Tak hanya klub, timnas Italia pun lebih senang mempekerjakan pelatih lokal selama bertahun-tahun. Ada latar sejarah mengapa pelatih lokal amat digemari di Italia.
13 Jul 2025 12:13 WIB · Olahraga
Keputusan Fiorentina menunjuk Stefano Pioli menggantikan Rafael Palladino kian menegaskan semangat primordialisme di Serie A. Selama ini, ada kecenderungan pelatih asli Italia hanya hilir mudik ke sesama klub lokal.
Polanya pun tergolong serupa. Ketika dipecat klub lama, pelatih lokal akan mencari tujuan baru sesama klub Italia. Tidak jarang juga setelah dipecat mereka kembali melatih klub yang sama selang beberapa musim kemudian.
Pioli hanya bertahan sembilan bulan menangani klub kaya raya Arab Saudi, Al-Nassr. Pelatih berusia 59 tahun itu tidak butuh waktu lama menemukan pekerjaan baru.
Serie A selalu memiliki tempat untuk pelatih-pelatih lokal dan Pioli merasa terpanggil kembali ke sana. Secara kebetulan, Fiorentina tengah mencari pengganti Rafael Palladino yang mengundurkan diri pada Mei. Kesepakatan terjadi, Pioli diikat kontrak selama tiga musim.
Pioli sebelumnya sempat melatih Fiorentina pada rentang 2017-2019. Tidak ada prestasi yang dia raih selama dua musim. Fiorentina konsisten menjadi penghuni papan tengah. Namun, dia memiliki ikatan kuat dengan kota dan para pemain karena tragedi kematian mendadak kapten tim Davide Astori.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/23/47fe8449-de16-4b6f-a03e-c69dc53e8b48.jpg)
”Sejak kata-kata pertama, saya melihat nilai-nilai bagus dan keinginan untuk berjuang untuk klub dan kota ini, yang sudah dia kenal dengan baik. Saya, keluarga, dan semua bagian dari Fiorentina menyambut kembalinya Stefano, serta kami doakan yang terbaik untuk petualangan baru dalam seragam Viola ini,” kata Presiden Fiorentina Rocco Commisso dikutip dari Football Italia, Sabtu (12/7/2025).
Kepindahan kembali Pioli ke Fiorentina bukanlah hal aneh di Serie A. Kompetisi ini memang dikenal sangat ramah dengan pelatih asli Italia.
Setiap musim, kita terbiasa mengikuti kabar mengenai pelatih Italia yang dipecat lalu bisa mendapatkan klub baru lainnya di Serie A. Tidak jarang juga klub kembali mempekerjakan pelatih yang pernah mereka pecat beberapa musim sebelumnya.
Kecenderungan ini membuat Serie A layaknya tempat sirkulasi abadi pelatih-pelatih Italia. Selain Pioli, ada pula pelatih elite seperti Antonio Conte dan Massimilano Allegi yang berputar-putar menangani klub-klub raksasa Serie A.
Tidak ada larangan bagi pelatih asing di Serie A, tetapi klub-klub lebih senang merekrut pelatih lokal. Musim lalu, hanya ada tujuh pelatih asing dari 20 klub kontestan Serie A.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/14/d9b7b06e-9c6e-4bff-831f-e97626b6af94.jpg)
Kondisi itu berbanding terbalik dengan Liga Inggris, di mana hanya ada tiga pelatih asli Inggris. Pelatih asing justru lebih mendapat kepercayaan menangani tim-tim Liga Inggris.
Kecenderungan menggunakan jasa pelatih lokal tidak hanya menjangkiti klub, tetapi juga timnas Italia. Sepanjang sejarahnya, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) hampir selalu mengangkat pelatih lokal.
Terbaru adalah penunjukan Gennaro Gattuso sebagai pelatih menggantikan Luciano Spalletti. Satu-satunya pelatih asing yang pernah menangani timnas Italia hanyalah Lajos Czeizler. Pelatih asa Hongaria itu menangani tim ”Azzurri” pada 1953-1954.
Kecenderungan klub-klub Italia yang senang menggunakan jasa pelatih lokal bisa dimengerti lewat kacamata sejarah. Setidaknya sejak 2000 hingga saat ini, pencapaian pelatih-pelatih asing tidak sesukses pelatih asli Italia di Serie A.
Dari sekian banyak pelatih asing yang pernah beredar di Serie A, hanya Sven-Goran Erikson dan Jose Mourinho yang pernah menaklukkan tanah Italia. Erikson membawa Lazio menjuarai Serie A pada 2000, sementara Mourinho mempersembahkan trigelar dalam semusim pada 2010.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/08/85b012be-515a-4f4c-99d6-2527ef6db2c6.jpg)
Kiprah pelatih Italia yang lebih menjanjikan selama bertahun-tahun memengaruhi kepercayaan klub pada pelatih asing. Pelatih asli Italia diyakini punya potensi sukses yang jauh lebih besar di tanah kelahiran mereka sendiri.
Selain faktor kepercayaan dan sejarah, Serie A yang amat taktikal menjadi pertimbangan klub untuk lebih memprioritaskan pelatih lokal. Di Serie A, seorang pelatih harus konsisten dengan taktik yang dianutnya. Mereka juga harus tidak mudah goyah dengan pengaruh luar. Ini lantaran Serie A lebih menekankan pada pemilihan taktik dibandingkan gaya bermain dan ideologi.
Karena liganya sangat taktikal, maka yang sering kali terjadi di Serie A adalah pertempuran taktis. Diskursus yang terjadi kemudian adalah mana taktik pelatih yang bisa membawa tim meraih kemenangan atau sebaliknya. Oleh karena itu, pelatih yang tidak punya konsep taktik yang jelas atau suka berspekulasi tidak cocok di Serie A.
Hal itulah yang menjelaskan mengapa Mourinho dan Allegri amat disukai di Italia. Mourinho punya pakem taktik yang jelas dengan pragmatismenya, ia cenderung tak berubah-ubah. Adapun Allegri terkenal berkat pendekatan corto muso atau filosofi bahwa memenangkan pertandingan jauh lebih utama meski diraih dengan skor tipis.
”Ketika Mourinho ditanya apa yang paling dia rindukan dari Serie A, dia selalu menjawab pertempuran taktis. Begitulah, liga kami adalah liga yang sulit. Bagi kami orang Italia, seni kepelatihan diturunkan di lapangan,” ujar mantan Direktur Sekolah Kepelatihan Coverciano Renzo Ulivieri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/25/4d88529e-5c5a-4520-b6b8-4b1e14942a3f.jpg)
Coverciano merupakan sekolah khusus pelatih di Italia. Dari sana pelatih-pelatih Italia ditempa dengan kurikulum khusus dan harus menyelesaikan semacam tesis untuk lulus. Seni kepelatihan yang diturunkan di lapangan, sebagaimana diucapkan Ulivieri, berkaitan dengan kurikulum kepelatihan di Coverciano.
Salah satu hal yang diajarkan di Coverciano adalah pendekatan sepak bola yang fleksibel. Para pelatih didorong agar memiliki kebebasan kreatif dan daya interpretasi yang luas.
Para calon pelatih di Coverciano mempelajari semua filosofi sepak bola terpenting dalam beberapa dekade terakhir. Mereka kemudian diarahkan untuk mengadaptasikan pengetahuan yang mereka peroleh berdasarkan visi permainan mereka sendiri dan karakteristik pemain yang tersedia di tim.
Model ini mengajarkan fleksibilitas dan mengupayakan kelengkapan formal sehingga pelatih yang dilatih di Italia memiliki, setidaknya secara teori, alat untuk mengimplementasikan dan mendekonstruksi semua jenis strategi, membangun menu taktis yang luas untuk memilih solusi terbaik. Tidak heran bila Simone Inzaghi bisa membangun Inter Milan menjadi tim yang tangguh meski dibekali modal belanja pemain yang terbatas.
Apa yang dicapai Inzaghi musim lalu dengan mengantar Inter hingga final Liga Champions meski berkekuatan pemain-pemain biasa semakin membuka mata bahwa pelatih Italia pun punya kemampuan yang mumpuni. Dengan demikian, wajar bila pada akhirnya semangat primordialisme begitu kuat mengakar di Serie A.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan