti, yang sentuhan tangan emasnya terbukti ampuh di Real Madrid dan sejumlah klub papan atas Eropa lainnya. Kehebatan sang pelatih diakui Raphinha, bintang Barcelona yang beberapa kali bertemu dengan Real Madrid asuhan Ancelotti.
”Sejarah yang dia bangun di dunia sepak bola mengagumkan, tidak hanya bagi orang-orang yang bekerja bersamanya, tetapi juga bagi lawan. Saya berharap bisa melakukan hal menguntungkan dari semua hal yang pernah saya lakukan saat melawannya, terutama di Piala Dunia,” kata Raphinha di laman federasi sepak bola Brasil.
Kembalinya Neymar memberikan aura seorang legenda meskipun sang pemain sudah tidak membela Selecao selama tiga tahun terakhir. Melawan Maroko, Ancelotti kemungkinan bakal mengandalkan lini depan yang ditempati Vinicius, Raphinha, dan Matheus Cunha, sementara Neymar masih harus fokus memulihkan cederanya.
Fleksibilitas lini depan Brasil ini mendukung pendekatan serangan tim yang cair, di mana para penyerang bisa bertukar posisi sesuai situasi permainan.
Saat menguasai bola, Brasil menyerang dengan dinamis, dengan bek kanan lebih maju. Di posisi gelandang, Bruno Guimaraes dan Casemiro akan berperan sebagai anchor untuk melindungi Gabriel Magalhaes dan kawan-kawan di lini pertahanan.
Masalahnya bagi Brasil adalah mereka tak lagi memiliki seorang bek sayap andal sepeninggal Cafu, Maicon, Marcelo, dan terakhir Dani Alves.
Celakanya lagi bagi Brasil, salah satu pemain yang bisa menjadi andalan di posisi bek sayap, Wesley Franca, mengalami cedera parah saat laga pemanasan melawan Mesir, beberapa hari jelang kick off Piala Dunia.
Kenyataan pahit itu pun memaksa Ancelotti mencoret sang pemain dan menggantinya dengan memanggil gelandang Ederson yang bermain di Atalanta.
Keputusan ini sangat berani bagi Ancelotti karena ia tidak memanggil seorang bek sayap, melainkan seorang gelandang. Kemungkinan, pelatih asal Italia ini lebih memilih memperkuat kedalaman lini tengah atau memainkan seorang gelandang untuk mengisi peran sebagai bek sayap.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/f46350f35a6e8286f7b03828b25ededc-1000115734.jpg)
Dari sisi Maroko, mereka datang ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tim dengan status yang tengah menanjak sebagai salah satu kekuatan dunia. Empat tahun lalu, mereka mengejutkan Piala Dunia dengan mencapai babak semifinal di Qatar.
Hanya saja, kerugian bagi tim asuhan Pelatih Mohamed Ouahbi ini adalah absennya penyerang sayap andalan, Abdessamad Ezzalzouli, akibat cedera. Karena baru menangani Maroko dalam empat laga, tidak banyak waktu bagi Ouahbi untuk bereksperimen dengan skuadnya.
Tidak banyak perbedaan permainan Maroko di bawah pelatih sebelumnya, Walid Regragui, dengan tim saat ini. Ouahbi yang membawa Maroko U-20 menjadi juara dunia masih mengandalkan struktur dan kokohnya lini pertahanan.
Hasil pertandingan bakal ditentukan pertarungan antara blok pertahanan Maroko dan kreativitas lini serang Brasil, terutama pertarungan antara Vinicius dan bek kanan Achraf Hakimi.
Jika tim asuhan Ancelotti mampu memancing para pemain bertahan Maroko keluar lewat operan bola yang sabar di lini pertahanan-lini tengah, lalu memanfaatkan lebar lapangan melalui Vinicius dan Raphinha, mereka akan mampu mengancam gawang Yassine Bounou.
Jalan terbaik bagi Maroko untuk meraih hasil positif melawan Brasil adalah fokus pada pertahanan, kemudian melakukan serangan balik melalui overlapping Hakimi. Pertarungan sengit pun akan terjadi di antara dua pemain kelas dunia, Hakimi dan Vinicius di sisi sayap kanan Maroko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/bac23954b6654dbb1906ba1138b505be-1000115755.jpg)
Hakimi yang baru meraih dua kali trofi beruntun Liga Champions bersama PSG harus hati-hati saat membantu serangan karena posisi yang ditinggalkannya di lini belakang rawan dieksploitasi oleh Vinicius.
Jika Hakimi mampu meredam ancaman Vinicius, setidaknya separuh ancaman Brasil bisa dicegah. Begitu juga jika sisi kiri Brasil tak mampu membendung gerakan Hakimi, gawang Alisson Becker dalam bahaya. Terlebih, Maroko masih punya senjata mematikan, Brahim Diaz.
Neymar kemungkinan besar hanya akan menjadi pemandu sorak dari pinggir lapangan pada laga perdana karena masih dalam tahap pemulihan cedera. Seperti dilaporkan Reuters, Neymar lagi-lagi absen saat Brasil menjalani latihan di markas tim di kawasan Morristown, New Jersey, Rabu (10/6/2026).
Latihan itu diwarnai perayaan ulang tahun ke-67 Ancelotti. Para pemain melakukan penghormatan kepada sang pelatih yang didapuk untuk mengakhiri penantian 24 tahun puasa gelar Piala Dunia untuk Selecao.
Neymar terus menjalani rehabilitasi intensif dari cedera betis yang dialaminya saat membela Santos pada pertengahan Mei lalu. Selain hampir dipastikan absen pada laga perdana, pemain berusia 34 tahun ini juga masih belum dipastikan bisa tampil pada dua laga penyisihan grup lainnya melawan Haiti dan Skotlandia.
Meskipun Neymar absen, sejumlah pengamat sepak bola Brasil tetap optimistis meskipun mereka meminta para pemain tetap waspada. ”Brasil bukanlah favorit utama, tetapi mereka memiliki para pemain hebat yang bisa bersatu untuk membentuk sebuah tim yang solid. Saya rasa mereka punya peluang,” kata Zinho, gelandang kunci saat skuad Brasil menjuarai Piala Dunia di AS pada 1994.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto dari New York, Amerika SerikatEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar