Dari kebutuhan 17 miliar dolar AS, sejauh ini sumbangan yang telah terkumpul kurang dari 1 miliar dolar AS. Pascagencatan senjata kondisi warga Gaza tetap buruk.
11 Apr 2026 15:11 WIB · Internasional
AP PHITO/ABDEL KAREEM HANA
KAIRO, SABTU — Dewan Perdamaian membantah dugaan bahwa lembaga tersebut menghadapi kendala pendanaan. ”Dewan Perdamaian adalah organisasi yang ramping dan berfokus pada pelaksanaan yang meminta modal sesuai kebutuhan. Tidak ada kendala pendanaan. Hingga saat ini, semua permintaan pendanaan telah dipenuhi segera dan sepenuhnya,” kata lembaga itu, Jumat kemarin.
Merujuk laporan Kantor Berita Reuters, Sabtu (11/4/2026), bantahan itu mengemuka setelah Reuters memberitakan bahwa sumbangan yang telah terkumpul untuk pembiayaan rekonstruksi Gaza kurang dari 1 miliar dolar AS. Padahal, untuk menjalankan misinya, Presiden AS Donald Trump mencanangkan, dana yang perlu terkumpul setidaknya sebanyak 17 miliar dolar AS.
Dalam piagam pembentukan Dewan Perdamaian, dana tersebut dikumpulkan dari sumbangan negara-negara yang turut menandatangani piagam tersebut. Sumbangan tersebut juga berimplikasi pada status keanggotaan tiap negara yang terlibat.
Selain untuk membiayai misi rekonstruksi Gaza, dalam konsep yang diajukan, dana tersebut bakal digunakan untuk membiayai kegiatan Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG). Komite yang berisi para teknokrat ini akan bertugas untuk mengambil alih kendali dan mengelola administrasi harian Gaza. Saat ini komite tersebut diketuai oleh Ali Shaath, mantan Wakil Menteri Otoritas Palestina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/20/3c1a5a2463382f6a37353a7809af31f1-PHOTO_2026_02_20_02_30_00_2.jpeg)
Namun, hingga sejauh ini, seorang sumber Reuters mengatakan, dari 10 negara yang menjanjikan pendanaan, hanya tiga yang telah mengucurkan sumbangan. Ketiga negara itu adalah Uni Emirat Arab, Maroko, dan AS sendiri.
Menurut sumber itu, minimnya sumbangan yang telah terkumpul membuat lembaga tersebut kesulitan bergerak dan melanjutkan rencana mereka. Bahkan, karena keterbatasan dana, NCAG tidak dapat ”masuk dan bergerak” di Gaza.
Perkara kendala pendanaan itu dikonfirmasi oleh seorang pejabat Palestina yang dihubungi oleh Reuters. Ia menyebutkan bahwa Hamas dan faksi-faksi Palestina di telah diberi taklimat bahwa saat ini NCAG tidak dapat beroperasi di Gaza karena kekurangan dana. ”Saat ini tidak ada uang yang tersedia,” kata pejabat tersebut.
Sumber-sumber Reuters juga mengemukakan bahwa perang AS-Israel melawan Iran turut memperburuk kondisi itu. Sejauh ini perwakilan NCAG belum memberikan komentar atas isu-isu tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/11/3d0613ea0a205a737e227c8d4671cbbc-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_137428022.jpg)
Dengan kendala yang kini dihadapi oleh Dewan Perdamaian, praktis optimalisasi penataan kembali Gaza pascagencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025 macet. Padahal, di sisi lain, Hamas telah berulang kali mengatakan, mereka siap untuk menyerahkan ”kendali” Gaza kepada NCAG. Terkait rekonstruksi Gaza, untuk membangun kembali kota yang empat perlima bangunannya telah hancur oleh pengeboman Israel setidaknya dibutuhkan dana hingga 70 miliar dolar AS.
Kendala optimalisasi gencatan senjata membuat kesepakatan itu menjadi rentan. Pascagencatan senjata dicapai, pasukan Israel saat ini masih bercokol di sejumlah zona sepi penduduk, luasnya lebih dari setengah wilayah Gaza. Sementara itu, Hamas mengontrol wilayah pesisir yang sempit.
Beberapa upaya coba diambil, di antaranya negosiasi mengenai perlucutan senjata. Isu tersebut merupakan isu sensitif. Pada satu sisi Israel menegaskan, Hamas harus meletakkan senjata dengan kompensasi pasukan Israel mundur dari Gaza. Sebaliknya, di sisi lain, Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjata sebelum pasukan Israel ditarik dari Gaza dan serangan ke Gaza dihentikan.
Sejauh ini, negosiasi tersebut masih menemui jalan buntu. Yang mengkhawatirkan, pada saat yang sama, Israel terus menyiapkan diri untuk kembali menyerang Gaza.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/11/34b1195116bceb6c86f753afb295f464-PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_137423712.jpg)
Dengan kondisi seperti itu, penduduk Gaza terus menghadapi situasi ketidakpastian. Saat ini sebagian besar warga Gaza tinggal di tenda-tenda sementara di kamp-kamp pengungsi yang padat. Sebagian lain memilih berlindung di gedung-gedung yang rusak.
Sejumlah lembaga kemanusiaan internasional mengatakan, kondisi di Gaza memburuk sejak perang di Iran berkecamuk. ”Selama dua minggu pertama Maret 2026, truk yang memasuki Gaza menurun hingga 80 persen dan harga barang kebutuhan pokok meningkat drastis,” kata mereka. Evakuasi medis juga terhenti.
Warga Palestina pun mengungkapkan harapan mereka pada perbaikan kondisi Gaza kian pudar. ”Ada polusi dan penyakit. Seolah-olah tidak ada gencatan senjata sama sekali,” kata Maysa Abu Jedian, seorang perempuan pengungsi dari Beit Lahiya. (AP/REUTERS)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/11/2c13c5949e09d5a9f60104771e696da9-TOPSHOT_PALESTINIAN_ISRAEL_CONFLICT_GAZA_137220520.jpg)
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra