PASUKAN PERDAMAIAN

Di Balik Bunker Lebanon, Menjaga Moril Prajurit TNI Saat Maut Mengintai

Perintah bertahan di dalam bunker bukan sekadar prosedur keselamatan operasional. Ada pertaruhan geopolitik yang teramat krusial.

07 Apr 2026 10:07 WIB · Politik & Hukum

PUSAT PENERANGAN TNI

Oleh Willy Medi Christian Nababan

Lewat panggilan video, jarak ribuan kilometer yang terbentang antara Jakarta dan Lebanon Selatan tak menghalangi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyapa langsung para prajurit yang tengah bertugas. Matanya menyiratkan duka sekaligus harapan seorang bapak yang tengah mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya di medan perang.

”Jaga moril prajurit yang ada di sana. Tetap laksanakan pengamanan intern, ya. Masuk ke bunker-bunker dan tidak ada kegiatan lagi di luar,” instruksi Panglima TNI kepada Komandan Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL, Lebanon, seperti yang diunggah lewat media sosial pribadi Agus Subiyanto, Jumat (3/4/2026).

Dari seberang, suara prajurit membalas dengan lantang dan sigap. ”Siap, laksanakan Panglima. Terima kasih atas arahannya. Kami sampaikan salam Panglima kepada seluruh prajurit,” katanya.

”Garuda,” ucap Agus menutup panggilan.

Quote

Menarik pasukan kita dari sana justru secara tidak langsung membantu Israel menguasai wilayah tersebut. Markas kita berada tepat sebelum sungai itu. Jika ditarik, militer Israel akan semakin leluasa beroperasi.

Presiden Prabowo Subianto, presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto (kiri ke kanan) menghadiri persemayaman tiga prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur di Lebanon, di VIP Lounge Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). Kompas/Hendra A Setyawan

Panggilan video singkat itu bukanlah instruksi operasi militer biasa. Perintah untuk berlindung di dalam bunker dan menghentikan seluruh aktivitas di luar markas merupakan respons darurat atas situasi yang kian tak menentu di Lebanon Selatan.

Langit di atas wilayah penugasan Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) itu kini tak lagi menjanjikan kedamaian, tetapi justru menebarkan ancaman artileri yang bisa jatuh kapan saja, menimpa siapa saja. Risiko yang tergambar dalam ungkapan ”peluru tak memiliki mata” seolah menemukan konteksnya di wilayah tersebut.

Instruksi Panglima TNI turun hanya selang beberapa jam setelah kabar duka bertubi-tubi menghantam Kontingen Garuda. Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, tiga prajurit TNI, Mayor Anumerta Zulmi Aditya, Serka Anumerta M Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon, gugur dalam dua insiden terpisah akibat ledakan artileri saat menjalankan tugas pengawalan.

Presiden Prabowo Subianto memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan disaksikan istri dan anak almarhum, saat persenayaman tiga prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur di Lebanon disemayamkan di VIP Lounge Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). Kompas/Hendra A Setyawan

Kini, kehidupan prajurit di Lebanon berubah drastis. Ratusan prajurit TNI yang bertugas harus membiasakan diri dengan kehidupan di dalam bunker. Di bagian luar, tiga bendera, PBB, Indonesia, dan Lebanon, berkibar setengah tiang, mengabarkan duka atas gugurnya tiga prajurit TNI di tengah ikhtiar mereka menjaga perdamaian di Lebanon.

Di tanah yang jauh dari Tanah Air, para prajurit TNI ini tidak hanya harus bertahan dari hujan mortir pihak-pihak yang bertikai, tetapi juga mesti menanggung duka kehilangan saudara seperjuangan sambil terus merawat asa untuk nantinya bisa pulang dengan selamat ke kampung halaman. Pulang ke Indonesia.

Peta geopolitik krusial

Analis Semar Sentinel, Sandy Juda Pratama, berpandangan, perintah bertahan di dalam bunker bukan sekadar prosedur keselamatan operasional. Di balik kokohnya dinding beton yang mengungkung mereka, tersimpan pertaruhan geopolitik yang teramat krusial.

Markas Kontingen Garuda berdiri tepat di garis demarkasi yang sensitif, persis sebelum aliran Sungai Litani. Wilayah tersebut menjadi episentrum ambisi militer Israel yang ingin menciptakan zona penyangga (buffer zone). Mundur satu langkah saja dari pos tersebut sama artinya dengan membukakan jalan bagi invasi darat Israel untuk terus bergerak ke utara.

Infografik Serangan ke Pos UNIFIL di Lebanon

”Menarik pasukan kita dari sana justru secara tidak langsung membantu Israel menguasai wilayah tersebut. Markas kita berada tepat sebelum sungai itu. Jika ditarik, militer Israel akan semakin leluasa beroperasi,” kata Sandy.

Selain itu, eksistensi baret biru Indonesia di Lebanon adalah wujud marwah dan kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Menarik diri di tengah gempuran artileri berisiko mencederai reputasi diplomasi perdamaian yang telah dibangun berpuluh tahun sekaligus menjadi catatan bagi kepemimpinan nasional.

Akan tetapi, lanjut Sandy, keberanian menjaga komitmen itu menuntut harga yang sangat mahal. Gugurnya tiga prajurit dan luka-luka bagi belasan lainnya menjadi duka mendalam bagi bangsa. Di saat meja Dewan Keamanan PBB kerap menemui jalan buntu akibat sandera hak veto, Indonesia dituntut bermanuver lebih lincah dan agresif.

Oleh karena itu, ia menyarankan Kementerian Luar Negeri untuk meminta agar digelar sidang Dewan Keamanan. Namun, langkah diplomasi itu butuh suara yang lebih besar. Indonesia bisa memulai untuk menggalang kekuatan dan kolaborasi dengan negara-negara sepemikiran, seperti Perancis hingga Pakistan.

Presiden Prabowo Subianto memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar saat persemayaman tiga prajurit TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur di Lebanon disemayamkan di VIP Lounge Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). Kompas/Hendra A Setyawan

Eskalasi

Di sisi lain, konflik yang membara di Lebanon tak bisa lagi diisolasi sebagai isu lokal. Garis eskalasinya, kata Sandy, terbentang jauh hingga ketegangan Iran dengan poros Amerika Serikat-Israel. Dampaknya terasa langsung hingga mengancam nyawa warga Indonesia.

Sebelum tiga prajurit gugur di Lebanon, tiga pelaut Indonesia lebih dulu dinyatakan hilang (kemungkinan tewas) di Selat Hormuz usai kapal tugboat yang mereka tumpangi dihantam rudal. Dari laut lepas hingga daratan gersang di Timur Tengah, kepentingan dan keselamatan warga nasional kini terjepit di tengah konflik.

Situasi saat ini menjadi ujian untuk agilitas diplomasi Indonesia. Sebagai bagian dari Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), prinsip politik luar negeri RI bebas-aktif kini dipertaruhkan. Sejauh mana prinsip tersebut tegak berdiri menahan tekanan negara-negara hegemon. Tragedi di Lebanon adalah alarm bahwa komitmen perdamaian tak bisa sekadar retorika mimbar, melainkan sikap nyata di medan krisis.

Sembari menanti terobosan di meja PBB, pembenahan taktis di garis depan adalah harga mati. Pengalaman pahit di Lebanon Selatan harus menjadi fondasi evaluasi menyeluruh. Penguatan fasilitas perlindungan, mulai dari struktur bunker, kedalaman parit pertahanan, hingga pengetatan standar operasional konvoi di zona darurat, tak bisa ditawar lagi.

Prajurit TNI menggotong peti jenazah almarhum Kopral Dua  (Anumerta) Farizal Rhomadhon meninggalkan rumah duka di Dusun Ledok, Desa Sidorejo, Lendah, Kulon Progo, DI Yogyakarta, Minggu (5/4/2026). Farizal adalah salah satu dari tiga prajurit TNI Pasukan Penjaga Perdamaian PBB (UNIFIL) yang gugur dalam tugas di Lebanon pada 29 Maret 2026. Setelah sehari sebelumnya diterbangkan dari Lebanon, jenazah Farizal dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Wates, Kulon Progo, pada hari itu. 

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko
Suasana prosesi pemakaman secara militer untuk Kopral Dua (Anumerta) Farizal Rhomadhon di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, Minggu (5/4/2026) pagi. Prajurit TNI itu gugur saat bertugas sebagai Pasukan Penjaga Perdamaian PBB UNIFIL di Lebanon pada 29 Maret 2026.

Secara paralel, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang relevan dengan medan asimetris juga mendesak. Kehadiran kendaraan taktis tahan ranjau (mine-resistant) hingga unit penjinak bahan peledak mutlak diperlukan guna mengamankan area dari ancaman proyektil dan sisa bahan peledak.

Kembali ke Lebanon Selatan, di balik bunker, para prajurit TNI tetap berjaga. Mereka bertahan bukan karena tak ada rasa takut, melainkan ada janji yang harus ditunaikan pada bangsa dan dunia.


Kerabat Kerja

Penulis:

Willy Medi Christian Nababan
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim