Segala persenjataan terbaru dipamerkan, mulai dari pesawat jet tempur generasi keenam, kapal amfibi, hingga helikopter serbu mutakhir. Bagaimana China melakukan itu?
28 Des 2024 11:22 WIB · Internasional
BEIJING, JUMAT — Menjelang tutup tahun, China memamerkan purwarupa persenjataan terbaru. China sengaja menunjukkan dua pesawat yang tampaknya baru dan canggih saat siang hari dan ini belum pernah dilakukan sebelumnya.
Dugaan ini muncul saat beredar secara daring video dan foto buram yang menunjukkan dua pesawat militer China berkarakter siluman, Jumat (27/12/2024). Kedua pesawat yang sedang terbang di atas wilayah Chengdu itu diduga pesawat paling canggih milik China.
Bentuk pesawat yang tidak berekor memperkuat dugaan pesawat ini punya kemampuan siluman dan daya jangkaunya jauh. Dari video dan foto yang beredar, kedua pesawat itu dibarengi pesawat tempur Chengdu J-20S dengan dua tempat duduk yang berfungsi sebagai pesawat pengejar.
Lokasi dan tanggal dari berbagai citra yang beredar tidak dapat diverifikasi. Kemungkinan besar berada di dekat lapangan terbang pabrik Chengdu Aircraft Cooperation karena J-20 ikut terlibat. Sejauh ini belum ada komentar resmi dari Kementerian Pertahanan China atau media pemerintah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/02/10/064528b8-7f38-4f23-a51c-bfa27af56980.jpg)
Para ahli pertahanan tidak meragukan kecanggihan pesawat itu. Namun, mereka belum bisa memastikan kecanggihannya. Sebab, belum ada informasi terperinci.
Hanya disebutkan kedua pesawat itu tidak punya ekor. Hal itu berarti pesawat tidak punya stabilisator vertikal untuk membantu menjaga kendali. Pesawat semacam itu biasanya dijaga kestabilannya oleh komputer yang menafsirkan masukan kendali pilot.
Seiring dengan modernisasi militer China, rancangan pesawat itu menunjukkan kemauan industri penerbangan China untuk bereksperimen dan berinovasi. Apa pun kelebihan atau kekurangannya, tampaknya ini rancangan yang orisinal.
Situs The War Zone menyebutkan, hal yang paling mencolok dari pesawat China itu adalah konfirgurasinya yang tanpa ekor. Pesawat ini memiliki sayap delta yang dimodifikasi dengan garis-garis chine yang memancar ke seluruh area hidung.
Sementara bagian tengah badan pesawat, setidaknya bagian bawahnya, mirip dengan J-20. Area hidung yang lebar menyediakan ruang untuk tempat duduk kru yang bersebelahan. Namun, belum dapat dipastikan apakah pesawat ini memiliki satu kursi atau dua kursi.
Kantor berita Reuters melaporkan, salah satu pesawat yang berukuran besar berbentuk seperti berlian dengan tiga saluran masuk udara untuk mesinnya. Dua di samping badan pesawat dan satu di atas. Ini konfirgurasi yang sangat tidak biasa. Sementara pesawat yang lebih kecil punya tata letak yang lebih konvensional tetapi tidak punya ekor.
Kedua pesawat itu tidak memiliki sudut 90 derajat yang merupakan ciri khas bentuk siluman. Desain itu dirancang agar tidak terdeteksi radar. Ada beberapa efisiensi aerodinamis yang diperoleh dengan desain seperti itu, terutama yang digunakan untuk operasi jarak jauh melalui pengurangan hambatan aerodinamis.
Pada saat yang sama, konfigurasi tanpa ekor bisa berdampak buruk pada kemampuan manuver, bahkan dengan sistem kendali penerbangan terkomputerisasi yang paling canggih sekali pun.
Belum diketahui ada mesin vektor dorong yang membantu membuat pesawat lebih lincah dan stabil. Knalpot mesin dipasang di atas bagian belakang pesawat. Ini tempat terbaik untuk menutupi tanda inframerah pesawat.
”Seiring dengan modernisasi militer China, rancangan pesawat itu menunjukkan kemauan industri penerbangan China untuk bereksperimen dan berinovasi. Apa pun kelebihan atau kekurangannya, tampaknya ini rancangan yang orisinal,” kata analis senior di Institut Kebijakan Strategis Australia, Euan Graham, kepada Reuters.
”Mereka pantas dapat pujian. Namun, jangan juga berpuas diri karena masih ada Amerika Serikat dan sekutunya yang selalu jadi yang terdepan,” kata Graham.
Kedua pesawat China dalam foto daring itu bukanlah desain pesawat modern tanpa ekor yang pertama. Sebelumnya sudah ada pesawat pengebom siluman Northrop Grumman B-2 dan B-21 yang sama-sama terbang dengan sayap. Ada juga beberapa pesawat tanpa awak, seperti Lockheed Martin RQ-170 dan CH-7 China yang juga tidak punya ekor.
Meski desainnya baru dibandingkan dengan armada China lainnya, sampai sejauh ini belum bisa dipastikan kemampuan siluman pesawat itu, seberapa lincah atau cepat mereka, atau jenis avionik apa yang mereka bawa. Detail-detail informasi ini yang dibutuhkan untuk menentukan apakah mereka benar-benar merancang pesawat jet ”generasi berikutnya”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/28/75fce1ef62d1240afc5d98ab4236a710-china_fighter.jpg)
Pakar pertahanan dan penerbangan di Institut Asia Griffith di Australia, Peter Layton, mencatat, secara umum sulit menerapkan label seperti generasi kelima untuk pesawat China. Jet generasi kelima sejauh ini tercatat ada F-22 dan F-35. Jet generasi kelima sering kali menyertakan fitur desain unik yang tidak pernah muncul lagi.
Jet J-20 dan J-35 China juga memiliki karakteristik siluman tetapi kemampuan mereka tidak diketahui publik dan hanya J-20 yang sudah beroperasi. Pesawat purwarupa China ini diduga menggabungkan teknologi pengamatan rendah. Jika benar, ini lompatan jauh dari J-20.
Pemerintah China sejak 2018 sudah mengumumkan rencananya untuk membangun jet tempur siluman dan pesawat nirawak serang baru. Ini kembali diumumkan pada awal November 2024. Bahkan, keduanya sudah dipamerkan di pameran teknologi pertahanan dan keamanan di China tahun 2022.
Jet J-35A baru digambarkan sebagai pesawat tempur siluman multiguna berukuran sedang dan terlihat mirip dengan desain F-35 AS. Pakar militer China di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, James Char, menilai China cukup percaya diri untuk memamerkan kekuatan militernya.
Jika sudah punya pesawat siluman, China akan menjadi satu-satunya negara yang memiliki dua jet tempur siluman setelah AS.
Pada September 2022, Mark D Kelly yang saat itu menjabat sebagai Kepala Komando Tempur Udara AS, mengatakan, China sedang mengerjakan ”sistem sistem” tempur udara yang sama dengan yang sedang dikejar Angkatan Udara AS di bawah inisiatif Next Generation Air Dominance (NGAD), termasuk jet tempur berawak generasi keenam.
Meski banyak yang belum diketahui, perkembangan pesawat tempur China ini dinilai mengkhawatirkan. China mengejar pesawat yang bisa tak terlacak, mampu terbang jauh dan berkeliaran untuk waktu yang lama jauh dari rumah serta tanpa dukungan tanker.
Pesawat itu akan berfungsi sebagai platform sensor pengganda kekuatan penting yang bisa beroperasi jauh di depan. Jika dipasangkan dengan pesawat nirawak dengan daya tahan yang sama-sama kuat bertahan dan mematikan, kekuatan China akan berlipat ganda. Dengan kata lain, ini akan menjadi ancaman serius bagi ”musuh-musuhnya”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/10/13/169114eb-8a06-481d-97d8-8e0976380f2f_jpeg.jpg)
Selain pesawat purwarupa siluman, kantor berita Xinhua, Jumat, juga melaporkan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat telah meluncurkan kapal serbu amfibi Tipe 076 pertamanya. Namanya Sichuan.
Kapal ini dirancang untuk memperkuat kemampuan tempur AL di perairan yang jauh. Kapal serbu amfibi terbesar China ini bobotnya 40.000 ton dan dilengkapi dengan teknologi canggih seperti ketapel elektromagnetik.
Teknologi ini akan memungkinkan Sichuan untuk meluncurkan pesawat yang lebih besar dan lebih berat. Ini berarti pesawat dapat membawa lebih banyak bahan bakar, lebih banyak bom, dan rudal.
Tipe 076 termasuk di antara kapal serbu amfibi terbesar di dunia. Hanya ada satu kapal perang lain yang juga menggunakan sistem ketapel elektromagnetik, yakni kapal induk terbaru AL AS, USS Gerald R Ford.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/28/dc508bc34f2b3fec24ad7603adbc02b0-China_Military_126376893.jpg)
Kapal induk terbaru China, Fujian, yang sedang dalam uji coba laut dan belum ditugaskan, juga punya sistem elektromagnetik. Kapal serbu amfibi AL AS memiliki F-35B, varian jet tempur siluman yang lepas landas pendek dan mendarat vertikal yang digunakan oleh AL AS, Korps Marinir, dan AU.
Sejauh yang diketahui, AL China tidak memiliki pesawat berawak yang setara dengan F-35B sehingga mereka mungkin akan menggunakan pesawat sayap tetap yang sama dengan Fujian.
Namun, laporan dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) pada awal tahun ini menyebutkan Tipe 076 dapat digunakan sebagai platform pesawat nirawak besar. Jika terbatas pada sistem nirawak, sayap udara Tipe 076 akan sangat andal.
Kapal Tipe 076 itu kemungkinan akan memiliki helikopter dan kapal pendarat amfibi yang mampu mengerahkan sekitar 1.000 marinir. Dengan ukuran kapal yang besar, kapal ini seharusnya dapat membawa lebih banyak barang jika dibandingkan dengan kapal serbu AS dan kapal induk helikopter kelas Izumo milik Jepang yang sedang dikonversi untuk membawa F-35B.
Analis militer dan mantan kapten AL AS, Carl Schuster, kepada CNN mengatakan, perkembangan cepat teknologi militer China ini menunjukkan sengitnya persaingan antara China dan AS.
”Ini menunjukkan meningkatnya kemampuan proyeksi kekuatan maritim China di saat komitmen dan kemampuan AL AS untuk misi ekspedisi, amfibi, dan bantuan kemanusiaan menurun,” kata Schuster yang juga pernah menjadi direktur operasi di Pusat Intelijen Gabungan Komando Pasifik AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/05/03/China-Aircraft-Carrier_89529640_1591720240-03052021_1620015916_jpg.jpg)
Kapal serbu amfibi pertama China, Tipe 075, diperkenalkan pada 2019. Global Times mengutip analis militer, Song Zhongping, yang menggambarkan Sichuan sebagai ”kapal induk ringan”. Kapal itu akan menjalani uji coba laut.
Selain Sichuan, China juga sedang mengembangkan kapal induk bertenaga nuklir yang memungkinkan kapal beroperasi di perairan yang jauh tanpa perlu pangkalan pengisian bahan bakar. Sebagai perbandingan, AS saat ini mengoperasikan 11 kapal induk bertenaga nuklir yang memungkinkannya untuk mempertahankan kelompok penyerang di seluruh dunia, termasuk di kawasan Asia-Pasifik. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan