Isu ”deep learning” menggantikan Kurikulum Merdeka menjadi isu di media sosial. Hingga kini, belum ada keputusan untuk mengganti kurikulum.
12 Nov 2024 11:18 WIB · Nasional
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkapkan gagasan akan menerapkan pendekatan belajar secara mendalam atau deep learning pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Namun, ini bukan kurikulum pengganti Kurikulum Merdeka yang diinisiasi menteri sebelumnya, Nadiem Anwar Makarim.
Menteri Mu’ti menjelaskan, kajian yang saat ini sedang dilakukan adalah menyangkut pendekatan pendidikan, termasuk deep learning, bukan perubahan struktural pada kurikulum. Isu deep learning menggantikan Kurikulum Merdeka hanya sekadar isu liar di media sosial. Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi untuk mengganti kurikulum yang telah diterapkan.
”Deep learning itu bukan kurikulum. Itu pendekatan belajar,” kata Mu’ti saat audiensi dengan sastrawan di Jakarta, Jumat (8/11/2024).
Lalu sebenarnya apa itu pendekatan belajar deep learning?
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Cecep Darmawan menerangkan bahwa deep learning bukan teknik belajar yang sekadar menekankan pada hafalan, melainkan lebih pada pemahaman dan pemikiran kritis yang kontekstual.
Deep learning bisa tercipta jika sistem di sekolah mendukung.
Pendekatan ini menekankan pada tiga aspek utama, yakni mindful learning, meaningful learning, dan joyfull learning. Mindful learning mendorong siswa untuk aktif berdiskusi dan bereksperimen, lalu meaningful mengajak siswa memahami alasan di balik setiap materi pelajaran, dan semua harus dilakukan untuk menciptakan pengalaman belajar yang joyfull atau menyenangkan.
”Jadi bukan lagi membahas definisi konsep saja, tetapi pembelajarannya harus kontekstual sehingga ia membutuhkan materi yang mendalam agar siswa bisa meningkatkan pemikiran kritis dan inovatif, serta bisa menghubungkan dengan konsep lain dalam penerapan ilmunya,” kata Cecep, Selasa (12/11/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/04/20/411dcb3f-d783-4358-990b-462105e90bc4_jpg.jpg)
Cecep mengatakan, pendekatan ini bisa dilakukan dengan berbasis pada transformasi pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif. Oleh karena itu, penting bagi Kemendikdasmen untuk menguatkan pendidikan dan pelatihan bagi guru agar mampu menggunakan pendekatan deep learning kepada murid-muridnya.
”Guru tidak boleh lagi hanya menyampaikan informasi, dia harus bisa mengembangkan murid untuk memecahkan masalah, inovatif, dan belajar mandiri. Ini butuh guru yang bisa mengelola kelas dengan baik, gurunya harus pembelajar sepanjang masa dan kontekstual,” ujarnya.
Tak hanya guru, Cecep juga menekankan bahwa deep learning bisa tercipta jika sistem sekolah tersebut juga mendukung. Semua warga sekolah, mulai dari petugas keamanan, petugas kebersihan, pedagang di kantin, tenaga kependidikan, guru, hingga kepala sekolah juga harus terlibat.
Profesor di Sekolah Kurikulum dan Pedagogi The University of Auckland, Selandia Baru, Graham McPhail, dalam risetnya menjelaskan bahwa deep learning bukan hal baru. Pendekatan ini sudah ada sejak awal abad ke-21. Deep learning bermanfaat untuk menantang dan memotivasi siswa supaya memahami masalah-masalah di dunia nyata.
”Pembelajaran mendalam melibatkan pemahaman dan pemanfaatan hubungan antara konsep dan pengetahuan prosedural dengan mampu menerapkan konseptual pengetahuan dalam konteks baru,” kata Graham.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/03/11/afcbb612-e533-48e8-9f06-4997c04efb8e.png)
Guru yang menerapkan deep learning harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, memberikan ruang diskusi, serta mendorong kolaborasi dan pemecahan masalah.
Terkait isu perubahan kurikulum, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa dia masih dalam proses menampung aspirasi dari berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan dasar dan menengah. Setelah itu, dia akan meramu kebijakan terbaik agar perbaikan-perbaikan yang dilakukan tidak membingungkan.
”Saya kira itu belum akan kita ambil (keputusan) karena sesuai dengan arahan Pak Presiden, ojo kesusu, jangan tergesa-gesa,” kata Mu’ti seusai rapat koordinasi evaluasi kebijakan pendidikan dasar dan menengah di Jakarta, Senin (11/11/2024).
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan