Determinasi China, Dua Sesi, dan Dinamika Global

Salah satu pelajaran penting dari Dua Sesi adalah bagaimana China mengelola tantangan internal dan eksternal melalui kebijakan yang berimbang dan terencana.

22 Mar 2025 04:00 WIB · Opini

Oleh Djauhari Oratmangun

China perlahan tetapi pasti telah menjelma menjadi salah satu kekuatan besar dunia. Setiap kebijakan yang diambil hampir pasti memiliki dampak signifikan terhadap geopolitik dan geoekonomi global.

Oleh karena itu, kita perlu memahami bagaimana China mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ekonominya dan mengembangkan kekuatannya di tengah kompleksitas internal serta tekanan eksternal yang semakin besar. 

Salah satu kunci keberhasilan China adalah mekanisme politik domestiknya, yang dikenal sebagai ”Dua Sesi” atau Liang Hui, yang berlangsung setiap tahun di awal Maret.

Sosialisme ala China

Dua Sesi merujuk pada pertemuan tahunan dua badan utama: Kongres Rakyat Nasional (NPC)—sama dengan DPR di sini—dan Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (CPPCC)—mirip MPR di sini.

Kedua badan ini berperan dalam merancang kebijakan strategis negara, mengevaluasi pencapaian ekonomi, serta merumuskan arah kebijakan yang akan ditempuh. Bagi dunia luar, Dua Sesi jadi barometer arah politik dan ekonomi China.

Sebagai seseorang yang telah beberapa kali menghadiri Dua Sesi, saya melihat langsung bagaimana dinamika politik dan ekonomi yang kompleks ditransformasikan menjadi suatu kebijakan yang komprehensif sekaligus cermin masa depan China. Setiap kebijakan yang dihasilkan dalam Dua Sesi tidak hanya sekadar formalitas, tetapi bagian dari strategi besar China.

Sistem politik China secara resmi berpegang pada konsep sosialisme dengan karakteristik China, di mana NPC, sebagai lembaga legislatif tertinggi, memiliki hampir 3.000 anggota yang menaungi berbagai provinsi, daerah otonom, kota besar, serta perwakilan etnis minoritas dan militer.

Sementara itu, CPPCC berperan sebagai badan penasihat yang mewadahi berbagai tokoh dari sektor sosial, budaya, ekonomi, serta akademisi.

Menariknya, NPC dan CPPCC tidak hanya diisi oleh pejabat dan teknokrat, tetapi juga diisi oleh figur publik ternama, seperti legenda basket Yao Ming, pendiri Alibaba Jack Ma, hingga aktor Jackie Chan.

Prioritas dan tantangan

Terdapat perhatian sekaligus pertanyaan besar dari para pemerhati global atas arah kebijakan ekonomi dalam Dua Sesi tahun ini. Setelah berhasil mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun lalu, tahun ini China kembali menetapkan target pertumbuhan 5 persen.

Sebuah target yang optimistis mengingat banyaknya pandangan yang menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi China akan melambat di tengah perlambatan ekonomi global pada saat ini.

Optimisme tersebut didukung oleh prioritas pemerintah untuk mengembangkan industri masa depan yang mengacu pada teknologi tinggi, seperti teknologi hijau, kecerdasan buatan (AI), teknologi kuantum, dan teknologi 6G.

China mengintegrasikan kapasitas teknologi dan kekuatan AI dengan berbagai sektor industri untuk membangun basis manufaktur yang lebih efisien. Pendekatan tersebut menjadikan produk berbasis teknologi tinggi China, seperti kendaraan listrik, elektronik, hingga turbin angin, semakin kompetitif.

Dengan langkah ini, China juga ingin mewujudkan kemandiriannya di bidang teknologi serta pembuktian diri sebagai pemenang dalam persaingan global di bidang inovasi dan teknologi. 

Merespons keraguan terhadap melemahnya belanja domestik, China juga mempersiapkan subsidi masyarakat, seperti subsidi tukar tambah, menstimulasi sektor swasta sebagai penggerak ekonomi dan sumber inovasi, mempermudah masuknya investasi asing, sekaligus memperluas akses di pasar global.

Target dan kebijakan ekonomi China ini diluncurkan di tengah dinamika geoekonomi yang semakin memanas. Dengan tekanan yang ada, China tentunya akan memanfaatkan kemitraan yang telah dibangun selama ini, termasuk dengan Indonesia dan Asia Tenggara.

Melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), upgrading kesepakatan perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China, rencana bergabung dalam The Digital Economy Partnership Agreement (DEPA) dan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), China semakin asertif dalam memperluas pengaruh ekonomi dan perdagangannya.

Menguatnya ”soft power” China

Meningkatnya perekonomian China juga diiringi dengan citra China yang semakin baik dari tahun ke tahun.

Menurut Global Soft Power Index 2025 yang dikeluarkan oleh Brand Finance, misalnya, China di tahun 2025 berada di peringkat kedua setelah AS, dari sebelumnya berada di peringkat kelima di tahun 2020.

Melihat perkembangan China lima tahun terakhir, terasa adanya upaya serius China memperluas pengaruhnya, tidak hanya di bidang ekonomi dan teknologi, tetapi juga jangkauan budaya dan medianya, termasuk media sosial dan industri kreatif, ke ranah global. 

Keberhasilan film animasi Ne Zha 2 menjadi salah satu contoh bagaimana China memadukan kisah sejarah dan teknologi untuk menjadi sesuatu yang relevan dengan generasi saat ini. Ne Zha 2 telah mencuri perhatian publik, tidak hanya di China, tetapi juga negara lain, seperti Jepang, Singapura, Malaysia, Australia, dan AS.

Film ini menjadi film non-Hollywood pertama yang menembus global top 6 box office.

Melalui Dua Sesi, saya melihat bahwa keberhasilan Ne Zha 2 tidak hadir dalam semalam. Capaian itu didukung oleh kebijakan China yang konsisten dan terstruktur untuk menyeimbangkan kekuatan ekonominya dengan ’jenama domestik’-nya ditopang oleh daya saing universitas, riset dan inovasi, pengembangan budaya tradisional dan kreatif.

Dua Sesi dan hubungan RI-China

Dua Sesi juga memberikan harapan terhadap hubungan bilateral Indonesia-China.

Sebagai mitra kerja sama ekonomi penting bagi Indonesia, pertumbuhan ekonomi dan industri China dan bagaimana kebijakan China dalam mengatasi dampak tekanan eksternal—termasuk perang tarif—akan berdampak langsung kepada Indonesia, baik perdagangan maupun investasi.

Di tengah tensi perang dagang saat ini, Indonesia sebagai mitra strategis China dan AS perlu jeli dalam bertindak dan mengambil peluang yang ada, memanfaatkan keunggulan seperti sumber daya yang melimpah, dan besarnya tenaga kerja produktif.

Iklim bisnis yang terus membaik juga diharapkan akan menjadikan Indonesia di posisi depan dalam menarik investasi di sektor-sektor strategis.

Dari sisi perdagangan, China masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia. Merujuk data Kepabeanan China (GACC), angka perdagangan bilateral tahun 2024 mencapai 147 miliar dollar AS. Jumlah ini merupakan peningkatan tajam dibandingkan dengan lima tahun lalu, di mana angka perdagangan baru sekitar 80 miliar dollar AS.

China juga masih menjadi salah satu sumber utama investasi di Indonesia, dengan realisasi investasi tahun lalu mencapai 8,1 miliar dollar AS, terutama di sektor infrastruktur dan hilirisasi sumber daya alam.

Salah satu yang menonjol tentunya proyek-proyek konkret yang bisa kita lihat bersama, seperti pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung.

Selain itu, kerja sama di bidang hilirisasi di beberapa kawasan industri, seperti di Morowali dan Weda Bay, juga terus berkembang, sejalan dengan visi Indonesia dalam membangun industri berbasis nilai tambah.

Menilik capaian perkembangan hubungan perdagangan dan investasi kedua negara dan perkembangan teknologi saat ini, kerja sama Indonesia-China masih memiliki banyak peluang.

Tak hanya itu, keberlanjutan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah ditangkap positif oleh China dan perlu segera ditindaklanjuti di dalam negeri. Termasuk untuk bidang lainnya, seperti keamanan pangan, transisi energi, digitalisasi, teknologi AI, dan kesehatan.

Tahun ini Indonesia dan China memperingati 75 tahun hubungan diplomatik. Sebuah capaian sekaligus momentum untuk menjadikan berbagai peluang menjadi kerja sama yang bermanfaat.

Di balik apa yang telah dicapai bersama dalam 75 tahun ini, juga terdapat keterikatan masyarakat Indonesia dan China yang telah terbangun berabad-abad lalu.

Melalui jalur sutra, interaksi budaya dan perdagangan telah terbangun. Hari ini kita melihat intensitas kontak antarpebisnis, pertukaran mahasiswa, dan wisatawan kedua negara yang semakin meningkat. Hubungan inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi kedua pemerintah dalam membangun kerja sama di masa depan.

Dua Sesi resmi ditutup pada 11 Maret 2025. Dua Sesi tidak hanya peristiwa politik rutin, tetapi cerminan dari strategi besar China serta penyesuaian kebijakan guna menghadapi kondisi global yang semakin menantang ke depan.

Salah satu pelajaran penting dari Dua Sesi adalah bagaimana sebuah negara besar seperti China mengelola tantangan internal dan eksternal melalui kebijakan yang berimbang dan terencana. Kritik terhadap sistem politik China tentu ada, tetapi tidak dapat disangkal bahwa mekanisme ini memungkinkan China untuk bergerak cepat dalam mengambil keputusan strategis.

Sebagai negara yang terhubung erat dengan China, Indonesia perlu terus memperkuat kerja sama sambil tetap menjaga keseimbangan dalam diplomasi regional dan global.

Djauhari Oratmangun Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk China, Merangkap Mongolia


Kerabat Kerja

Penulis:

Djauhari Oratmangun
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .