Di atas kertas, memenangi kompetisi domestik seharusnya lebih mudah dibandingkan Eropa. Namun, Sevilla membalik pemahaman itu. Eropa dengan mudah mereka taklukkan.
27 Mei 2025 05:30 WIB · Olahraga
Anomali seperti sudah menjadi ciri khas yang melekat pada Sevilla. Klub dari wilayah Andalusia ini terbilang sukses di kompetisi domestik. Namun, mereka justru lebih disegani kala berlaga di Eropa. Tujuh gelar Liga Europa menjadi bukti kebesaran klub berjuluk ”Los Nervionenses” ini. Jumlah gelar mereka di kancah Eropa melebihi pencapaian di LALIGA.
Di ruang bendera, di kantor pusat LALIGA, Madrid, Spanyol, berjejer 20 bendera klub peserta liga. Ada aturan unik pada tata cara penyusunan bendera di ruangan itu. Bendera klub dengan usia tertua berhak ditempatkan di sisi paling kanan. Urutan kemudian dilanjutkan oleh klub dengan usia tertua berikutnya hingga bendera klub termuda menempati posisi paling kiri.
Di antara 20 bendera klub, bendera Sevilla mendapat kehormatan menempati sisi paling kanan lantaran mereka merupakan klub tertua di LALIGA saat ini. Sevilla berdiri pada 1890 dan tahun ini berusia 135 tahun.
Sebagai klub tertua di LALIGA, banyak pencapaian yang sudah diraih Sevilla. Namun, beragam pencapaian mereka di kompetisi domestik relatif tertutupi dengan kesuksesan menaklukkan Eropa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/31e0192e787036224187a7983d0f6b72-IMG_5025.jpg)
Pada ajang LALIGA, kompetisi divisi teratas dalam piramida sepak bola Spanyol, Sevilla tercatat hanya pernah memenanginya satu kali pada 1946 atau 79 tahun lalu. Musim ini, Sevilla gagal bersaing di papan atas setelah menjalani musim yang kacau dengan tertahan di papan bawah meski berhasil terhindar dari degradasi.
Pencapaian mereka jauh lebih baik pada ajang Piala Raja Spanyol (Copa del Rey). Hingga saat ini, Sevilla sudah mengoleksi lima gelar Piala Raja. Namun, di balik inferioritas itu, Sevilla memendam pencapaian yang mengagumkan di kancah Eropa.
Hingga saat ini, Sevilla merupakan pemegang gelar terbanyak di Liga Europa, yakni tujuh kali. Mereka bahkan pernah memenangi Liga Europa tiga kali beruntun pada rentang 2013 hingga 2016.
”Saya pikir sungguh menakjubkan memiliki tujuh (gelar) Liga Europa. Seperti yang Anda ketahui, hanya satu tim yang memilikinya dan kami adalah tim yang memiliki ketujuh gelar itu,” ujar Kepala Proyek Olahraga Internasional Sevilla Jose Collado kepada Kompas, Senin (19/5/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/5299c486135a1fa306e146a19e141879-SEVILLA_18.jpg)
Koleksi tujuh gelar Liga Europa kian menggaungkan nama Sevilla. Mereka justru bisa meraih banyak pencapaian di level Eropa. Secara teori, meraih kejayaan di kompetisi domestik jauh lebih mungkin dibandingkan dengan Eropa yang levelnya setingkat lebih tinggi. Pada kompetisi seperti Liga Europa, tim-tim terbaik dari semua liga domestik dari penjuru Eropa berkumpul, lalu bertanding untuk menjadi juara.
Lebih hebat lagi, ketujuh gelar Liga Europa diraih Sevilla tanpa gelimang uang atau pemain bintang. Untuk mengatasinya, mereka rutin menghasilkan pesepak bola berbakat berkat sistem pembinaan pemain yang bisa dikatakan salah satu yang terbaik di Spanyol.
Alih-alih membelanjakan banyak uang di bursa transfer, Sevilla memfokuskan diri pada pembinaan pemain muda. Mereka memiliki kompleks latihan (sport city) Jose Ramon Cisneros Palacios di Utrera, satu wilayah pertanian tua di Andalusia.
Kompleks latihan Sevilla tersebut memiliki luas sekitar 250.000 meter persegi. Dari fasilitas lapangan latihan, stadion kecil, dan gym di dalamnya, pemain-pemain yang melambungkan nama Sevilla terlahir.
Mendiang Jose Antonio Reyes merupakan salah produk akademi Sevilla. Ia merupakan pemain yang turut mengantarkan Sevilla mencetak hattrick juara Liga Europa. Selain Reyes, kompleks latihan Jose Ramon Cisneros juga mencetak pemain hebat lainnya, Jesus Navas. Navas yang memutuskan gantung sepatu pada 2025 pada akhirnya dikenang sebagai legenda klub.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/5ff3446d580e6d546549ba65fe88453a-SEVILLA_01.jpg)
Memperkuat akademi bisa dikatakan sebagai resep utama kesuksesan Sevilla. Alih-alih membeli pemain mahal pada bursa transfer, Sevilla lebih piawai menghasilkan pemain. Pemain terbaru yang mereka hasilkan adalah Bryan Gil yang dibeli oleh Tottenham Hotspur, tetapi kini tengah dipinjamkan ke Girona.
”Tentu saja akademi di Sevilla Football Club selalu sangat penting. Kami memiliki beberapa pemain yang lahir di sini. Kami adalah klub yang percaya pada akademi. Kami berinvestasi keras pada pelatih dan fasilitas kami karena kami memahami bahwa pengembangan pemain sangat penting,” kata Jose.
Materi pelatihan dibuat berbeda pada setiap jenjang usia. Pemain-pemain akademi Sevilla kebanyakan direkrut dari wilayah sekitar. Sevilla memiliki satu pencari bakat (talent scouting) pada tiap tingkatan usia. Para pencari bakat itu rutin menyaksikan kompetisi lokal. Bila terdapat pesepak bola muda yang menonjol, mereka akan direkomendasikan untuk masuk akademi.
Sevilla memiliki banyak bakat sepak bola. Ini lantaran banyak anak-anak bermain sepak bola di jalanan atau gang sempit. Dari sepak bola jalanan itu, keterampilan individu mereka terasah dan disempurnakan di akademi. Selain kawasan Andalusia, Sevilla juga memiliki koneksi dengan banyak pencari bakat di Benua Amerika, Asia, dan Afrika.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/26/7550e1c44d16d297f9b037d24eee26b2-IMG_4855.jpg)
”Biasanya kami merekrut pemain yang cerdas. Maksudnya pemain yang mengambil keputusan dengan tepat di lapangan. Mereka tahu kapan saatnya melakukan serangan secara cepat, kapan saatnya menghentikan serangan dan mulai menguasai bola,” kata Jose mengungkapkan kriteria pesepak bola yang layak direkrut masuk akademi.
Perjalanan Sevilla mengesankan bahwa mereka bak memiliki semacam anomali. Harus berjuang keras meraih prestasi di kompetisi domestik, Sevilla dengan mudahnya menaklukkan Eropa.
Semua itu diraih bukan dengan gelimang uang dalam bursa transfer, melainkan ketekunan mencetak pesepak bola berbakat dari sistem pembinaan pemain muda.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Sevilla, SpanyolEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .