Demi Riset, Dosen di Maluku-Papua ”Nombok” hingga Rp 5 Juta

Dengan dana terbatas yang bahkan bersumber dari kantongnya sendiri, dosen-dosen di luar Jawa berusaha menjalankan riset yang penting bagi daerahnya.

20 Mei 2025 06:30 WIB · Investigasi

Oleh M PASCHALIA JUDITH J, ALBERTUS KRISNA, MARGARETHA PUTERI ROSALINA

Keterbatasan dana penelitian membuat Fes (54) mengeluarkan uang dari dompetnya sendiri tanpa ada penggantian. Apalagi, sebagai dosen perguruan tinggi negeri di Maluku, ia mesti merogoh kocek ekstra untuk angkutan antarpulau.

Fes mendalami penelitian ekosistem mangrove. Meneliti mangrove di Maluku membuatnya mesti berpindah-pindah pulau. ”Meneliti mangrove tidak bisa sendirian. Kadang, saya juga melibatkan mahasiswa,” katanya, Kamis (8/5/2025).

Ketika mengajak mahasiswa meneliti mangrove, ia akan mengeluarkan uang pribadi. Dana itu digunakan untuk transportasi antarpulau dan lokal, akomodasi, konsumsi, hingga tanda terima kasih untuk warga setempat yang memandu. Besaran totalnya kira-kira minimal Rp 5 juta setiap penelitian. Padahal, gaji pokoknya berkisar Rp 4,2 juta per bulan.

Apabila jadwalnya pas, dia bersama mahasiswa akan naik kapal angkutan umum untuk pergi ke pulau lokasi riset. Namun, kadang dia harus menyewa perahu motor cepat dengan kapasitas enam orang berbiaya Rp 1 juta untuk sekali jalan ke pulau tujuan.

Begitu sampai di pulau tujuan, ia mesti menyewa perahu kecil dari warga setempat untuk mengelilingi sejumlah titik mangrove dan mengambil data yang dibutuhkan. Pengambilan data di lapangan itu selama satu-dua minggu. Apabila uangnya terbatas, dia akan mengupayakan selesai satu minggu.

Separuh dosen ”menombok”

Pengalaman menombok dana penelitian dengan uang pribadi dialami oleh 50 persen dosen PTN. Angka itu mengemuka dari olahan data survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Kompas pada 8-23 April 2025 yang melibatkan 36 responden dosen PTN se-Indonesia.

Rata-rata dana yang dibutuhkan sekitar Rp 44 juta per penelitian. Sebanyak 27,8 persen dosen PTN menyatakan, biaya perjalanan atau akomodasi menjadi pengeluaran terbesar dalam meneliti.

Fes pernah menyiasati dana penelitian dengan mengajak mahasiswa yang tinggal di pulau yang menjadi target. Namun, mahasiswa itu tidak berminat pada mangrove dan Fes tidak bisa memaksa.

Infografik-Rata-rata Biaya Penelitian Dosen yang Dilaksanakan Tahun 2024 *** Local Caption *** Infografik-Rata-rata Biaya Penelitian Dosen yang Dilaksanakan Tahun 2024

Ibu tiga anak itu mencoba mendapatkan dana dari kampus ataupun luar kampus. Sayangnya, dana bagi dosen lulusan S-2 lebih terbatas dibandingkan dengan S-3. ”Saya memang pernah mendapatkan kesempatan untuk S-3, tetapi waktu itu anak-anak saya membutuhkan uang untuk kuliah. Saya juga mesti menjaga orangtua yang sudah berusia lanjut. Jadi, saya lepaskan kesempatan itu,” tuturnya.

Meskipun dengan dana terbatas yang bahkan bersumber dari kantongnya sendiri, Fes tetap berkomitmen meneliti mangrove, khususnya di Maluku. Menurut dia, mangrove penting bagi pulau-pulau kecil sebagai barrier dalam menghadapi kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim.

Penelitian ke pedalaman

Mencari obyek penelitian di daerah paling timur Indonesia tidak bisa murah. Muda (30), dosen PTN di Papua Selatan, menghabiskan hampir semua dana penelitian hanya untuk biaya akomodasi ke sekolah-sekolah di pedalaman Papua. Jarak terdekat sekolah dasar tempat Muda mengambil sampel penelitian ditempuh paling cepat tiga jam dari kota.

Quote

”Dana penelitian yang disediakan dari awal sampai publikasi sekitar Rp 10 juta. Pengeluaran terbanyak untuk transportasi karena akses ke sekolah di Papua lumayan jauh. Apalagi jika target sekolah-sekolahnya di pedalaman,” ujar Muda.

Solomon Maywa berburu kanguru di hutan Dusun Yakyu, Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua, Kamis (12/3/2020). Dusun Yakyu letaknya terpencil di pelosok Merauke yang berjarak 900 meter dari garis batas RI dan Papua Niugini. Di sudut pedalaman TN Wasur yang dikelilingi hutan lebat dan rawa-rawa itulah kanguru masih relatig mudah ditemukan. Perburuan kanguru di kawasan TN Wasur diperbolehkan asal menggunakan metode tradisional dengan panah atau tombak. Jumlah yang diburu pun terbatas, yakni hanyauntuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 12-3-2020

Sebagai dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, titik sampel penelitian yang biasa diambil Muda memang tidak lepas dari survei ke murid-murid sekolah di Papua. Untuk menjangkau lokasi itu, mau tidak mau ia harus sewa mobil untuk menampung lima anggota peneliti yang terdiri dari dua dosen dan tiga mahasiswa.

”Setiap survei, kadang kami dua-tiga di sekolah. Ya, membuat pretest dan post test-nya sekitaran segitu. Kadang minggu depannya lagi baru kita ke sekolah lagi untuk ambil data. Kami lakukan di sejumlah sekolah,” katanya.

Karena biaya akomodasi yang besar, publikasi jurnal penelitian Muda yang terakhir harus menggunakan dana pribadi. Biaya publikasi di Science and Technology Index (Sinta) 4 sebesar Rp 800.000. Muda menggunakan uang lauk-pauk (ULP) yang biasa ia peroleh maksimal Rp 700.000 sebulan. Padahal, ULP itu sangat berarti bagi Muda untuk menutupi gaji pokok Rp 3,4 juta yang sangat pas-pasan untuk hidup bersama istri dan satu anak balitanya di Papua.

Ilustrasi seorang pengguna membuka laman SINTA dari Jakarta, Selasa (19/5/2025). Laman SINTA dapat memfasilitasi penerbitan jurnal ilmiah berbasis penelitian atau riset

Ketimpangan dana riset

Penelitian juga termasuk dalam beban kerja dosen sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 44 Tahun 2024 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen. Aturan itu menyatakan, salah satu syarat promosi ke jenjang lebih tinggi adalah memenuhi beban kerja dosen.

Di sisi lain, jumlah dosen PTN di Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat bertambah pesat. Berdasarkan Statistik Pendidikan Tinggi 2018 yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, jumlah dosen PTN di keempat provinsi itu 3.430 orang.

Berdasarkan Statistik Pendidikan Tinggi 2022/2023, jumlahnya melonjak 35 persen menjadi 4.618 orang. Artinya, perkembangan ketersediaan dana riset semestinya mengikuti pertumbuhan dosen yang diwajibkan meneliti.

Namun, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Andin Hadiyanto menggarisbawahi adanya ketimpangan akses bagi penelitian yang masuk di dalam wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto

”Distribusi penerima dana riset masih terkonsentrasi di Pulau Jawa karena mayoritas institusi riset dan peneliti berada di sana,” katanya, Jumat (16/5/2025).

Ketimpangan akses itu, katanya, tampak dari terbatasnya infrastruktur riset dan jejaring kolaborasi serta akses internet dan perangkat digital. Oleh karena itu, LPDP telah mengembangkan skema pendanaan riset pembangunan berkelanjutan yang secara khusus menyasar perguruan tinggi di luar Jawa dan kawasan timur Indonesia.

Dosen muda

Dana penelitian juga menjadi tantangan bagi dosen muda. Ani (27), dosen PTN di Lampung, mesti melaporkan satu penelitian setiap semester. ”Saya biasanya mengeluarkan uang Rp 3 juta-Rp 3,5 juta untuk publikasi di konferensi internasional yang diadakan di dalam negeri,” katanya, Sabtu (10/5/2025).

Publikasi di konferensi internasional itu dipilihnya lantaran dapat terbit dalam rentang waktu yang relatif lebih cepat. Berbeda dengan menerbitkan hasil penelitian di jurnal nasional terindeks Sinta dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ataupun jurnal internasional terindeks Scopus yang bisa memakan waktu lebih dari satu semester.

Ilustrasi seorang pengguna membuka laman Scopus dari Jakarta, Selasa (19/5/2025). Laman Scopus dapat memfasilitasi penerbitan jurnal ilmiah berbasis penelitian atau riset

Kebutuhan dana bisa berbeda jika melibatkan mahasiswa sebagai penyurvei untuk memperoleh data primer di lapangan. Dia mesti menyiapkan uang untuk honor, konsumsi, dan bahan bakar.

Ani juga merasa sulit bersaing dengan dosen di kampus lain untuk mendapatkan dana penelitian di luar kampus, baik di dalam maupun luar negeri. ”Dana yang ada tidak sebanding dengan jumlah riset yang diwajibkan kepada dosen se-Indonesia,” ujarnya.

Saat menjadi dosen muda tiga tahun lalu, Irsyad Leihitu (33), dosen Universitas Jambi, kesulitan melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Hampir 1,5 tahun penelitiannya tidak dibiayai pihak kampus atau pemerintah.

Irsyad menyebutkan, ada sejumlah hambatan bagi dosen muda dalam mengajukan penelitian. Dosen muda tidak bisa mengajukan diri sebagai ketua penelitian. Mereka harus diajak dosen senior untuk meriset. Masalahnya, di program studinya, belum ada dosen senior. Mayoritas adalah dosen muda yang sudah mempunyai tim sendiri.

Irsyad Leihitu (33), Dosen Arkeologi Universitas Jambi sedang melakukan riset di kawasan Situs Megalitik di Lahat, Pagar Alam tahun 2024 . Riset kajian Dokumentasi Digital dan Rencana Pengelolaan Kawasan Situs Megalitik di Lahat, Pagar Alam ini bekerjasama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.

Irsyad berstrategi supaya tidak mengeluarkan banyak dana pribadi. Ia dan dosen muda seangkatannya memilih museum sebagai lokasi penelitian. Mereka juga mengajak mahasiswa untuk mengenalkan ilmu arkeologi ke sekolah-sekolah. Biaya yang keluar berupa biaya makan siang untuk mahasiswa dan mencetak lembar aktivitas saat mahasiswa bersosialisasi dengan murid-murid SMA.

Quote

”Kalau dihitung-hitung, sekitar Rp 2 juta dan itu kadang-kadang saya patungan dengan teman saya,” ujar Irsyad, Rabu (7/5/2025).

Irsyad berusaha supaya dana penelitian yang ia keluarkan selama setahun tidak mengganggu penghasilan bulanan yang harus dikirim ke anak-istrinya di Jakarta saat itu. Apalagi sebagai dosen muda yang baru bekerja sekitar dua tahun, gaji pokoknya masih sekitar Rp 2,9 juta per bulan.

”Saya betul-betul ngirit. Kebetulan saya dapat teman baik sesama dosen muda di sini yang sama-sama orang perantauan. Saya dari Jakarta, dia dari Aceh. Saya yang ngontrak rumah, dia yang beli sepeda motor. Jadi, simbiosis begitu,” kata Irsyad tertawa mengenang awal menjadi dosen.

Kami ingin mendengarkan pandangan Anda tentang artikel ini melalui survei lewat berikut ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

M PASCHALIA JUDITH J, ALBERTUS KRISNA, MARGARETHA PUTERI ROSALINA
 | 

Editor:

Margaretha Puteri Rosalina, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan