Kronologi detik-detik terakhir pemerintahan Assad dan pelariannya ke Rusia memperlihatkan upaya diplomatik Moskwa dengan melibatkan Turki, Qatar, dan kelompok Hayat Tahrir al-Sham.
14 Des 2024 10:30 WIB · Internasional
Menyelamatkan diri sendiri. Itu yang dilakukan Presiden Suriah Bashar al-Assad saat kelompok oposisi bersenjata, Hayat Tahrir al-Sham atau HTS, menyerbu ibu kota Damaskus.
Tak seorang pun tahu tentang rencana Assad untuk melarikan diri dari Suriah saat kekuasaannya runtuh. Para ajudan, pejabat, bahkan saudara-saudaranya sendiri ditipu atau dibiarkan tidak tahu apa-apa.
Kronologi detik-detik terakhir pemerintahan Assad dan pelariannya ke Rusia ini diceritakan oleh 14 orang yang diwawancara kantor berita Reuters dan dilansir, Jumat (13/12/2024). Ke-14 orang itu mengetahui saat-saat terakhir Assad sembunyi-sembunyi untuk lari dari Suriah, Minggu (8/12/2024) dini hari.
Sebagian besar sumber, termasuk para asisten di lingkaran dalam Assad, diplomat regional, dan sumber dari aparat keamanan serta pejabat senior Iran meminta nama mereka dirahasiakan agar bisa bebas membicarakan masalah-masalah sensitif. Dalam laporannya, Reuters mengatakan tidak dapat menghubungi Assad di Moskwa untuk mengonfirmasi informasi dari para narasumbernya.
Seperti diberitakan media Rusia, TASS dan Ria Novosti, Assad dan keluarganya diberi suaka di Rusia. Mereka sudah berada di Moskwa saat pasukan oposisi bersenjata pimpinan Hayat Tahrir al-Sham menyerbu dan menguasai Damaskus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/5ce6376b891fc7b128327b7e01c49ad2-000_36Q88XX.jpg)
Beberapa jam sebelum melarikan diri ke Rusia, Sabtu (7/12/2024), Assad menggelar rapat dengan sekitar 30 pemimpin di Kementerian Pertahanan. Dalam pertemuan itu, tidak ada tanda-tanda Assad hendak kabur.
Bahkan, dalam pertemuan itu dia meyakinkan anak buahnya bahwa dukungan militer dari Rusia sedang dalam perjalanan. Untuk itu, dia memerintahkan pasukan darat untuk tetap bertahan di posisinya.
Dalam pertemuan dengan sekitar 30 pemimpin di Kementerian Pertahanan, beberapa jam sebelum melarikan diri ke Rusia, tidak ada tanda-tanda Assad hendak kabur.
Bukan hanya tentara yang tak tahu, para stafnya dari kalangan pejabat sipil juga tidak tahu apa-apa. Assad memberi tahu kepala kantor kepresidenannya bahwa dia akan pulang setelah selesai bekerja, hari Sabtu itu. Namun, menurut ajudannya, ternyata dia malah menuju bandara.
Assad juga menelepon penasihat medianya, Buthaina Shaaban, dan memintanya untuk datang ke rumahnya untuk menuliskan pidato. Namun, sesampai Shaaban di rumah Assad, tidak ada seorang pun di sana.
”Assad bahkan tidak melakukan perlawanan terakhir. Dia bahkan tidak mengerahkan pasukannya sendiri. Dia membiarkan para pendukungnya menghadapi nasib mereka sendiri,” kata Direktur Eksekutif Inisiatif Reformasi Arab Nadim Houri.
Jangankan ajudan atau tentara, adiknya sendiri saja tidak diberi tahu. Maher yang menjabat sebagai Komandan Divisi Lapis Baja ke-4 Angkatan Darat itu, menurut tiga asisten Assad, tidak tahu-menahu soal pelarian kakaknya. Padahal, Maher menerbangkan helikopter ke Irak, kemudian ke Rusia.
Sepupu Assad dari pihak ibu, Ehab dan Eyad Makhlouf, juga ditinggal begitu saja di Damaskus. Menurut ajudan di Suriah dan pejabat keamanan Lebanon, keduanya mencoba untuk melarikan diri dengan mobil ke Lebanon.
Namun, di tengah jalan keduanya disergap oleh sebuah kelompok bersenjata. Ehab ditembak mati, sementara Eyad terluka. Tidak ada konfirmasi resmi mengenai kabar kematian tersebut. Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi insiden tersebut secara independen.
Pesawat yang dinaiki Assad terbang di bawah radar. Transponder pesawatnya dimatikan. Pesawat itu menuju ke Pangkalan Udara Khmeimim milik Rusia di kota Latakia, lalu ke Moskwa.
Assad melarikan diri dari Damaskus dengan pesawat, Minggu. Menurut dua diplomat, pesawat itu terbang di bawah radar. Transponder pesawatnya dimatikan. Pesawat itu menuju ke pangkalan udara Khmeimim milik Rusia di kota pesisir Suriah, Latakia.
Dari Latakia, Assad ke Moskwa. Menurut tiga mantan ajudan terdekat dan seorang pejabat senior Suriah, istri Assad, Asma, dan ketiga anak mereka sudah menunggu di Moskwa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/13/438ea5a3-a84f-498c-8d17-02edf3afa4e1_jpg.jpg)
Dari video di rumah Assad yang direkam oleh anggota HTS dan warga yang diunggah ke media sosial terlihat bahwa Assad pergi dengan tergesa-gesa. Ada makanan yang sedang dimasak ditinggal di atas kompor. Banyak barang pribadi juga ditinggal, seperti album foto keluarga.
Ketika Assad rapat dengan para pemimpin militer, ternyata dia berbohong. Janji akan ada dukungan militer dari Rusia ternyata tidak benar. Realita itu yang tidak disampaikan Assad ke militer.
Rusia dan Iran memang dulu tahun 2015 pernah membantu Assad membalikkan keadaan perang saudara demi kepentingan Assad. Kedua negara itu dianggap sebagai sekutu setia Suriah.
Assad mengunjungi Moskwa pada 28 November, sehari setelah kelompok oposisi bersenjata menyerang Aleppo dan menyerbu sejumlah kota lainnya di Suriah. Namun, menurut tiga diplomat di Timur Tengah, permintaannya untuk memperoleh dukungan militer dari Rusia tidak digubris Kremlin karena Rusia tidak mau ikut campur.
Pemimpin oposisi utama Suriah di luar negeri, Hadi al-Bahra, mengatakan, Assad tidak menyampaikan kondisi yang sebenarnya. Sepulangnya dari Rusia, Assad malah berbohong bahwa Rusia akan membantu.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, kepada wartawan, Rabu (11/12/2024), mengatakan bahwa Rusia sudah banyak membantu menstabilkan Suriah di masa lalu. Sekarang prioritas bagi Rusia adalah konflik di Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/5e65ae7085b5373a4f88c9737c18a036-39ef1105a33148c2891e6431c8510a8e_0_a4c68a347d7f4953862abf9393fe421b.jpg)
Pada 2 Desember 2024, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi bertemu dengan Assad di Damaskus. Pada saat itu, HTS telah menguasai kota terbesar kedua di Suriah, Aleppo, dan bergerak ke wilayah selatan menyapu kota-kota strategis lainnya. Seorang diplomat senior Iran menceritakan, Assad tampak tertekan selama pertemuan itu.
Assad mengakui pasukannya terlalu lemah untuk melawan. Saat itu ia tidak pernah meminta agar Iran mengerahkan pasukan di Suriah karena dia tahu, andai permintaan itu pun disampaikan kepada Araqchi, Iran akan keberatan. Sebab, Teheran merasa Israel akan dapat menggunakan bantuan militer semacam itu sebagai alasan untuk menyasar pasukan Iran di Suriah atau bahkan serangan langsung ke Iran.
Kremlin dan Kementerian Luar Negeri Rusia menolak berkomentar untuk artikel yang diterbitkan Reuters. Adapun Kemenlu Iran tidak segera bersedia memberikan komentar.
Setelah tak punya pilihan lain dan semakin terdesak, Assad memutuskan melarikan diri dan mengakhiri pemerintahan dinasti keluarganya yang dimulai sejak 1971. Tiga orang terdekat Assad menceritakan bahwa awalnya Assad ingin mencari perlindungan di Uni Emirat Arab (UEA). Itu setelah HTS merebut Aleppo dan Homs, lalu bergerak menuju Damaskus.
Namun, Assad ditolak UEA. Abu Dhabi takut akan reaksi komunitas internasional karena menyembunyikan orang yang sedang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat dan Eropa.
Assad dijatuhi sanksi karena diduga menggunakan senjata kimia dalam tindakan keras terhadap oposisi. Assad membantah tuduhan itu dan menganggapnya sebagai rekayasa belaka.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/08/cbd2a827-56e1-40b3-808c-ccd2516196d1_jpg.jpg)
Pemerintah UEA tidak segera menanggapi permintaan komentar terkait hal ini. Menurut sumber diplomatik Rusia, meski tidak mau ikut campur secara militer, Rusia sebenarnya tidak siap meninggalkan Assad.
Menlu Rusia Sergey Lavrov, yang menghadiri forum Doha di Qatar pada hari Sabtu dan Minggu, mempelopori upaya diplomatik untuk mengamankan keselamatan Assad. Lavrov melibatkan Turki dan Qatar untuk memanfaatkan koneksi mereka dengan HTS guna memberikan jalan keluar yang aman bagi Assad ke Rusia.
Salah satu sumber keamanan Barat mengatakan Lavrov melakukan ”apa pun yang bisa dilakukannya” untuk memberikan jalan keluar yang aman bagi Assad. Menurut tiga sumber, Qatar dan Turki sudah membuat kesepakatan dengan HTS untuk memfasilitasi jalan keluar Assad.
Menlu Rusia Sergey Lavrov melibatkan Turki dan Qatar untuk memanfaatkan koneksi mereka dengan HTS guna memberikan jalan keluar yang aman bagi Assad ke Rusia.
Qatar dan Turki secara resmi mengklaim bahwa mereka tidak berhubungan dengan HTS yang ditetapkan oleh AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai organisasi teroris itu.
Rusia juga ternyata sudah berkoordinasi dengan negara-negara tetangga untuk memastikan pesawat Rusia yang meninggalkan wilayah udara Suriah yang dinaiki Assad tidak akan dicegat atau menjadi sasaran.
Kemenlu Qatar tidak segera menanggapi pertanyaan tentang laporan. Reuters juga mengatakan tidak dapat menghubungi HTS untuk memberikan komentar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/09/7e06a9a6-ce68-4c0d-8e8d-2ebbc123a167_png.png)
Seorang pejabat Pemerintah Turki mengaku tidak ada permintaan Rusia untuk menggunakan wilayah udara Turki bagi penerbangan Assad. Perdana Menteri Suriah Mohammed Jalali mengaku berkomunikasi terakhir dengan Assad melalui telepon pada Sabtu pukul 22.30.
Jalali memberi tahu situasi terkini dan pergerakan HTS dari Homs menuju Latakia. ”Situasinya sudah kacau. Ada kepanikan dan kengerian di jalan-jalan,” kata Jalali kepada stasiun TV Al Arabiya milik Arab Saudi.
Assad lalu merespons dengan jawaban: ”Besok kita lihat saja.”
Ternyata itu kalimat terakhir yang didengar Jalali. ”Hal terakhir yang dia katakan kepada saya hanya itu: Besok, besok,” tutur Jalali.
Keesokan harinya, Minggu pagi, Jalali mencoba menelepon Assad lagi, tetapi tidak ada jawaban. (REUTERS)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra