Di Balik Angka 97,5 Persen Pelari Menamatkan Borobudur Marathon 2024

Persentase penamatan tinggi memperlihatkan keseriusan pelari, selain dukungan faktor non-teknis. Borobudur Marathon mengungguli ajang-ajang besar dunia.

07 Des 2024 20:49 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Ratusan orang berkumpul di area garis finis. Ada yang mengabadikan momen dengan ponsel, ada juga yang hanya menonton. Semua meramaikan sesi akhir lomba maraton yang tinggal tersisa satu menit. Dari kejauhan, tampak seorang pelari perempuan berjuang sekuat tenaga untuk finis.

Bermodal adrenalin dan dukungan moral, pelari dengan nomor bib E11570 itu melakukan sprint dalam 50 meter terakhir. Para penonton yang semula melakukan hitung mundur bersorak seketika. Dina Syafitri, namanya, melewati garis finis saat batas waktu hanya tersisa lima detik.

Dina merupakan pelari yang finis terakhir di lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 pada Minggu (1/12/2024). Dia finis dengan catatan waktu 6 jam 59 menit 55 detik dari batas tujuh jam. Dia menjadi pelari ke-9.555 dari total 9.795 yang berhasil menyelesaikan lomba.

Persentase pelari mencapai finis dalam ajang yang berlangsung di Magelang, Jateng, itu mencapai 97,5 persen. Direktur Lomba Borobudur Marathon Andreas Kansil mengatakan, persentase itu sangat tinggi. Target mereka adalah meminimalisasi pelari yang tidak finis sampai 5 persen.

Seorang pelari menyiram air ke badannya saat berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Borobudur Marathon 2024 diikuti oleh 10.500 pelari dalam tiga kategori, yaitu lari marathon, half marathon, dan 10 kilometer. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 01-12-2024
Quote

Penilaian saya, ini bagian dari pendewasaan peserta. Saya melihat persiapan pelari lebih baik.

Banyak faktor, kata Andreas, yang mendukung pencapaian target. Salah satunya cuaca yang mendukung. Langit mendung menyelimuti nyaris sepanjang lomba. Suhu tidak melewati 32 derajat celsius. Bendera pengukur risiko cuaca juga hanya berwarna hijau dan kuning yang relatif aman untuk berlari.

Tidak seperti edisi 2023, suhu mencapai 36 derajat celsius. Pengukuran suhu dan kelembaban udara sudah masuk kategori hitam atau berbahaya. Lomba pun dihentikan pukul 10.30 WIB. ”Tahun ini mungkin ada pengaruh digelar pada Desember, sudah musim hujan. Cuaca lebih bagus,” ujar Andreas.

Start lomba yang dimulai 30 menit lebih awal turut berpengaruh. Terlepas faktor pendukung, menurut Andreas, perubahan paling signifikan terdapat dalam diri pelari. Mereka lebih siap menghadapi lomba, terutama setelah mengetahui tantangan cuaca dan elevasi di Borobudur Marathon.

”Penilaian saya, ini bagian dari pendewasaan peserta. Saya melihat persiapan pelari lebih baik. Saat di garis finis, pelari di bawah enam jam kondisinya masih cukup baik. Mereka masih bisa berlari. Terlihat mereka memang ingin berlari, bukan sekadar FOMO (takut ketinggalan tren),” kata Andreas.

Warga menyapa pelari yang berpartisipasi dalam Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Borobudur Marathon 2024 diikuti oleh 10.500 pelari dalam tiga kategori, yaitu lari marathon, half marathon, dan 10 kilometer. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 01-12-2024

Sebanyak 1.290 pelari berhasil finis di bawah enam jam. Jumlah itu mencapai 65,8 persen dari keseluruhan peserta kategori maraton. Adapun kelompok pelari yang menyelesaikan lomba di antara lima sampai enam jam merupakan yang terbanyak, hingga 691 peserta. Lebih dari penamat pada sejam terakhir.

Kemajuan para pelari tecermin jelas jika dibandingkan dengan edisi terdahulu. Edisi 2023 tidak bisa dibandingkan karena terhenti 90 menit lebih cepat dari jadwal. Edisi 2020-2022 juga kurang relevan karena digelar tidak seperti biasa akibat pandemi Covid-19.

Perbandingan bisa dilihat dari edisi 2019. Jumlah penamat ketika itu hanya sekitar 82 persen. ”Peningkatan tidak lepas dari pengalaman. Mereka yang ikut tahun ini banyak yang sudah pernah berlomba sebelumnya. Jadi lebih paham medan,” kata Wakil Manajer Umum Ajang Kompas Budhi Sarwiadi selaku penyelenggara.

Peningkatan kapasitas tim medis sebanyak dua kali lipat juga berperan. Banyak pelari yang sudah tidak sanggup melanjutkan lomba, terutama setelah ”tanjakan cinta” di Kilometer 35, bisa berlari lagi setelah ditangani tenaga medis. Mereka langsung dirawat setelah tiba di pos medis.

Seoarabg nenek merekam para pelari yang berlomba dalam kategori separuh maraton (HM) Bank Jateng Borobudur Marathon 2024 di Magelang, Jawa Tengah, Minggu (1/12/2024). Sekitar 10.500 pelari mengikuti Borobudur Marathon 2024. KOMPAS/HERU SRI KUMORO 01-12-2024

Perbandingan dengan maraton di dunia

Borobudur Marathon dengan persentase pelari yang menamatkan maraton itu sudah melampaui catatan di beberapa lomba terpopuler sedunia, seperti Tokyo Marathon (96,6 persen) dan Boston Marathon (96,5 persen). Namun, perbedaan sangat jelas terletak di kuantitas dan kualitas peserta.

Hanya ada dua kategori yang dilombakan di Tokyo, yaitu maraton (42,195 km) dan 10,7 km. Sebanyak 36.697 pelari mengikuti maraton, sementara hanya 268 peserta yang berlomba 10,7 km. Artinya peserta di kategori maraton saja sudah mencapai 99,2 persen.

Berbeda jauh dengan Borobudur Marathon. Kategori maraton diikuti oleh 20 persen dari total peserta. Sisanya masuk kategori separuh maraton (38,7 persen) dan 10K (41,2 persen). Jika dibandingkan tanpa konteks, pelari yang menamatkan maraton di Tokyo lebih banyak 18 kali lipat dibandingkan Borobudur.

Berbicara soal kompetisi, tidak ada yang bisa menandingi Boston Marathon. Persentase pelari yang mencapai finis mereka memang di bawah Borobudur Marathon. Namun, kualitas lomba mereka jauh unggul. Mereka hanya menyediakan kategori maraton untuk lari dari sekitar 30.000 peserta. Satu kategori lagi adalah khusus kursi roda.

EKspresi pelari saat melintasi garis finish Bank Jateng Borobudur Marathon 2024, Minggu (1/12/2024). Borobudur Marathon 2024 diikuti oleh 10.500 pelari dalam tiga kategori, yaitu lari marathon, half marathon, dan 10 kilometer. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 01-12-2024

Menariknya, Boston Marathon punya standar kualifikasi waktu sangat tinggi untuk para pendaftar. Standar dibagi menjadi beberapa kategori usia dan jender. Di kelompok putra usia 18-34 tahun, misalnya, minimal kualifikasi waktu untuk mendaftar adalah tiga jam pas.

Ketika lomba, para pelari diberikan batas waktu finis sesuai dengan standar kelompok masing-masing. Khusus tahun 2024, mereka harus finis dengan catatan waktu 5 menit 29 detik lebih cepat dibandingkan waktu kualifikasi. Adapun standar waktu terendah berada di kelompok putri 80 tahun ke atas (5 jam 20 menit).

Faktanya, tidak lebih dari separuh pelari yang finis di Borobudur Marathon yang bisa menyelesaikan lomba dalam 5 jam 20 menit. Sementara itu, hanya 18 pelari dari seluruh kategori yang mampu menyelesaikan lomba di bawah tiga jam.

Perbandingan dengan dua lomba yang masuk kategori World Marathon Majors itu mungkin terlalu jauh. Namun, bagi Borobudur Marathon yang sedang terus berkembang sejak lahir kembali pada 2017, mereka wajib becermin dari yang terbaik untuk menjadi yang terbaik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari