DeepSeek Bikin Investor Teknologi AS Ketar-ketir

Panik dan cemas dengan munculnya DeepSeek, para investor teknologi di AS minta bantuan pemerintah melawan perusahaan-perusahaan pesaing mereka dari China.

30 Jan 2025 09:14 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

WASHINGTON, KAMIS — Kemunculan chatbot DeepSeek membuat para investor teknologi Amerika Serikat di Silicon Valley panik dan cemas. Mereka menyerukan agar pengembangan teknologi kecerdasan buatan bergerak lebih cepat sehingga dapat mengalahkan China sebelum terlambat.

Saking cemasnya dengan revolusi kecerdasan buatan (AI) dan potensi kemampuan China yang mengancam dominasi AS, mereka kini meminta bantuan dari Pemerintah AS untuk melawan pesaing dari China.

”Ini persaingan geopolitik yang serius dan China melakukannya dengan sangat keras,” kata CEO Meta Mark Zuckerberg memperingatkan dalam podcast The Joe Rogan Experience, Rabu (29/1/2025) waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia.

Zuckerberg mengakui, DeepSeek adalah ”model yang sangat maju” meski menyensor peristiwa bersejarah, seperti tragedi Tiananmen. Oleh karena itu, AS harus mengungguli atau membuat AI yang lebih baik.

Google tidak secara khusus menyebut DeepSeek. Namun, Google menyatakan, AS harus segera bertindak untuk mempertahankan keunggulannya dalam teknologi AI. Jika tidak, AS akan kehilangan dominasi atau keunggulan strategisnya.

Google meminta bantuan pemerintah untuk memproduksi cip AI, menyederhanakan regulasi, dan meningkatkan keamanan siber terhadap ”musuh AS”. ”Amerika memimpin dalam kompetisi AI, tetapi keunggulan kita mungkin tidak akan bertahan lama,” sebut Google.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump diyakini akan membantu para investor teknologi. Apalagi mengingat kedekatan Trump dengan para miliarder teknologi. Kongres juga pernah sepakat mengesahkan undang-undang yang memerintahkan divestasi Tiktok, anak perusahaan dari ByteDance asal China. Kasus DeepSeek ini mirip dengan Tiktok karena sama-sama dituding sebagai kedok untuk mengumpulkan segala informasi tentang AS dan rakyatnya.

Selain itu, isu persaingan geopolitik antara AS dan China selama ini sengit. ”Jika Amerika tertinggal dari China dalam hal AI, kita akan tertinggal secara ekonomi, militer, sains, pendidikan, di mana-mana,” kata Ketua Fraksi Partai Demokrat di Senat AS Chuck Schumer, Selasa (28/1/2025).

Namun, sejumlah pihak berpendapat, pendekatan agresif AS ini justru bisa menjadi bumerang mengingat ketergantungan Silicon Valley pada tenaga-tenaga berbakat asal China. Peneliti Nvidia, Zhiding Yu, menyoroti kekhawatiran ini di media sosial X. Dia mengingat pernah ada seorang pekerja magang China dari timnya yang kemudian bergabung dengan DeepSeek pada 2023.

”Jika kita terus mengarang agenda geopolitik dan menciptakan opini yang bermusuhan terhadap peneliti China, kita akan rugi sendiri dan kehilangan daya saing yang lebih besar,” tulisnya.

Para pemimpin dunia AI di AS, seperti OpenAI dan Anthropic, paling terancam dengan DeepSeek karena berbiaya lebih rendah. Sebab, mereka selama ini telah menginvestasikan miliaran dollar AS dalam mengembangkan model AI terkemuka.

OpenAI memperingatkan tentang perusahaan-perusahaan China yang mencoba menyalin model AI canggih mereka melalui ”teknik penyulingan”. OpenAI mau memperdalam kolaborasi dengan otoritas AS demi melawan perusahaan China ini. Investor OpenAI, Josh Kushner, mengkritik DeepSeek yang dianggapnya sebagai AI China yang dibuat dengan teknologi AS.

Grafis indeks kualitas produk AI paling mendominasi di dunia. Di antara deretan tersebut, produk asal Amerika Serikat masih mendominasi. Namun, awal Januari 2025, produk AI asal China, DeepSeek, menyalip di urutan kedua setelah produk tercanggih OpenAI dengan nama ChatGPT.

Calon Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, menuding DeepSeek bisa membuat model AI yang canggih dengan harga sangat murah karena memanfaatkan teknologi AS yang dicuri dan semikonduktor canggih AS. Dia menilai, AS perlu menetapkan standar global AI, seperti standar AS untuk keamanan siber.

Meski Pemerintah AS berupaya mempertahankan supremasi AI melalui kontrol ekspor pada cip canggih, DeepSeek telah menemukan cara untuk mencapai hasil yang sebanding dengan menggunakan semikonduktor Nvidia yang sah dan kurang canggih. Popularitas DeepSeek melonjak dan menduduki puncak tangga unduhan Apple.

DeepSeek mencontek ChatGPT?

Lantas, apakah betul DeepSeek mencontek atau meniru ChatGPT? OpenAI dan Pemerintah AS tidak mengungkapkan bukti spesifik ada pencurian kekayaan intelektual. Namun, penasihat AI Trump, David Sacks, meyakini ada bukti substansial bahwa DeepSeek menyaring pengetahuan dari model OpenAI.

OpenAI mengatakan, perusahaan-perusahaan yang berbasis di China terus-menerus mencoba menyaring model-model perusahaan AI di AS. OpenAI tidak secara terbuka menyebut DeepSeek secara spesifik.

The building housing the headquarters of Chinese AI startup DeepSeek is seen in Hangzhou, in China’s eastern Zhejiang province on January 28, 2025. Fears of upheaval in the AI gold rush rocked Wall Street, following the emergence of a popular ChatGPT-like model from China, with US President Donald Trump saying it was a "wake-up call" for Silicon Valley. (Photo by AGATHA CANTRILL / AFP)

Persyaratan penggunaan resmi OpenAI melarang teknik yang dikenal sebagai distilasi atau ”penyulingan”. Teknik ini melibatkan satu sistem AI yang belajar dari sistem AI lain. Model AI yang lebih lama, lebih mapan, dan lebih kuat mengevaluasi kualitas jawaban yang keluar dari model yang lebih baru. Ini efektif mentransfer pembelajaran model lama.

Teknik penyulingan umum digunakan dalam bidang AI dan sulit dihentikan. Namun, hal ini merupakan pelanggaran terhadap ketentuan layanan beberapa model yang dikeluarkan perusahaan teknologi AS dalam beberapa tahun terakhir, termasuk OpenAI.

OpenAI sudah bekerja sama dengan Microsoft untuk mengidentifikasi akun-akun yang mencoba menyaring model-modelnya. OpenAI kemudian melarang akun-akun tersebut dan mencabut akses mereka.

Sikap OpenAI ini dikritik oleh para pengamat. Sebab, OpenAI juga dituding melakukan pencurian hak cipta dalam tuntutan hukum dari organisasi-organisasi media, penulis buku, dan lain-lain. Kasus-kasus ini masih berjalan di pengadilan-pengadilan AS.

Investor teknologi dan dosen di Universitas Cornell, Lutz Finger, mengatakan, melatih ChatGPT pada konten majalah Forbes atau harian The New York Times pun melanggar ketentuan layanan mereka. Finger yang sebelumnya bekerja untuk Google dan LinkedIn mengatakan, meski DeepSeek kemungkinan besar menggunakan teknik penyulingan, akan sulit menemukan buktinya karena mudah disamarkan dan bisa menghindari deteksi.

DeepSeek menjelaskan penggunaan tekniknya dan mengungkapkan ketergantungannya pada model AI yang dapat diakses secara terbuka yang dibuat Meta dan perusahaan teknologi China, Alibaba.

Mantan pejabat Departemen Pertahanan AS yang kini memimpin Wadhwani AI Center di Center for Strategic and International Studies, Gregory Allen, mengatakan, data pelatihan untuk DeepSeek diperoleh dari jutaan interaksi obrolan dengan ChatGPT yang langsung dimasukkan ke dalam data pelatihan DeepSeek.

Pemanfaatan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial intelligence/AI), ChatGPT, di sebuah kantor di Jakarta, Selasa (7/3/2023). ChatGPT adalah chatbot AI berupa model bahasa generatif yang menggunakan teknologi transformer untuk memprediksi probabilitas kalimat atau kata berikutnya dalam suatu percakapan ataupun perintah teks. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Ini tidak selalu merupakan indikasi pencurian, tetapi chatbot cenderung memalsukan informasi. Meski menggambarkan teknologinya sebagai ”sumber terbuka”, DeepSeek tidak mengungkapkan data yang digunakan untuk melatih modelnya.

Wakil Presiden AI di Databricks di San Francisco, AS, Naveen Rao, mengatakan, belajar dari pesaing itu hal yang wajar dalam industri AI. Rao menyamakan hal ini dengan bagaimana produsen mobil akan membeli dan kemudian memeriksa mesin satu sama lain.

Banyak hal tentang DeepSeek yang membingungkan para analis yang mengkaji makalah penelitian publik perusahaan rintisan itu tentang model barunya, R1, dan para pendahulunya.

Di antara perincian yang mengejutkan adalah pernyataan DeepSeek bahwa biaya untuk melatih model unggulan v3 di balik asisten AI-nya hanya 5,6 juta dollar AS. Angka itu hanya mencakup pelatihan chatbot, bukan biaya penelitian dan eksperimen tahap awal. DeepSeek juga tercipta di bawah pembatasan ekspor AS atas cip AI yang paling canggih.

DeepSeek menyatakan, mereka mengandalkan cip AI berperforma relatif rendah dari pembuat chip California Nvidia yang belum dilarang dijual di China oleh AS. Namun, pada 2022, sebuah unggahan media sosial dari High-Flyer menyebutkan, ia telah mengumpulkan 10.000 cip Nvidia yang lebih canggih hanya beberapa bulan sebelum AS membatasi ekspornya ke China.

Belum tuntas perbincangan tentang model AI terbarunya, DeepSeek kembali meluncurkan produk baru yang berfokus pada pembuatan gambar AI. Nama produknya Janus-Pro, muncul untuk menyaingi pesaingnya di AS, DALL-E 3 dan Stable Diffusion. Janus-Pro disebutkan lebih unggul dalam kualitas dan akurasi gambar.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .