WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan berbicara langsung dengan Presiden China Xi Jinping pada Jumat (19/9/2025). Pembicaraan lewat telepon itu akan membahas kelanjutan Tiktok dan kerangka kesepakatan terkait dengan kepemilikan aplikasi video populer tersebut.
Percakapan itu akan menjadi kontak pertama kedua pemimpin sejak Juni 2025. Hal ini sekaligus menandai titik penting ketegangan dagang yang menekan hubungan dua ekonomi terbesar dunia tersebut selama berbulan-bulan belakangan.
”Saya akan berbicara dengan Presiden Xi pada Jumat. Hubungan tetap sangat kuat!!!” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya sendiri, Truth Social, Senin (15/9/2025) waktu Washington atau Selasa (16/9/2025) dini hari waktu Indonesia bagian barat.
Ia juga menyebut pertemuan pejabat tinggi AS–China di Madrid, Spanyol, akhir pekan lalu berjalan dengan sangat baik. Tanpa menyebut Tiktok, Trump menambahkan, kesepakatan yang diraih di Madrid adalah untuk sebuah perusahaan yang sangat diinginkan anak muda AS agar tetap ada. ”Mereka akan sangat senang!” tulisnya.
Di tengah ancaman akan menghentikan akses Tiktok di AS, akun pribadi Trump sendiri kini memiliki 15 juta pengikut di pelantar tersebut. Sementara Gedung Putih meluncurkan akun resmi bulan lalu.
Kesepakatan di Madrid
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memimpin delegasi AS dalam pembicaraan di Madrid. Ia mengumumkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan kerangka untuk mengalihkan kepemilikan Tiktok dari induk perusahaannya di Beijing, ByteDance Ltd, kepada pihak yang dikendalikan AS.
Namun, belum jelas pihak mana yang akan menjadi pemilik di AS yang dimaksud. ”Kami tidak akan membicarakan syarat komersial dari kesepakatan ini. Itu urusan dua pihak swasta. Namun, syarat komersial telah disepakati,” kata Bessent dalam jumpa pers di Madrid, seusai pembicaraan, Senin.
Menurut dia, kesepakatan ini didorong oleh semakin dekatnya tenggang waktu yang diberikan AS kepada Tiktok, yaitu 17 September 2025. Tanpa pengalihan kepemilikan kepada pihak AS, Tiktok terancam tak bisa diakses di AS. Ia menambahkan, tenggat itu kemungkinan diperpanjang 90 hari agar ada cukup waktu merampungkan kesepakatan.
Bessent juga menekankan bahwa kesepakatan ini akan mengakomodasi dua hal sekaligus, yaitu kekhawatiran keamanan nasional AS dan keinginan China mempertahankan karakteristik khas Tiktok. ”Mereka peduli dengan karakteristik China yang mereka anggap sebagai soft power. Kami tidak peduli soal itu. Kami peduli keamanan nasional,” katanya.
Dari pihak China, Wakil Menteri Perdagangan China Li Chenggang mengatakan, kedua pihak telah mencapai konsensus kerangka dasar terkait Tiktok. ”China akan dengan tegas menjaga kepentingan nasional serta hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China,” ujarnya, dikutip kantor berita China, Xinhua.
Li menegaskan, Beijing menolak penggunaan teknologi ataupun perdagangan sebagai senjata dan alat politisasi. Ia mengkritik Washington yang ia nilai terlalu memaksakan konsep keamanan nasional dan menjatuhkan sanksi pembatasan kepada banyak perusahaan China. Ia menyebutnya sebagai praktik intimidasi unilateral.
Li mengatakan, China menuntut pencabutan langkah-langkah pembatasan tersebut. China tidak akan pernah mencari kesepakatan apa pun dengan mengorbankan prinsip, kepentingan perusahaan, dan keadilan serta kesetaraan internasional.
”AS tidak bisa di satu sisi meminta China mengakomodasi kekhawatirannya, sementara di sisi lain terus menekan perusahaan-perusahaan China,” ujarnya.
Di Madrid, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan timnya sangat fokus pada Tiktok dan memastikan bahwa kesepakatan ini adil bagi China. Namun, mereka juga sepenuhnya menghormati kekhawatiran keamanan nasional AS.
Wakil Direktur Komisi Urusan Siber Pusat China Wang Jingtao mengatakan, konsensus yang dicapai salah satunya mengenai otorisasi penggunaan hak kekayaan intelektual seperti algoritma (Tiktok). Ini adalah poin penting dalam kesepakatan tersebut.
”Kedua belah pihak juga sepakat untuk memercayakan penanganan data pengguna dan keamanan konten AS kepada mitra,” ujarnya.
Kedua belah pihak juga sepakat untuk memercayakan penanganan data pengguna dan keamanan konten AS kepada mitra.
Algoritma Tiktok yang mumpuni membuatnya unggul dari media sosial lainnya. Keunggulan algoritma Tiktok membuatnya semakin banyak disukai pengguna, menyalip algoritma media sosial barat, seperti Facebook, Instagram, dan X.
Tiktok menunjukkan bahwa algoritma yang didorong oleh pemahaman akan minat pengguna bisa lebih canggih. Alih-alih membangun algoritma mereka berdasarkan grafik sosial seperti yang dilakukan Meta, para eksekutif Tiktok, termasuk CEO Tiktok Shou Zi Chew, mengatakan bahwa algoritma mereka didasarkan pada sinyal minat.
Meskipun para pesaing memiliki algoritma berbasis minat yang serupa, Tiktok mampu meningkatkan efektivitas algoritma dengan format video pendek, kata Catalina Goanta, seorang profesor madya di Universitas Utrecht.
”Sistem rekomendasi mereka sangat umum. Namun, yang benar-benar membedakan Tiktok sebagai aplikasi adalah desain dan kontennya,” ujarnya seperti dikutip Reuters, 2024.
Format video pendek memungkinkan algoritma Tiktok menjadi jauh lebih dinamis. Algoritma itu bahkan mampu melacak perubahan preferensi dan minat pengguna dari waktu ke waktu. Pelacakan ini begitu detail sehingga sangat cepat menyesuaikan perubahan minat pengguna dalam sehari.
Untuk saat ini, Tiktok terus berfungsi untuk 170 juta penggunanya di AS. Belum ada nama perusahaan AS yang akan menangani Tiktok. Sejumlah raksasa teknologi AS disebut-sebut dibujuk untuk menangani aplikasi itu, seperti Apple, Google, dan Oracle.
Bujukan itu disertai janji bahwa Departemen Kehakiman AS di bawah Trump tidak akan menggunakan hukum untuk menjatuhkan denda kepada mereka.
Dari Biden ke Trump
Tiktok, yang memiliki hampir 2 miliar pengguna global, telah sejak lama menjadi isu politik di Washington. Pada masa Presiden Joe Biden, Kongres AS meloloskan undang-undang 2024 yang mewajibkan ByteDance melepas kepemilikannya atau menghadapi larangan akses di AS. Alasannya, risiko keamanan nasional.
Awalnya mendukung larangan, Trump berbalik sikap setelah kembali ke Gedung Putih. Ia bahkan terkesan semakin menyukainya. Trump menilai Tiktok berperan penting dalam membantunya menarik dukungan pemilih muda dalam pemilu 2024.
Ia menunda larangan yang semestinya berlaku pada Januari 2025, tepat sehari sebelum pelantikannya sebagai Presiden AS. Penundaan itu dengan alasan memberi waktu untuk mencari pembeli non-China, tapi tanpa dasar hukum yang jelas.
Pada Juni 2025, Trump kembali memperpanjang tenggat hingga 90 hari. Perpanjangan itu akan berakhir Rabu (17/9/2025), hanya dua hari sebelum jadwal percakapannya dengan Xi. Meski tidak menyinggung tenggat itu secara langsung, Trump mengklaim dapat menunda larangan Tiktok tanpa batas waktu.
Meski ada kerangka kesepakatan, sejumlah pakar menilai masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Sarah Kreps dari Tech Policy Institute Universitas Cornell menilai kesepakatan belum menjelaskan secara jelas perlindungan data pengguna ataupun mekanisme pengawasan algoritma. ”Pertanyaan keamanan nasional tetap belum terjawab,” katanya.
Perang tarif
Selain Tiktok, pembicaraan di Madrid juga membahas perang dagang yang kembali memanas. Sejak awal tahun, kedua negara saling menaikkan tarif hingga tiga digit. Seluruh dunia harus ikut menanggung dampak dengan terganggunya rantai pasok global.
Belakangan, AS dan China menurunkan tarif meski hanya sementara. AS mengenakan bea masuk 30 persen pada barang-barang China, sementara Beijing membalas dengan tarif 10 persen terhadap produk AS. Namun, gencatan perang dagang itu akan berakhir November 2025. Washington menuding Beijing melanggar kesepakatan dengan memperlambat izin ekspor mineral langka.
Bessent juga menyebut isu Rusia sempat muncul. Washington mendesak sekutunya menjatuhkan tarif tinggi kepada China atas pembelian minyak Rusia. Beijing menyangkal. Beijing menyebut langkah itu sebagai bentuk pemaksaan ekonomi.
Ketegangan perang dagang AS-China merembet ke sektor teknologi tinggi lain. Akhir pekan lalu, Kementerian Perdagangan China membuka penyelidikan antidumping terhadap cip khusus asal AS. China juga meluncurkan investigasi terkait dugaan diskriminasi terhadap industri semikonduktor China.
Pada Senin, Beijing mengumumkan hasil investigasi awal yang menyatakan perusahaan cip raksasa AS, Nvidia, melanggar aturan antimonopoli. China berjanji akan melakukan penyelidikan tambahan. Namun, mereka tidak merinci dugaan pelanggaran yang dimaksud.
Bessent menyebut pengumuman itu dilakukan pada saat yang tidak tepat. Sementara analis menilainya sebagai langkah balasan atas pembatasan AS terhadap ekspor semikonduktor ke China.
Prospek percakapan Trump–Xi
Trump berulang kali menyatakan minat untuk bertemu langsung dengan Xi. Beijing disebut juga tengah berusaha mengundangnya untuk berkunjung ke China. Bessent mengatakan, percakapan via telepon keduanya pada Jumat nanti akan memberikan kesempatan kepada kedua pemimpin untuk membicarakan kemungkinan pertemuan tatap muka itu.
Menurut seorang sumber yang tak disebut identitasnya karena informasi sensitif, tim AS menegaskan kepada Beijing bahwa peluang pertemuan pada musim gugur ini akan tertutup jika kesepakatan Tiktok gagal tercapai di Madrid. Sejumlah analis menilai Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Korea Selatan pada Oktober bisa menjadi ajang pertemuan kedua pemimpin itu.
Namun, kecil kemungkinan lahirnya perjanjian dagang komprehensif dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan mepetnya waktu yang tersedia. ”Yang lebih mungkin adalah serangkaian kesepakatan ad hoc, seperti komitmen China membeli lebih banyak produk pertanian AS, penundaan pengumuman kontrol ekspor teknologi tinggi oleh AS, serta perpanjangan jeda tarif 90 hari,” kata Wendy Cutler dari Asia Society Policy Institute.
Untuk sementara, kesepakatan Tiktok menjadi simbol kompromi di tengah hubungan yang penuh gesekan antara China dan AS. Trump menyebut hubungan tetap sangat kuat. Sementara pihak China menegaskan tidak akan mengorbankan prinsip dan kepentingan perusahaan nasional.
Meski demikian, baik Washington maupun Beijing masih menghadapi rentetan isu lain, dari perang tarif, ekspor mineral, hingga persaingan teknologi. Hal ini membuat jalan menuju hubungan stabil tetap panjang dan berliku. (AP/REUTERS/AFP)
WASHINGTON, SELASA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan berbicara langsung dengan Presiden China Xi Jinping pada Jumat (19/9/2025). Pembicaraan lewat telepon itu akan membahas kelanjutan Tiktok dan kerangka kesepakatan terkait dengan kepemilikan aplikasi video populer tersebut.
Percakapan itu akan menjadi kontak pertama kedua pemimpin sejak Juni 2025. Hal ini sekaligus menandai titik penting ketegangan dagang yang menekan hubungan dua ekonomi terbesar dunia tersebut selama berbulan-bulan belakangan.
”Saya akan berbicara dengan Presiden Xi pada Jumat. Hubungan tetap sangat kuat!!!” tulis Trump dalam unggahan di media sosialnya sendiri, Truth Social, Senin (15/9/2025) waktu Washington atau Selasa (16/9/2025) dini hari waktu Indonesia bagian barat.
Ia juga menyebut pertemuan pejabat tinggi AS–China di Madrid, Spanyol, akhir pekan lalu berjalan dengan sangat baik. Tanpa menyebut Tiktok, Trump menambahkan, kesepakatan yang diraih di Madrid adalah untuk sebuah perusahaan yang sangat diinginkan anak muda AS agar tetap ada. ”Mereka akan sangat senang!” tulisnya.
Di tengah ancaman akan menghentikan akses Tiktok di AS, akun pribadi Trump sendiri kini memiliki 15 juta pengikut di pelantar tersebut. Sementara Gedung Putih meluncurkan akun resmi bulan lalu.
Kesepakatan di Madrid
Menteri Keuangan AS Scott Bessent memimpin delegasi AS dalam pembicaraan di Madrid. Ia mengumumkan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepakatan kerangka untuk mengalihkan kepemilikan Tiktok dari induk perusahaannya di Beijing, ByteDance Ltd, kepada pihak yang dikendalikan AS.
Namun, belum jelas pihak mana yang akan menjadi pemilik di AS yang dimaksud. ”Kami tidak akan membicarakan syarat komersial dari kesepakatan ini. Itu urusan dua pihak swasta. Namun, syarat komersial telah disepakati,” kata Bessent dalam jumpa pers di Madrid, seusai pembicaraan, Senin.
Menurut dia, kesepakatan ini didorong oleh semakin dekatnya tenggang waktu yang diberikan AS kepada Tiktok, yaitu 17 September 2025. Tanpa pengalihan kepemilikan kepada pihak AS, Tiktok terancam tak bisa diakses di AS. Ia menambahkan, tenggat itu kemungkinan diperpanjang 90 hari agar ada cukup waktu merampungkan kesepakatan.
Bessent juga menekankan bahwa kesepakatan ini akan mengakomodasi dua hal sekaligus, yaitu kekhawatiran keamanan nasional AS dan keinginan China mempertahankan karakteristik khas Tiktok. ”Mereka peduli dengan karakteristik China yang mereka anggap sebagai soft power. Kami tidak peduli soal itu. Kami peduli keamanan nasional,” katanya.
Dari pihak China, Wakil Menteri Perdagangan China Li Chenggang mengatakan, kedua pihak telah mencapai konsensus kerangka dasar terkait Tiktok. ”China akan dengan tegas menjaga kepentingan nasional serta hak dan kepentingan sah perusahaan-perusahaan China,” ujarnya, dikutip kantor berita China, Xinhua.
Li menegaskan, Beijing menolak penggunaan teknologi ataupun perdagangan sebagai senjata dan alat politisasi. Ia mengkritik Washington yang ia nilai terlalu memaksakan konsep keamanan nasional dan menjatuhkan sanksi pembatasan kepada banyak perusahaan China. Ia menyebutnya sebagai praktik intimidasi unilateral.
Serial Artikel
Tiktok dan Rivalitas AS-China
DPR AS meloloskan rancangan undang-undang yang memungkinkan media sosial asal China, Tiktok, dilarang beroperasi.
Li mengatakan, China menuntut pencabutan langkah-langkah pembatasan tersebut. China tidak akan pernah mencari kesepakatan apa pun dengan mengorbankan prinsip, kepentingan perusahaan, dan keadilan serta kesetaraan internasional.
”AS tidak bisa di satu sisi meminta China mengakomodasi kekhawatirannya, sementara di sisi lain terus menekan perusahaan-perusahaan China,” ujarnya.
Di Madrid, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan timnya sangat fokus pada Tiktok dan memastikan bahwa kesepakatan ini adil bagi China. Namun, mereka juga sepenuhnya menghormati kekhawatiran keamanan nasional AS.
Wakil Direktur Komisi Urusan Siber Pusat China Wang Jingtao mengatakan, konsensus yang dicapai salah satunya mengenai otorisasi penggunaan hak kekayaan intelektual seperti algoritma (Tiktok). Ini adalah poin penting dalam kesepakatan tersebut.
”Kedua belah pihak juga sepakat untuk memercayakan penanganan data pengguna dan keamanan konten AS kepada mitra,” ujarnya.
Kedua belah pihak juga sepakat untuk memercayakan penanganan data pengguna dan keamanan konten AS kepada mitra.
Algoritma Tiktok yang mumpuni membuatnya unggul dari media sosial lainnya. Keunggulan algoritma Tiktok membuatnya semakin banyak disukai pengguna, menyalip algoritma media sosial barat, seperti Facebook, Instagram, dan X.
Tiktok menunjukkan bahwa algoritma yang didorong oleh pemahaman akan minat pengguna bisa lebih canggih. Alih-alih membangun algoritma mereka berdasarkan grafik sosial seperti yang dilakukan Meta, para eksekutif Tiktok, termasuk CEO Tiktok Shou Zi Chew, mengatakan bahwa algoritma mereka didasarkan pada sinyal minat.
Meskipun para pesaing memiliki algoritma berbasis minat yang serupa, Tiktok mampu meningkatkan efektivitas algoritma dengan format video pendek, kata Catalina Goanta, seorang profesor madya di Universitas Utrecht.
”Sistem rekomendasi mereka sangat umum. Namun, yang benar-benar membedakan Tiktok sebagai aplikasi adalah desain dan kontennya,” ujarnya seperti dikutip Reuters, 2024.
Format video pendek memungkinkan algoritma Tiktok menjadi jauh lebih dinamis. Algoritma itu bahkan mampu melacak perubahan preferensi dan minat pengguna dari waktu ke waktu. Pelacakan ini begitu detail sehingga sangat cepat menyesuaikan perubahan minat pengguna dalam sehari.
Untuk saat ini, Tiktok terus berfungsi untuk 170 juta penggunanya di AS. Belum ada nama perusahaan AS yang akan menangani Tiktok. Sejumlah raksasa teknologi AS disebut-sebut dibujuk untuk menangani aplikasi itu, seperti Apple, Google, dan Oracle.
Bujukan itu disertai janji bahwa Departemen Kehakiman AS di bawah Trump tidak akan menggunakan hukum untuk menjatuhkan denda kepada mereka.
Dari Biden ke Trump
Tiktok, yang memiliki hampir 2 miliar pengguna global, telah sejak lama menjadi isu politik di Washington. Pada masa Presiden Joe Biden, Kongres AS meloloskan undang-undang 2024 yang mewajibkan ByteDance melepas kepemilikannya atau menghadapi larangan akses di AS. Alasannya, risiko keamanan nasional.
Awalnya mendukung larangan, Trump berbalik sikap setelah kembali ke Gedung Putih. Ia bahkan terkesan semakin menyukainya. Trump menilai Tiktok berperan penting dalam membantunya menarik dukungan pemilih muda dalam pemilu 2024.
Ia menunda larangan yang semestinya berlaku pada Januari 2025, tepat sehari sebelum pelantikannya sebagai Presiden AS. Penundaan itu dengan alasan memberi waktu untuk mencari pembeli non-China, tapi tanpa dasar hukum yang jelas.
Pada Juni 2025, Trump kembali memperpanjang tenggat hingga 90 hari. Perpanjangan itu akan berakhir Rabu (17/9/2025), hanya dua hari sebelum jadwal percakapannya dengan Xi. Meski tidak menyinggung tenggat itu secara langsung, Trump mengklaim dapat menunda larangan Tiktok tanpa batas waktu.
Meski ada kerangka kesepakatan, sejumlah pakar menilai masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Sarah Kreps dari Tech Policy Institute Universitas Cornell menilai kesepakatan belum menjelaskan secara jelas perlindungan data pengguna ataupun mekanisme pengawasan algoritma. ”Pertanyaan keamanan nasional tetap belum terjawab,” katanya.
Perang tarif
Selain Tiktok, pembicaraan di Madrid juga membahas perang dagang yang kembali memanas. Sejak awal tahun, kedua negara saling menaikkan tarif hingga tiga digit. Seluruh dunia harus ikut menanggung dampak dengan terganggunya rantai pasok global.
Belakangan, AS dan China menurunkan tarif meski hanya sementara. AS mengenakan bea masuk 30 persen pada barang-barang China, sementara Beijing membalas dengan tarif 10 persen terhadap produk AS. Namun, gencatan perang dagang itu akan berakhir November 2025. Washington menuding Beijing melanggar kesepakatan dengan memperlambat izin ekspor mineral langka.
Bessent juga menyebut isu Rusia sempat muncul. Washington mendesak sekutunya menjatuhkan tarif tinggi kepada China atas pembelian minyak Rusia. Beijing menyangkal. Beijing menyebut langkah itu sebagai bentuk pemaksaan ekonomi.
Serial Artikel
Tiktok Bangkit dari Kematian, tetapi Sampai Kapan?
Kurang dari 24 jam setelah mati, Tiktok hidup lagi. Trump berjanji memberi tambahan waktu 90 hari untuk ByteDance menjual Tiktok. Bagaimana setelah itu?
Ketegangan perang dagang AS-China merembet ke sektor teknologi tinggi lain. Akhir pekan lalu, Kementerian Perdagangan China membuka penyelidikan antidumping terhadap cip khusus asal AS. China juga meluncurkan investigasi terkait dugaan diskriminasi terhadap industri semikonduktor China.
Pada Senin, Beijing mengumumkan hasil investigasi awal yang menyatakan perusahaan cip raksasa AS, Nvidia, melanggar aturan antimonopoli. China berjanji akan melakukan penyelidikan tambahan. Namun, mereka tidak merinci dugaan pelanggaran yang dimaksud.
Bessent menyebut pengumuman itu dilakukan pada saat yang tidak tepat. Sementara analis menilainya sebagai langkah balasan atas pembatasan AS terhadap ekspor semikonduktor ke China.
Prospek percakapan Trump–Xi
Trump berulang kali menyatakan minat untuk bertemu langsung dengan Xi. Beijing disebut juga tengah berusaha mengundangnya untuk berkunjung ke China. Bessent mengatakan, percakapan via telepon keduanya pada Jumat nanti akan memberikan kesempatan kepada kedua pemimpin untuk membicarakan kemungkinan pertemuan tatap muka itu.
Menurut seorang sumber yang tak disebut identitasnya karena informasi sensitif, tim AS menegaskan kepada Beijing bahwa peluang pertemuan pada musim gugur ini akan tertutup jika kesepakatan Tiktok gagal tercapai di Madrid. Sejumlah analis menilai Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Korea Selatan pada Oktober bisa menjadi ajang pertemuan kedua pemimpin itu.
Namun, kecil kemungkinan lahirnya perjanjian dagang komprehensif dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan mepetnya waktu yang tersedia. ”Yang lebih mungkin adalah serangkaian kesepakatan ad hoc, seperti komitmen China membeli lebih banyak produk pertanian AS, penundaan pengumuman kontrol ekspor teknologi tinggi oleh AS, serta perpanjangan jeda tarif 90 hari,” kata Wendy Cutler dari Asia Society Policy Institute.
Untuk sementara, kesepakatan Tiktok menjadi simbol kompromi di tengah hubungan yang penuh gesekan antara China dan AS. Trump menyebut hubungan tetap sangat kuat. Sementara pihak China menegaskan tidak akan mengorbankan prinsip dan kepentingan perusahaan nasional.
Meski demikian, baik Washington maupun Beijing masih menghadapi rentetan isu lain, dari perang tarif, ekspor mineral, hingga persaingan teknologi. Hal ini membuat jalan menuju hubungan stabil tetap panjang dan berliku. (AP/REUTERS/AFP)