Evolusi Hibrida Ryan Gravenberch, Visi Slot dan Klopp

Evolusi peran Gravenberch menggabungkan visi Slot dan Klopp. Lewat peran baru itu, Gravenberch menginspirasi kemenangan Liverpool atas Everton di derbi Merseyside.

21 Sep 2025 04:53 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa

LIVERPOOL, SABTU — Derbi Merseyside menyajikan dua hal menarik dari Liverpool. Walaupun masih jauh dari performa terbaik dan selalu menang susah payah, ”Si Merah” meraih hasil optimal pada awal musim. Di balik itu, terdapat peran baru dan krusial dari gelandang Ryan Gravenberch.

Lima laga berlalu, lima kemenangan untuk Liverpool di Liga Inggris. Tim asuhan pelatih Arne Slot itu kembali meraih tiga poin setelah menaklukkan Everton 2-1 di Stadion Anfield, Sabtu (20/9/2025). Seperti laga-laga sebelumnya, Liverpool harus berdebar-debar hingga detik terakhir.

Liverpool unggul dua gol lebih dulu pada paruh pertama lewat Gravenberch dan penyerang Hugo Ekitike. Namun, penyakit kambuhan mereka pada musim ini kembali muncul. Mereka kehilangan kontrol, lalu kecolongan seusai turun minum akibat gol gelandang tim tamu Idrissa Gueye.

Slot menjelaskan, permasalahan kali ini bukan manajemen laga ataupun kehilangan fokus, tetapi kelelahan. ”Kami bermain tiga laga dalam tujuh hari dan ini adalah laga derbi. Anda bisa melihat bagaimana kami begitu segar pada 45 menit pertama, tetapi semua jadi sulit di paruh kedua,” ujarnya.

Sang pelatih pun memuji mentalitas tangguh Mohamed Salah dan rekan-rekan yang mampu mempertahankan keunggulan. Berkat itu, Liverpool menyapu bersih lima laga awal Liga Inggris. Mereka tidak terusik di puncak klasemen dengan 15 poin walaupun masih jauh dari performa terbaik.

Di balik kemenangan atas tim tetangga, Gravenberch menjadi sorotan utama. Sang gelandang bertahan keluar sebagai pemain terbaik laga dengan sumbangan satu gol dan satu asis. Dia seolah mengambil peran kreator milik gelandang serang Florian Wirtz yang memulai laga dari bangku cadangan.

Everton's English midfielder #22 Kiernan Dewsbury-Hall (L) vies with Liverpool's Dutch midfielder #38 Ryan Gravenberch (R) during the English Premier League football match between Liverpool and Everton at Anfield in Liverpool, north west England on September 20, 2025. (Photo by Darren Staples / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Hal paling menarik dari Gravenberch bukan kontribusi gol, melainkan evolusi peran di lapangan. Pada tahun pertama Slot, musim lalu, pemain 23 tahun itu lebih banyak dibebankan tugas defensif. Dia berperan sebagai gelandang pivot atau ”nomor 6” yang tidak punya kebebasan bergerak.

Pemandangan berbeda tersaji dalam derbi. Di gol pembuka Liverpool, menit ke-10, Gravenberch masuk ke kotak penalti untuk memanfaatkan ruang dan umpan yang diciptakan oleh Salah. Posisinya berada jauh di atas Dominik Szoboszlai yang dimainkan sebagai gelandang serang dalam formasi 4-2-3-1.

Di gol kedua, Gravenberch memberikan asis setelah pergerakan dribel di sisi halfspace kanan. Posisinya kembali lebih tinggi dibandingkan Szoboszlai yang menggantikan Wirtz. Jika mengaplikasikan peran di musim lalu, Gravenberch seharusnya tidak maju agar bisa melindungi pemain belakang.

”Pelatihlah yang memberi saya kepercayaan diri. Musim ini kami memiliki lebih banyak kebebasan di lini tengah. Musim lalu saya hanya bermain di posisi enam, sangat dalam. Sekarang saya bisa bergerak lebih jauh ke depan, seperti yang Anda lihat. Kekuatan saya juga ada di sana,” kata Gravenberch.

Pertama kali didatangkan ke Liverpool, oleh manajer sebelumnya, Juergen Klopp, Gravenberch memang diplot sebagai gelandang ”nomor 8” yang lebih sering naik membantu serangan. Namun, dia kurang mampu menjalankan peran itu dengan baik. Slot mengubahnya jadi pivot.

Musim ini, Gravenberch seperti berada dalam percampuran visi dari Slot dan Klopp. Pemain tim nasional Belanda itu masih dipasang sebagai ”nomor 6”, tetapi dia bebas naik ke lini serang jika terdapat ruang untuk dieksploitasi. Alhasil, dia sudah mencetak dua gol dari empat pertandingan liga. Adapun Gravenberch tidak berhasil menyumbang gol dari 37 penampilan musim lalu.

Liverpool's Dutch midfielder #38 Ryan Gravenberch fights with Atletico Madrid's French defender #15 Clement Lenglet during the UEFA Champions League first round football match between Liverpool and Atletico Madrid at Anfield in Liverpool, north west England on September 17, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP)

Menariknya, penampilan cemerlang Gravenberch bukan hanya kebetulan karena tidak ada Wirtz. Dia sudah menunjukkan peran krusial di lini serang dalam beberapa laga sebelumnya, termasuk pertandingan babak grup Liga Champions versus Atletico Madrid pada tengah pekan lalu.

Gravenberch menginspirasi dua gol awal Liverpool. Gol pertama ”Si Merah” berasal dari tendangan bebas. Hadiah bola mati itu dihasilkan lewat pergerakan individu Gravenberch ke kotak penalti. Pola sama terulang di gol kedua. Bedanya, sentuhannya langsung tertuju ke Salah dan berujung gol.

Atribut terbaik Gravenberch di lini serang adalah kemampuan melewati lawan serta membaca ruang dan waktu. Dengan kaki jenjang dari tubuh 190 sentimeter, dia sangat mudah mengecoh lawan dengan sedikit perubahan gerakan. Dia juga paham kapan harus melakukan umpan atau dribel.

Menurut Slot, evolusi taktik sudah semestinya dilakukan setiap tim pada musim baru. Mereka harus menemukan formula baru agar tidak mudah dibaca. Apalagi, Liverpool datang dengan misi mempertahankan gelar juara. Mereka sudah pasti menjadi magnet utama dari seluruh tim pesaing.

Terlepas dari itu, Slot masih menekankan kewajiban utama Gravenberch untuk melindungi pertahanan. ”Saya enggan berkata (dia) bebas bergerak, tetapi dia punya momen-momen tertentu di saat bisa membantu serangan. Semua tergantung dengan cara tim lawan menekan. Dia punya sedikit lebih kebebasan bergerak dibandingkan musim lalu,” kata sang pelatih.

Di sisi lain, rekor buruk Everton di Anfield masih bertahan. Pelatih David Moyes juga masih belum mampu menang di markas Liverpool sepanjang kariernya. ”Kami sangat dekat (untuk mencuri poin), terutama dengan penampilan di paruh kedua. Tetapi kami memberikan terlalu banyak di paruh pertama,” ujarnya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari