Sebagian warga di Bandung mulai merasakan sulitnya mendapatkan harga terjangkau. Pemerintah mengklaim pasokan aman dan tidak terganggu.
29 Agt 2025 15:17 WIB · Ekonomi & Bisnis
Ditemani udara dingin dari mesin penyejuk ruangan, pembicaraan pelanggan dengan pelayan di salah satu pusat grosir di Bandung, Jawa Barat, itu menghangat, Jumat (29/8/2025). Temanya seputar stok beras murah yang langka.
”Beras yang harganya Rp 74.000 per 5 kilogram enggak ada lagi, ya?” tanya konsumen itu kepada seorang pelayan toko. Konsumen itu memberanikan diri bertanya setelah tidak menemukan beras yang biasa ia beli.
Siang itu, rak yang biasa penuh dengan stok beras beragam harga itu terlihat lengang. Beras Rp 74.000 per kemasan, misalnya, tidak tersedia. Di label harga tertempel stiker, ”stok belum tersedia”.
Hanya tersisa dua kemasan beras Rp 94.000 per kemasan. Sisanya, puluhan beras seharga Rp 120.000 per kemasan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/16/733f918c-d54f-49b7-a828-99335e68cccf_jpg.jpg)
”Iya Bu. Sudah sebulan belum ada lagi kiriman beras harga Rp 74.000 per kemasan. Belum tahu kapan akan datang lagi barangnya,” ujar pelayan menjawab pertanyaan itu.
Mendengar itu, konsumen itu tidak punya pilihan lain. Yakin harga beras di semua tempat pasti naik, ia lalu mengambil beras Rp 94.000 per kemasan.
”Wah, enak, ya, kalau dapat tunjangan beras seperti anggota DPR. Mau harga naik pun tidak masalah,” kata pelanggan itu dengan muka masam.
Hal itu merujuk pada kabar tunjangan beras sebesar Rp 12 juta per bulan yang diberikan bagi anggota DPR. Selain tunjangan kontrakan, tunjangan beras itu dipersoalkan warga dari banyak kalangan yang kini melakukan aksi turun ke jalan.
”Iya, benar sekali itu Bu,” kata pelayan itu bersemangat.
Keyakinan pelanggan itu bahwa harga beras juga melonjak di tempat lain di Bandung tidak keliru. Rahmat Kurnia (61), penjual beras di Pasar Kosambi, misalnya, membenarkan hal itu.
”Sekarang, stok beras dan pembelinya sama-sama sepi,” ujarnya, Jumat.
Pasar Kosambi menjadi salah satu acuan pemerintah daerah setempat menganalisis masalah inflasi. Hal itu biasanya terjadi karena melonjaknya harga barang pokok.
Mata sayu Rahmat saat menatap salah satu wadah beras yang kosong melompong memperlihatkan kelesuan itu. Biasanya, tempat itu digunakan Rahmat untuk menampung beras medium Rp 12.000 per kg.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/26/2fbb1dbd0b03c92c6f4ae4c951e0145c-IMG_20250726_123902.jpg)
Menurut Rahmat, beras dengan harga murah tak lagi mudah didapatkan. Sejak dua bulan terakhir, harga beras medium, khususnya di Pasar Kosambi, melonjak. Dari sekitar Rp 12.000 per kg menjadi Rp 14.000-Rp 15.000 per kg.
Harga beras premium juga meroket. Dari Rp 14.000-Rp 15.000 per kg menjadi Rp 16.000-Rp 18.000 per kg.
”Harga beras mahal-mahal. Sekarang, jual beras 20 kg per hari saja sudah bersyukur,” ujar Rahmat.
Selain mahal, stok beras yang dimiliki Rahmat semakin menipis. Untuk beras medium hanya tersisa 300 kg, sedangkan beras premium tersisa 1 ton.
”Janji pemerintah mengatasi harga beras belum kelihatan hingga kini. Setidaknya di Kota Bandung,” tuturnya.
Lima meter dari tempat Rahmat, kondisi yang sama dirasakan pedagang lain bernama Andri Thahir (36). Banyak pelanggannya yang mengurangi pembeliannya secara signifikan.
”Pelanggan saya kini hanya bisa membeli beras 5-10 kg, padahal dulu mereka membeli satu karung dengan berat 25 kg,” ucapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/12/742a6410437d4e948f96e91e075971c4-20250812_Opini_Sein_Kiri_Belok_Kanan_Harga_Beras_dan_Stok_Bulog.jpg)
Ade (45), warga Kelurahan Lengkong, Bandung, termasuk salah satu pelanggan Andri. Dia kini mampu membeli beras hanya 7 kg.
”Biasanya saya membeli satu karung beras. Kini hanya bisa membeli 7 kg. Beras sekarang sangat mahal,” ujarnya sambil menghela napas.
Nunung (53) juga sudah sebulan terakhir tidak membeli beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang biasa dijual Rp 60.000 per kemasan 5 kg. Dia sudah enggan mencari ke berbagai tempat demi mendapatkan beras itu. Dengan alasan lebih praktis, ia membeli beras Rp 70.000-Rp 80.000 per kemasan 5 kg.
”Lama-lama makan hati juga karena barangnya susah dicari. Sekarang biar hemat, saya hanya akan masak kalau nasinya sudah habis. Jangan sampai terbuang sayang,” katanya.
Kondisi ini berbeda dengan klaim pemerintah. Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengklaim stok beras untuk program SPHP melimpah. Stok beras yang saat ini ada dinilai masih cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir tahun.
”Untuk beras SPHP, saat ini ada 1,3 juta ton. Saat ini sudah 85.000 ton yang didistribusikan. Ketersediaannya cukup, sangat cukup,” kata Arief di Jawa Tengah, Kamis (28/8/2025).
Arief menjamin persediaan beras yang dimiliki pemerintah cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional sepanjang tahun. Sampai September, produksi beras nasional diperkirakan mencapai 28 juta ton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/14/9d3018cf-4550-48b3-a83c-d8833fb2714a_jpg.jpg)
”Kelebihannya masih ada 5 juta ton. Sepanjang tahun ini pun kita masih punya stok 3,9 juta ton. Jadi stok banyak,” ujarnya.
Menteri Pertanian A Amran Sulaiman di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis, juga mengatakan, operasi pasar yang dilakukan berhasil menekan harga
”Kami sudah minta operasi pasar besar-besaran dan ini terbesar karena kami turunkan beras 1,3 juta ton di seluruh Indonesia. Ini mungkin operasi pasar terbesar untuk menekan harga,” kata Amran.
Klaim data dan kenyataan yang dialami warga di lapangan mesti segera diatasi. Jika dibiarkan, hanya akan memicu kebingungan di tengah kondisi serba tidak pasti seperti sekarang. Bukan tidak mungkin, kondisi ini bakal memicu berbagai hal buruk di kemudian hari.
Penulis:
Cornelius Helmy Herlambang, Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nur Adji