Di KTT APEC 2025, Prabowo Mendorong Rasa Saling Percaya dan Kerja Sama Inklusif

Saling curiga dan ketegangan tak akan membawa kerja sama, justru malah perpecahan dan instabilitas. Aturan WTO juga perlu dipatuhi agar kerja sama ekonomi adil.

31 Okt 2025 14:19 WIB · Politik & Hukum

BPMI Sekretariat Presiden/Muchlis Jr

Oleh Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto mengajak negara-negara Asia Pasifik agar terus memperkuat rasa saling percaya dan menyingkirkan saling curiga. Hal ini menjadi modal kerja sama ekonomi inklusif yang mendorong kemakmuran bersama dan stabilitas.

Seruan ini disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada sesi pertama APEC Economic Leaders’ Meeting (AELM) yang digelar di Hwabaek International Convention Centre (HICO), Kota Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025). Hadir dalam KTT APEC tahun ini antara lain PM Selandia Baru Christopher Mark Luxon, PM Jepang Sanae Takaichi, PM Singapura Lawrence Wong, Presiden China Xi Jinping, Presiden AS Donald Trump, dan PM Kanada Mark Carney.

Berikutnya, PM Malaysia Anwar Ibrahim, PM Australia Anthony Albanese, Presiden Chili Gabriel Boric, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, Presiden Filipina Ferdinand Marcos, dan Direktur IMF Kristalina Georgieva. Selain itu, hadir pula Sheikh Khalid bin Mohammed Al Nahyan, anggota Konsil Tertinggi Abu Dhabi untuk Urusan Kuangan dan Ekonomi yang hadir sebagai tamu ekonomi di KTT APEC.

Presiden Prabowo mengingatkan bahwa meningkatnya kecurigaan dan ketegangan dapat mengancam stabilitas ekonomi global. Kendati demikian, Asia Pasifik tidak boleh menyerah pada perpecahan.

Quote

Indonesia berkomitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dengan WTO sebagai inti dan untuk memastikan bahwa setiap orang berkompetisi pada tingkat yang sama.

KTT APEC 2025 dimulai, Jumat (31/10/2025). Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung membuka acara ini dengan ajakan kerja sama, solidaritas, dan saling percaya.

”Kita bertemu hari ini di tengah ketidakpastian global. Ketegangan dan meningkatnya ketidakpercayaan membahayakan stabilitas ekonomi global dan memperparah perpecahan di antara kita. Namun, saya percaya bahwa Asia Pasifik tidak boleh menerima perpecahan sebagai takdirnya. Kita harus bangkit dari kecurigaan dan ketakutan, dan kita harus membangun kembali kepercayaan di antara kita sendiri dan di antara ekonomi global,” kata Prabowo.

Apalagi, menurut Prabowo, sejak awal APEC didirikan dengan semangat pertumbuhan ekonomi inklusif dan kerja sama multilateral. Oleh karena itu, memperbarui komitmen terhadap sistem perdagangan terbuka, adil, berbasis aturan internasional, dan inklusif menjadi sangat penting.

”Indonesia berkomitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan dengan WTO sebagai inti dan untuk memastikan bahwa setiap orang berkompetisi pada tingkat yang sama,” katanya.

Pertumbuhan ekonomi yang eksklusif, lanjut Prabowo, hanya akan menciptakan perpecahan dan instabilitas. Saat terjadi perpecahan dan ketidakstabilan, tak akan mungkin perdamaian dan kesejahteraan bisa terwujud. ”Oleh karena itu, inklusivitas seharusnya menjadi panduan kita,” kata Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo Subianto menyerukan rasa saling percaya dan kerja sama inklusif dalam KTT APEC 2025 di Kota Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025).

Inklusivitas dan keberlanjutan dinilai penting sebagai pedoman utama bagi ekonomi anggota APEC dalam membangun masa depan bersama.

Tak hanya itu, negara-negara anggota APEC juga diharap bekerja sama dalam mengatasi kejahatan lintas batas, seperti penyelundupan, pencucian uang, dan perdagangan narkotika, yang menghambat pertumbuhan ekonomi riil dan merusak masa depan kawasan.

”Marilah kita bekerja sama untuk terus membangun APEC dan mengupayakan kerja sama melalui multilateralisme guna memastikan APEC terus memberikan manfaat nyata,” kata Prabowo mengakhiri sambutannya.

KTT Ke-32 APEC kali ini mengusung tema ”Towards a More Connected, Resilient Region and Beyond”. Tema ini, menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, berkaitan dengan hubungan perdagangan, investasi, dan rantai pasok, serta inovasi termasuk transformasi digital, kecerdasan buatan (AI), serta kapasitas sumber daya manusia. Selain itu, didorong pula kemakmuran melalui netralitas karbon, ketahanan pangan, inklusi sosial, dan populasi yang menua.

”Posisi Indonesia adalah untuk mendorong digitalisasi inklusif dan UMKM. Kemudian terkait dengan AI, Indonesia mendorong human-centered AI. Human-centered AI itu artinya AI yang berbasis—dalam loop-nya itu—ada intervensi human,” kata Airlangga seusai menyambut kedatangan Presiden Prabowo di Gyeongju, Korea.

Presiden Prabowo Subianto didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya (kedua dari kanan di barisan depan) dan Menteri Luar Negeri Sugiono (kanan) bersiap mengikuti KTT APEC 2025 di Kota Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025).

Di tingkat global, lanjutnya, sedang dibahas kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence). ”Human intervention atau human-centered AI itu menjadi penting karena itu mendorong etik daripada AI itu sendiri,” ujar Airlangga.

Indonesia juga akan mendorong ketahanan pangan dan energi serta ekonomi kreatif sebagai motor pertumbuhan. Untuk mencapai kemakmuran bersama, Indonesia juga akan mendorong rasa saling percaya dan kerja sama konkret. Indonesia juga membuka investasi dari mitra-mitra strategis di kawasan APEC.

Pertumbuhan berganda

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sendiri menyambut para tamunya sembari mengenang kemajuan yang dicapai Korea Selatan sejak kehadiran APEC. ”Sejak APEC berdiri, PDB gabungan kami tumbuh lima kali lipat dan volume perdagangan kami sepuluh kali lipat. Di atas pertumbuhan kolektif yang kokoh ini, Korea juga bangkit menjadi kekuatan ekonomi terkemuka,” tuturnya.

Oleh karena itu, Presiden Lee juga berharap semangat APEC, yakni kerja sama, solidaritas, dan saling percaya, akan bersinar kembali. Sebab, semua negara akan harus mengatasi tantangan berat di tengah tatanan dunia saat ini.

”Sistem perdagangan bebas global sedang mengalami perubahan besar, ketidakpastian ekonomi semakin dalam, serta momentum perdagangan dan investasi melemah,” ujar Presiden Lee.

Presiden Prabowo Subianto berbincang dengan PM Jepang Sanae Takaichi di sela KTT APEC 2025 di Kota Gyeongju, Korea Selatan, Jumat (31/10/2025).

Di sisi lain, revolusi teknologi dengan kecerdasan buatan di atasnya menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang belum pernah ada sebelumnya. Kendati tidak mudah, Presiden Lee meyakini APEC akan mampu mengatasi krisis ini dengan baik. ”Kerja sama dan solidaritas tetap menjadi jalan teraman kita menuju masa depan yang lebih baik,” tambahnya.

Kendati kepentingan nasional setiap negara tidak selalu seiring, lanjut Presiden Lee, semua negara APEC bisa bersatu dalam tujuan bersama, yakni kemakmuran bersama. Oleh karena itu, tema KTT APEC tahun ini adalah koneksi, inovasi, dan kemakmuran untuk masa depan yang berkelanjutan. Tema ini berdasarkan semangat ”Visi Putrajaya 2040” yang diadopsi lima tahun lalu.

Presiden Lee juga menyebutkan semua pemimpin negara kali ini berkumpul di Hwabaek International Convention Center (HICO) yang dinamai berdasarkan nama Dewan Hwabaek, dewan kuno di masa Kerajaan Silla. Dewan ini adalah tempat para pemimpin berkumpul untuk membahas berbagai masalah penting nasional.

”Semangat ’Hwabaek’ tidak menuntut kebulatan pikiran, tetapi mengupayakan harmoni melalui beragam suara, menciptakan simfoni gagasan yang mengarah pada keseimbangan dan koeksistensi,” kata Presiden Lee.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nina Susilo
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari