Bakal Evaluasi Tiga Hal, Dedi Mulyadi: Keracunan MBG Picu Trauma

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti tiga hal yang dinilai penting untuk menekan kasus keracunan MBG di Jawa Barat.

25 Sep 2025 09:31 WIB · Kesehatan

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

BANDUNG, KOMPAS — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut ada tiga hal yang mesti dievaluasi dalam pelaksanaan makanan bergizi gratis di wilayahnya. Diharapkan, kasus keracunan dalam pelaksanaan program pemerintah pusat ini tidak terulang lagi. 

Dedi mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang mesti menjadi perhatian utama penyelenggara program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jabar. Ketiganya rentan membuat makanan tidak layak lagi ketika disantap oleh para siswa.

Tiga hal itu, pertama, kemungkinan kemampuan dapur layanan MBG di Jabar tidak seimbang dengan jumlah orang yang harus dilayani. Kedua, jarak yang ditempuh untuk mengirimkan makanan dari satu dapur ke sekolah terlalu jauh.

Label pemeriksaan siswa keracunan di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9/2025).

”Ketiga, penyelenggara layanan ingin melakukannya sekaligus. Jadi, mereka memasak sejak pukul 24.00, tetapi makanannya untuk dibagikan pukul 12.00,” ujarnya di Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025).

Oleh karena itu, guna menyikapi kasus-kasus keracunan yang terjadi, evaluasi menyeluruh diperlukan. Dedi menyatakan bakal segera bertemu dengan pengelola MBG di Jabar. Bila ternyata tidak mampu melakukan tugas dengan baik, penyelenggara itu harus segera diganti. 

”Sejauh ini, memang belum memakan korban jiwa, tetapi kasus ini memicu trauma. Manfaat program ini tidak akan dirasakan bila siswanya trauma tidak mau makan MBG,” katanya.

Anak korban keracunan makanan bergizi gratis (MBG) dirawat di GOR Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (24/9/2025). Dalam tiga hari terakhir, tercatat hampir 1.000 siswa keracunan akibat sajian MBG. 

KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG (CHE)
24-09-2025

Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman mengatakan, kasus keracunan menu MBG di Kabupaten Bandung Barat melibatkan dua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni SPPG Mekarmukti di Kecamatan Cihampelas dan SPPG Neglasari di Kecamatan Cipongkor. 

SPPG Mekarmukti melayani kurang lebih 1.600 siswa setiap hari, sedangkan SPPG Neglasari melayani 3.800 anak setiap hari. 

Kasus keracunan ini pertama kali terjadi setelah MBG berjalan di wilayah itu setidaknya sebulan terakhir. Total korban keracunan di dua tempat itu nyaris mencapai 1.000 orang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto