Xi Jinping menyitir ucapan presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, yang bisa menjerumuskan kembali dunia ke perang dagang.
16 Nov 2024 09:31 WIB · Internasional
PERU, SABTU — Presiden China Xi Jinping memperingatkan dunia mengenai bahaya proteksionisme ekonomi. Dunia bisa kembali menghadapi perang dagang yang kontraproduktif terhadap kesejahteraan bersama.
Pidato itu disampaikan oleh Xi pada Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Lima, Peru, Jumat (15/11/2024) waktu setempat atau Sabtu (16/11/2024) dini hari WIB. Seperti dilansir kantor berita Pemerintah China, Xinhua, Xi mengkhawatirkan menguatnya sentimen proteksionisme dan unilateralisme.
Menurut Xi, ada bahaya fragmentasi perekonomian global. Pidato itu ia sampaikan di hadapan para pemimpin korporasi yang mengikuti acara pertemuan di sela-sela KTT APEC.
Pertemuan APEC kali ini adalah yang terakhir dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Pada akhir Januari 2025, Biden akan digantikan oleh presiden terpilih, Donald Trump.
Trump juga pernah menjadi kepala negara AS periode 2017-2021. Ketika itu, ia melakukan proteksionisme dan menerapkan tarif ke semua produk impor. Walhasil, terjadi perang dagang AS-China.
Selama kampanye, Trump mengatakan niatnya meningkatkan tarif impor produk China menjadi 60 persen. Selain itu, ia juga berencana memberlakukan tarif 10-20 persen pada produk-produk global yang masuk ke AS.
Hal ini dipuji oleh pendukungnya karena dianggap mengutamakan AS. Akan tetapi, banyak pula ekonom yang khawatir. Alasannya, jika tarif impor naik, rantai pasok terganggu dan harga barang di dalam negeri AS ikut naik. Selain itu, negara-negara lain juga bisa membalas dengan menaikkan tarif atas produk-produk AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/5be08b2b2d8b488f09a7a88150a69f0e-000_36MK46A.jpg)
Dunia menunggu tindakan Trump. Ia dulu membawa AS keluar dari Perjanjian Paris yang mengamanatkan penurunan emisi guna menanggulangi pemanasan global. Ketika berkampanye, Trump mengulang lagi janji meningkatkan industri dan pemakaian bahan bakar minyak.
KTT Iklim atau COP29 di Azerbaijan juga dibayangi ketidakpastian, apakah AS mau berkomitmen pada mitigasi perubahan iklim.
Presiden Peru Dina Boluarte selaku tuan rumah mengajak para anggota APEC meningkatkan kerja sama. ”Kita menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian dan yang kita butuhkan adalah kerja sama serta saling pengertian. Kita tidak butuh perpecahan,” katanya.
Menurut Boluarte, tujuan APEC ialah memberi kesempatan yang setara kepada semua. Harus ada inklusivitas di dalam mengakses pasar, teknologi, dan segala peralatan yang diperlukan dalam memajukan perekonomian dan pembangunan.
Pada hari Sabtu ini pula, Biden dan Xi dijadwalkan melakukan rapat bilateral. Biden sudah melakukan pertemuan dengan Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol dan Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba.
”Trilateral ini sangat membanggakan dan saya yakin pengaruh serta manfaatnya bertahan lama,” kata Biden memuji hubungan AS dengan Jepang dan Korsel.
Mereka berbicara mengenai perilaku Korea Utara yang mengancam kestabilan tidak hanya di Semenanjung Korea, tetapi juga di Asia Timur. Menurut Ishiba, Jepang antusias meneruskan kerja sama untuk menanggapi Korut serta di berbagai aspek lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/15/9e1c3fff472af74f1204ec171c90e023-000_36MJ8UR.jpg)
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga berpidato. Ia menekankan perhatian AS kepada berbagai kerja sama multilateral. Ia berjanji AS terus giat berhubungan dengan semua pihak di dunia. Menurut Blinken, capaian dunia diperoleh dengan kerja keras dan kemauan bekerja sama demi kesejahteraan semua pihak.
Ucapan ini dinilai pengamat untuk menenangkan dunia. Pasalnya, menlu pilihan Trump, Marco Rubio, adalah seorang konservatif. Ia memiliki pandangan keras terhadap China sehingga tidak diketahui sejauh mana kolaborasi pada periode kedua pemerintahan Trump bisa terjadi.
Sementara itu, Xi juga bertemu dengan Yoon. Xi mengatakan, pentingnya Korsel menjaga arus perdagangan bebas tetap lancar. Seoul dan Beijing harus menjamin agar rantai pasok tidak terganggu.
Beijing juga mengeluarkan aturan bahwa kini warga Korsel bisa bepergian ke China tanpa visa selama 15 hari. Ini dinilai untuk menyaingi trilateral Washington-Seoul-Tokyo.
Sementara itu, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengatakan, sejatinya tidak pernah ada pemerintahan AS yang mudah untuk diajak bekerja sama. Menengok kembali periode pertama Trump, AS ingin menghapus Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara.
”Kami akhirnya berunding dan sepakat mengganti namanya menjadi Perjanjian AS-Meksiko-Kanada dan perdagangan bebas terus berjalan,” ujar Trudeau. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra