Dengan K-Pop, Aku Melawanmu

”Protes rasa konser” di Korsel  menuntut pemakzulan presiden menuai pujian. Tanpa perlu kekerasan, pesan perjuangan anak-anak muda meluas lewat lagu.

13 Des 2024 17:51 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia, Irene Sarwindaningrum

”There’s a rough road in front of us, With unknowable future and obstacles, I won’t change, I can’t give up … We are together feeling this moment, Into our new world … .”

Petikan lirik lagu ”Into the New World” milik grup asal Korea Selatan, Girl’s Generation atau SNSD, ini kembali terdengar bersama dengan ribuan pengunjuk rasa yang menyerukan pemakzulan Presiden Yoon Suk Yeol sejak awal Desember 2024. Sejak Yoon gagal memberlakukan darurat militer pada Selasa (3/12/2024), anak-anak muda dengan cepat turun ke jalanan dan beraksi damai dan terorganisasi.

Lewat lagu yang kerap muncul dalam aksi-aksi protes di Korsel ini, anak-anak muda menyebarkan gagasan dan pesan perjuangan bahwa ”kita semua bersama-sama dalam hal ini dan apa pun kesulitannya akan kita hadapi bersama”.

”Into the New World”, lagu debut SNSD pada 2007 seperti menjadi lagu wajib dalam aksi-aksi protes Korsel. Lirik lagu itu awalnya ditulis untuk menginspirasi harapan dan kegigihan.

Namun, kemudian menjadi seperti gerakan yang menuntut keadilan dan reformasi. Lagu ini pertama kali digunakan saat demonstrasi mahasiswa tahun 2016 di Ewha Womans University.

Lagu itu kembali dinyanyikan bersama-sama saat unjuk rasa tahun 2016-2017 untuk melawan presiden konservatif pada waktu itu, Park Geun-hye. Park akhirnya dimakzulkan gara-gara skandal korupsi. Sejak 5 Desember lalu, lagu itu dinyanyikan lagi di depan Majelis Nasional Korsel di Seoul untuk menuntut pemakzulan Yoon.

Bukan hanya ”Into the New World” yang terdengar, melainkan juga lagu-lagu K-pop lain. Ada ”Whiplash” milik Aespa, ”Crooked” milik G-Dragon, ”I Am the Best” milik 2NE1, ”APT” milik Rose, dan ”Fighting” milik Seventeen.

Ketika ”Whiplash” muncul, para pengunjuk rasa berteriak, ”Dakwa, dakwa, dakwa Yoon Suk Yeol” dan ”Mundur, mundur, mundurlah Yoon Suk Yeol” sambil joget dan lompat-lompat seperti sedang menonton konser. Apalagi mereka sambil melambaikan tongkat cahaya warna-warni (lightstick K-pop) dan lilin LED.

”Para penggemar K-pop di seluruh negeri silakan bawa tongkat cahayamu saat ke aksi protes. Kami akan menggelar konser cahaya lilin untukmu,” begitu pengumuman Candlelight Action, kelompok masyarakat yang mengorganisasi protes.

Gelombang aksi unjuk rasa rasa konser inilah yang menuai pujian warganet di seluruh dunia. Warganet membandingkan bentuk aksi unjuk rasa di negara masing-masing. ”Irama dalam lagu-lagu K-pop itu bisa membuat massa tetap bersemangat dan terlibat selama demonstrasi,” kata salah seorang pemandu aksi protes, Park Min-ju.

Simbol antikekerasan

Tongkat cahaya warna-warni K-pop digunakan sebagai lambang antikekerasan dan solidaritas serta simbol persatuan. Tongkat cahaya ini menggantikan lilin yang dulu sering digunakan saat aksi unjuk rasa, terutama saat unjuk rasa Park.

Harian The Korea Times menulis, tongkat cahaya yang biasanya dijual saat konser atau oleh grup K-pop itu harganya 30-50 dollar AS (berkisar Rp 480.000-Rp 800.000). ”Tongkat itu lebih terang sinarnya dan mudah dibawa ke mana-mana,” kata kritikus musik, Kim Do Heon.

A vendor sells light sticks as demonstrators take part in a protest calling for the ouster of South Korea President Yoon Suk Yeol on a road near the National Assembly in Seoul on December 11, 2024. South Korean police said December 11 that security guards were blocking a raid on President Yoon Suk Yeol's offices to investigate his brief imposition of martial law, with the opposition party accusing the presidential staff of illegally protecting an insurrectionist. (Photo by ANTHONY WALLACE / AFP)

Peneliti di Universitas Negeri New York, Amerika Serikat, Stephanie Choi, juga mengatakan, tongkat cahaya masih mencerminkan solidaritas. Tongkat itu juga mempertahankan makna asli dari antikekerasan.

”Memakai tongkat cahaya dan lagu K-pop ini bisa menarik partisipasi lebih banyak orang. Dulu, demonstrasi mungkin terasa lebih keras dan menakutkan. Sekarang rasanya lebih banyak orang—muda dan tua—yang turun ke jalan,” kata Lee Sul-gi (36), pengunjuk rasa dan penggemar grup K-pop ATEEZ itu.

Video nyanyian yang disinkronkan dengan gerakan tongkat cahaya secara serempak dalam aksi unjuk rasa itu yang menjadi viral di media sosial. Hal ini bersama dengan bendera yang berisi pesan dan meme dari para pengunjuk rasa yang mayoritas berusia muda.

Salah satu pengunjuk rasa, Shin Jae-yun, mengaku sedih dan tersakiti oleh ulah Yoon. ”Protes bersama banyak orang dengan cara yang menyenangkan setidaknya bisa jadi obat,” ujarnya.

Korsel punya catatan panjang soal unjuk rasa. Sejak junta ditumbangkan pada 1980, demokrasi dan unjuk rasa jadi bagian kehidupan Korsel.

Isunya macam-macam. Aksi unjuk rasa hak-hak pekerja, ancaman dari Korea Utara, dan kegagalan pemerintah dulu sangat mudah berubah menjadi aksi kekerasan. Dengan K-pop, risiko kekerasan itu bisa ditekan.

Quote

Kami juga pandai berteriak dan bersorak keras untuk apa yang kami cintai. Sama saja dengan protes. Rasanya menyenangkan seperti konser.

Dulu, industri K-pop dianggap apolitis dan cenderung menghindari peristiwa-peristiwa terkini. Bahkan, selebritas yang mengungkapkan pendapat politiknya seringkali tidak disukai. Namun, kini terjadi pergeseran.

Publik menyadari kekuatan K-pop beserta fandom-nya atau penggemarnya serta pesan mendasar dalam lagunya. ”Protes pemakzulan Yoon ini menyatukan semua fandom K-pop,” kata Kim Da-in (19), penggemar grup virtual Plave.

Konser musik

Para penggemar K-pop mengaku bisa membuat protes menjadi lebih keren, menarik, dan menyenangkan seperti konser musik. Keterampilan mereka ternyata berguna untuk protes.

”Kami (penggemar K-pop) terbiasa menunggu di luar saat cuaca dingin. Kami juga pandai berteriak dan bersorak keras untuk apa yang kami cintai. Sama saja dengan protes. Rasanya menyenangkan seperti konser. Kami akan datang terus dan mengundang lebih banyak orang untuk bergabung,” kata Heo (24), penggemar Seventeen.

People sing along K-pop music during a protest calling for the ouster of South Korea's President Yoon Suk Yeol outside the National Assembly in Seoul on December 8, 2024. South Korea's main opposition party said on December 8 it will try again to impeach President Yoon Suk Yeol after his declaration of martial law. Yoon averted impeachment on December 7 as huge crowds braved freezing temperatures in another night of protests outside parliament to demand the president's ouster. (Photo by Philip FONG / AFP)

Kim (52), yang pernah berunjuk rasa di masa lalu, mengakui budaya protes Korsel berubah dan menjadi lebih menarik dan menggembirakan. Lagu-lagu K-pop memiliki tujuan meningkatkan solidaritas, seperti lagu-lagu tentara atau himne.

Lagu-lagu K-pop melalui lirik ataupun temanya beresonansi dengan situasi terkini. ”Itulah kenapa lagu-lagu itu dipilih untuk dinyanyikan saat protes. Lagu-lagu itu selaras dengan tren generasi muda dan menyatukan orang secara harmonis,” ujarnya.

Kritikus politik Korsel, Lee Jong-hoon, kepada harian Korea Herald, 10 Desember 2024, mengatakan, partisipasi politik anak muda Korsel menunjukkan kemarahan mereka yang terpendam. Generasi milenial dan gen Z mengalami banyak masalah, mulai dari konflik jender hingga kesulitan ekonomi.

Deklarasi darurat militer Yoon lalu memicu kemarahan mereka. Akan tetapi, cara mengekspresikan kemarahan mereka berbeda. Lagu-lagu K-pop, seperti ”Into the New World”, digunakan lebih untuk membantu menenangkan ketakutan ketimbang melawan sesuatu.

Fokusnya ialah untuk menegaskan solidaritas satu sama lain. Lirik lagu yang kuat itulah yang menyentuh hati banyak orang. Lirik-liriknya mengajak orang untuk terus maju meski ada rintangan menuju dunia baru.

Seperti lirik bagian akhir ”Into the New World”: ”Aku menjadi lebih kuat hanya dengan memikirkanmu. Bantu aku agar aku tidak menangis”.

Gerakan bawah tanah

Bukan hanya di Korsel, puisi, musik hip-hop, rap, dan afrobeat berubah dari gerakan bawah tanah menjadi denyut nadi revolusi Sudan pada tahun 2019. Musik hip-hop Sudan tak hanya sebagai pemeriah gerakan.

Musik hip-hop dan rap Sudan merupakan sebuah gerakan itu sendiri. Musik itu mampu menyatukan ribuan suara dari beragam etnis dan agama dalam satu tuntutan bersama untuk bebas dari kekuasaan otoriter Omar al-Bashir.

Quote

Tak peduli seberapa keras kita menghindar, tetap saja selalu bertemu politik.

Di Sudan, pada 2019, puisi dan musik merupakan alat revolusi. Puncaknya, berkumpulnya ribuan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi satu di kemah protes yang menyajikan panggung musik revolusioner.

”Dam” karya Mao dan ”Taskut Bas” (Just Fall) karya Ali G menggema dari pengeras suara di kamp-kamp protes di ibu kota Sudan, Khartoum. Liriknya mengecam korupsi, penindasan, dan kekerasan.

Salah satu adegan film Sudan, Remember Us.

Musik dan puisi protes itu berhadapan dengan senjata tentara. Gerakan itu diawali pada Desember 2018. Pemicunya yaitu keberatan rakyat atas kebijakan Al-Bashir yang menaikkan harga bahan bakar dan roti hingga tiga kali lipat. Seiring waktu, protes menjadi tuntutan Al-Bashir yang otoriter untuk mundur.

Film dokumenter berjudul Sudan, Remember Us, yang dirilis pada 2024, mengikuti perjalanan musik dan puisi protes Sudan itu. Alih-alih menggunakan kekerasan, apalagi aksi terorisme, anak-anak muda Sudan justru menggunakan kekuatan puisi, musik rap, syair, dan pantun berbalas.

Terbukti cara-cara tanpa kekerasan seperti itu berhasil mengobarkan api perlawanan rakyat terhadap setiap rezim yang menindas. ”Ini adalah bukti relasi yang panjang antara puisi dan perlawanan di Sudan,” kata sutradara Sudan, Remember Us, Hind Meddeb, Minggu (17/11/2024), di Doha, Qatar (Kompas, 5 Desember 2024).

Jalan-jalan di Khartoum pada Desember 2018 bergema oleh rap dan hip-hop menentang Al-Bashir. Namun, bukannya penuh amarah, unjuk rasa itu justru berlangsung penuh semangat dan kegembiraan. Gerakan itu merupakan sebuah revolusi, tetapi juga pesta pora semangat.

Para pengunjuk rasa saling berlomba menciptakan syair dan lagunya sendiri. Selain mahasiswa, mereka adalah dokter, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, bankir yang di siang hari bekerja seperti biasa. Namun, di malam hari, diam-diam mereka menumpahkan protes dan kemuakan pada pemerintah dengan menciptakan syair dan lagu.

Mereka harus melakukannya diam-diam. Sebab, rezim Al-Bashir telah lama memusuhi musik dan syair kritik. Sejumlah pemusik Sudan sempat dicekal karena lagu-lagu protesnya. Lagu rap dianggap miring karena disebut terlalu kebaratan-baratan.

Musik politis

Selama pemerintahan Bashir yang keras selama tiga dekade itu, para rapper Sudan tidak dapat mengekspresikan diri mereka secara terbuka. Gadoora, seorang dokter di Khartoum, misalnya, diam-diam menggubah musik rap politis sejak tahun 2006.

Saat itu, ia sering menggunakan metafora untuk membuat sindiran politik. ”Sulit untuk memisahkan politik dari kehidupan sehari-hari Anda,” katanya kepada AFP pada 2019 lalu. ”Tak peduli seberapa keras kita menghindar, tetap saja selalu bertemu politik,” ujarnya menggambarkan suasana Khartoum saat itu.

Infografik-700 Korban Pertempuran dan Pemogokan Sudan *** Local Caption *** Infografik-AFP-700 Korban Pertempuran dan Pemogokan Sudan

Setelah berbulan-bulan dirongrong musik revolusi, rezim Al-Bashir lengser pada 11 April 2019 setelah 30 tahun berkuasa. Namun, entakan musik protes berlanjut. Mereka ingin mendorong terbentuknya pemerintahan baru.

Laman Al-Jazeera, 12 Juni 2019, merekam, sepanjang April hingga Mei 2019, jalanan Khartoum semakin disesaki orang-orang yang datang dari berbagai etnis. Sebagian menghadiri debat politik, yang lain mendengarkan para pengunjuk rasa membawakan lagu-lagu revolusioner.

Namun, pada 3 Juni 2019, tragedi terjadi. Pada dini hari, di Ramadhan yang basah oleh hujan, pesta perlawanan itu dihancurkan tentara. Human Rights Watch menyebut, tentara menyerbu protes damai itu, menembaki dan memukuli dengan brutal. Bahkan, ada laporan pemerkosaan oleh aparat terhadap para aktivis.

Puluhan orang tewas, ratusan orang terluka. Selama protes damai sejak Desember 2018 pun kekerasan terhadap pemusik dan aktivis telah menewaskan banyak orang.

Tindakan brutal aparat pemerintah itu tak membungkam musik perlawanan Sudan. Lagu-lagu baru justru diciptakan untuk menggambarkan pembantaian pada 3 Juni 2019 itu.

Gadoora menciptakan lagu rap berjudul ”Blood” untuk menggambarkan kekerasan pada subuh itu. ”Orang-orang turun ke jalan meneriakkan slogan damai untuk mencari kebebasan, tetapi mereka disambut oleh milisi barbar. Dahi mereka berlumuran darah untuk selamanya,” Gadoora menyanyikan lirik lagu itu dengan suara tenang.

Tak hanya di dalam negeri, diaspora Sudan turut menggemakan protes lewat musik di berbagai negara. Artis AKA Keyz yang tinggal di Inggris menciptakan ”No Options Left” sebagai refleksi suram, tetapi penuh tekad dari keadaan tanah asalnya tu. ”Tidak ada pilihan yang tersisa,” katanya, menyanyikan keputusasaan pemuda Sudan saat mereka menyaksikan negara mereka hancur.

New members of Sudan's Gedaref State Police Department attend a graduation ceremony in Gedaref city in the east of the war-torn country, on September 5, 2024. Sudan has been gripped by war since April 2023, when fighting erupted between the army and the paramilitary Rapid Support Forces, killing tens of thousands, displacing millions and triggering one of the world's worst humanitarian crises. (Photo by AFP)

Setelah melengserkan kekuasaan otoriter pada 2019, Sudan bisa mulai menata pemerintahan sipil yang demokratis yang diimpikan rakyat. Namun, pada 2021, impian itu hancur.

Tentara melengserkan pemerintahan sipil. Kondisi semakin parah. Pada tahun 2023, kekerasan meletus sekali lagi.

Ketegangan antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat memicu perang saudara. Negara itu dilanda perang berdarah hingga sekarang.

Aktivis dan seniman Sudan terpaksa lari ke luar negeri. Di Sudan, studio-studio musik sunyi dan terbengkalai.

Namun, musik Sudan terus berlanjut. Para seniman hip-hop terus berkarya di pengasingan hingga sekarang. Suara mereka menjangkau kampung halaman dan menjaga semangat revolusi tetap hidup.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia, Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Kris Mada