Kian banyak warganet bertanya ke Grok, chatbot bertenaga AI di X, dalam unggahannya. Pertanyaan sering kali sebatas umpan agar Grok yang melontarkan kritik.
06 Apr 2025 16:19 WIB · Politik & Hukum
Hari-hari Arina Febianca (26), karyawan swasta di Jakarta, kini kian menarik saat menatap layar gawainya. Perdebatan politik yang biasa dipantaunya di media sosial, utamanya di platform X, kedatangan entitas baru, yakni Grok, chatbot bertenaga kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Sesekali, ia bahkan ikut terlibat dalam perdebatan.
Penyebutan atau mention Grok oleh warganet di X semakin masif. Tak hanya soal situasi politik dan ekonomi nasional, pertanyaan guyon hingga remeh-temeh turut diajukan ke Grok. Hampir semuanya direspons Grok.
Lebih jauh, Grok masih trending di X untuk kanal teknologi. Meski bercampur-campur dengan unggahan pengguna luar negeri, sebagian besar postingan baru berasal dari warganet Indonesia. Belakangan ini, interaksi antara warganet dan Grok cenderung meningkat.
Salah satu yang viral adalah unggahan akun @BosPurwa sehari lalu soal tangkapan layar pertanyaan dan jawaban Grok atas pemberitaan berjudul ”Tiga Jurus Prabowo Hadapi Tarif Impor AS: Makan Bergizi Gratis, Hilirisasi, hingga BRICS”. Jawaban Grok mengkritik pemerintah dengan gaya bahasanya lugas sesuai permintaan penanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/0f06c9aff6e11cc1090edfc6997e251a-ezgif_178175fc835ffd.png)
Unggahan itu telah diunggah ulang ribuan akun, disukai puluhan ribu akun, dilihat hampir sejuta akun, dan dikomentari ratusan akun. Komentarnya beragam, ada yang mempertanyakan sumber jawaban dan kagum dengan kejujuran Grok. Bahkan, tak sedikit warganet yang mengkhawatirkan keselamatan Grok, meski sekadar guyonan, mengingat narasi kritiknya yang bernada pedas.
Arina termasuk menjadi salah satu warga X yang sempat terlibat dalam percakapan sejumlah unggahan di media sosial dengan menggunakan Grok. Ia memakai Grok untuk bertanya informasi lebih lanjut soal suatu pemberitaan. Misalnya, analisis Grok soal kasus judi daring dan keterlibatan politisi Indonesia.
Nah, Grok itu artinya bisa dipakai juga kan, untuk menyampaikan kritik karena terkungkung atau merasa terbungkam.
Kehadiran Grok memudahkannya untuk mendapatkan informasi tertentu meski sumber dan akurasinya bisa dipertanyakan. Namun, setidaknya, lanjut Arina, Grok memantik agar penggunanya lebih kritis terhadap suatu informasi. ”Setidaknya, ada-lah ide yang memantik. Jadi kami bisa riset lebih mendalam,” tuturnya, Minggu (6/4/2025).
Di sisi lain, aspek paling menarik dari Grok adalah netralitas mesin dan robot sehingga tidak bisa disangka sebagai pendengung (buzzer) pihak tertentu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/3d224cb47499eb5181a4f1da963613d1-ezgif_1d8616ab2450fb.png)
Salah satu contoh pertanyaan yang diajukan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Grok soal analisis mengapa kritik terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo masih mengalir deras meski tak menjabat lagi. Ia juga meminta agar jawaban Grok disusun dengan narasi ala komika Pandji Pragiwaksono.
Grok menjawab sesuai permintaan politisi tersebut, tetapi jawabannya malah ikut mengkritik Jokowi dengan sarkasme ala Pandji.
Hal lainnya yang membuat Arina tertarik adalah kekebalan Grok dari Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang kerap menjerat publik karena berpendapat. Sebagai robot kecerdasan buatan, Grok bisa dipakai publik yang takut untuk mengkritik karena bayang-bayang dipidana.
Tak sedikit warganet yang bahkan menilai pertanyaan yang diajukan ke Grok sebagai cara baru mengkritik. ”Cara baru mengkritik: lempar umpan ke Grok buat mengkritik. Grok ini berani banget,” tutur salah satu akun melalui unggahannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/06/5f4adcde701d06509cae06a309960add-oke.png)
Pendiri Drone Emprit sekaligus pengamat media sosial, Ismail Fahmi, berpandangan, Grok bisa mengakses data dari X secara langsung (real time) sehingga model bahasanya lebih menarik dan dekat dengan manusia (pengguna). Fenomena penggunaanya yang kian masif di X diyakini bakal membawa nilai positif media sosial Tanah Air.
Nilai positif terletak pada sisi kritik dan konten. Positif bagi kritik karena publik mendapatkan tenaga baru untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Namun, tak sekadar mengkritik, Grok juga bisa memberi rekomendasi terkait suatu kebijakan.
Di sisi lain, konten-konten yang melibatkan Grok bakal memantik daya kritis pengguna atau masyarakat luas. Umumnya, setelah menerima informasi, publik baru bisa membenarkan ketika sudah ada cek fakta. Namun, di tengah perkembangan kecerdasan buatan, publik bisa memanfaatkannya untuk menelaah informasi yang jumlahnya banyak sekaligus. Apalagi, kecerdasan buatan selalu memperbaiki diri dari kesalahannya.
Namun, ia tak memungkiri kunci penggunaan Grok terletak pada kemampuan pengguna menyusun pertanyaan atau permintaan. Sejauh ini, warganet masih banyak yang di tahap awal dan hanya mengajukan pertanyaan standar serta penuh guyonan. Di tingkat lanjut, narasi pertanyaan bakal mengupas lebih dalam suatu informasi secara lengkap.
”Jadi publik pun akhirnya terbantu, untuk berpikir kritis. Karena bagaimanapun semua berangkat dari pertanyaan. Siapa yang bisa membuat pertanyaan yang cerdas, maka dia akan bisa membuat Grok memberikan jawabannya yang cerdas, yang pada akhirnya bisa menjadi bahan edukasi buat publik,” jelasnya.
Selain itu, Fahmi melihat masifnya penggunaan Grok untuk mengkritik tak terlepas dari sikap penguasa yang kerap menyatakan bahwa kritik harus disampaikan secara santun. Juga terimbas adanya UU ITE yang kerap digunakan untuk memidanakan orang-orang yang melontarkan kritik. Suasana tersebut turut menciptakan situasi ketakutan untuk berpendapat di sebagian masyarakat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/29/e399e5df0a7879e37bf8a864322d3344-000_38CP4CP.jpg)
Fenomena serupa, menurut Ismail, sempat terjadi di luar negeri tetapi mereka tidak menggunakan Grok sebagai jalan untuk mengkritik, melainkan Perplexity, model kecerdasan buatan lainnya.
”Indonesia itu lebih, lebih dekat artinya dengan Grok dibandingkan Perplexity, gitu. Nah, Grok itu artinya bisa dipakai juga, kan, untuk menyampaikan kritik karena terkungkung atau merasa terbungkam,” terangnya.
Meskipun demikian, lanjut dia, sebetulnya lontaran kritik tajam memang sudah biasa diunggah oleh masyarakat tanpa harus merasa takut. Namun, perbedaan signifikan dari kehadiran Grok adalah membantu orang-orang yang tidak bisa atau takut mengkritik. Bisa juga bagi orang yang merasa jawaban Grok lebih tepat karena disempurnakan dengan kekayaan data.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul