Empat bulan jelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026, sejumlah atlet dipulangkan, pelatnas dibubarkan, uji coba batal. Atlet bahkan dalam ketidakpastian berangkat.
14 Mei 2026 13:07 WIB · Olahraga
KOMPAS/PRIYOMBODO
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 akan digelar dalam empat bulan mendatang atau mulai 19 September. Namun, dalam rentang waktu yang tidak lama itu, cabang olahraga kesulitan menggelar pemusatan latihan nasional untuk persiapan. Efisiensi anggaran dari pemerintah membayangi langkah mereka.
Kalau pemusatan latihan renang untuk Asian Games tetap berlangsung dan para atlet tidak tiba-tiba dipulangkan, Flairene Candrea membayangkan dirinya tengah berada di kolam di luar negeri untuk uji coba, minimal di Malaysia atau Singapura. Asian Games adalah ajang multicabang empat tahunan yang bergengsi. Maka, menurut Flairene, wajar jika persiapan dilakukan dengan matang, termasuk dengan sejumlah uji coba hingga ke luar negeri.
Terlebih, renang sudah lama paceklik gelar di Asian Games. Terakhir kali renang meraih medali, Flairene yang baru berusia 21 tahun itu bahkan belum lahir. Medali terakhir itu diraih pada Asian Games Beijing, China, 1990, lewat perunggu dari gaya bebas 100 meter putra, gaya dada 200 meter putra, dan estafet gaya bebas 4 x 100 meter putri.
Namun, hingga empat bulan jelang Asian Games, menguji hasil latihan di kompetisi luar negeri hanya menjadi bayangan Flairene. Setelah sebulan menjalani pelatnas sejak Maret, Flairene dan 11 atlet lainnya tiba-tiba diminta untuk segera meninggalkan hotel tempat menginap. Pelatnas bubar dengan alasan tidak ada dana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/13/c318338c68f448597d450c0c702724c6-FAK_5767.jpg)
”Jadi, dari dua hari sebelumnya dikasih tahu kalau Sabtu kami harus keluar Aryaduta (tempat menginap para atlet). Kami kayak enggak percaya karena rasanya dikeluarin secara tidak proper. Cuma, balik lagi sebagai atlet nasional, kami harus tetap semangat, tetap berlatih, sambil berharap pelatnas minimal bisa dimulai dulu,” ucap Flairene saat ditemui di kejuaraan Senayan Swim Series di Kolam Akuatik, Gelora Bung Karno, Senayan, Rabu (13/5/2026).
Alhasil, kompetisi dalam negeri seperti Senayan Swim Series yang diikuti bersama atlet nasional lain seperti Adelia Chantika kemudian mengisi kekosongan mereka. Meski kompetisi digelar di kolam 25 meter itu tergolong short course (jarak pendek), berbeda dengan kolam yang dipakai di multicabang seperti Asian Games yang panjangnya 50 meter, setidaknya atlet bisa menguji hasil latihan dan melihat detail-detail yang perlu dievaluasi.
Flairene dan Adelia mengatakan, total ada 12 atlet yang dipanggil untuk pelatnas pada Maret. Mereka sebagian besar adalah peraih medali di SEA Games. Itu termasuk I Gede Siman Sudartawa dan Joe Aditya yang menggagas Senayan Swim Series bersama Dwiki Anugrah dan Dennis Josua Tiwa.
”Kami awalnya memang berencana mengundang atlet pelatnas untuk nantinya bergabung, biar tidak bosan latihan juga. Eh, ternyata malah pelatnasnya tidak ada dan ini jadi wadah kompetisi,” kata Siman yang tidak tahu pasti apakah para atlet yang sebelumnya dipanggil akan tetap berangkat ke Asian Games atau tidak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/14/8ff08b7cbe5f498fbd44bf19cb68008f-IMG_4268.JPG)
Sementara pelatnas renang dibubarkan, pelatnas atletik masih bertahan meski terpaksa harus memulangkan sebagian atlet. Dalam daftar yang ditunjukkan pelari jarak jauh Odekta Elvina Naibaho, atlet yang dipertahankan hanya sembilan peraih medali emas dan satu peraih perak di SEA Games Thailand 2025.
Odekta juga bercerita, pemusatan latihan di luar negeri dan sejumlah uji coba batal diikuti. Padahal, selepas SEA Games Thailand 2025, Odekta sempat direncanakan melanjutkan pemusatan latihan di Kenya.
Wakil Sekretaris Umum Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) Singgih Widiyastono sempat mengamini ada kendala keuangan untuk membiayai program-program pelatnas. Hal itu tidak terlepas dari dana dari pemerintah yang belum turun.
Selama empat bulan terakhir, PB PASI membiayai pelatnas untuk Asian Games secara mandiri. Dana itu, salah satunya, berasal dari sponsor. ”Jadi, pada dasarnya memang Kemenpora mereviu dulu. Namun, kami percaya, baik kami maupun Kemenpora juga punya visi yang sama untuk sebisa mungkin mengejar ke Asian Games,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/14/5715277c44f8233a2df52b8b35bfa104-DSC02963.jpg)
Sementara di cabang angkat besi, pelatnas untuk Asian Games tetap berjalan. Namun, para atlet tidak mendapatkan kesempatan uji coba dengan ikut kompetisi sebelum Asian Games.
Hal itu diungkapkan peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Rizki Juniansyah. ”Seharusnya kami bulan ini berangkat ke India untuk Kejuaraan Asia. Namun, kami tidak berangkat karena mungkin keadaan sedang tidak baik-baik saja. Jadi, kami nanti akan fokus ke seleksi nasional sebelum Asian Games,” ujarnya.
Problem anggaran yang menjadi kendala cabang olahraga untuk persiapan Asian Games mengemuka dalam rapat anggota Komite Olimpiade Indonesia (KOI) 2026 yang digelar di Jakarta, Sabtu (9/5/2026). Dalam forum yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan olahraga ini, Ketua Umum KOI Raja Sapta Oktohari mengungkapkan, pihaknya mendapatkan masukan dan keluhan dari cabang olahraga terkait kebutuhan pendanaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/09/4627a3828dad1cfff278455e2730f98d-IMG_6770.JPG)
Okto, sapaan karib Raja Sapta Oktohari, menyampaikan, KOI pun telah mengambil langkah proaktif dengan membuka komunikasi bersama pemerintah. Selain menyampaikan langsung keluhan itu ke Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, di pembukaan rapat anggota, KOI juga meminta waktu audiensi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait kebijakan anggaran olahraga yang menjadi fondasi utama pembinaan prestasi.
Permintaan itu disampaikan lewat surat resmi pada awal pekan ini. Surat tersebut berisi permohonan audiensi bersama cabang olahraga guna membahas secara komprehensif kebutuhan dan karakteristik pembiayaan olahraga nasional.
”Kami saat ini menunggu kesempatan untuk berdiskusi secara langsung. Kami meyakini Bapak Menteri Keuangan akan membuka ruang dialog, terlebih mengingat pentingnya dukungan kebijakan terhadap prestasi olahraga nasional,” ujar Okto.
Okto menyampaikan, prestasi olahraga tidak bisa diraih lewat cara instan. Para atlet membutuhkan latihan yang berkualitas, uji tanding, serta program yang berkepanjangan. Untuk itu, proses yang panjang tersebut perlu mendapatkan dukungan agar hasil yang diraih pun maksimal.
Ia berharap, komitmen pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk memajukan olahraga Indonesia juga tecermin lewat kebijakan yang berpihak kepada atlet dan keberlangsungan pelatihannya.
”Nah, sekarang dalam proses itu, baik persiapan maupun keberangkatan, saya rasa perlu disampaikan kepada Bapak Presiden karena Presiden dengan semua kesibukannya pasti harus diingatkan kembali bahwa para atlet ini adalah anak-anaknya yang akan berjuang di Asian Games maupun di Olimpiade dan kegiatan-kegiatan yang lain,” ujar Okto.
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir tak memungkiri bahwa pihaknya mengefisiensi anggaran. Meski begitu, ia menekankan, pemerintah membuka ruang dialog dan terus menyerap aspirasi dari cabang olahraga terkait kebutuhan pendanaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/50894b31-58a4-4440-8fec-d1b60136de09_jpg.jpg)
Erick juga menegaskan, pengiriman kontingen ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak akan terganggu efisiensi. ”Untuk pengiriman ke Asian Games 2026 sudah aman,” kata Erick tanpa merinci lebih lanjut.
Meski begitu, Erick mengatakan, Kemenpora akan tetap mengajukan anggaran pelatnas jangka panjang ke Kementerian Keuangan.
”Ini sesuai dengan direktif Bapak Presiden untuk pelatnas jangka panjang karena Bapak Presiden menginginkan pelatnas itu ada beberapa periodik,” kata Erick.
”Ada yang buat jangka pendek, mungkin tahun ini ada yang namanya Asian Games. Ada yang jangka menengah itu SEA Games buat tahun depan, juga adaOlimpiade untuk tahun depannya lagi. Nah, ini yang sedang kami atur ulang dengan Kementerian Keuangan,” ucapnya.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar