Deretan Korban Tewas dalam Rangkaian Aksi, dari Jakarta hingga Makassar

Sejumlah nyawa pergi terlalu cepat saat sejumlah aksi terjadi di beberapa daerah. Kasusnya terentang dari Jakarta hingga Makassar.

01 Sep 2025 10:49 WIB · Politik & Hukum

Oleh Cornelius Helmy Herlambang

Sebanyak enam orang meninggal dalam rangkaian aksi yang terjadi sejak Selasa (25/8/2025) hingga Minggu (31/8/2025). Kasusnya tersebar di sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Makassar (Sulawesi Selatan), hingga Daerah Istimewa Yogyakarta.

Korbannya berasal dari berbagai kalangan. Penyebabnya dari dilindas mobil polisi, terjebak dalam gedung yang terbakar, hingga disangka intel.

Korban pertama adalah Affan Kurniawan (21). Dia pengemudi ojek online yang ditabrak dan dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob di Pejompongan, Jakarta, Kamis (28/8/2025). Saat itu, massa aksi tengah menolak tunjangan besar dan mengkritisi kinerja anggota DPR di sekitar Kompleks Parlemen, Senayan.

Sejumlah karangan bunga berisi ucapan duka cita berjejer di lorong menuju tempat tinggal Affan Kurniawan (21) di Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Affan, pengemudi ojek daring, tewas dilindas mobil Brimob pada Kamis (28/8/2025).

Terkait tewasnya Affan, tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis yang melindasnya ditahan selama 20 hari ke depan atau sampai 17 September 2025.

Presiden Prabowo Subianto terkejut dan kecewa terhadap tindakan berlebihan aparat dan meminta peristiwa tersebut diusut tuntas secara transparan.

”Petugas-petugas yang terlibat harus bertanggung jawab. Seandainya ditemukan mereka berbuat di luar kepatutan dan ketentuan yang berlaku, kami akan ambil tindakan sekeras-kerasnya sesuai dengan hukum yang berlaku,” ujar Prabowo.

Hanya berselang sehari kemudian, Jumat (29/8/2025), eskalasi aksi semakin memanas. Tidak hanya di Jakarta, tapi juga di sejumlah daerah di Indonesia. Massa mengencam tindakan brutal polisi hingga meminta Kepala Polri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo mundur.

Terjebak api

Di Makassar, dampaknya fatal. Gedung DPRD Makassar dibakar massa pada Jumat. Ironisnya, ada tiga orang terjebak dalam gedung ketika api membara. Satu orang nekat melompat dan dua orang lainnya tidak bisa keluar dari bangunan.  

Satu orang yang tewas karena melompat dari lantai empat adalah Syaiful (43), Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Ujung Tanah, Makassar.

Puluhan kendaraan roda empat hangus terbakar saar Gedung DPRD Kota Makassar dibakar massa dalam aksi di Makasaar, Sulawesi Selatan, Jumat (29/8/2025) malam. Tiga orang meninggal dalam peristiwa ini.

Adapun korban yang terjebak api adalah Sarinawati (26), staf anggota DPRD Kota Makassar, dan Muhammad Akbar Basri, fotografer DPRD Makassar.

Selain di Gedung DPRD, duka juga terjadi di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Rusdamdianyah, pengemudi ojek daring, tewas setelah dikeroyok massa tidak dikenal. Korban saat itu dituduh intel.

Mahasiswa  

Tidak berhenti sampai di situ, seiring eskalasi yang semakin tinggi, kabar duka muncul dari Yogyakarta. Seorang mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama (21), meninggal dengan kondisi luka-luka di tubuhnya, Minggu.

Rheza disebut ikut dalam unjuk rasa pada Sabtu (30/8/2025) malam hingga Minggu pagi. Namun, hingga Senin (1/9/2025), penyebab pasti kejadian ini belum diketahui pasti.

Suasana menjelang pemberangkatan jenazah Rheza Sendy Pratama (21), mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, menuju pemakaman di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (31/8/2025).
Para pelayat mengusung keranda jenazah Rheza Sendy Pratama (21), mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, menuju pemakaman di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (31/8/2025).
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Amikom Yogyakarta, Achmad Fauzi, memberikan keterangan kepada wartawan seusai pemakaman mahasiswa Amikom, Rheza Sendy Pratama, di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (31/8/2025).

Keluarga masih menolak otopsi. Badan Eksekutif Mahasiswa Amikom belum mendapatkan informasi pasti. Polisi juga belum mengungkapkan penyelidikan terkait hal ini.

Yoyon Surono, ayah Rheza, berharap aksi-aksi demonstrasi yang marak terjadi saat ini dapat berlangsung damai. Selain itu, pengamanan juga harus diperjelas.

”Jangan terus langsung apa-apa main gebuk. Kasihan itu nanti orang-orang yang enggak ngerti,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji