Pemanjat Desak Made tak bermaksud bikin gaduh lewat curhatannya. Ia cuma ingin dukungan total agar bisa terus berprestasi, termasuk mempertahankan emas Asian Games.
06 Jul 2026 20:28 WIB · Olahraga
World Climbing/Slobodan Miskovic
Pemanjat Desak Made Rita Kusuma Dewi memborong satu set medali—emas, perak, dan perunggu—di seri Piala Dunia 2026 di tengah ”kegaduhan” soal curahan hatinya. Menurut Desak, keluhannya bukan bermaksud menihilkan dukungan pemerintah selama ini. Atlet yang tengah menatap Asian Games 2026 itu hanya butuh dukungan penuh untuk terus mengibarkan ”Merah Putih” di kancah internasional.
Selama ini, Desak cenderung tidak banyak bicara ruang publik. Pemanjat yang kini peringkat satu dunia seri Piala Dunia 2026 tersebut jarang berkomentar di luar target dan pencapaian. Jika belum kenal dekat, ia memang tampak pendiam. Cerita yang keluar lebih sering tentang keinginan untuk fokus pada kemampuan dan mimpinya.
Namun, Sabtu (4/7/2026), setelah meraih medali emas di seri Piala Dunia 2026 Krakow, Polandia—kedua sepanjang kariernya—Desak tiba-tiba menyuarakan keresahannya. ”Sebelum ke sini, saya punya masalah, yaitu pemerintah tidak mendukung kami untuk berangkat. Sekarang, (dengan medali ini), saya berharap pemerintah selalu mendukung kami untuk kompetisi selanjutnya,” ujarnya kepada World Climbing (Federasi Panjat Tebing Internasional) yang disiarkan di Youtube.
Ucapan Desak diamplifikasi di media sosial. Rekan sesama pemanjat turut membagikan cuplikan video pernyataan pemanjat asal Buleleng, Bali, tersebut. Tak sedikit juga warganet yang mendukungnya dan mempertanyakan komitmen pemerintah.
Begitu tahu pernyataannya ”ramai”, konsentrasi Desak terbelah. Padahal, peraih emas di Kejuaraan Asia 2026 ini masih harus melanjutkan lomba di nomor estafet campuran dan putri. Seri Krakow menambahkan dua nomor itu untuk melengkapi nomor individu.
Desak mengatakan tidak bermaksud membuat gaduh. Tak ada juga maksud darinya menihilkan dukungan pemerintah melalui Kemenpora selama ini. Ia hanya ingin terus membanggakan Indonesia dengan naik podium tertinggi dan berharap keinginan itu terus mendapatkan dukungan.
Ke Krakow, kata Desak, Kemenpora memberi dukungan tiket perjalanan. Meski begitu, Desak dan pemanjat Indonesia lainnya juga tetap merogoh kocek pribadi.
Mereka patungan untuk memenuhi kebutuhan lainnya, seperti penginapan, makan, minum, dan transportasi ke venue. Keterbatasan dana juga membuat atlet hanya didampingi satu pelatih, tanpa ada ofisial atau tim medis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/07/06/cf8c67aa-db4d-4993-abdc-678f75830f89_jpg.jpg)
Curhatan Desak keluar hanya berselang sehari dari pengumuman bahwa rekan sesama atletnya di Tanah Air dipulangkan dari pemusatan latihan nasional dengan alasan efisiensi. Pemanjat speed, lead, dan boulder yang tidak berangkat ke Krakow diminta meninggalkan pelatnas di Hotel Santika Premier Kota Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat, Minggu (5/7/2026).
Sejak dua bulan terakhir, kabar efisiensi anggaran terus terdengar di pelatnas panjat. Kabar itu membuat atlet berada dalam bayang-bayang ketidakpastian. Apalagi, dampaknya sudah mulai terasa dalam persiapan atlet menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dan Olimpiade Los Angeles 2028 dengan jarangnya skuad penuh dikirim uji coba.
Dalam rapat bersama Komisi X DPR, Juni lalu, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengatakan, anggaran pelatnas untuk Asian Games 2026 menurun 79 persen dari Asian Games 2022. Untuk Aichi-Nagoya 2026, anggaran pelatnas Rp 81 miliar untuk 33 cabang olahraga dan 361 atlet.
Penurunan itu tak lepas dari pemangkasan dari Kementerian Keuangan dan pagu Kemenpora yang rendah. Dari total anggaran Kemenpora sebesar Rp 1,15 triliun, terdapat pemangkasan hingga mencapai Rp 270 miliar.
Pada pertengahan Juni, setelah pertemuan di Hambalang, Bogor, Erick mengklaim telah mendapatkan dukungan dari Presiden Prabowo untuk menggelar pelatnas bersistem multiyears. Artinya, penganggaran pelatnas tidak dilakukan per tahun atau per ajang seperti yang sudah berjalan selama ini. Walakin, kepastian soal dimulainya skema tersebut atau pencairan dana ke pelatnas masih abu-abu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/03/3f459586fa58c0509f18609fd5c5fbbe-Screenshot_2026_06_03_at_10.38.28.png)
Sementara Sekretaris Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia sekaligus Manajer Tim, Pristiawan Buntoro, mengatakan, kondisi efisiensi tersebut memang diketahui oleh atlet. Federasi memutuskan membicarakan hal tersebut demi transparansi.
Di sisi lain, Pristiawan menekankan, federasi juga mengupayakan cara-cara lain agar pelatnas tetap berjalan dan partisipasi kompetisi tidak terganggu. Sejak seri Piala Dunia Madrid, Mei, FPTI sudah mencari solusi pendanaan lain berupa sponsor.
Namun, upaya itu baru bisa mencukupi kebutuhan hingga ke seri Chamonix, 10-12 Juli, dan atlet di Tanah Air bertahan hingga awal Juli. Perkembangan terbaru, kata Pristiawan, Kemenpora mengabarkan akan memberikan bantuan untuk persiapan panjat tebing ke Asian Games, Selasa (7/7/2026).
”Kami juga paham tentu kondisinya tidak mudah. Jadi, memang perlu diupayakan bersama-sama. Dengan kondisi ini, kami juga menghargai upaya Kemenpora memberikan bantuan untuk memastikan persiapan ke Asian Games optimal,” ujar Pristiawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/07/06/9da8f11a-a167-42ed-8c3c-a998d195533e.jpg)
Setelah menyuarakan keresahannya, Desak meraih perak dari nomor estafet campuran bersama Antasyafi Robby Al Hilmi dan perunggu dari nomor estafet putri bersama Rajiah Sallsabillah. Sementara Raharjati Nursamsa menyumbang perunggu dari nomor individu. Di Krakow, Indonesia juga diperkuat Veddriq Leonardo, Aditya Tri Syahria, dan Kadek Adi Asih.
Desak tak bermaksud mengkritik pihak tertentu dalam curahan hatinya. Sebagai pemanjat yang berkali-kali jadi ”tulang punggung” Indonesia dengan memberi satu-satunya medali atau satu-satunya emas, ia hanya ingin mendapatkan dukungan.
Apalagi, kompetisi-kompetisi yang dijalani Desak tahun ini muaranya adalah Asian Games, September mendatang. Desak adalah juara bertahan. Ia mempersembahkan medali emas di Asian Games Hangzhou 2022, sekaligus mengukir rekor Asia.
Dengan target ”hanya” empat emas yang ditetapkan Kemenpora untuk kontingen Indonesia di Asian Games, besar kemungkinan panjat tebing akan jadi salah satu cabor tumpuan untuk mewujudkannya. Desak pun akan menjadi salah satu andalannya….
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus Harjono