Tanpa dukungan penuh pemerintah, Desak Made Rita meraih medali emas seri Piala Dunia Panjat Tebing 2026 Krakow, Polandia. Pencapaian istimewa karena format baru.
04 Jul 2026 20:20 WIB · Olahraga
WORLD CLIMBING
KRAKOW, SABTU — Desak Made Rita Kusuma Dewi akhirnya meraih emas perdana di seri Piala Dunia Panjat Tebing 2026 Krakow, Polandia. Pencapaian ini terasa lebih istimewa karena diraih pada format baru Piala Dunia berupa perlombaan empat jalur yang lebih menantang serta diraih ketika keberangkatannya tak mendapatkan dukungan penuh pemerintah.
Desak terkejut melihat penghitung waktu, lalu tersenyum dan bertepuk tangan ketika menyadari dialah pemanjat tercepat pada final di Krakow, Sabtu (4/7/2026). Desak finis dalam waktu 6,54 detik, tercepat di antara empat finalis.
Aleksandra Miroslaw, pemanjat tuan rumah sekaligus peraih emas Olimpiade Paris 2024 yang berniat pensiun di Krakow, melakukan false start. Natalia Kalucka, pemanjat Polandia lainnya, finis dalam waktu 6,62 detik. Sementara Emma Hunt, pencetak rekor dunia baru dari AS dengan 5,99 detik, finis dalam waktu 11,37 detik.
”Saya sangat bahagia. Ini kali kedua saya meraih medali emas Piala Dunia. Saya sejujurnya tidak menyangka bisa meraihnya. Apalagi, saya melihat kompetitor begitu cepat,” ujar Desak dalam wawancara selepas perlombaan.
Saat dihubungi, Desak mengaku sebenarnya menjalani lomba tanpa beban. Namun, justru karena itulah, ia bisa melaju jauh dan menjadi pemenang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/04/fed72e8b67d19af29dfa13cc8c5b60dc-World_Climbing_FSC140383.jpg)
Desak boleh saja mengoleksi medali emas dari perlombaan panjat tebing dunia. Pemanjat asal Buleleng, Bali, ini, misalnya, pernah meraih emas di Kejuaraan Dunia 2023 yang juga jadi tiketnya ke Olimpiade Paris 2024.
Namun, dari Piala Dunia, emas itu baru saja datang di seri Piala Dunia 2025 Krakow, Polandia. Artinya, butuh empat tahun bagi Desak untuk menaiki podium tertinggi ajang tersebut.
Di Krakow, Desak kembali meraih medali emas. Ia sampai sulit mengungkapkan bagaimana pendapatnya soal kota tertua dan terbesar di Polandia tersebut. Ia hanya bisa mengucapkan terima kasih.
Selain karena diraih di Krakow lagi, pencapaian Desak istimewa karena diukir pada format baru seri Piala Dunia. Format ini membuat perlombaan speed dibuat dengan empat jalur di dinding. Artinya, dalam sekali pemanjatan, akan ada empat peserta sekaligus beradu kecepatan di dinding panjat.
Sebelum ke sini, saya punya masalah, yaitu pemerintah tidak mendukung kami untuk berangkat. Sekarang, (dengan medali ini), saya berharap pemerintah selalu mendukung kami untuk kompetisi selanjutnya.
Dinding panjat yang digunakan tetap memiliki ketinggian 15 meter berbentuk rata dengan kemiringan sekitar 5 derajat. Setiap jalur terdiri dari 20 poin atau pegangan besar dan 11 pegangan kecil dengan letak permanen.
Pada format sebelumnya, dinding panjat ini hanya dibuat dua jalur untuk dua peserta. Kedua pemanjat akan berlomba menjadi atlet yang tercepat menyentuh tombol finis pada ujung dinding.
Format empat jalur ini pertama kali diterapkan di IFSC Madrid 4 Speed, satu dari dua ajang internasional panjat tebing terakhir pada 2024. Format serupa dipakai di World Games 2025. Sementara di Piala Dunia, format ini belum pernah diterapkan sebelumnya.
Dengan format baru yang penerapannya akan bergantung pada tuan rumah Piala Dunia, jalur perlombaan kian ”meriah” dan memantik persaingan sengit. Dalam satu sesi pemanjatan, setiap atlet harus bersaing dengan tiga pemanjat lainnya.
Jika jumlah peserta melebihi 32 atlet, pemanjat yang menempati posisi 32 besar berhak melaju ke putaran final. Pada putaran final, pemanjat dibagi rata dalam delapan grup untuk diambil dua pemanjat terbaik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/18/d7062e625784873b1b1bbb558a06c2cc-Screenshot_2024_10_18_at_13.46.52.png)
Desak melaju ke perempat final sebagai pemanjat terbaik bersama atlet Indonesia lainnya, Rajiah Sallsabillah. Adapun Kadek Adi Asih di grup lain juga berhasil melaju ke babak selanjutnya.
Namun, hanya Desak yang bisa melaju sampai babak final. Rajiah terhenti seusai finis di urutan ketiga setelah Desak dan Aleksandra Kalucka (Polandia). Sementara itu, Asih berada di peringkat keempat di grup lain.
Dalam seri yang berlangsung pada 3-5 Juli ini, Indonesia mengirim empat atlet putra dan tiga atlet putra. Selain berlomba di nomor individu, para atlet juga akan bersaing dalam nomor estafet putra, putri, dan campuran.
Prestasi di Krakow, yang dilengkapi perunggu Raharjati Nursamsa di sektor putra, juga jadi cara Desak untuk mengungkapkan keresahannya. ”Sebelum ke sini, saya punya masalah, yaitu pemerintah tidak mendukung kami untuk berangkat. Sekarang, (dengan medali ini), saya berharap pemerintah selalu mendukung kami untuk kompetisi selanjutnya,” ujarnya.
Desak mengatakan, pemerintah sebenarnya memberikan dukungan lewat tiket keberangkatan dan kepulangan. Sementara itu, perihal akomodasi dan kebutuhan lain selama di Krakow harus ditanggung sendiri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/08/a44e45457753c365afb47cfc08c975e1-DSC08514.JPG)
Seperti diketahui, sejak dua bulan lalu, sejumlah cabang olahraga mengeluhkan dampak efisiensi anggaran pada program pemusatan latihan nasional. Beberapa cabang memulangkan atletnya. Ada pula yang membatalkan uji coba.
Panjat tebing, cabang penghasil emas di Olimpiade Paris 2024, juga terdampak. Begitu pula cabang olahraga penghasil emas lainnya, angkat besi, yang tidak berangkat ke ajang mana pun untuk uji coba sebelum Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang tinggal dua bulan lagi.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir sebelumnya mengatakan, Presiden Prabowo Subianto menyetujui skema anggaran multiyears untuk pemusatan latihan nasional atlet. Namun, Erick belum merinci bagaimana penyaluran anggaran tersebut, terutama untuk ajang terdekat seperti Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti