Selain trofi, dominasi sepak bola Spanyol bisa dilihat dari invasi para pemain dan pelatih mereka di liga top Eropa. Ada andil LALIGA dalam membentuk kualitas pemain.
29 Mei 2025 13:38 WIB · Olahraga
Adalah hal biasa menyaksikan negara-negara raksasa, seperti Italia, Portugal, atau Jerman, menjuarai Piala Eropa. Spanyol, sebagai salah satu raksasa sepak bola Eropa, sedikit berbeda. Dominasi mereka tidak hanya tecermin dari banyaknya trofi, tetapi juga pemain dan pelatih di liga-liga top Eropa. Dalam satu dekade belakangan, pelatih dan pemain Spanyol laris manis diburu klub besar.
Sulit untuk menolak pendapat bahwa Pep Guardiola adalah salah satu dari ahli strategi lapangan hijau terbaik di kolong jagat. Manajer Manchester City asal Spanyol itu mencetak sejarah dengan membawa timnya memenangi Liga Inggris empat kali beruntun pada rentang 2021 hingga 2024. Selain Pep, tanah Inggris juga diinvasi oleh manajer-manajer asal Spanyol lain, seperti Mikel Arteta, Andoni Iraola, dan Unai Emery.
Tidak hanya di Inggris, serbuan manajer atau pelatih Spanyol juga mencapai Italia dengan adanya Cesc Fabregas yang menangani Como 1907. Di Perancis, Luis Enrique berjaya dengan mengantarkan Paris Saint-Germain meraih dua gelar domestik musim ini. Enrique juga membawa PSG melaju hingga final Liga Champions Eropa.
Soal pemain, Spanyol juga tidak kalah hebat. Penghargaan bergengsi Ballon d’Or 2024 jatuh kepada Rodri yang merupakan jebolan akademi Atletico Madrid. Dari segi trofi, timnas Spanyol menjadi yang terbaik di Piala Eropa 2024. Kontestan LALIGA Spanyol, Real Madrid dan Sevilla, merupakan pengoleksi gelar terbanyak di kompetisi antarklub Eropa.
Real berjaya dengan memenangi 15 trofi Liga Champions, sementara Sevilla menguasai Liga Europa dengan tujuh trofi. Megabintang baru Eropa, Lamine Yamal, pun merupakan pemain hasil pembinaan usia muda Spanyol.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/36e4abed-1645-4b84-9076-c4000ba3145c_jpg.jpg)
Melalui pelatih serta pemainnya, Spanyol mampu berbicara banyak di kancah sepak bola Eropa. Tidak hanya level klub, tetapi juga timnas. Pertanyaan kemudian mengerucut kepada resep kesuksesan semua pencapaian itu. Banyak hal menjadi kunci kesuksesan Spanyol merebut panggung sepak bola Eropa. Akan tetapi, satu hal yang tidak mungkin dilepaskan adalah kompetisi domestik, dalam hal ini LALIGA.
Kompetisi kasta tertinggi Spanyol tersebut dirancang sedemikian rupa untuk menemukan dan merawat talenta-talenta muda. Berdasarkan data yang dirilis CIES Football Observatory, pemain lokal (home grown) di LALIGA mendapatkan menit bermain yang jauh lebih banyak dibandingkan lima liga besar Eropa musim ini.
Persentase pemain lokal di LALIGA yang mendapatkan menit bermain mencapai 19,78 persen. Ligue 1 Perancis menempati peringkat kedua dengan 13,5 persen, diikuti Bundesliga (7 persen), Liga Inggris (6,4 persen), dan Liga Italia (5,5 persen).
Banyak negara menyadari bahwa gaya, metodologi, dan filosofi Spanyol dapat sangat cocok di berbagai kompetisi sepak bola. - Juan Florit -
Kepala Departemen Sepak Bola LALIGA Juan Florit menjelaskan, penting untuk memiliki sejumlah pemain di tim utama, tetapi lebih penting lagi untuk memastikan mereka mendapat menit bermain yang cukup. Di Spanyol, kata Florit, semua struktur kompetisi memfasilitasi atau paling tidak menyediakan suasana kompetitif untuk semua pemain.
”Kami memiliki divisi pertama, divisi kedua, tetapi kemudian kami memiliki dua kompetisi penting di Spanyol tempat para pemain yang sangat muda, pemain berusia 18, 19, dan 20 tahun, bahkan lebih muda, berkompetisi melawan orang dewasa dan dengan tuntutan kompetitif yang sangat tinggi. Jadi, ini memungkinkan para pemain yang masih sangat muda untuk bersaing dengan tuntutan yang akan mereka hadapi setelah di divisi pertama dan kedua. Jadi, seluruh struktur, seluruh struktur kompetitif Spanyol, mendukung pengembangan pemain muda,” tutur Florit dalam wawancara dengan Kompas di kantor pusat LALIGA, Madrid, Spanyol, Rabu (21/5/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/29/7e0b82f317ddc14c6f5c28ba51d23f0a-Foto_Juan_Florit_OK.jpg)
Metodologi pelatihan LALIGA dirumuskan dalam proses yang panjang dan berkelanjutan. Prosesnya tidak pernah usai lantaran ada ide serta hal baru yang ditambahkan. Sejumlah detail dalam metodologi pelatihan mengalami perubahan setia tahun, tetapi tujuannya tetap sama, yaitu berfokus pada pengembangan pemain secara holistik dengan mempertimbangkan empat area utama.
Area pertama adalah apa yang disebut aspek teknis dan koordinatif. Kedua, mencakup area taktis dan kognitif. Area kedua ini berhubungan dengan segala sesuatu terkait pengambilan keputusan dari pemain, pengetahuan taktis, dan pemahaman mereka terhadap permainan.
”Kami mencoba untuk melatih area ini sejak usia dini, karena banyak ahli di seluruh dunia berpikir bahwa di usia muda Anda harus fokus pada kemampuan teknis, koordinasi, dan keterampilan. Namun, kenyataannya adalah kami berpikir dan percaya bahwa anak-anak muda juga memiliki kemungkinan dan kapasitas untuk memahami dan menghayati aspek taktis permainan,” kata Florit.
Area ketiga meliputi semua faktor yang terkait dengan kapasitas fisik dan kondisional serta sistem biologis. Terakhir, area keempat, lebih terkait dengan mentalitas, aspek psikologis, dan aspek emosional para pemain.
Untuk mencetak pelatih-pelatih bertangan dingin, Spanyol tidak memiliki sekolah khusus pelatih semacam Coverciano di Italia. Meski begitu, Spanyol tidak pernah kehabisan pelatih sukses lantaran ada berbagai macam cara seseorang menjajaki karier kepelatihan. Biasanya, pesepak bola Spanyol yang pensiun segera mengambil jalur untuk menjadi pelatih.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/14/ac89eca7-b3e4-4e96-93d3-5f120cdb23f5_jpg.jpg)
Menurut Florit, ada dua cara untuk menjadi pelatih di Spanyol. Cara pertama merupakan yang paling umum, yaitu kursus kepelatihan yang disediakan oleh federasi sepak bola Spanyol (RFEF). Khalayak umum bisa mendaftar untuk mengikuti lisensi kepelatihan. RFEF juga memiliki sistem khusus untuk mantan pemain LALIGA yang hendak mengikuti kursus.
Adapun cara kedua adalah melalui akademi-akademi swasta yang tersebar di Spanyol. Akademi-akademi tersebut terkait dengan Kementerian Pendidikan yang bisa menerbitkan sertifikasi kepelatihan resmi. Langkah tersebut menyebabkan Spanyol memiliki stok pelatih yang cukup banyak.
”Lima belas tahun yang lalu, hanya sedikit pelatih Spanyol yang bekerja di luar negeri. Namun, ketika pelatih pertama mulai meninggalkan Spanyol untuk berlatih di luar negeri, banyak negara menyadari bahwa gaya, metodologi, dan filosofi Spanyol dapat sangat cocok di berbagai kompetisi sepak bola,” kata Florit.
Pembinaan pemain muda serta memperbanyak jalan untuk menghasilkan pelatih-pelatih bermutu telah mengantarkan Spanyol menjadi kekuatan sepak bola yang disegani di Eropa, bahkan dunia.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Sevilla, SpanyolEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji