Bukan sekadar memperkuat solidaritas, jagat maya juga jadi arena warga mengontrol penyelenggaraan negara atas penanganan bencana.
06 Des 2025 18:31 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Bahana Patria Gupta
Dalam situasi bencana, jagat maya menyimpan daya besar pada ruang media sosial. Arena nirpapan itu menumbuhkan solidaritas rakyat secara organik atas dasar keprihatinan sesama warga. Secara bersamaan kamera ponsel warga memotret realitas lapangan sekaligus mengontrol penanganan bencana oleh negara. Sederet hal itu muncul ketika bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Sumatera.
Pengajar hukum tata negara dari Universitas Andalas, Feri Amsari, termasuk salah seorang yang menjaring solidaritas sesama warga itu. Ia dibuat gusar sehubungan penanganan bencana banjir di Sumatera Barat.
Berhari-hari banyak wilayah terendam, tetapi bantuan logistik tak kunjung datang. Kabar semacam itu diterimanya dari kawan-kawannya sesama aktivis yang juga menjadi korban. Alhasil, ia terdorong untuk ikut bergerak mengumpulkan bantuan.
Sebagai seorang praktisi hukum kondang sekaligus figur publik, kebetulan media sosial Feri diikuti banyak orang. Jumlah pengikutnya mencapai 31,2 ribu dari media sosial X, yang dulu disebut Twitter, sedangkan Instagram-nya menyentuh 153.000 pengikut. Dari kedua akunnya yang sama-sama bernama @feriamsari, poster pengumpulan donasi diunggahnya sejak 28 November 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/45b595ad1badac436ac4d6458ec61d34-20251204BAH15.jpg)
”Waktu itu, saya sedang persiapan menuju Jakarta. Tetapi, melihat kondisi itu, tanpa pikir panjang saya umumkan saja. Makanya, itu waktu juga pakai rekening pribadi, kan. Ini karena situasinya juga tidak mudah, terutama respons pemerintah pusat terkesan lambat,” kata Feri saat dihubungi, Jumat (5/12/2025).
Menurut Feri, animo publik memberikan donasi luar biasa besar. Warga berduyun–duyun mengirimkan uang yang jumlahnya bermacam-macam. Dari hanya Rp 100.000 sampai berjuta-juta, bergantung kemampuan keuangan masing-masing. Total donasi sebesar Rp 60 juta terkumpul dalam waktu empat hari.
Uang donasi itu kemudian sebagian dibelanjakan logistik, seperti sembako, alat kesehatan, dan popok, untuk segera disalurkan ke pengungsi. Adapun penyalurannya sampai ke wilayah-wilayah pelosok. Pengiriman logistik dibantu jejaring pertemanan Feri sesama aktivis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/1eb4b113a4772e27a97e9c1c7a8efd10-IMG20251204101911_01.jpg)
Sebagian uang donasi lainnya ada yang ditransfer langsung ke pihak-pihak yang menangani pengungsian agar nanti dibelanjakan sesuai kebutuhan masing-masing. Bahkan, ada seorang mahasiswa yang dibantu uang untuk membeli laptop baru gara-gara rusak terendam banjir.
”Bantu-bantu secara personal, kami tidak sanggup. Tetapi, imajinasi saya ada teman-teman dari berbagai tempat yang akan membantu juga. Ada yang besar, ada yang secukupnya saja. Bagi saya, ini kekuatan publik,” jelas Feri.
Setiap bantuan dan pengeluaran uang donasi dilaporkan secara terbuka melalui akun X dan Instagram Feri. Itu termasuk tangkapan layar transfer dan bukti pembelanjaannya. Hanya saja, penggalangan dana yang dilakukannya berhenti pada hari keempat. Ia merasa tak elok jika dana publik terkumpul di rekening pribadinya. Di sisi lain, semakin banyak pihak yang melakukan pengumpulan dana untuk penyaluran bantuan.
”Waktu itu pakai rekening pribadi karena tidak ada pilihan. Dan, kami juga melaporkannya secara terbuka. Ini yang tersisa akan kami salurkan sampai habis nanti,” terang Feri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/8da3dfb0cdded35676e22c5f2fc731e7-1.DSC09130.jpg)
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang melakukan hal serupa. Instagram lagi-lagi dijadikan kanal guna menyiarkan penggalangan donasi. Sejak 27 November 2025, poster yang menyiarkan gerakan bernama ”Warga Bantu Warga” mereka unggah dan direspons apik warganet. Hingga Sabtu (6/12/2025), unggahan itu telah disukai lebih dari 5.000 pengguna Instagram dan dibagikan kembali sebanyak 1.970 kali.
Respons apik publik terlihat dari banyaknya jumlah donasi. Hingga Jumat kemarin, sebanyak Rp 450 juta telah terkumpul. Uang sebanyak itu dialokasikan untuk membeli bahan kebutuhan pokok, seperti sembako, pakaian, selimut, obat-obatan, popok, pembalut, dan perlengkapan mandi. Sebagian uang lainnya digunakan untuk mendanai dapur umum yang didirikan di sejumlah titik.
”Dari media sosial ini, animo masyarakat untuk membantu memang cukup tinggi. Arus informasi juga cepat tersebar. Jadi, menurut saya, ini sangat memberikan dampak atas gerak cepat bantuan,” kata Direktur LBH Padang Diki Rafiqi.
Bukan sekadar donasi, ujar Diki, LBH Padang juga membuka rekrutmen sukarelawan. Sejauh ini, sebanyak 105 orang dari berbagai latar belakang ikut bergabung. Mulai dari mahasiswa, pekerja, sampai dokter. Tugas mereka macam-macam, terentang dari distribusi bantuan, pencarian orang hilang, sampai paramedis di posko-posko pengungsian.
”Ini pengalaman pertama bagi kami untuk ikut penanggulangan bencana. Jadi, kami sambil belajar juga soal bagaimana mengatur gudang, distribusi, alokasi kebutuhan, dan lain-lain. Tetapi, karena teman-teman yang tergabung dalam Warga Bantu Warga ini semangat, jadi semuanya teratasi,” kata Diki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/8ffa129baf998d26be7ea29ec2a2fe8c-WhatsApp_Image_2025_12_06_at_4.01.31_PM.jpeg)
Kisah penggalangan bantuan jalur daring juga terdengar dari Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Salah seorang yang melakukannya adalah Sendi Zuhan Pratama (29). Aksi itu ia jalani bersama sejumlah kawan tongkrongannya. Keprihatinannya bermula dari melihat kondisi warga dari kecamatannya yang tidak banyak mendapat bantuan.
”Banyak warga yang membuka pengungsian pribadi. Jadi, mengungsi di rumah-rumah warga yang punya lantai dua. Itu bantuan tidak ada yang masuk saking banyaknya tempat yang terkena bencana,” tutur Sendi.
Akhirnya, ia memanfaatkan fitur story Instagram untuk mengunggah poster pembukaan donasi. Awal-awal sewaktu dibuka, puluhan orang mengirimkan pesan ke akunnya untuk mengirimkan bantuan. Sedikit demi sedikit bantuan itu terkumpul sekitar Rp 15 juta dan segera dibelanjakan barang-barang logistik untuk disalurkan ke masyarakat. Setiap penyaluran bantuan ia laporkan menggunakan akun media sosialnya itu.
Semua bantuan ini bisa disalurkan berkat besarnya antusiasme orang-orang yang membantu. Jadi, luar biasa sekali media sosial ini.
Proses penyaluran terkadang sulit. Sewaktu banjir masih tinggi, ia terpaksa hanya bisa mengirimkan bantuan pangan berupa biskuit. Pasalnya, rata-rata genangan air setinggi lutut sampai dada orang dewasa. Lantas, bantuan dimasukkan ke boks-boks gabus dan dibawa memasuki ke warga yang mengungsi di rumah-rumah itu. Baru dua hari terakhir ia bisa menyalurkan bantuan berupa bahan-bahan pokok ke wilayah pelosok seiring surutnya air banjir di sejumlah lokasi.
”Semua bantuan ini bisa disalurkan berkat besarnya antusiasme orang-orang yang membantu. Jadi, luar biasa sekali media sosial ini,” kata Sendi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/04/5b193dc236d5d8b291379228ada9e07b-20251204BAH1.jpg)
Lebih fenomenal lagi penggalangan donasi dari media sosial yang dilakukan pemengaruh (influencer) Ferry Irwandi yang memiliki pengikut Instagram berjumlah 3,8 juta. Kerja sama penggalangan donasi ia jalin bersama platform ”Kitabisa”. Hanya dalam waktu 24 jam, donasi sebesar Rp 10,3 miliar terkumpul.
Ferry takjub sendiri atas jumlah donasi itu. Enggan besar kepala, ia mengatasnamakan segenap bantuan itu ”Atas Nama Rakyat Indonesia”. Ia kemudian ikut menyalurkannya secara langsung menuju ke sejumlah wilayah Sumatera. Bahkan, ia sampai memasuki salah satu titik paling sulit dijangkau, yakni Tamiang, Aceh.
Bantuan yang diberikan itu berupa makanan siap santap dan bahan pokok lainnya. Mekanisme penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap. Sebanyak 5,6 ton paket bantuan dikirimkan dua hari berturut-turut sejak Jumat kemarin dengan bantuan pesawat dari Direktorat Kepolisian Air dan Udara.
”Terima kasih untuk 87.000 orang yang memberikan donasi yang gak bisa gue sebutin satu per satu dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan crowdfunding ini, semua bentuk bantuan sangat berarti, sekali lagi terima kasih,” tulis Ferry pada salah satu unggahan Instagramnya terkait bantuan-bantuan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/96cdf634b3672091cf900e9be4b3e052-7.DSC09206.jpg)
Dihubungi secara terpisah, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito, menyampaikan, masyarakat Indonesia sedari awal memiliki modal sosial yang kuat. Setiap terjadi peristiwa bencana, apalagi dalam skala besar, penggalangan bantuan selalu berlangsung cepat dari rakyat. Era media sosial pun semakin memperluas jangkauan informasi sehingga bantuan yang terkumpul bisa demikian besar.
”Ini aspek baik dari media sosial yang mampu memupuk solidaritas sosial. Ini sekaligus memperkuat para korban dan membangun kepedulian dari orang-orang yang tidak datang langsung sampai ke lokasi bencana,” kata Arie.
Di sisi lain, lanjut Arie, media sosial juga seakan membebaskan masyarakat untuk ikut mengontrol negara menjalankan tugasnya. Misalnya, mekanisme penyaluran bantuan dengan cara diterbangkan ternyata mengakibatkan bantuan itu tidak benar-benar terserap dan banyak yang rusak. Kritik itu dilayangkan langsung oleh warga melalui rekaman kamera ponselnya yang selanjutnya diunggah pada media sosial.
”Media sosial sering kali mengungkap fakta yang tidak diketahui publik. Tujuannya bukan soal menjelek-jelekkan, melainkan mengingatkan. Karena, faktanya memang banyak sekali keteledoran negara itu harus diingatkan. Itulah fungsi kebebasan dan demokrasi,” kata Arie.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/06/d5611568f3cf895e30713b29ebf1dde2-WhatsApp_Image_2025_12_06_at_4.00.23_PM.jpeg)
Hanya saja, Arie juga menyoroti celah media sosial yang bisa menyebarkan kabar-kabar bohong. Dalam situasi bencana, sebaran kabar bohong akan sangat membahayakan. Lebih-lebih sekarang informasi bisa dipalsukan sedemikian rupa dengan adanya teknologi akal imitasi (AI). Oleh karena itu, ia meminta warga sebijak mungkin menelaah informasi yang diterimanya.
Ihwal solidaritas sosial, lanjut Arie, hendaknya tidak dijadikan tumpuan penanganan bencana. Memang, mekanisme rakyat bantu rakyat akan terjadi secara organik dalam kondisi kedaruratan. Akan tetapi, pemerintah juga tidak bisa terjebak terlalu lama dalam teknokrasi yang berlarut-larut sehingga penanganan bencananya justru terlambat.
”Inilah negara perlu memikirkan policy-policy yang tidak semata-mata dipikirkan pada saat kejadian. Sejumlah kerentanan dan risiko yang ada itu harus bisa dikalkulasi, atau dimitigasi. Bagaimanapun skala solidaritas sosial itu terbatas dan negara perlu hadir dan bertanggung jawab. Jika tidak, lagi-lagi yang menjadi korban adalah masyarakat,” kata Arie.
Penulis:
Nino Citra AnugrahantoEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto