Derita Petenis dengan Cuaca Panas di China

Bertanding dalam turnamen di China pada Oktober ini bukan hal yang mudah bagi sebagian besar petenis. Selain lawan, mereka juga harus menaklukkan cuaca panas.

08 Okt 2025 20:47 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Jannik Sinner berjalan pincang karena kram pada kaki kanan, Novak Djokovic muntah, dan Emma Raducanu mengundurkan diri dari pertandingan karena pusing. Kejadian-kejadian itu mewarnai persaingan petenis profesional dalam turnamen WTA 1000/ATP Masters 1000 di China. Para petenis top dunia itu sengsara ketika harus bertanding di tengah suhu udara panas dan kelembaban tinggi.

Suhu udara sekitar 34 derajat celsius (yang terasa seperti 40-an derajat celsius saat di lapangan) dengan kelembaban 65 persen di sekitar Optics Valley International Tennis Center, Wuhan, China, membuat panitia turnamen WTA 1000 Wuhan menerapkan heat rule. Mereka menerapkan kebijakan tersebut pada 7-8 Oktober agar petenis bisa beristirahat 10 menit di antara set kedua dan ketiga.

Namun, Jessica Pegula dan Hailey Baptiste yang bermain di Lapangan Utama, Rabu (8/10/2025), memilih langsung memainkan set ketiga. Dalam babak kedua yang dimenangi Pegula dengan skor 6-4, 4-6, 7-6 (6) pada match point ketujuh, mereka bertahan dalam pertandingan selama 2 jam 33 menit.

”Saat saya mendapatkan match point, dia bermain baik. Pertandingan tadi memang brutal. Saya bisa saja kolaps, tetapi akhirnya bisa bertahan. Saya bangga bisa bertahan,” kata Pegula yang akan melawan Ekaterina Alexandrova pada babak ketiga.

Pegula dan Baptiste bisa bertahan meski kondisi cuaca bisa membahayakan kondisi fisik mereka. Selain suhu 34 derajat celsius, kelembaban 65 persen menambah tantangan bagi atlet. Persentase itu berada di atas standar kenyamanan bagi sebagian besar manusia, yaitu 30-50 persen. Skala di atas 50 persen membuat manusia sulit mendinginkan suhu tubuh melalui keringat.

Petenis Amerika Serikat, Jessica Pegula, menyeka keringat di wajahnya setelah dikalahkan Linda Noskova (Ceko) pada semifinal China Terbuka 2025 di Beijing, Sabtu (4/2025).

Maka, Pegula dan Baptiste pun bisa dikatakan beruntung bisa melalui tantangan cuaca tersebut. Sehari sebelumnya, pada turnamen yang sama, Raducanu tak bisa menyelesaikan pertandingan babak pertama saat melawan Li Ann. Raducanu mundur pada skor 1-6, 1-4, karena pusing.

Selain Raducanu, Dayana Yastremska dan Jelena Ostapenko tak bisa menyelesaikan babak pertama karena tak bisa bertahan dengan cuaca panas dan lembab.

Petenis putra yang tampil di Shanghai Masters menghadapi kesengsaraan yang sama dengan suhu melebihi 30 derajat celsius dan kelembaban mendekati 80 persen. Hal lain yang lebih menyengsarakan petenis di Shanghai adalah karena ATP, sebagai asosiasi tenis profesional kategori putra, tidak mempunyai heat rule sehingga tidak bisa melindungi petenis, seperti yang dikritik Holger Rune.

Atap yang ada di lapangan utama bahkan tak ditutup karena peraturan hanya memperbolehkan ditutup saat hujan. ”Apakah Anda ingin petenis mati di lapangan?” kata Rune yang akan bermain pada perempat final melawan petenis kualifikasi Valentin Vacherot, Kamis.

Sinner mundur

Salah satu korban dari kebrutalan dari kondisi ini adalah Jannik Sinner. Petenis Italia ini melepas gelar juara bertahannya dengan cara mundur saat menjalani babak ketiga melawan Tallon Griekspoor, 5 Oktober.

Udara panas, yang bisa membuat seseorang dehidrasi, menaklukkan tubuh Sinner. Kram kaki kanan dialami sejak menjelang akhir set kedua hingga dia berjalan pincang.

Petenis Italia, Jannik Sinner (kanan),mendapatkan perawatan medis saat melawan Tallon Griekspoor (Belanda) pada Shanghai Masters 2025 di Shanghai, China, Senin (6/10/2025).

Sinner mencoba bertahan meski harus menjadikan raketnya sebagai penopang saat berjalan. Namun, tubuh petenis dengan empat gelar juara Grand Slam itu mengalahkan semangatnya. Dia mundur setelah bertanding selama 2 jam 36 menit pada skor 7-6 (3), 5-7, 2-3.

Bukan hanya Sinner yang harus menghadapi panas dan lembabnya cuaca di China. Cuaca itu juga membuat setiap petenis tak bisa tampil dengan kemampuan terbaik karena energi mereka terkuras lebih banyak. Empat pertandingan babak keempat yang berlangsung Selasa berjalan dengan durasi antara 2 jam 22 menit hingga 2 jam 48 menit, masing-masing dalam tiga set.

Djokovic, salah satu petenis yang bermain pada hari itu, berjalan tertatih dan muntah di lapangan saat bertahan selama 2 jam 41 menit untuk mengalahkan Jaime Munar. Petenis berusia 38 tahun itu kolaps, didatangi tim medis, lalu bangkit kembali dan memenangi pertandingan. Djokovic menyebut, kondisi di Shanghai pada tahun ini sangat menantang untuk fisik setiap petenis.

Kondisi di Shanghai, pada Rabu, sedikit lebih baik dengan suhu 29 derajat celsius, tetapi diperkirakan akan naik lagi pada akhir pekan. Petenis Perancis, Arthur Rinderknech, mengatakan, bukan hanya petenis yang harus bertahan dari cuaca panas.

”Kondisinya menyulitkan juga untuk ball boys, wasit, penonton,” kata Rinderknech yang mengalahkan Jiri Lehecka 6-3, 7-6 (5) pada babak keempat, Rabu. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati