Presiden Prabowo Hadiri KTT APEC 2025

Presiden Prabowo Subianto diminta untuk memperkuat diplomasi ekonomi dengan agenda yang konkret.

30 Okt 2025 21:15 WIB · Politik & Hukum

AFP/JUNG YEON-JE

Oleh Kurnia Yunita Rahayu

JAKARTA, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Korea Selatan untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau KTT APEC 2025. Presiden dijadwalkan untuk menghadiri acara yang mempertemukan 21 kepala negara anggota APEC serta mengadakan pertemuan bilateral dengan sejumlah kepala negara sahabat.

Presiden Prabowo Subianto bertolak dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (30/10/2025) siang, menuju Korea Selatan (Korsel). Presiden diantar oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan sejumlah pejabat. Mereka adalah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) M Herindra, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital sekaligus Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo.

Pesawat Garuda Indonesia-1 yang membawa Presiden Prabowo beserta rombongan mendarat di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Korea Selatan, pukul 22.20 waktu setempat.

Presiden Prabowo Subianto saat tiba di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Korea Selatan, pukul 22.20 waktu setempat, Kamis (30/10/2025).

Ketibaan Presiden disambut oleh Menteri Defense Acquisition Program Administration Republik Korea, Mayjen (Purn) Seok Jong Gun, Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Wakil Wali Kota Gyeongju Song Ho-Jun, serta Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Korea Cecep Herawan. Presiden yang dalam kunjungan kali ini didampingi pula oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, kemudian berjalan melewati pasukan jajar kehormatan.

Rangkaian KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korsel, dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2025. Acara dimaksud terdiri dari pertemuan dengan 21 kepala negara anggota APEC pada Jumat siang waktu setempat dilanjut dengan mengikuti jamuan makan malam. Selain itu, Presiden bakal mengadakan pertemuan bilateral dengan sejumlah kepala negara.

Melalui keterangan tertulis pihak Istana, rangkaian konferensi diagendakan untuk menghadirkan para pemimpin ekonomi anggota APEC untuk membahas arah kebijakan strategis di kawasan Asia-Pasifik.

Presiden Prabowo Subianto saat melintasi pasukan jajar kehormatan setelah tiba di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Korea Selatan, pukul 22.20 waktu setempat, Kamis (30/10/2025).

Di bawah keketuaan Republik Korea, KTT APEC tahun ini mengusung tema “Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, Prosper” yang mencerminkan komitmen bersama anggota APEC untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Sebagai bagian dari pelaksanaan visi tersebut, KTT APEC 2025 menekankan tiga prioritas utama yakni terhubung, berinovasi, dan sejahtera. Melalui prioritas ini, pembahasan akan berfokus pada fasilitasi perdagangan dan investasi, people-to-people connection, transisi digital dan ekonomi berkelanjutan, penguatan UMKM dan kelompok rentan, serta perubahan demografi.

Dalam pertemuan tingkat pemimpin ekonomi atau APEC Economic Leaders Meeting (AELM), Presiden Prabowo dijadwalkan akan berbicara mengenai penguatan kerja sama ekonomi di Kawasan. Kehadiran Presiden Prabowo dalam KTT APEC 2025 memiliki arti strategis mengingat APEC mencakup sekitar 60 persen PDB dunia dan 36 persen populasi global.

Partisipasi aktif Indonesia di APEC menjadi kesempatan untuk berkontribusi dalam membangun masa depan kawasan yang berkelanjutan dan berimbang. Indonesia juga memiliki peran dalam menjembatani kepentingan antaranggota, serta memastikan hasil kerja sama APEC berdampak langsung bagi masyarakat, pelaku usaha, dan dunia kerja.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri upacara kedatangan di Museum Nasional Gyeongju, Gyeongju., Korsel, Rabu (29/10/2025)

Sebelum KTT APEC 2025 digelar, sejumlah kepala negara anggota APEC sudah tiba di Korsel dan mengadakan pertemuan bilateral. Salah satunya Presiden Korsel Lee Jae Myung yang bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Museum Nasional Gyeongju, Rabu (29/10/2025). Keduanya membahas soal modernisasi aliansi, keamanan regional, perdagangan, dan Korea Utara.

Pertemuan bilateral juga terjadi antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Busan, Korsel, Kamis siang waktu setempat. Pembicaraan dua pemimpin ekonomi terbesar di dunia ini diharapkan banyak pihak bisa menentukan nasib perang dagang AS-China serta menstabilkan hubungan setelah ketegangan akibat perang dagang berkepanjangan. Akan tetapi, hasil pertemuan tersebut belum jelas. Setelah pertemuan itu, Trump dijadwalkan langsung kembali ke Washington DC, AS, sedangkan Xi akan mengikuti KTT APEC 2025.

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif PARA Syndicate Virdika Rizky Utama melihat bahwa kehadiran Presiden Prabowo di KTT APEC 2025 lebih sarat dengan muatan pembangunan citra ketimbang substansi diplomasi ekonomi. Sebab, sejak lama APEC sudah kehilangan daya tawar. Perang tarif antara AS dan China juga mengakibatkan forum semakin terfragmentasi. Bahkan, KTT APEC terakhir yang digelar di Papua Niugini pada 2018 tidak menghasilkan konsensus di antara seluruh anggota APEC.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di Markas Besar PBB, New York, Selasa (23/9/2025) waktu setempat.

Menurut Virdika, belum ada agenda ekonomi konkret yang dibawa oleh Prabowo untuk mengikuti KTT APEC 2025. Oleh karena itu, kehadiran Indonesia di forum tersebut cenderung tidak terlihat sebagai bagian dari strategi ekonomi, tetapi bagian dari proyek personal Prabowo untuk tampil sebagai pemimpin global. Kecenderungan yang sama diperlihatkan Presiden saat mengikuti Sidang Majelis Umum PBB, mengikuti KTT BRICS, dan sejumlah agenda diplomatik lainnya.

Padahal, forum KTT APEC semestinya digunakan untuk memperkuat diplomasi ekonomi dengan arah ekonomi yang konkret. Di tengah krisis pangan, stagnasi industri, dan ketimpangan digital, Indonesia perlu menunjukkan posisi yang tegas soal rantai pasok, transisi energi, dan kedaulatan teknologi. ”Di tengah konteks itu, Presiden Prabowo lebih sering bicara soal perdamaian global daripada desain ulang ekonomi nasional, ini keterputusan yang serius,” kata Virdika.

Ia mengingatkan, diplomasi ekonomi bukan sekadar hadir di forum, melainkan persoalan daya tawar Indonesia. Selama tidak memiliki posisi tegas soal tarif, ekonomi hijau, dan kedaulatan digital, Indonesia hanya akan menjadi penonton di forum-forum internasional. Berbagai gestur yang ditampilkan tanpa substansi yang dikedepankan disebut bukan diplomasi, melainkan propaganda.

”Kehadiran Presiden Prabowo di KTT APEC itu penting secara simbolik, tetapi kalau tidak diiringi dengan agenda ekonomi yang progresif dan berpihak, itu hanya akan jadi parade kekuasaan,” ujar Virdika.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra