Setelah melewati 10 kilometer jalan yang tertimbun longsor, Lusiana tiba di desa terdekat. Dia meminta bantuan evakuasi warga desanya yang diterjang banjir bandang.
28 Nov 2025 07:30 WIB · Lingkungan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
Lusiana Pardede (45) berlumur lumpur dan bermandi keringat ketika tiba di Desa Dolok Nauli, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025) siang. Dia berjalan kaki tiga jam dari desanya, Desa Pagaran Pisang, yang diterjang banjir bandang dan longsor. Setelah melewati 10 kilometer jalan yang tertimbun material longsor di puluhan lokasi, dia akhirnya tiba di desa terdekat.
”Kami sudah tiga hari terisolasi dan bertahan dari banjir bandang dan longsor yang datang berkali-kali. Ada tujuh warga meninggal yang sudah berhasil kami evakuasi. Beberapa warga lainnya masih hilang,” kata Lusiana.
Pagaran Pisang bersama desa tetangganya, yakni Desa Sibalanga, merupakan dua desa di satu kawasan yang sudah terisolasi selama tiga hari sejak banjir bandang dan longsor melanda Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga sejak Senin (24/11/2025).
Selain dua desa itu, masih banyak desa lain di Sumut yang terisolasi. Kawasan pesisir barat Sumut itu tak bisa diakses karena Jalan Tarutung-Sibolga yang menjadi jalur utama ke kawasan tersebut sudah tiga hari putus total setelah banjir bandang dan longsor melanda kawasan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/27/c6a1f236-f308-4e26-865c-d584e1481b6f_jpg.jpg)
Lusiana mengatakan, akses komunikasi dari desa mereka juga putus total selama tiga hari. Listrik padam. Sementara banjir bandang dan longsor terjadi beberapa kali. Banjir dan longsor paling besar terjadi pada Rabu (26/11/2025) dini hari.
Menurut Lusiana, puluhan rumah tertimbun longsor di Desa Pagaran Pisang dan Sibalanga. ”Ada seorang bapak dan anaknya meninggal tertimbun lumpur. Ibunya juga tertimbun lumpur, tetapi bisa kami selamatkan karena kepalanya tidak tertimbun,” kata Lusiana.
Lusiana bersyukur akhirnya bisa mengakses desa terdekat setelah tiga jam berjalan kaki melewati jalan yang tertimbun lumpur dan batang kayu. Dia beberapa kali terjebak di lumpur. Dia juga harus memanjat bukit agar bisa melewati material longsor.
Sepanjang jalan, dia waswas karena hujan juga turun. Di desa terdekat itu, enam ekskavator berjibaku membuka akses jalan. Selama tiga hari, petugas gabungan dari berbagai instansi sudah membuka sedikitnya 20 titik longsor di sepanjang 10 kilometer jalan tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/27/586fb6a2-6cee-43d9-b505-3273ebf50eff_jpg.jpg)
Namun, hingga Kamis sore, masih ada sekitar 50 titik longsor yang tersisa di sepanjang 20 kilometer jalan di perbatasan Tapanuli Utara dengan Tapanuli Selatan itu. Hujan juga masih turun hampir sepanjang hari.
Di desa-desa yang sudah bisa diakses, masyarakat masih harus menghadapi sulitnya bahan pokok dan akses transportasi umum.
Di Desa Dolok Nauli, misalnya, selama tiga hari masyarakat belum bisa bertani. Di desa itu, sedikitnya 55 rumah rusak berat diterjang banjir bandang.
Pantauan Kompas, rumah-rumah yang rusak berat tidak bisa ditempati karena lumpur masuk ke rumah hingga setinggi 1 meter. Beberapa rumah roboh terbawa arus sungai.
Manat Hutagalung (50), warga Desa Dolok Nauli, pergi ke ladangnya yang juga dihantam banjir bandang. Dia memanen beberapa ubi untuk pangan keluarganya beberapa hari ke depan. Mereka kehabisan beras dan belum bisa belanja ke pusat kabupaten. Warga desa itu mendapat bantuan, tetapi tidak mencukupi untuk semua warga desa yang terdampak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/27/ee482a31-18ce-4fb4-9d0a-f977f2d1ff26_jpg.jpg)
”Syukurlah kami masih punya ubi yang bisa dipanen. Ubi ini masih cukup untuk makanan kami beberapa hari ke depan,” kata Manat.
Manat bersama istri, anak, dan cucunya tidur di posko pengungsian di gereja. Mereka tidur bersama ratusan warga lain di gereja tersebut.
Kepala Desa Dolok Nauli Jonas Aritonang mengatakan, banjir bandang dan longsor susulan masih terus terjadi di daerah tersebut. Ada 55 rumah warga yang rusak berat di desa itu. Warga yang kehilangan rumah atau yang tinggal di daerah rawan longsor dan banjir bandang memilih tidur di posko pengungsian.
Warga berharap pemerintah bisa melakukan tindakan tanggap darurat dengan membuka akses jalan ke daerah-daerah yang terdampak bencana.
Tiga jalan nasional menuju Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga sudah tiga hari putus total. Selain tiga jalur itu, tidak ada jalan lain yang bisa diakses kendaraan.
Satu-satunya akses ke kawasan itu adalah lewat jalur udara. Namun, cuaca buruk membuat kawasan itu juga belum bisa diakses dari jalur udara. Gubernur Sumut Bobby Nasution juga membatalkan penerbangan dengan helikopter ke Tapanuli Tengah pada Kamis (27/11/2025) pukul 11.00 WIB.
”Rencananya Kamis pagi dilakukan pemetaan terlebih dahulu. Tetapi, karena cuaca belum bisa mendukung, kami belum bisa masuk ke daerah Tapanuli Tengah dan Sibolga. Cuaca masih terus hujan,” kata Bobby di Medan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/26/882d401fe8c8d4efe209c2764a5b8124-20251126_H01_ADI_Banjir_mumed.jpg)
Bobby menyebut, pemerintah berfokus untuk membuka akses ke daerah terdampak bencana di kawasan Tapanuli, baik dari jalur darat maupun jalur udara. Pembukaan akses udara dibantu TNI Angkatan Udara.
Menurut Bobby, masih banyak warga yang membutuhkan evakuasi, bantuan logistik, pangan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya. Pemerintah berupaya membuka akses agar dapat mengirim bantuan dalam waktu dekat. ”Masih banyak warga yang belum dievakuasi dan kebutuhan logistik juga masih menipis,” katanya.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar Ferry Walintukan mengatakan, sebanyak 12 kabupaten dan kota di Sumut mengalami bencana banjir bandang dan longsor akibat hujan lebat yang terjadi sejak Minggu (23/11/2025).
Hingga Kamis (27/11/2025), sebanyak 43 orang dilaporkan meninggal dan 88 hilang akibat bencana alam di Sumut. ”Sebanyak 1.168 orang juga mengungsi di sejumlah daerah,” kata Ferry.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/27/c7628bbc-3eca-41eb-9b39-f83f8afb7570_jpg.jpg)
Dampak bencana diperkirakan jauh lebih besar dari yang dilaporkan mengingat banyak daerah yang masih terisolasi, tidak ada sinyal telepon seluler, dan jaringan listrik terputus.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Herianto mengatakan, penanggulangan bencana menghadapi kesulitan karena terputusnya komunikasi dan akses jalan. Sudah tiga hari komunikasi ke daerah tersebut lumpuh. Radio dua arah yang awalnya masih bisa digunakan juga terputus karena kehabisan baterai dan akses listrik putus.
Akibatnya, pendataan dampak bencana masih sulit dilakukan. Data korban bencana juga masih berbeda-beda. Masih banyak daerah yang belum bisa diakses. Menurut Herianto, dampak bencana paling parah berada di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Mukhamad KurniawanPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar