Defisit Gula Dunia dan Swasembada Gula Indonesia (2)

Produksi gula dunia diperkirakan turun 7,1 juta ton pada 2024/2025. Di Indonesia, produksi gula diproyeksikan naik menjadi 2,9 juta ton pada 2025.

14 Jun 2025 11:40 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

Dunia diperkirakan mengalami defisit gula pada 2025. Kondisi itu bakal dibayangi tambahan tarif impor dasar dan resiprokal yang digulirkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Bersamaan dengan itu, Indonesia mulai menyeriusi swasembada gula, terutama untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi. Pemerintah RI mempercepat target swasembada gula konsumsi dari 2029 menjadi 2028.

Pada 12 Juni 2025, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) merilis Food Outlook Edisi Juni 2025 di Roma, Italia. Laporan dua tahunan itu memuat perkembangan, tinjauan, dan prospek berbagai komoditas pangan berikut sejumlah isu khusus penyertanya.

Salah satu komoditas pangan itu adalah gula. FAO memperkirakan produksi gula dunia pada musim 2024/2025 (Oktober 2024-September 2025) sebanyak 175,6 juta ton. Volume produksi itu turun 7,1 juta ton atau 3,86 persen dibandingkan dengan 2023/2024.

Penurunan produksi gula di Brasil dan India menjadi biang keladi utamanya. Produksi gula di negara produsen gula nomor satu dan tiga dunia tersebut turun akibat dampak kekeringan yang berkepanjangan.

Quote

Produksi gula dunia pada 2024/2025 sebanyak 175,6 juta ton, turun 7,1 juta ton atau 3,86 persen dibandingkan dengan 2023/2024.

Perkembangan produksi, perdagangan, penggunaan/kebutuhan, dan stok gula dunia.

Sementara produksi gula di Thailand, China, dan Uni Eropa meningkat cukup signifikan. Namun, peningkatan produksi gula ketiga negara tersebut belum mampu mengompensasi penurunan produksi gula di Brasil dan India.

FAO juga memproyeksikan, pada 2023/2024 hingga 2024/2025, perdagangan gula dunia diperkirakan bakal turun 5,96 persen menjadi 63,3 juta ton. Ini lantaran ekspor gula Brasil dan India serta impor gula dari kawasan Afrika dan Asia sama-sama turun.

Sebaliknya, penggunaan atau konsumsi gula dunia justru naik 0,98 juta ton. Hal itu membuat rasio stok terhadap penggunaan gula dunia turun 2,85 juta ton. Ini mengindikasikan pasar gula dunia pada 2025 tengah mengalami defisit gula.

Harga gula dunia juga diperkirakan turun pada 2025. Berdasarkan data Harga Komoditas (Pink Sheet) Bank Dunia, harga gula dunia pada Mei 2025 sebesar 0,39 dollar AS per kilogram (kg). Harga tersebut di bawah harga gula pada Januari-April 2025 yang berkisar 0,4-0,42 dollar AS per kg.

Indeks harga gula dunia pada Mei 2025 tercatat sebesar 109,4. Indeks tersebut turun 2,6 persen secara bulanan dan 6,6 persen secara tahunan.

”Pada 2025, harga gula diperkirakan berada di bawah tekanan di tengah meningkatnya kekhawatiran atas prospek ekonomi global yang tidak menentu dan potensi dampaknya terhadap pelemahan permintaan,” sebut FAO.

Perkembangan Harga Gula di Pasar Internasional

Dampak tarif Trump

Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan tambahan tarif atau bea masuk dasar sebesar 10 persen untuk semua barang dari sejumlah negara yang masuk ke pasar AS. Trump juga mengenakan tarif resiprokral atau timbal balik kepada sejumlah negara yang menjadi penyebab defisit neraca dagang AS.

Saat ini, AS telah memberlakukan tambahan tarif dasar 10 persen terhadap semua komoditas yang masuk pasar AS. Sementara penerapan tarif resiprokal ditunda selama 90 hari sejak 5 April 2025.

FAO memperkirakan dampak tarif Trump terhadap harga dan pasar gula dunia akan terbatas. Per tahun, AS mengimpor gula rata-rata 3,12 juta ton.

Selama ini, AS menerapkan skema tingkat tarif kuota (TRQ) terhadap negara-negara mitra dagangnya. TRQ merupakan sistem tarif dua tingkat yang membedakan bea masuk berdasarkan jumlah kuota impor. Jika melebihi kuota, gula impor itu bakal terkena tarif yang lebih tinggi.

Meksiko yang merupakan pengekspor gula terbesar ke AS juga terikat skema tersebut. Meksiko diuntungkan lantaran memiliki Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA).

Negara-negara lain, seperti Australia, Brasil, Dominika, dan Filipina, juga terikat skema TRQ impor gula. Kendati begitu, FAO memperkirakan tarif baru AS itu hanya akan memberikan dampak terbatas terhadap kenaikan harga gula dunia dan ekspor gula negara-negara itu.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato tentang tarif timbal balik yang bertajuk "Make America Wealthy Again" di Rose Garden, Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (2/4/2025) waktu setempat. Trump bersiap untuk mengungkap tarif "Hari Pembebasan" baru yang menyeluruh dalam sebuah langkah yang mengancam akan memicu perang dagang global.

Sejak Januari 2025 hingga Mei 2025, harga gula AS juga belum terlalu bergejolak. Merujuk pada data Pink Sheet Bank Dunia, harga rerata gula di AS pada Januari-Maret 2025 senilai 0,81 dollar AS per kg.

Setelah naik tipis menjadi 0,83 dollar AS per kg pada April 2025, harga gula AS turun menjadi 0,81 dollar AS per kg pada Mei 2025. Harga tersebut juga masih di bawah harga rerata gula pada 2024, yakni 0,84 dollar AS per kg.

Swasembada gula RI

Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah RI telah memiliki peta jalan swasembada gula yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula dan Bioetanol.

Pemerintah RI juga menargetkan swasembada gula konsumsi dapat terealisasi pada 2028. Adapun swasembada gula industri dan bioetanol ditargetkan tercapai pada 2030.

Buruh harian membongkar gula rafinasi yang didatangkan dari India dengan menggunakan Kapal Margaret SW di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (6/4/2021). Pemerintah telah mengeluarkan izin impor sekitar 680.000 ton gula mentah dan gula konsumsi sejak akhir tahun lalu. Pemerintah mengandalkan gula impor untuk mengatasi lonjakan harga seiring naiknya permintaan konsumen pada periode Ramadhan dan Lebaran 2021.

Per tahun, produksi gula konsumsi nasional hanya di kisaran 2,1 juta-2,3 juta ton. Untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi sekitar 2,8 juta ton per tahun, Indonesia harus menutup kekurangan produksi gula sebanyak 500.000-700.000 ton.

Indonesia juga membutuhkan gula rafinasi berkisar 3,2 juta-3,4 juta ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman. Untuk itu, RI mengimpor gula mentah yang merupakan bahan baku gula rafinasi di kisaran 3,4 juta-3,6 juta ton per tahun.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat, produksi gula nasional pada 2024 sebanyak 2,46 juta ton atau naik 8,57 persen dibandingkan dengan 2023 yang sebanyak 2,27 juta ton. Kebutuhan gula nasional, baik untuk konsumsi maupun industri, mencapai 8,1 juta ton. Dengan begitu, perlu tambahan 5,6 juta ton untuk mencapai swasembada gula.

Pada 2025, pemerintah memperkirakan produksi gula nasional bisa tembus 2,9 juta ton. Pemerintah juga telah menetapkan kuota impor gula mentah untuk kebutuhan konsumsi sebanyak 200.000 ton, sedangkan untuk industri 3,4 juta ton.

Quote

Pemerintah RI mempercepat swasembada gula dari 2029 menjadi 2028. Dana minimal yang dibutuhkan dan yang telah disetujui Presiden sekitar Rp 30 triliun hingga Rp 40 triliun.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah akan mempercepat swasembada gula dari 2029 menjadi 2028. Untuk merealisasikannya, Kementan menggulirkan dua strategi utama, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi.

Intensifikasi mencakup penyediaan irigasi dan benih unggul serta bongkar ratoon dan revitalisasi lahan. Adapun ekstensifikasi, pemerintah menargetkan pembukaan lahan baru minimal seluas 200.000 hektar dari total 500.000 hektar yang direncanakan.

”Dana minimal yang dibutuhkan dan yang telah disetujui Presiden sekitar Rp 30 triliun hingga Rp 40 triliun,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Tebu di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (11/6/2025), melalui siaran pers.

Menurut Amran, strategi itu bakal ditopang dengan penguatan penyuluhan kepada petani, perbaikan sistem pengelolaan perkebunan tebu, dan penyediaan sarana produksi, termasuk pupuk. Kementan juga mengusulkan perubahan mekanisme pengajuan kredit usaha rakyat (KUR) agar petani semakin dimudahkan mengakses pinjaman tersebut.

Selama ini, banyak petani yang kesulitan mengajukan kembali KUR setelah akumulasi plafon pinjamannya mencapai Rp 500 juta. Idealnya, petani bisa mengajukan kembali KUR setelah melunasi pinjaman sebelumnya tanpa harus dibatasi akumulasi plafon pinjaman.

Dengan sejumlah langkah itu, Amran optimistis swasembada gula dapat tercapai pada 2028. Apalagi, pada 2025, produksi gula nasional diperkirakan bisa mencapai 2,9 juta ton atau lebih tinggi dibandingkan dengan 2024 yang sebanyak 2,46 juta ton.

<p>Infografik Produksi Tebu dan Impor Gula Indonesia 2010-2020</p>

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengapresiasi berbagai strategi pemerintah untuk mempercepat swasembada gula konsumsi. Namun, strategi itu harus dibarengi dengan menjaga harga gula di tingkat petani.

”Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap gula impor ilegal dan rembesnya gula rafinasi ke pasar gula konsumsi,” katanya.

Quote

Pemerintah juga perlu meningkatkan pengawasan dan penindakan terhadap gula impor ilegal dan rembesnya gula rafinasi ke pasar gula konsumsi.

Terkait dengan produksi gula 2025, Soemitro pesimistis produksi gula bisa mencapai 2,9 juta ton. Ia memprediksi produksi gula pada 2025 tidak jauh berbeda dengan 2024, yakni berkisar 2,45 juta-2,5 juta ton.

Hal itu lantaran curah hujan di sejumlah daerah  masih cukup tinggi belakangan ini. Dampaknya, tanaman tebu banyak yang berbunga sehingga tidak akan tumbuh tinggi. Selain itu, tingkat rendemennya juga bakal rendah.

Keterangan Redaksi: Ini merupakan bagian kedua dari tiga seri tulisan mengenai proyeksi kondisi pasar pangan global di tengah ketidakpastian ekonomi. Tulisan merujuk pada laporan Food Outlook Edisi Juni 2025 yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul