Lima wakil Inggris di Liga Champions Eropa berlomba finis di posisi delapan besar fase liga. Keuntungan besar menanti jika berhasil memenuhi target tersebut.
22 Jan 2026 14:41 WIB · Olahraga
AP
LONDON, KAMIS — Hasil negatif yang diraih Manchester City agaknya memicu daya juang para wakil Inggris lainnya pada laga ketujuh Liga Champions Eropa. Liverpool, Chelsea, Tottenham Hotspur, dan Newcastle United kompak mencetak kemenangan pada Kamis (22/1/2026). Tujuan mereka hanya satu, mengakhiri fase liga pada posisi delapan besar.
Sehari sebelumnya, City secara mengejutkan takluk oleh Bodo/Glimt yang tidak difavoritkan sehingga gagal merangsek ke posisi delapan besar. Di laga lain, Arsenal memastikan diri lolos ke babak 16 besar seusai mengalahkan raksasa Italia, Inter Milan. Kesuksesan Arsenal coba diduplikasi Liverpool, Chelsea, Spurs, dan Newcastle yang bermain sehari setelahnya.
Seperti yang didambakan, keempat wakil Inggris itu mampu mengatasi lawan masing-masing. Liverpool menundukkan Marseille, sedangkan Chelsea harus susah payah menang atas Pafos FC. Newcastle membekap PSV Eindhoven, sementara Spurs sukses meredam Borussia Dortmund. Kemenangan itu, selain mengamankan posisi mereka di delapan besar, juga amat penting sebagai modal dasar menjalani laga pamungkas fase liga pekan depan.
Setidaknya dua dari enam wakil Inggris akan menghadapi lawan berat. Newcastle harus menghadapi juara bertahan Paris Saint-Germain. Pada laga lain, Chelsea dijadwalkan menjamu Napoli. Chelsea diprediksi akan menghadapi perlawanan sengit dari Napoli yang wajib menang sebagai syarat menjaga asa lolos ke babak 16 besar.
”Ini pertandingan (terakhir) yang sangat penting. Bagi Napoli juga. Mereka (Napoli) perlu menang untuk tetap bertahan di kompetisi, sedangkan kami perlu menang untuk berada di delapan besar,” kata Pelatih Chelsea Liam Rosenior, dikutip dari Sky Sports.
Sebagaimana dikatakan Rosenior, delapan besar menjadi kata kunci untuk mengerti mengapa Liverpool, City, Newcastle, dan Chelsea begitu berupaya meraih kemenangan pada pekan ketujuh Liga Champions.
Mendekati akhir fase liga, tambahan poin penuh jadi hal krusial demi finis pada posisi delapan besar. Liverpool, City, Chelsea, dan Newcastle tidak akan rela finis di luar posisi delapan besar. Ini semua berhubungan dengan risiko menghadapi jadwal padat pada bulan depan. Finis di luar delapan besar fase liga sama artinya dengan kewajiban menjalani banyak laga.
Sejak sistem Liga Champions diubah musim lalu, delapan tim teratas fase liga berhak lolos langsung tanpa perlu menjalani laga playoff demi memastikan tiket babak 16 besar. Playoff hanya diperuntukkan bagi tim yang finis pada posisi kesembilan hingga ke-24.
Menjalani playoff adalah mimpi buruk bagi tim-tim Inggris karena mereka harus bersaing di tiga kompetisi bulan depan, yaitu Piala FA, Liga Inggris, dan Liga Champions. Akan tetapi, Spurs jadi pengecualian karena sudah tersingkir dari Piala FA dan Piala Liga Inggris.
Wakil Inggris, kecuali Spurs, yang finis di luar delapan besar fase liga Liga Champions bakal menjalani sembilan laga dalam kurun 28 hari. Ini berarti hanya ada jeda tiga hari dari satu pertandingan ke pertandingan lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/303ddfd0118d253af1ea74503e474894-wires_photo_2026_01_22T143714.344.jpg)
Terjebak pada fase playoff sangat menyita waktu karena tiap tim harus menjalani dua laga tambahan, kandang dan tandang. Pemenang dari dua laga itu yang berhak maju ke 16 besar menyusul delapan tim teratas yang telah lolos otomatis. Risiko membuang waktu menjalani dua laga tambahan bisa dieliminasi dengan finis di posisi delapan besar.
”Delapan besar jadi posisi yang ingin kami tempati. Tetapi, pertandingan pekan depan (melawan PSG) akan menjadi pertandingan yang sulit bagi kami. Kami siap menghadapinya,” kata penyerang Newcastle, Yoane Wissa, yang juga mencetak satu gol untuk membantu timnya mengalahkan PSV, 3-0.
Situasi yang dialami Arsenal jelang laga pamungkas fase liga Liga Champions sungguh ideal. Sudah dipastikan lolos pada posisi dua besar usai mengalahkan Inter Milan, Arsenal hanya butuh hasil imbang melawan tim peringkat terbawah, Kairat Almaty. Di atas kertas, target minimal menahan imbang sangat mudah dipenuhi Arsenal. Apalagi, mereka akan bermain di markas sendiri.
Hal sebaliknya dirasakan Newcastle dan Chelsea. Kedua tim ini sama-sama menjalani laga tandang melawan tim tangguh, PSG dan Napoli.
Mengingat ketatnya persaingan Liga Champions dengan format baru, Newcastle dan Chelsea wajib menang pada laga terakhir fase liga demi finis di peringkat delapan besar. Chelsea, misalnya, tidak akan terbantu dengan hasil imbang karena City, Atletico Madrid, Atalanta, dan Barcelona siap mengambil alih posisi mereka jika sukses menang pada laga lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/22/1f8a00bf2e6f931c844f72f007bdf2ab-wires_photo_5_.jpg)
Liverpool juga pantang kehilangan fokus kendati kemenangan 3-0 atas Marseille membawa mereka ke posisi empat besar. Menghadapi Qarabag pada laga terakhir, Liverpool juga tidak boleh hanya meraih imbang. ”Si Merah” wajib menang karena sembilan tim di bawah mereka berpeluang menggusur jika meraih poin penuh.
”Saya rasa semua orang di tim ingin finis di posisi delapan besar. Kami akan menghadapi Qarabag minggu depan. Jadi, semoga kami bisa tampil sama seperti yang berhasil kami lakukan hari ini,” kata pemain sayap Liverpool, Jeremie Frimpong.
Pertengahan musim memang menjadi saat yang krusial bagi setiap klub Eropa yang bermain di lebih dari dua kompetisi. Jadwal padat sangat berpeluang menghancurkan kans mereka meraih gelar pada akhir musim. Oleh sebab itu, saat ada peluang mengurangi risiko memainkan banyak laga, mereka setengah mati akan berusaha mewujudkannya. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti