Setelah ada evaluasi, anggaran MBG siswa TK dan SD naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 8.000 untuk bahan makanan setiap porsi.
08 Jan 2025 19:55 WIB · Nusantara
PALEMBANG, KOMPAS — Demi menyediakan menu yang lebih bervariasi, anggaran program Makan Bergizi Gratis atau MBG untuk siswa TK dan SD di Palembang, Sumatera Selatan, naik Rp 2.000 per porsi. Keputusan itu diambil setelah evaluasi pelaksanaan program MBG dua hari terakhir.
”Biaya penyediaan menu MBG untuk TK dan SD ada perubahan, dari sebelumnya Rp 6.000 menjadi Rp 8.000 per porsi. Perubahan itu dilakukan agar menu yang disediakan bisa lebih bervariasi. Selain berusaha menyediakan menu yang berbeda tiap harinya, kami berupaya menyiapkan menu yang disukai anak-anak,” ujar Penanggung Jawab Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Palembang Muhammad Dicky di SD Negeri 25 Palembang, Rabu (8/1/2025).
Progam MBG mulai diterapkan di lima sekolah di Palembang, yakni TK Panca Bakti, SD Negeri 24, SD Negeri 25, SMP Negeri 19, dan SMP Negeri 33, pada Senin (6/1/2025). Ada 2.968 siswa dari lima sekolah itu yang menerima manfaat program MBG.
Semula disebutkan, anggaran menu MBG siswa TK dan SD sebesar Rp 6.000 untuk bahan makanan dan Rp 5.000 untuk operasional setiap porsi. Anggaran menu SMP sebesar Rp 10.000 untuk bahan makanan dan Rp 5.000 untuk operasional per porsi.
Akan tetapi, kata Dicky, anggaran menu MBG siswa TK dan SD pada hari ketiga ditingkatkan Rp 2.000 untuk bahan makanan setiap porsi. Sementara anggaran menu MBG siswa SMP tidak ada perubahan. ”Anggaran untuk bahan makanan itu betul-betul untuk kebutuhan bahan makanan, tidak diganggu gugat oleh biaya lainnya,” kata Dicky.
Menurut dia, peningkatan anggaran menu MBG siswa TK dan SD itu dilakukan setelah ada evaluasi program MBG dua hari terakhir. Hal itu sesuai arahan pemerintah pusat. ”Perubahan bisa terjadi karena kami melakukan evaluasi terus dengan pihak pusat setiap sorenya,” ujarnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/08/9a2f8204-d08d-4089-ac44-72703a516497_jpg.jpg)
Saat ditanya untuk apa saja biaya operasional Rp 5.000 per porsi tersebut, Dicky tidak mau menjelaskannya. ”Itu belum bisa saya jelaskan seperti apa. Kita tunggu saja penjelasan dari pusat, tetapi, yang pasti, itu tidak mengganggu biaya untuk membeli bahan makanan,” ungkapnya.
Sementara itu, setelah menu pada hari pertama dan kedua tidak ada susu ataupun telur yang jadi substitusi susu, akhirnya menu MBG dilengkapi dengan telur pada hari ketiga. Secara detail, menu hari ketiga terdiri dari nasi putih, telur kari, tempe orek, sayur kacang panjang, dan buah pisang. ”Menu siswa TK dan SD serta SMP hari ini sama saja, yang berbeda hanya porsinya,” ujarnya.
Dicky menuturkan, sejauh ini menu MBG di Palembang belum bisa dilengkapi susu. Sebab, Palembang bukan daerah penghasil susu sapi perah. Selain itu, mereka dilarang menyediakan susu kemasan karena dikhawatirkan menimbulkan persoalan sampah. Jadi, susu diganti dengan telur yang dianggap punya kadar gizi sama.
Kami belum tahu kapan ada susu dalam menu MBG di Palembang. Yang jelas, selama tidak ada susu, kami menggantinya dengan menu lain yang kandungan gizinya sama dengan susu, seperti telur.
”Kebijakan itu sesuai arahan pusat dan kami belum tahu kapan ada susu dalam menu MBG di Palembang. Yang jelas, selama tidak ada susu, kami menggantinya dengan menu lain yang kandungan gizinya sama dengan susu, seperti telur. Tetapi, menu yang disediakan tidak akan telur terus-menerus. Bersama tim ahli gizi, kami akan mencari menu-menu substitusi susu lainnya agar anak-anak tidak bosan,” katanya.
Secara umum, Dicky menyampaikan, menu yang mereka sediakan sudah memenuhi angka kecukupan gizi sebagaimana pedoman. ”Dalam penyiapan menu, kami bekerja dengan tim ahli gizi untuk memastikan menu yang disiapkan berkadar gizi lengkap,” ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, ahli gizi dari Puskesmas Pakjo, Palembang, Merisa Sri Riskiah, mengatakan, menu MBG yang disediakan untuk siswa TK, SD, dan SMP di Palembang sudah mengandung gizi seimbang. Karbohidrat dicukupi dengan nasi putih, protein hewani dengan telur, protein nabati dengan tempe, serat dengan sayur bucis atau kacang panjang, dan vitamin atau kalsium dengan pisang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/08/44162aea-388a-4f62-aba5-304fea97f1d4_jpg.jpg)
Takarannya pun sudah disesuaikan dengan usia siswa. Untuk protein hewani, misalnya, siswa SD butuh porsi sekitar 40 gram dan siswa SMP butuh 50-60 gram. Dari wujuf fisiknya, standar takaran itu sudah terpenuhi. ”Menu MBG yang disediakan ini sudah memenuhi standar gizi seimbang dan standar porsi yang dibutuhkan siswa di masing-masing tingkat sekolah,” ujar Merisa.
Kepala SD Negeri 25 Palembang Wiwin Purwanti mengapresiasi upaya SPPG untuk menyediakan menu yang lebih bervariasi. Hal itu membuat para siswa lebih menikmati menu yang ada. ”Kami bersyukur Pak Dicky berkomitmen menyediakan menu berbeda-beda. Menu yang lebih bervariasi ini membuat para siswa lebih antusias menikmatinya,” kata Wiwin.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Mukhamad Kurniawan