Rudal berkecepatan supersonik itu, Iran memiliki kemampuan untuk menenggelamkan kapal induk atau kapal perusak lawan, bahkan target di darat.
25 Feb 2026 11:40 WIB · Internasional
AFP/PLA EASTERN THEATER COMMAND/ESN
Di bawah ancaman serangan Amerika Serikat, untuk memperkuat pertahanan negara, Iran mulai menambah daftar belanja militer. Teheran hampir mencapai kesepakatan untuk memperoleh rudal CM-302, rudal supersonik anti-kapal buatan China.
Reuters edisi Selasa (24/2/2026) melaporkan, rencana pembelian rudal jelajah itu diungkapkan oleh enam orang sumber, termasuk tiga pejabat yang mendapat pengarahan dari Pemerintah Iran serta tiga pejabat keamanan. Kesepakatan Iran-China hampir selesai, tetapi belum ada tanggal pengiriman yang disepakati. Sebelumnya Iran mendatangkan radar strategis YLC-8B buatan China.
”Ini akan mengubah segalanya jika Iran memiliki kemampuan supersonik untuk menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut. Rudal-rudal ini sangat sulit untuk dicegat,” kata Danny Citrinowicz, peneliti senior di lnstitut untuk Studi Keamanan Nasional Israel dan mantan perwira intelijen Israel.
Reuters tidak dapat memastikan berapa banyak rudal yang terlibat dalam kesepakatan potensial tersebut. Tidak ada informasi pula soal berapa banyak yang Iran setujui untuk membayar atau apakah China akan melanjutkan kesepakatan tersebut sekarang mengingat meningkatnya ketegangan di kawasan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/03/df5bd32c-c714-48a6-b76b-5926f51e60c5_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/23/7a1c16bc-4289-449b-862d-2feeeb781879_jpg.jpg)
”Iran memiliki perjanjian militer dan keamanan dengan sekutunya, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanfaatkan perjanjian-perjanjian ini,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran.
Negosiasi Iran dengan China terkait sistem senjata rudal sudah berlangsung sejak dua tahun silam. Pembicaraan kedua negara kian intens setelah perang Iran-Israel yang didukung AS pecah selama 12 hari pada Juni 2025.
Perundingan Iran-China memasuki tahap akhir pada musim panas lalu. Para pejabat militer dan pemerintah senior Iran terbang ke China, termasuk Wakil Menteri Pertahanan Iran Massoud Oraei. Kunjungan Oraei belum pernah dilaporkan sebelumnya.
Dalam pernyataan yang keluar setelah pemberitaan keluar, Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak mengetahui pembicaraan tentang potensi penjualan rudal seperti laporan Reuters. Kementerian Pertahanan China tidak menanggapi permintaan komentar.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/23/301aebaa08a9dd230e431c2e17fd28e4-20260223_KID_AFP_Kapal_AS_mumed.jpg)
Pembicaraan Iran-China terjadi, sementara Presiden AS Donald Trump mengerahkan kekuatan angkatan laut besar di dekat pantai Iran yang masuk dalam jarak serang. Armada yang berkumpul termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, USS Gerald R Ford, berbagai kapal pendukung, serta lebih dari 5.000 personel dan 150 pesawat.
Kebutuhan Iran terhadap rudal anti-kapal semakin mendesak. Sebagai produsen, perusahaan milik China, yakni Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC), memasarkan CM-302 sebagai rudal antikapal terbaik di dunia.
Dengan jangkauan sekitar 290 kilometer, rudal itu mampu menenggelamkan kapal induk atau kapal perusak, bahkan target di darat. Rudal ini dirancang untuk menghindari pertahanan kapal dengan terbang rendah dan cepat.
Sistem rudal dapat dipasang di kapal, pesawat terbang, atau kendaraan darat bergerak. Menurut para ahli senjata, pengerahan rudal ini bakal meningkatkan kemampuan serangan Iran serta mengancam pasukan AL AS di kawasan.
”Pembelian CM-302 akan menjadi peningkatan signifikan dalam persenjataan Iran yang terkuras akibat perang tahun lalu,” kata Pieter Wezeman, peneliti senior di Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/19/01f4689b-2882-4e78-9fbd-0e3c6c7a4a67.jpg)
CASIC tidak menanggapi permintaan komentar. Iran juga sedang dalam diskusi untuk mengakuisisi sistem rudal permukaan-ke-udara (MANPADS) China, senjata anti-balistik, dan senjata anti-satelit.
Apabila kesepakatan tercapai, rudal-rudal itu akan menjadi salah satu perangkat keras militer tercanggih yang akan ditransfer China ke Iran. China adalah pemasok senjata utama bagi Iran pada 1980-an, tetapi transfer senjata skala besar berkurang pada akhir 1990-an di bawah tekanan internasional.
China pernah menentang penetapan embargo senjata Iran oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Embargo senjata pertama kali berlaku tahun 2006. Sanksi itu ditangguhkan saat Iran bersama AS dan negara-negara sekutu menjadi bagian dari kesepakatan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015. Namun, PBB mengaktifkan ulang embargo senjata (snapback) pada September 2025, walau ditentang China dan Rusia.
Selain dengan China, Iran pun terus memperkuat kerja sama pertahanan dengan Rusia. Baru-baru ini, Teheran secara diam-diam membeli 500 unit peluncur 9K333 Verba MANPADS yang portable beserta 2.500 unit rudal 9M336 senilai 500 juta euro (sekitar Rp 9,9 triliun) guna memperkokoh pertahanan udara dalam jarak pendek.
”Iran telah menjadi medan pertempuran antara AS di satu sisi dan Rusia serta China di sisi lain,” kata salah satu pejabat yang diberi pengarahan oleh Pemerintah Iran tentang negosiasi rudal.
Ketika ditanya terkait negosiasi sistem rudal Iran-China, Gedung Putih tidak secara langsung membahas. Negosiasi AS-Iran terkait menghentikan program nuklir Teheran masih menemui jalan buntu. Pada 19 Februari 2026, Trump memberi waktu Iran 10 hari untuk memutuskan.
”Presiden AS Donald Trump telah menegaskan bahwa kami akan membuat kesepakatan atau kami harus melakukan sesuatu yang sangat sulit seperti sebelumnya,” kata seorang pejabat Gedung Putih.
Pergerakan terbaru Iran mengisyaratkan bahwa AS semakin sulit menjalankan agendanya untuk membendung program nuklir Teheran yang diklaim untuk keperluan sipil dan damai. Pada saat yang bersamaan, terlihat bahwa China mulai menegaskan kehadiran dalam wilayah yang sudah lama didominasi oleh kekuatan militer AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/23/c32b654c-78bd-4c05-adfc-b9e8abc9c7bf_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/01/21/7ab14cc0-5487-419f-8a83-04d31fd4c194_jpg.jpg)
China, Iran, dan Rusia mengadakan latihan AL gabungan tahunan. Tahun lalu, Departemen Keuangan AS memberi sanksi kepada beberapa entitas China karena memasok prekursor kimia kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk program rudal balistiknya. Kecurigaan AS bahwa China memasok material terkait rudal ke Iran sudah muncul selama bertahun-tahun.
China menolak tuduhan AS. Beijing mengklaim tidak mengetahui kasus-kasus yang disebutkan dalam sanksi tersebut dan secara ketat memberlakukan kontrol ekspor terhadap produk-produk dwiguna.
Presiden China Xi Jinping pun pernah menyampaikan dukungan saat menjamu Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk parade militer di Beijing, September 2025. ”China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, integritas wilayah, dan martabat nasional,” tuturnya.
”China tidak ingin melihat rezim pro Barat di Iran. Itu akan menjadi ancaman bagi kepentingan mereka. Mereka berharap rezim ini akan tetap berkuasa,” ujar Citrinowicz.
(Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto