Setelah DeepSeek, ke mana tujuan persaingan global AI bermuara?
02 Feb 2025 15:50 WIB · Internasional
Tiba-tiba perlombaan kecerdasan buatan (AI) menarik lagi untuk diikuti setelah lama membosankan tanpa terobosan berarti. Tak hanya membuktikan kekangan teknologi yang diterapkan Amerika Serikat (AS) pada China tak mempan, DeepSeek juga mengubah semua persepsi soal pengembangan AI.
Ibarat kuda hitam yang selama ini tak pernah diperhitungkan, DeepSeek—inovasi teknologi AI China—mengubah peta perlombaan dan masa depan pengembangan AI. Setelah DeepSeek, ke mana akhir persaingan global AI ini bermuara?
”Siapa yang menguasai AI, dia akan menguasai dunia. Sudah banyak pemimpin dunia yang telah menyadari dan menyatakan hal ini,” kata Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (Korika) Hammam Riza, di Jakarta, Rabu (29/1/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/02/16/f5ae6003-eaea-476f-a57a-0cb59290a68a.jpg)
Bayangkan sebuah negara yang memiliki kecerdasan super. Ibaratnya, negara itu mempunyai satu otak yang setara ilmuwan dan pemikir genius yang ada sepanjang masa digabungkan menjadi satu.
Otak seorang Albert Einstein, J Robert Oppenheimer, Louis Pasteur yang menemukan prinsip-prinsip vaksin, atau Marie Curie yang menemukan elemen radioaktif penting digabungkan dengan otak Steve Jobs dan Leonardo da Vinci.
Tak pelak, negara itu akan menguasai dunia dengan penemuan-penemuan yang akan mendominasi dunia. Dari senjata paling cerdas yang lebih mengerikan dari bom nuklir, eksplorasi luar angkasa, hingga mengatasi kelaparan serta menghasilkan obat untuk penyakit paling mematikan.
Siapa yang menguasai AI, dia akan menguasai dunia.
Inilah tujuan akhir dari perlombaan geopolitik era AI, yaitu menghasilkan artificial superintelligence (ASI). Kecerdasan buatan super (ASI) adalah AI dengan cakupan intelektual jauh lebih tinggi dari kecerdasan manusia.
Tak hanya itu, AI yang penggunaannya mendominasi dunia juga akan punya kekuatan mengendalikan narasi dan ideologi sebuah bangsa. Tak heran, pihak Barat begitu mempermasalahkan sensor pada AI buatan China.
DeepSeek, misalnya, tak akan mau menjawab soal kejadian Lapangan Tiananmen. DeepSeek juga punya versi yang berbeda soal Taiwan dari versi AI buatan AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/10/39765317-b96a-4195-80c5-09001b9676cc.jpg)
Kebenaran DeepSeek ataupun DouBou besutan ByteDance dan Qwen buatan Alibaba merupakan kebenaran versi China.
Adapun kebenaran yang disajikan ChatGPT dari OpenAI, Gemini dari Google, dan Llama dari Meta tentunya juga mengadopsi kebenaran versi AS.
Istilah ”superintelijen” itu diperoleh dari filsuf Inggris Nick Bostrom dalam bukunya tentang masa depan AI, berjudul Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies yang terbit pada 2014.
Pada tingkat paling mendasar, AI superintelijen ini memiliki fungsi kognitif mutakhir dan keterampilan berpikir yang sangat berkembang, lebih maju daripada manusia mana pun.
Namun, untuk menemukan ASI, ada tahapan artificial general intelligence (AGI) yang harus dicapai terlebih dulu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/17/ab53010d42c6ae418af543fbae364b8c-China_Daily_Life_125564334.jpg)
Dikutip dari laporan perusahaan perangkat lunak IBM, 18 Desember 2023, AGI atau AI Kuat didefinisikan sebagai sistem AI generasi berikutnya yang dapat memahami dunia yang kompleks ini setara kemampuan manusia.
AGI mampu mempelajari dan menerapkan kecerdasan untuk memecahkan masalah secara luas. Sistem AGI juga fleksibel dan bisa mencerna emosi setara kemampuan manusia.
Sama seperti ASI, saat ini AGI belum dicapai. Secanggih-canggihnya ChatGPT ataupun DeepSeek, keduanya belum mencapai level itu.
Baik AGI maupun ASI baru ada dalam imajinasi manusia yang muncul di film-film fiksi ilmiah. Sebagai gambaran, AGI dibayangkan seperti robot droid yang bisa berbicara dan berargumen dalam Star Wars.
Adapun ASI bisa dibayangkan seperti asisten pribadi yang sangat cerdas dan memiliki kemampuan evolusi dalam film fiksi ilmiah romantis bertajuk Her dan komputer HAL dari film berjudul 2001: A Space Odyssey yang dapat mengendalikan fungsi semua pesawat luar angkasa serta menentukan hidup dan mati awak astronot di dalamnya.
Sistem AI termutakhir yang dimiliki umat manusia saat ini baru pada tahap AI lemah atau AI Sempit (ANI) atau setidaknya pada tahap sangat awal AGI.
Menemukan AGI dan ASI inilah tujuan akhir perlombaan global bidang AI saat ini. Ambisi itu sudah dinyatakan oleh Sam Altman (39), CEO OpenAI, dan Liang Wenfeng (40), pendiri DeepSeek.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/29/edba318be544c496ff1cfbf7537b6031-1000000143.jpg)
Dalam sebuah wawancara dengan media lokal China, Waves, pertengahan 2024, Liang mengatakan, tujuan DeepSeek ke depan adalah menciptakan AGI.
”Tujuan kami adalah AGI, yang mengharuskan kami untuk mengeksplorasi struktur model baru guna mencapai kemampuan unggul dengan sumber daya yang terbatas,” kata lulusan Teknik Elektro Universitas Zhejiang itu.
Sementara Altman lebih optimistis. ”Ada kemungkinan kita akan memiliki kecerdasan super dalam beberapa ribu hari ke depan. Mungkin lebih lama, tetapi saya yakin kita akan sampai di sana,” kata Altman dalam tulisan di blog pribadinya, 23 September 2024.
Ambisi mencapai AGI dan selanjutnya ASI ini diungkap dalam peluncuran Stargate di Gedung Putih, 21 Januari 2025. Stargate adalah megaproyek AS untuk membangun infrastruktur AI.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan anggaran fantastis untuk megaproyek tersebut, yaitu setidaknya 500 miliar dollar AS dalam empat tahun ke depan.
”Kita akan melihat AGI dan ASI dalam waktu dekat,” kata CEO Softbank, Masayoshi Son, yang berkomitmen menanamkan investasi awal sebesar 100 miliar dollar AS di Stargate.
Menurut Son, ASI akan memecahkan masalah-masalah umat manusia yang saat ini bahkan belum terbayangkan wujudnya. ”Ini akan menjadi awal era keemasan AS,” katanya kepada Trump.
Untuk tahap awal, anggaran itu akan digunakan untuk membangun pusat-pusat data dan pembangkit listrik yang dibutuhkan guna mengembangkan AI.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/02/e5e700b283a21690c3f53ad35df0e7e3-AFP_36WD2EG.jpg)
Pelaksana proyek Stargate itu adalah OpenAI bersama dengan Oracle. Terlibat juga Microsoft, Nvidia, dan perusahaan-perusahaan teknologi AS.
CEO Oracle Larry Ellison memberi contoh, AI akan mampu mencegah kanker, bahkan sebelum kanker itu mewujud. Caranya dengan memetakan gen dan membuat vaksin kanker yang efektif.
Tak sampai sepekan setelah pencanangan Stargate, harga saham teknologi perusahaan AS berguguran. Hal ini menyusul popularitas DeepSeek yang menggeser posisi ChatGPT sebagai aplikasi asisten pribadi AI yang paling banyak diunduh di toko aplikasi AppleStore.
Meski kemudian harga saham itu merangkak naik lagi, kejadian itu telah menjadi sengatan bagi pengembangan AI AS. Investor dan pelaku ekonomi mulai ragu dengan supremasi AI AS.
Sebelumnya, kemajuan AS di bidang AI nyaris tanpa pesaing. Hingga 2024, kemampuan AI China masih tertinggal beberapa tahun. Selain itu, sejak peluncuran ChatGPT pada 30 November 2022, tak ada gebrakan signifikan dalam AI.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/28/e9451a332952bd735f391da85c737c86-AFP_36WC73M.jpg)
Tiba-tiba DeepSeek diluncurkan. Padahal, China dikenai pembatasan impor oleh AS untuk memperoleh teknologi cip tercanggih Nvidia yang sebelumnya dinilai tak tergantikan untuk pengembangan AI.
DeepSeek mematahkan taktik perang teknologi AS. AI itu dikembangkan dengan biaya lebih murah dengan performa setara AI dari AS. Bahkan, DeepSeek lebih unggul dalam beberapa pengujian.
Sejumlah pihak mempertanyakan klaim DeepSeek soal biaya pengembangan yang murah dan penggunaan teknologi yang lebih rendah itu. Salah satu yang meragukan adalah CEO Tesla dan X, Elon Musk. Namun, tak ada satu pun suara yang meragukan performanya.
Tamparan terbesar adalah biaya penggunaannya yang murah. DeepSeek yang bersifat sumber terbuka (open source) itu bisa diunduh dan digunakan secara gratis, bahkan untuk versi tercanggihnya, DeepSeek R1. Aplikasi ini juga bisa dijalankan tanpa internet.
Bandingkan dengan ChatGPT Pro, yang mencakup akses ke model o1 OpenAI. Tarifnya dibanderol 200 dollar AS (Rp 3,3 juta) per bulan.
Tak hanya DeepSeek. Kai-Fu Lee, CEO Sinovation Ventures, perusahaan ventura dari China, mengatakan, biaya yg harus dibayarkan konsumen untuk menggunakan AI dari China 30 kali lebih kecil daripada AI dari AS. Ia menyebut kemampuannya setara.
Biaya AI China hanya 10 sen dollar AS per satu juta token, dibandingkan dengan biaya AI dari AS, ChatGPT, misalnya, sebesar 4,4 dollar AS.
”Dengan 10 sen itu, pengguna sudah bisa memggunakannya untuk membangun aplikasi, dibandingkan 4,4 dollar (AS) per satu juta token,” kata Lee di Future Investment Initiative, 12 November 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/30/3ea88cf8d9e4d181915d8fdefb01cdf3-cropped_image.png)
Murahnya DeepSeek tentu membuat gentar pelaku industri AI di AS. Biaya ini dinilai akan segera mengubah peta ekonomi AI.
“Perusahaan-perusahaan rintisan pengguna AI akan memilih produk yang murah dengan performa setara,” kata MG Siegler, peneliti dan investor AI di perusahaan data AI berbasis di AS, Spyglass.
Trump pun secara khusus mewanti-wanti soal DeepSeek. “Kehadiran mendadak harus menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan teknologi Amerika,” katanya.
Trump mengatakan bahwa ia masih mengharapkan perusahaan-perusahaan teknologi AS untuk mendominasi AI, tetapi ia mengakui tantangan yang ditimbulkan oleh DeepSeek. Pada Jumat (31/1/2025), Trump menggelar rapat khusus dengan CEO Nvidia Jensen Huang soal DeepSeek.
Kemunculan DeepSeek tak akan dibiarkan oleh AS. Negara itu tak akan mau kalah. Sebaliknya, kehadiran DeepSeek diprediksi akan melecut AS untuk berupaya mengungguli dan menekan biaya.
Bisa dibayangkan, perlombaan AI pun akan lebih cepat mencapai AGI, kemudian ASI, dengan segala keuntungan dan bahaya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/b647c4ee24009a6ae299b6c8a46369b3-DSC04197_a.jpg)
CEO Microsoft Satya Nadella menyebutnya sebagai Paradoks Jevon. “Paradoks Jevons muncul lagi!” tulis Nadella di LinkedIn, merujuk pada teori bahwa peningkatan efisiensi dalam proses produksi sebuah produk justru akan mendorong peningkatan permintaan.
“Seiring AI menjadi lebih efisien dan mudah diakses, kita akan melihat penggunaannya meroket, mengubahnya menjadi komoditas yang tidak akan pernah cukup,” katanya.
Menurut Nadella, DeepSeek adalah sebuah inovasi nyata. Ia menekankan bahwa upaya DeepSeek akan menjadi komoditas dan digunakan secara luas di seluruh pelantar AI.
Ia membandingkan peralihan penyimpanan data dari server ke cloud. Meskipun tidak sama, lebih banyak orang beralih ke penyimpanan cloud hanya berdasarkan harga.
Prof Hammam yang juga memimpin penelitian asesmen kesiapan Indonesia di bidang AI bersama UNESCO mengatakan, kehadiran DeepSeek semakin menjadi ultimatum bahwa perlombaan global AI semakin nyata.
“Ternyata China tidak diam-diam saja. Ternyata supremasi digital ini tak dipegang oleh AS, tapi banyak yang lain,” ujarnya.
China memang tak pernah diam-diam saja. Sejak 2017, negara itu telah mencanangkan menjadi pemimpin global dalam bidang AI pada tahun 2030. Pada tahun 2030, AI berpotensi menambah 600 miliar dollar AS bagi perekonomian China setiap tahunnya.
Dikutip dari media ekonomi, Forbes, 23 Desember 2024, saat ini China mempunyai 4.500 perusahaan AI atau 15 persen dari perusahaan AI secara global.
China juga memimpin Indeks Nature 2024 untuk kontribusi ilmiah di seluruh dunia soal AI. Negara itu juga terus mendorong penemuan global dalam hal jumlah paten pada kategori AI selama 10 tahun terakhir.
Selain itu, berdasarkan prakiraan pasar Statista, pada tahun 2024 total investasi swasta di bidang AI generatif di China terus berlipat ganda. Pada 2023, investasi AI di China sebesar 650 juta dollar AS dan meningkat menjadi sekitar 3,15 miliar dollar AS pada tahun 2024.
Inovasi AI yang juga didukung kuat oleh Beijing tak tergoyahkan, mulai dari pendanaan penelitian hingga pembangunan infrastruktur. Menurut Hammam, Deepseek ini menjadi cambukan dan dorongan kuat buat Indonesia. Sekaligus juga harapan.
Kehadiran DeepSeek membuka mata bahwa tak perlu menjadi pemilik teknologi terbaik dan anggaran terbesar untuk memiliki ketangguhan digital. “DeepSeek ini menunjukkan kedaulatan digital China,” kata Hammam. (AP/AFP/Reuters)
__________
KOREKSI — Ada pembetulan soal dana megaproyek Stargate 500 miliar dollar AS (sebelumnya tertulis: 500 triliun dollar AS) dan investasi Softbank 100 miliar dollar AS (sebelumnya tertulis: 100 triliun dollar AS). Terima kasih - Redaksi
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji