Tim bola voli putri U-21 ditempa latihan intensitas tinggi yang bikin badan sakit dan pegal. Mereka tunjukkan progres untuk Kejuaraan Dunia U-21 2025 di Indonesia.
23 Mei 2025 13:14 WIB · Olahraga
BOGOR, KOMPAS — Menu latihan fisik yang berat dan latihan teknik yang mendetail menjadi makanan sehari-hari para pemain tim bola voli putri U-21 demi memperkuat fondasi permainan mereka. Kendati awalnya para pemain kesulitan mengimbangi, mereka perlahan terbiasa dan menunjukkan perkembangan bagus demi menyambut Kejuaraan Dunia U-21 2025 di Indonesia.
Pelatih tim putri U-21, Marcos Sugiyama, terlihat tanpa ampun ketika menempa para pemain yang berposisi sebagai middle blocker dalam latihan di Padepokan Bola Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, Kabupaten Bogor, Kamis (22/5/2025) malam. Sugiyama melepaskan pukulan sekeras-kerasnya, lalu para pemain harus bisa melakukan blok dengan baik.
Setelah itu, pemain harus cepat bertransisi dari bertahan ke menyerang. Para middle blocker dituntut memukul bola sekeras-kerasnya saat mendapatkan kesempatan menyerang. Latihan ini dilakukan berkali-kali dalam sesi terakhir.
Bukan cuma middle blocker, pemain dengan posisi libero juga jadi ”korban” dalam latihan yang berlangsung 2,5 jam itu. Zahwa Aliah Jasmine, libero terbaik Proliga 2025, misalnya, sampai pontang-panting menyambut bola pukulan Sugiyama dan para asistennya yang arahnya manasuka.
”Kami latihan berat, sangat berat, setiap hari. Bahkan, sampai sulit untuk libur. Biasanya mereka akan dapat libur sehari dalam sepekan,” ujar Sugiyama yang baru direkrut November 2024 oleh Pengurus Besar Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia.
Dari 26 pemain yang dipanggil ke pemusatan latihan nasional, beberapa di antara telah berlatih selama sebulan penuh dengan Sugiyama. Sejak sepekan terakhir, beberapa pemain lainnya menyusul bergabung ke pelatnas setelah mengantarkan tim masing-masing melaju ke final four, bahkan final Proliga 2025. Hanya pemain terbaik Proliga 2025, Junaida Santi, yang belum bergabung karena terkena flu.
Para pemain ini dipanggil dan dilatih untuk persiapan menyambut Kejuaraan Dunia yang akan digelar di Surabaya, Jawa Timur, pada 4-17 Agustus 2025. Mereka sedikitnya memiliki waktu persiapan efektif tiga bulan sebelum bersaing dengan 23 tim lainnya dalam ajang tersebut.
Tim putri mendapatkan jalur khusus untuk tampil di Kejuaraan Dunia karena Indonesia menjadi tuan rumah. Selain Indonesia, beberapa negara Asia Tenggara lain, seperti Thailand dan Vietnam, juga dipastikan lolos. Partisipasi Thailand dan Vietnam di Kejuaraan Dunia dipastikan setelah mereka berhasil melaju ke babak semifinal Kejuaraan Asia U-20 2024 yang juga jadi ajang kualifikasi.
Sugiyama mengatakan, latihan dengan intensitas tinggi mau tidak mau jadi menu selama masa awal persiapan. Sebab, mantan pelatih timnas Honduras ini ingin menguatkan fondasi para pemain. Untuk itu, fokus utama adalah penguatan fisik dengan latihan beban sembari diselipi latihan teknik yang mendetail.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/23/e01bf3f6-bb13-4340-bffc-ee4494c14865_jpg.jpg)
Para pemain kewalahan dengan menu latihan intens tersebut. Pelatih fisik yang juga mantan atlet atletik Indonesia, Henny Maspaitella, bahkan mengatakan, para pemain hingga muntah-muntah karena kaget dengan latihan yang berat. Namun, lama-kelamaan, mereka terbiasa dengan itu.
Menurut Sugiyama, para pemain tak hanya mampu mengimbangi latihan yang berat, tetapi juga menunjukkan progres luar biasa. Mereka menunjukkan perkembangan itu dari segi fisik dan teknik.
”Sekarang mereka mampu melakukan apa pun yang tidak bisa mereka lakukan pada awalnya. Mereka lebih cepat, lebih kuat, dan lebih bagus reaksinya. Mereka mampu mengambil keputusan dengan cepat karena tubuh mereka juga mampu mendukung segalanya,” tutur Sugiyama.
”Dan, mereka memahami dinamikanya, prosesnya. Latihan dengan bola juga luar biasa. Karena ketika saya mengajari mereka sekali, mereka langsung melakukannya, langsung mengerti. Ini progres luar biasa,” ucap mantan pemain yang menjuarai Liga Bola Voli Jepang musim 2006-2007 bersama Sakai Blazers dan 2005-2006 bersama Suntory Sunbirds ini.
Dalam setiap sesi latihan di lapangan, Sugiyama menggunakan kamera yang merekam seluruh proses latihan. Rekaman langsung ditampilkan lewat proyektor menuju ke dinding lapangan yang jadi layar. Rekaman itu lebih lambat 5 detik sehingga para pemain bisa melihat gerakan yang mereka lakukan sebelumnya.
”Hal yang baik dari video ini adalah para pemain bisa menontonnya dan mereka hampir sepanjang waktu bertanya kepada saya. ’Apa yang seharusnya saya lakukan? Bagaimana gerakan yang seharusnya? Apa yang perlu saya ubah?’ Saya kira ini baik buat mereka,” ucap Sugiyama.
Setter tim U-21, Afra Hasna Nurhaliza, mengamini bahwa latihan yang dia jalani bersama Sugiyama sangat berat. Tubuhnya sampai sakit dan pegal setiap habis latihan.
Namun, Afra juga memahami bahwa latihan itu diberikan karena pelatih benar-benar ingin memberikan fondasi yang kuat bagi para pemain. Afra pun merasa hasil dari latihan intens itu perlahan mulai terasa, terutama kekuatannya meningkat.
”Pelatih enggak yang menuntut kita harus langsung di performa terbaik, tetapi benar-benar kami ini dibentuk dari awal. Biar nanti menjelang pertandingannya itu sudah siap gitu segalanya,” ucap Afra.
Opposite Alya Regifa Fahira, yang baru bergabung sepekan bersama tim U-21 setelah mengantarkan Jakarta Popsivo Polwan ke final Proliga 2025, mengaku tantangannya berat. Dia harus mengejar capaian fisik para pemain lainnya sehingga intensitasnya lebih tinggi.
Apalagi latihannya lebih berat dibandingkan saat di klub. Di samping itu, dia sempat beristirahat sepekan setelah final Proliga sehingga kondisi fisiknya seperti kembali ke nol.
Walakin, Alya senang dan termotivasi untuk berlatih keras agar nantinya bisa terpilih memperkuat tim U-21 di Kejuaraan Dunia. Hanya 12 pemain yang akan dibawa ke ajang itu.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .