Lambannya penjualan sepeda motor bukan hanya dihadapkan pada persoalan daya beli, melainkan juga adanya substitusi.
03 Mei 2025 06:00 WIB · Riset
Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan pasar sepeda motor terbesar di dunia. Meski penjualan sepeda motor cenderung melambat di awal 2025, populasi unitnya masih jauh melampaui jenis transportasi lain.
Menurunnya angka penjualan bukan semata soal daya beli yang melemah, tetapi juga mencerminkan dinamika baru dalam preferensi dan kebijakan transportasi nasional.
Indonesia tercatat sebagai pasar sepeda motor terbesar ketiga di dunia setelah China dan India. Pada 2024, jumlah penjualan sepeda motor di Indonesia mencapai 6,4 juta unit. Sementara di posisi teratas konsisten dikuasai oleh India dengan porsi 40 persen dari penjualan sepeda motor global di 2024.
Penjualan sepeda motor di pasar domestik Indonesia menunjukkan perlambatan pada Maret 2025. Padahal, bulan sebelumnya mencatatkan angka tertinggi sepanjang tahun dengan capaian 581 ribu unit berdasarkan laporan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI).
Pada Maret 2025, angka penjualan turun menjadi 542 ribu unit atau melemah sebesar 6,81 persen dibandingkan Februari.
Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, penjualan tersebut juga turun sebesar 7,2 persen dengan total unit terjual mencapai 584 ribu unit. Secara kumulatif, total penjualan sepeda motor sepanjang Januari hingga Maret 2025 mencapai 1,7 juta unit.
Meski melambat, Indonesia telah mengirimkan sebanyak 134.775 unit sepeda motor dalam bentuk completely built up (CBU), yaitu kendaraan utuh siap pakai di sepanjang 2025 ini.
Puncak ekspor CBU terjadi pada Maret dengan total 50 ribu unit. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan pasar luar negeri terhadap motor utuh dari Indonesia masih cukup tinggi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/29/c2d6a28a-12a0-43c6-b516-dcbfee86a268_JPG.jpg)
Selain CBU, Indonesia juga mengekspor motor dalam bentuk completely knocked down (CKD), yakni komponen motor yang akan dirakit di negara tujuan. Total ekspor CKD mencapai 2,1 juta unit selama 2025. Jumlah tertinggi tercatat pada Februari 2025 dengan pengiriman sebanyak 738 ribu unit.
Ekspor komponen sepeda motor Indonesia juga mencatat angka signifikan. Sepanjang 2025, sebanyak 32.305.403 unit komponen telah dikirim ke berbagai negara. Februari menjadi bulan tertinggi dalam kategori ini, dengan total ekspor mencapai 11,9 juta unit.
Sepeda motor pun masih menjadi moda transportasi utama bagi masyarakat untuk bepergian. Merujuk data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri pada 2024, populasi sepeda motor tercatat sebanyak 137,3 juta unit dengan persentase 83,6 persen dibandingkan moda transportasi lainnya.
Jika melihat populasi mobil penumpang sebanyak 20,1 juta pada tahun yang sama, maka perbandingannya tiap satu mobil terdapat tujuh sepeda motor di jalanan.
Data terbaru per April 2025 menunjukkan, Jawa Barat menjadi provinsi dengan populasi sepeda motor terbanyak, yakni 23,6 juta unit. Disusul kemudian oleh Jawa Timur (19,79 juta unit) dan Jawa Tengah (19,33 juta unit). Jika dibandingkan dengan populasi penduduk di tiap provinsinya, maka tiap dua orang setidaknya memiliki satu unit sepeda motor.
Memang, faktor utama yang sering disebut sebagai alasan melambatnya penjualan sepeda motor awal tahun ini ialah melemahnya daya beli masyarakat.
Namun dengan melihat deretan data di atas, secara proporsi pun sebenarnya populasi sepeda motor sudah terbilang cukup memenuhi kebutuhan tiap rumah tangga.
Penerapan pajak opsen turut memperlambat laju penjualan sepeda motor di Indonesia. Pajak ini dikenakan sebagai tambahan dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB). Akibatnya, total biaya pembelian motor meningkat signifikan di tangan konsumen.
Opsen membuat harga sepeda motor, khususnya unit baru, menjadi kurang terjangkau. Kenaikan beban biaya ini paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah sehingga masyarakat pun cenderung menunda membeli unit baru atau beralih ke ceruk sepeda motor bekas.
Peredaran sepeda motor listrik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari produk eksperimental, kendaraan ramah lingkungan ini sempat melonjak berkat subsidi pemerintah. Namun, awal 2025 membawa kejutan: pasar anjlok seketika saat insentif dihentikan.
Perjalanan motor listrik dimulai pada awal 2010-an. Saat itu, produk yang beredar masih berupa prototipe dari kampus dan startup lokal. Harga tinggi dan minimnya stasiun pengisian membuat masyarakat enggan beralih dari motor bensin.
Titik balik datang pada 2019 ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden No. 55 tentang percepatan kendaraan listrik. Dukungan ini memberi sinyal kuat kepada industri untuk mulai memproduksi secara massal. Gesits sebagai pionir lokal membuka jalan, disusul Viar, Selis, dan merek impor lainnya.
Apalagi, sepeda motor listrik ini menyasar ceruk pasar skuter matik (skutik) yang terus mendominasi dari tahun ke tahun. Misalnya data 2024, dari total penjualan sepeda motor domestik sebanyak 6,4 juta unit, skutik menyumbang 90,39 persen atau sekitar 5,72 juta unit.
Kepraktisan dan kemudahan penggunaan menjadi alasan utama popularitas skutik, terutama di kawasan urban dengan lalu lintas padat. Transmisi otomatis pada skutik memudahkan pengendara, termasuk pemula, dalam mengoperasikan kendaraan. Model seperti Honda Vario 160 dan Yamaha NMAX terus menjadi favorit konsumen.
Honda mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar dengan pangsa sebesar 78 persen dan total penjualan mencapai 4,9 juta unit sepanjang 2024.
Sementara itu, Yamaha NMAX juga menunjukkan performa penjualan yang kuat, dengan total penjualan mencapai lebih dari 3 juta unit sejak diluncurkan. Kedua model ini terus bersaing dalam menawarkan fitur-fitur terbaru dan desain yang menarik untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/02/62289948-d165-43a2-9cf6-814ae14e6e25_png.png)
Kembali pada perjalanan industri sepeda motor listrik, pandemi Covid-19 sempat menjadi hambatan di tengah bersiapnya berbagai pabrikan memasarkan produknya.
Penjualan motor listrik melemah karena daya beli masyarakat menurun. Namun, sektor logistik dan transportasi daring mulai mencoba menggunakan kendaraan listrik demi efisiensi biaya.
Baru pada 2022, perhatian publik terhadap motor listrik meningkat tajam. Pemerintah meluncurkan program subsidi pembelian sebesar Rp 7 juta per unit. Hasilnya terlihat pada 2024, penjualan motor listrik menembus 62.000 unit.
Program subsidi tersebut menjadi kunci pertumbuhan. Masyarakat berbondong-bondong membeli motor listrik yang lebih terjangkau. Pabrikan juga makin agresif memasarkan produknya, tapi Januari 2025 menjadi titik balik yang mengejutkan. Ketika subsidi dihentikan, penjualan motor listrik langsung turun drastis hingga 70 persen.
Industri pun kembali menghadapi tantangan berat dengan target penjualan yang tetap tinggi demi kembalinya investasi. Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) menargetkan penjualan 200.000 unit tahun ini. Pemerintah juga mendorong konversi motor bensin ke listrik sebagai alternatif transisi energi.
Prospek jangka panjang sepeda motor listrik tetap menjanjikan. Dengan populasi motor konvensional lebih dari 137 juta unit, potensi konversi sangat besar. Yang dibutuhkan adalah konsistensi kebijakan, harga kompetitif, dan layanan purna jual yang kuat.
Di saat industri sepeda motor konvensional dan sepeda motor listrik meracik strategi guna mendongkrak penjualan, industri sepeda listrik (e-bike) perlahan mengambil ceruk pasar tersebut. Pasar e-bike di Indonesia menunjukkan tren positif hingga kuartal pertama 2025.
Data terbaru mencatat penjualan mencapai sekitar 18 ribu hingga 22 ribu unit pada periode Januari hingga Maret 2025. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sekitar 35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap transportasi ramah lingkungan yang juga memengaruhi penghematan biaya.
Kenaikan harga bahan bakar turut mendorong adopsi e-bike sebagai alternatif kendaraan harian. Masyarakat di perkotaan dan perdesaan kini mulai melirik e-bike untuk mobilitas jarak pendek yang efisien.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/11/848f8725-ef04-4fac-bfcd-4a4b03cb7ff5_jpg.jpg)
Pengguna utama e-bike masih didominasi oleh kalangan pribadi seperti pelajar, pekerja, dan ibu rumah tangga. Namun, penggunaan komersial juga mulai berkembang untuk kebutuhan pengantaran jarak dekat di area urban. Misalnya di kawasan pariwisata seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo, pemanfaatan e-bike tercatat melonjak sebagai moda transportasi wisata.
Beberapa merek yang mendominasi pasar antara lain Selis, Uwinfly, serta Viar eBike. Pacific dan Polygon juga ikut bersaing melalui seri urban dan hybrid yang menyasar kalangan menengah ke atas. Persaingan antar-merek semakin ketat seiring meningkatnya permintaan pasar.
Segmen harga e-bike di Indonesia pun cukup bervariasi, mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 18 juta untuk konsumen umum. Sedangkan untuk model premium dengan fitur pedal assist dan baterai lithium berkapasitas besar bisa mencapai Rp 25–30 juta.
Rentang harga ini membuka peluang bagi berbagai segmen pasar untuk mengakses kendaraan listrik yang lebih ringan dibandingkan sepeda motor listrik.
Perlambatan penjualan sepeda motor baru mencerminkan perubahan peta kebutuhan dan preferensi transportasi masyarakat Indonesia.
Populasi motor yang sudah tinggi, beban pajak tambahan, serta ketidakpastian insentif membuat konsumen berpikir ulang sebelum membeli unit baru.
Dalam situasi ini, pasar kendaraan roda dua menghadapi tekanan dari berbagai sisi, yakni kondisi ekonomi, kebijakan baru, dan kesadaran ekologi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/02/4a0fa956-336c-47cc-827d-1229e0c21dfa_png.png)
Selain itu, sepeda motor listrik dan sepeda listrik muncul sebagai alternatif yang menjanjikan namun belum sepenuhnya stabil. Ketergantungan pada subsidi menunjukkan bahwa pasar kendaraan ramah lingkungan belum cukup matang untuk berdiri sendiri.
Dukungan berkelanjutan dari pemerintah dan penguatan ekosistem layanan menjadi kunci agar transisi energi tidak hanya bersifat musiman.
Ke depannya, masa depan transportasi roda dua akan ditentukan oleh kemampuan semua pihak, baik pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat sebagai konsumen dalam merespons perubahan zaman.
Mobilitas yang efisien, terjangkau, dan rendah emisi menjadi tuntutan baru masyarakat urban. Jika berhasil dikelola dengan tepat, transformasi ini bisa membuka babak baru dalam perjalanan moda transportasi roda dua Indonesia. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohanes Mega HendartoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari