Di Antara Reruntuhan Gaza, Warga Palestina Menata Hidup Kembali

Gaza hancur lebur karena perang Hamas-Israel yang merajam lebih dari 16 bulan. Pembangunan kembali Gaza butuh dana 53 miliar dollar AS.

25 Feb 2025 17:05 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Setelah gencatan senjata antara Hamas dan Israel berlaku pada 19 Januari 2025, warga Palestina di Jalur Gaza meninggalkan tempat pengungsian untuk kembali ke rumah mereka. Ada rumah yang masih utuh berdiri, tetapi kebanyakan telah hancur. Namun, asa untuk berjuang, bertahan, dan melanjutkan hidup terus membara.

Ketika malam menjemput, bangunan runtuh dan tumpukan puing di kota Beit Lahiya, Gaza utara, berubah menjadi gelap gulita. Di salah satu rumah yang rusak, putra-putra dari Rawya Tamboura yang masih kecil ketakutan akan gelap.

Tamboura menyalakan senter dan cahaya dari ponsel untuk menghibur mereka. Keluarganya akan bertahan sementara melawan kegelapan selama baterai ada.

Rumah Tamboura hancur akibat serangan udara di awal perang. Dia dan keluarganya mengungsi ke Rumah Sakit Indonesia yang tak jauh lokasinya. Di sana, Tamboura bekerja sebagai perawat.

Setelah 16 bulan perang Hamas-Israel berlangsung, Tamboura, suami, dan anak-anaknya akhirnya pulang. Namun, rumah mereka seperti cangkang kosong tanpa kehidupan. Tidak ada air bersih, listrik, pemanas, atau peralatan untuk membersihkan puing-puing. Hanya ada rasa frustrasi yang mengganjal hati.

”Beberapa orang berharap perang tidak pernah berakhir karena merasa lebih baik terbunuh. Saya tidak tahu apa yang akan kami lakukan dalam jangka panjang. Otak saya berhenti merencanakan masa depan,” kata Tamboura kepada Associated Press, Selasa (25/2/2025).

Anak-anak Palestina duduk di reruntuhan rumah mereka yang hancur di Kota Jabalia, di Jalur Gaza utara, pada 17 Februari 2025.

Kini, Tamboura sekeluarga tinggal di satu-satunya kamar yang bisa dibilang utuh. Dindingnya retak, sebagian langit-langit ambruk. Kulkas dan wastafel yang selamat tidak dapat digunakan karena tidak ada air atau listrik. Mereka menumpuk seprai dan selimut di satu sudut.

Dua kali sehari, putra Tamboura yang berusia 12 tahun membawa wadah-wadah air yang berat dari tempat distribusi bantuan. Mereka juga mesti mencari kayu bakar untuk memasak. Masuknya bantuan makanan membuat makanan tersedia di pasar dan harga turun, tetapi tetap saja tidak terjangkau.

Karena Rumah Sakit Indonesia terlalu rusak, Tamboura berjalan kaki satu jam setiap hari untuk bekerja di Rumah Sakit Kamal Adwan yang juga berada di Beit Lahia. Dia mengisi daya ponsel miliknya dan suaminya menggunakan generator rumah sakit.

Nasib kerabat Tamboura jauh lebih buruk. Mereka kembali tanpa menemukan apa pun yang tersisa dari rumah mereka. ”Jadi, mereka tinggal di tenda-tenda, di atas atau di samping reruntuhan bangunan yang tertiup angin musim dingin atau banjir saat hujan,” ujar Tamboura.

Seorang anak laki-laki Palestina berdiri di dekat sampah dan genangan air di sebuah kamp pengungsian di Nuseirat, di Jalur Gaza tengah, Minggu (23/2/2025), sehari setelah kampanye vaksinasi polio massal ketiga dimulai di Gaza. Kampanye vaksinasi melibatkan sejumlah badan PBB terjadi pada saat Israel dan Hamas sedang menjalankan gencatan senjata yang sebagian besar menghentikan pertempuran.

Kehilangan identitas

Di kota Gaza, Asmaa Dwaima (25) dan keluarganya akhirnya bisa menjejakkan kaki mereka kembali. Namun, mereka harus menyewa apartemen lantaran rumah mereka di daerah Tel al-Hawa yang dulu mewah telah luluh lantak.

Ketika mengunjungi rumah empat lantai mereka, Dwaima hanya melihat puing-puing yang rata dengan tanah dan hangus terbakar sebagai pertanda mereka pernah tinggal di sana. Dwaima, seorang dokter gigi, harus bisa menerima kenyataan pahit itu.

”Saya tidak bisa datang ke sini karena saya takut. Saya membayangkan rumah saya dalam pikiran saya—keindahannya dan kehangatannya. Saya takut menghadapi kenyataan ini. Mereka tidak hanya menghancurkan batu, mereka juga menghancurkan kami dan identitas kami,” ujar Dwaima.

Rumah Dwaima pernah hancur oleh serangan udara Israel pada 2014. Mereka kemudian membangun ulang rumah itu. Sekarang, mereka tidak punya apa-apa lagi untuk membangun rumah tersebut.

”Kami perlu menyingkirkan puing-puing karena ingin mengeluarkan pakaian dan beberapa barang milik kami. Kami membutuhkan peralatan berat. Tidak ada batu bata atau peralatan konstruksi lainnya dan, jika tersedia, biayanya sangat mahal,” tutur Dwaima.

People walk along Gaza's coastal al-Rashid Street to cross the Netzarim corridor from the southern Gaza Strip into the north on January 27, 2025. Displaced Palestinians began returning to northern Gaza on January 27, an official at the territory's Hamas-run Interior Ministry told AFP, after a breakthrough in negotiations between Hamas and Israel. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Hampir 600.000 warga Palestina membanjiri ulang Gaza utara setelah gencatan senjata berlangsung selama sebulan, demikian laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka menyambut gembira kabar tersebut.

Sambil bergegas, mereka memilih pulang untuk melanjutkan hidup meski hanya akan menemukan rumah yang rusak atau hancur akibat pengeboman dan serangan Israel. Setelah tiba, mereka harus menghadapi kenyataan untuk hidup di reruntuhan dalam jangka waktu yang tidak tentu.

Juru bicara Unicef, Tess Ingram, mengunjungi Gaza bagian utara sejak gencatan senjata berlaku. Dia bertemu dengan banyak keluarga Palestina untuk melihat kondisi dan mendengarkan kisah mereka.

”Mereka berduka atas kehidupan yang pernah mereka jalani saat mereka mulai membangun kembali. Keputusasaan mereka semakin kuat,” ucap Ingram.

People walk in a commercial street in Khan Yunis in the southern Gaza Strip on January 15, 2025, amid the ongoing war in the Palestinian territory between Israel and Hamas. Hamas has approved a Gaza truce and hostage release deal, Palestinian sources close to negotiations said on January 15, after mediator Qatar expressed hope an agreement to end the war could be reached very soon. (Photo by Bashar TALEB / AFP)

Layak huni

Laporan pekan lalu oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memproyeksikan, pembangunan kembali Jalur Gaza akan menelan ongkos 53 miliar dollar AS. Untuk saat ini, hampir tidak ada kapasitas atau dana untuk memulai proyek pembangunan kembali secara signifikan.

Prioritas sekarang adalah membuat Gaza segera layak huni. Pada Februari 2025, Hamas mengancam penundaan pembebasan sandera kecuali bantuan kemanusiaan, berupa tenda dan tempat penampungan sementara, diizinkan masuk ke Gaza. Israel akhirnya setuju untuk mengizinkan rumah mobil dan peralatan konstruksi masuk.

Menurut PBB, badan-badan kemanusiaan telah meningkatkan layanan serta mendirikan dapur gratis dan stasiun pengiriman air. Tenda dan terpal telah didistribusikan kepada ratusan ribu orang di seluruh Gaza. Pemerintah Kota Gaza mulai memperbaiki beberapa saluran air dan membersihkan puing-puing dari jalan, tetapi kekurangan peralatan berat.

Quote

Laporan pekan lalu oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memproyeksikan pembangunan kembali Jalur Gaza akan menelan ongkos 53 miliar dollar AS.

”Hanya beberapa dari 40 buldoser dan lima truk sampah yang masih berfungsi,” kata Juru Bicara Pemerintah Kota Gaza Asem Alnabih.

Ada lebih dari 50 juta ton puing di Gaza sehingga membutuhkan 100 truk beroperasi selama 15 tahun untuk membersihkannya, menurut PBB.

Selain itu, nasib gencatan senjata Hamas-Israel berada di ujung tanduk. Gencatan senjata tahap pertama akan berakhir pada 1 Maret 2025.

TOPSHOT - Israeli hostage Omer Shem Tov, flanked by Palestinian Hamas fighters, gestures to cheering crowds after being released along with two others as part of the seventh hostage-prisoner exchange ,in Nuseirat in the central Gaza Strip, on February 22, 2025. Three more Israeli hostages were freed by Hamas militants at a ceremony in central Gaza on February 22 after two others were released in the southern part of the Palestinian territory. (Photo by Bashar TALEB / AFP)

Negosiasi tahap kedua tertunda. Israel melanggar kesepakatan dengan menunda 620 tahanan Palestina meski Hamas telah membebaskan enam sandera Israel, Sabtu (22/2/2025). Tel Aviv bahkan menyatakan siap berperang lagi di Gaza dan telah mengerahkan militer ke Tepi Barat, Minggu (23/2/2025). Sementara itu, Hamas menolak melanjutkan negosiasi sampai kesepakatan pertukaran tahanan dipenuhi Israel.

Mediator negosiasi Hamas-Israel, Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat tengah mengupayakan perpanjangan gencatan senjata tahap pertama. Jika pertempuran di Jalur Gaza meletus lagi, nyawa warga Palestina yang telah pulang bisa terancam kembali. 

Tekanan bertambah sebab Presiden AS Donald Trump menyerukan agar semua penduduk Gaza direlokasi ke negara-negara Arab sekitar agar AS mengambil alih wilayah tersebut. Usulan ini mengundang amarah warga Palestina dan dunia internasional. Warga Palestina tidak pernah ingin menyerahkan tanah mereka.

Huda Skaik (20), mahasiswi sastra Inggris di Islamic University of Gaza, juga tidak menyerah. Dia tetap mengejar pendidikan lewat kelas-kelas daring walau sinyal internet bapuk dan listrik dari panel surya tidak selalu berfungsi. Saat ini, Skaik berbagi kamar dengan tiga saudara dan orangtua di rumah kakek-neneknya di kota Gaza.

”Bagian terburuknya adalah kami baru menyadari bahwa kami telah kehilangan segalanya. Kehancurannya sangat parah, tetapi saya berusaha untuk tetap positif,” ujar Skaik tegar. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi