”Kompas” berbincang dengan ”otak” Piala Gothia, Dennis Andersson. Ia mengembangkan Piala Gothia sejak hari pertama. Setelah edisi 50 tahun, ia punya mimpi besar.
17 Jul 2025 08:32 WIB · Olahraga
Piala Gothia menyemai catatan bersejarah pada tahun ini dengan menggelar edisi 50 tahun. Sejak dimulai pada 1975, Piala Gothia sudah ditahbiskan sebagai turnamen sepak bola usia dini terbesar di dunia, baik secara jumlah peserta maupun dampak menghasilkan pesepak bola top kelas dunia.
Sebutan ”turnamen sepak bola remaja terbesar di dunia” disampaikan pula oleh Presiden UEFA Aleksander Ceferin dalam pidato pembukaan Piala Gothia 2025 yang disiarkan melalui video, Senin (14/7/2025), di Stadion Ullevi, Gothenburg, Swedia. Edisi 2025, Piala Gothia mencatatkan rekor tim peserta terbanyak berjumlah 1.939 tim. Sebanyak 4.905 laga digelar dalam enam hari penyelenggaraan.
Tak heran, negara-negara lain mengadopsi sistem Piala Gothia untuk menggelar turnamen sepak bola usia dini skala global. China sempat mendapat kehormatan mengimpor jenama ”Piala Gothia” pada 2016 hingga 2019. Namun, pandemi Covid-19 membuat Piala Gothia kembali ke asalnya alias hanya berlangsung di Gothenburg.
Setelah bangkit dari kevakuman akibat pandemi pada 2020 dan 2021, Piala Gothia mulai kembali memupuk ambisi untuk melebarkan penyelenggaraan di belahan dunia lain. Tiga edisi sejak Covid-19 sudah cukup bagi penyelenggara Piala Gothia kembali mendapatkan kestabilan untuk melebarkan pengaruh dalam pembinaan usia dini di dunia.
”Saya bisa katakan ambisi saya adalah menggelar Piala Gothia di setiap benua. Sebab, di Gothenburg atau Swedia, kami sudah tidak bisa lagi tumbuh. Kami memiliki lebih dari 600 tim dalam daftar tunggu pada edisi tahun ini dari 1.900 lebih tim yang berpartisipasi,” tutur Dennis Andersson, Sekretaris Umum dan salah satu pendiri Piala Gothia, dalam wawancara eksklusif kepada Kompas di Leaders Lounge Piala Gothia, Heden, Gothenburg, Rabu (16/7/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/17/18e47c8a2d16ecce5464a552bd7dbab3-IMG_7117.jpeg)
”Kami tentunya sangat ingin mengekspor ide dan nilai-nilai Piala Gothia ke benua lain. Itu tujuan utama kami. Saya harap hal itu tidak perlu menunggu 50 tahun. Mungkin kami bisa mencapainya dalam 10 tahun,” lanjut Andersson.
Dengan ambisi mengglobal, Andersson mengungkapkan, Piala Gothia tengah mempertimbangkan untuk mencari negara Asia lain di luar China. Lalu, bagaimana peluang Indonesia mengimpor Piala Gothia? Berikut petikan wawancara Kompas bersama Andersson selengkapnya.
Apakah Anda memiliki rencana kembali menggelar Piala Gothia di luar Swedia?
Saya pastikan kami sangat ingin melakukan itu. Kami ingin memiliki satu (Piala Gothia) di Asia, Amerika Selatan, Amerika Utara, dan Afrika. Setelah membangun ulang usai Covid-19, kami merasa sudah siap untuk mencari penyelenggaraan di tempat lain.
Mungkin kami akan memulai di Asia sebab ketertarikan terhadap sepak bola sangat besar. Mungkin kami akan memiliki sebuah negara lebih kecil dan lebih mudah melakukan sesuatu daripada China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/74765f01e3b23c5cc9f41f827d582f14-IMG_6793.jpeg)
Ada negara yang ingin Anda tuju sebagai ”rumah” baru Piala Gothia?
Asia bisa Singapura, Indonesia. Kedua negara itu memiliki pertumbuhan sepak bola yang amat besar dan juga merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi baik.
Jakarta masuk pertimbangan Anda?
Jika kami ingin menggelar di Jakarta, misalnya, saya akan bertanya berapa banyak lapangan yang layak di Jakarta? Anda akan berkata satu lapangan di sini, lainnya di tempat berbeda. Kondisi itu diperparah dengan kondisi lalu lintas sangat buruk, maka bisa saya pastikan lupakan Jakarta (menggelar Piala Gothia).
Bagaimana potensi dengan daerah lain?
Bali. Kami harus memiliki investor yang bersedia membangun lapangan di sana. Sangat menarik melakukan turnamen di negara seperti Indonesia, tetapi Anda harus lebih dulu memiliki fasilitas penunjang.
Fasilitas apa saja yang dibutuhkan untuk menggelar Piala Gothia?
Paling utama adalah lapangan. Satu lapangan cukup untuk sekitar 20 tim. Jadi, untuk diikuti 100 tim, Anda membutuhkan lima lapangan. Dengan 10 lapangan, maka Anda bisa memiliki 200 tim.
Mereka (lapangan) harus berdekatan untuk menghindari masalah perpindahan tempat, seperti kemacetan dan kendala lainnya.
Juga memiliki fasilitas istirahat untuk tim yang berdekatan. Saya menduga di Indonesia tidak memiliki fasilitas sekolah seperti kami (di Swedia). Jika ruangan kelas terbatas, ruang kafetaria bisa menjadi alternatif. Anda juga membutuhkan hotel yang mencukupi.
Untuk menyelenggarakan turnamen di Indonesia, arena pertandingan dan investasi harus sudah dilakukan. Ada pula ketersediaan fasilitas sekolah dan hotel. Sebab, itu tidak bisa dibangun oleh kami sendiri. Fasilitas itu harus sudah tersedia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/15/650adabd1ed784216b9fe52f9840776d-IMG_6533.jpeg)
Bagaimana status kepemilikan fasilitas yang digunakan peserta Piala Gothia di Gothenburg?
Komunitas lokal dan Pemerintah Kota Gothenburg yang memiliki seluruh fasilitas. Mereka memiliki lapangan, sekolah. Segalanya milik mereka.
Kami membayar biaya sewa yang tidak terlalu besar. Pasalnya, Piala Gothia sangat menguntungkan untuk kota. Dengan seluruh dampak, seperti pariwisata, jadi kami tidak dibebani biaya sewa besar.
Kami tidak memiliki lapangan. Semuanya dimiliki komunitas lokal di sekitar lapangan dan pemerintah daerah. Tidak ada lapangan yang dikelola swasta di Swedia.
Sejak awal sudah ada dukungan dari pemerintah daerah?
Ya, mereka sudah memberikan dukungan sejak awal (edisi 1975).
Dalam setiap tahun peserta dan jumlah pertandingan Piala Gothia terus bertambah, bagaimana ketersediaan fasilitas bisa terpenuhi?
Ketika kami tumbuh tahun demi tahun, lalu kami berbicara dengan pemerintah kota. Kami menjelaskan butuh lebih banyak lapangan. Biasanya mereka penuhi itu. Mereka membangun lapangan untuk kami.
Sekarang kami setidaknya menggelar pertandingan di 120 lapangan yang tidak hanya berada di Gothenburg. Semua lapangan dikelola komunitas masyarakat di sekitarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/14/b2afd64c7efddddd1724b1cabe8a81ed-IMG_6384.jpeg)
Bagaimana bisa masyarakat dan pemerintah memberikan dukungan penuh kepada Piala Gothia?
Untuk pemerintah dan seluruh masyarakat Swedia, olahraga hal yang penting. Itu mengapa fasilitas olahraga disediakan oleh komunitas.
Mereka membangun fasilitas olahraga bukan hanya untuk Piala Gothia, melainkan juga untuk keperluan olahraga setiap hari, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.
Olahraga harus sangat murah. Tidak hanya sepak bola atau bola tangan atau es hoki atau gimnastik. Semuanya harus terjangkau.
Olahraga ada di DNA Swedia. Ini adalah hal yang tidak bisa dibandingkan negara lain. Selain Swedia, Norwegia memiliki sistem yang sama.
Penulis:
Muhammad Ikhsan Mahar dari Gothenburg, SwediaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan