Di Balik Kebangkitan Martinelli, ”Supersub” Baru Arsenal

Di balik kebangkitan Martinelli, terlihat posisi dan kemampuan terbaiknya pada skema Arsenal. Walaupun tidak menjadi pemain inti, peran Martinelli sangat penting.

23 Sep 2025 13:47 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

Perkataan Manajer Arsenal Mikel Arteta tentang kesetaraan peran pemain starter dan pengganti mulai terbukti. Dua pertandingan beruntun, Arsenal diselamatkan lewat aksi pemain cadangan. Sosok pahlawan itu adalah penyerang Gabriel Martinelli, pemain yang sering dinilai tidak layak masuk sebelas pertama skuad ”Si Meriam”.

Arteta sangat beruntung. Kekeliruan dalam pemilihan pemain mula saat menjamu Manchester City bisa ditebus dengan pergantian pemain tepat. Masuk dari bangku cadangan di sisa 10 menit waktu normal, Martinelli menyelamatkan wajah sang manajer dengan gol penyeimbang pada injury time.

Pemain tim nasional Brasil itu kembali membuktikan diri setelah kehilangan posisi pemain inti sejak kembali dari jeda internasional. Empat hari sebelumnya, dari bangku cadangan, Martinelli juga menginspirasi kemenangan 2-0 Arsenal atas Athletic Bilbao dalam laga babak grup Liga Champions Eropa lewat sumbangan satu gol dan satu asis.

”Dia (Martinelli) sedang berada dalam momentum sangat baik. Mungkin, dia pantas mendapatkan waktu bermain lebih banyak. Energi dan sikap, itu yang membuatnya bisa berkontribusi lagi untuk tim. Kami butuh konsistensi seperti itu dari para pemain yang tidak menjadi pemain mula sebab laga sangat panjang,” kata Arteta.

Martinelli hanya membutuhkan 29 menit dari bangku cadangan untuk menghasilkan dua gol dalam dua laga terakhir. Sebelum jeda internasional, dia tidak menyumbang gol ataupun asis saat bermain total 130 menit sebagai starter. Lantas, apa yang membedakan sang pemain versi cadangan dan pemain utama?

Martinelli

Jika dilihat dari sepasang gol itu, ada banyak kesamaan. Pertama, Martinelli mencetak gol dari situasi transisi dengan memecah jebakan offside. Setelah menerima umpan, dia tinggal berhadapan dengan kiper lawan. Semua itu dibantu dengan umpan panjang akurat dari Leandro Trossard (versus Bilbao) dan Eberechi Eze (versus City).

Penempatan posisinya menarik diamati. Martinelli melakukan pergerakan di area sentral, mengisi posisi penyerang tengah, dalam situasi gol ke gawang Bilbao. Di laga versus City, pergerakannya nyaris serupa. Dia mengisi area sayap kanan, lalu berlari menusuk ke area tengah pertahanan lawan. Kedua gol itu datang dari tusukan di area tengah.

Terlihat jelas, Martinelli nyaman beroperasi di area tengah dibandingkan di sayap. Dia bisa memaksimalkan kecepatan lari dan insting gol. Tidak seperti di sayap, pemain 24 tahun itu tidak berkembang karena sering ragu dalam duel satu versus satu. Dia lebih piawai melewati lawan dengan pergerakan tanpa bola daripada dengan bola.

Masalahnya, selama ini, Arteta selalu mengandalkan Martinelli sebagai pemain sayap di sisi kiri. Dia bertugas menjaga kelebaran di sisi sayap untuk memperluas ruang serangan Arsenal. Sang pemain pun jarang menusuk ke area sentral. Padahal, posisi aslinya saat didatangkan dari Brasil pada 2019 adalah penyerang tengah.

Martinelli bukan penyerang murni atau ”nomor 9” seperti Viktor Gyokeres. Dia lebih mirip seperti penyerang bayangan yang cocok dalam formasi 4-4-2 atau berperan sebagai sayap tradisional yang sering berlari tanpa bola ke kotak penalti. Masalahnya, peran itu tidak cocok dalam skema Arteta yang mengutamakan kontrol permainan.

Peran tersebut lebih cocok ketika tim berada di mode menyerang penuh atau sedang sangat butuh gol, seperti di paruh kedua versus Bilbao dan City. Menurut mantan penyerang Arsenal, Theo Walcott, Martinelli bisa sangat berguna pada musim ini. Akan tetapi, dia harus menerima peran apa pun, termasuk menjadi supersub.

TOPSHOT - Arsenal's Brazilian midfielder #11 Gabriel Martinelli (2R) chips the ball into the City net for their late equalizer during the English Premier League football match between Arsenal and Manchester City at the Emirates Stadium in London on September 21, 2025. (Photo by Glyn KIRK / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

”Anda bisa kecewa atau Anda bisa merenung dan berpikir: ’bagaimana saya bisa memberikan pengaruh dalam situasi ini?’ Tahun ini, dia harus menerima bahwa dia akan keluar masuk tim (inti), tetapi dia jelas menunjukkan cara yang benar sejauh ini karena dia sosok pekerja keras dan gigih,” kata Walcott di BBC Sport.

Banyak pemain Arsenal yang diwawancara soal pemain paling cepat di dalam tim itu. Jawabannya selalu Martinelli. Keunggulan itu pastinya bisa semakin bersinar ketika Martinelli masuk pada babak kedua. Kakinya yang masih segar akan menghukum pemain lawan yang sudah kelelahan, seperti terjadi di dua laga terakhir.

Beruntung, Martinelli tidak menunjukkan ego besar sampai sejauh ini. Dia tidak keberatan diturunkan sebagai pemain mula ataupun pengganti. Sang pemain menyadari, kompetisi di skuad Arsenal saat ini sangat sengit. Hal itu khususnya di lini serang yang kedatangan banyak bintang, seperti Eze dan Noni Madueke.

Menurut Martinelli, tugasnya hanya fokus di lapangan. ”Tentu saja, saya tidak ingin berada di bangku cadangan. Saya ingin bermain 90 menit, tetapi saya menyerahkan itu kepada manajer. Dia tahu apa yang dia lakukan. Saya hanya akan melakukan yang terbaik untuk membantu klub ini,” ucap pemain bernomor punggung 11 itu.

Saat ini, semua hanya masalah perspektif. Martinelli bisa menjadi pemain starter yang biasa-biasa saja atau menjadi sosok pemain pengganti yang super. Di sejarah sepak bola, sudah banyak pemain yang seperti memang dilahirkan untuk menjadi supersub, salah satunya adalah mantan penyerang Arsenal, Nwankwo Kanu. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari