Berkat kekuatan sebagai ”raja bola mati”, Arsenal berhasil menaklukkan Chelsea dan jadi ”raja London”. Kedua tim sama-sama mengandalkan tendangan sudut untuk menang.
02 Mar 2026 04:51 WIB · Olahraga
AFP
LONDON, MINGGU — Pengaruh bola mati terasa semakin krusial di Liga Inggris. Laga level tinggi seperti derbi London saja, antara Arsenal dan Chelsea, harus ditentukan lewat adu kuat dari tendangan sudut. Arsenal sukses memperlihatkan siapa ”raja bola mati” dan ”raja London” sesungguhnya.
Tiga gol dari tendangan sudut mewarnai kemenangan Arsenal atas Chelsea, 2-1, di Stadion Emirates, London, Inggris, Senin (2/3/2026) dini hari WIB. Tidak ada gol selain dari bola mati, peluang emas pun sangat minim. Kedua tim berhasil menutupi kelebihan satu sama lain dari permainan terbuka.
Arsenal yang dijuluki raja bola mati sejak awal musim benar-benar memperlihatkan keunggulannya. Tim tuan rumah unggul lebih dulu lewat sundulan bek William Saliba pada menit ke-21. Jelang turun minum, Chelsea menyamakan kedudukan karena gol bunuh diri bek Piero Hincapie.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/8fd52360eead03027faa06b1d88b72df-wires_photo_2026_03_02T043556.076.jpg)
Saat mulai kehilangan kontrol selama 20 menit paruh kedua, Arsenal mampu berbalik unggul lagi dari tendangan sudut. Kali ini, giliran bek sayap Jurrien Timber yang memanfaatkan umpan terukur dari gelandang Declan Rice. Gol itu menjadi penentu dalam derbi bertajuk adu sakti dari bola mati tersebut.
”Inilah sepak bola sekarang pada 2026, sebanyak 90 persen gol kemungkinan dari bola mati. Mereka (Arsenal) adalah salah satu yang terhebat di dunia (dalam bola mati). Mereka begitu sulit dihentikan, bisa mencetak dua gol. Kami hanya mencetak satu gol dari beberapa peluang,” kata kapten Chelsea, Reece James.
Tak hanya di derbi, statistik keseluruhan juga memperlihatkan dominasi Arsenal dalam bola mati, khususnya tendangan sudut. Menurut Opta, mereka sudah mencetak 16 gol dari tendangan sudut di liga. Jumlah itu menyamai rekor terbanyak dalam sejarah liga, saat kompetisi masih tersisa sembilan pekan.
Sembilan gol di antaranya, termasuk laga tadi, berhasil menjadi penentu kemenangan ”Si Meriam” pada musim ini. Tim asuhan Manajer Mikel Arteta itu sangat tergantung pada bola mati. ”Bola mati sudah menjadi bagian penting dalam permainan, itu berlaku untuk kedua sisi,” ujar Timber.
Timber memaparkan realitas. Arsenal tidak sendirian bergantung pada bola mati, Chelsea pun begitu. Mereka begitu kesulitan menghalau skema tendangan tim tamu sepanjang permainan. Adapun ”Si Biru” menghasilkan jumlah tendangan sudut dua kali lipat lebih banyak dari Arsenal, 10 kali.
Sebelum gol pertama Chelsea, Arsenal sudah nyaris kemasukan dari tendangan sudut yang hanya berjarak beberapa detik. Bola mengenai siku tangan Rice, lalu melaju kencang ke arah gawang. Kiper David Raya bisa meredam ancaman itu, tetapi tidak dalam percobaan selanjutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/d2a0857ec23169622ecce60d9dc11563-wires_photo_2026_03_02T043628.984.jpg)
Arsenal dan Chelsea sama-sama menggunakan teknik inswinging atau umpan ke arah dalam saat tendangan sudut. Namun, area fokus mereka berbeda. Chelsea fokus mengirim umpan ke tiang dekat. Tim asuhan Pelatih Liam Rosenior menumpuk pemain di area tersebut untuk menciptakan situasi kemelut.
Hasilnya cukup efektif. Chelsea menghasilkan dua peluang dengan bantuan pemain Arsenal, Rice dan Hincapie. Di awal paruh kedua, mereka hampir unggul lebih dulu. Umpan James ke tiang dekat berhasil dipantulkan bek Trevoh Chalobah, lalu dieksekusi oleh penyerang Joao Pedro. Raya menepis peluang tepat di depan gawang tersebut.
”Mereka (Chelsea) adalah mimpi buruk yang harus dihadapi ketika kami berada dalam situasi bertahan. Di papan taktik, kami bisa menyelesaikan situasi (tendangan sudut) mereka, tetapi kenyataannya mereka sangat agresif, efektif, dan sulit dibendung,” tutur Arteta.
Arsenal beda lagi. Eksekutor tendangan sudut, Rice dan Bukayo Saka, fokus mengirim umpan ke tiang jauh. Ada dua kelompok pemain di kotak penalti lawan. Ada yang bertugas menghadang pergerakan pemain lawan agar tidak bisa menjangkau tiang jauh, termasuk kiper, dan ada yang menjadi penyundul bola.
Rosenior berkata, skema tendangan sudut Arsenal sangat kompleks untuk dibatasi. Chelsea juga semestinya bisa bertahan lebih baik. ”Gol pertama mereka berkelas. Untuk gol kedua, kami bisa lebih baik. Ada masalah dalam penjagaan, termasuk juga keterlibatan kiper,” kata sang pelatih.
Momentum sepanjang derbi benar-benar hanya berputar dari situasi bola mati. Itu termasuk kartu kuning kedua yang diterima pemain sayap Chelsea, Pedro Neto, hanya empat menit setelah gol kedua Arsenal. Kartu merah tersebut berawal dari skema tendangan sudut tim tamu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/bc85afa53e1b8c02b383c42dd9f64c99-wires_photo_2026_03_02T043611.419.jpg)
Chelsea sangat total ketika mengeksekusi tendangan sudut. Hanya dua pemain mereka, selain kiper, yang berada di luar kotak penalti. Sisanya terlibat berduel di depan gawang lawan. Alhasil, mereka rentan ketika diserang balik. Arsenal memanfaatkan celah itu lewat kecepatan pemain pengganti Gabriel Martinelli.
Arsenal cukup kesulitan menghadapi sepuluh pemain Chelsea pada 20 menit terakhir. Mereka lebih memilih bertahan dan kalah telak dalam penguasaan bola 35-65 persen. Bayangkan jika tim tamu bisa bermain dengan skuad utuh hingga menit akhir, Si Meriam pasti jauh lebih kerepotan. Isu disiplin itu ”membunuh” Chelsea.
Dari perspektif Arsenal, performa tadi berada jauh di bawah standar. Meskipun begitu, kemenangan yang buruk tetaplah kemenangan. Apalagi, tim pemuncak klasemen itu membutuhkan poin penuh untuk memperlebar jarak dari kejaran peringkat kedua, Manchester City. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti