Jika Kenya memiliki Kaptagat, Indonesia mempunyai Pangalengan. Setelah berproses tujuh tahun terakhir, ekosistem kampung pelari di Pangalengan sudah terbentuk.
28 Feb 2025 15:00 WIB · Olahraga
Segudang pertanyaan tertuju kepada pelatih atletik nasional, Agung Mulyawan, saat bermimpi menciptakan kampung pelari di Pangalengan. Saat ini, tujuh tahun berlalu, semua keraguan warga sekitar berbalik 180 derajat. Ekosistem sudah terbentuk, sementara calon atlet semakin menjamur.
“Dulu, anak-anak di sini masih ragu menjadi seorang atlet,” kata Agung yang merupakan pendiri Agung Mulyawan Track Club (AMTC). “Pas mau menggelar lomba, kami mencari peserta ke sekolah-sekolah. Ada yang nolak. Guru-guru dan pengurus juga jutek. Wajar masih baru,” lanjutnya.
Sikap tak acuh itu sama sekali tidak tercermin dalam lomba tahunan Pangalengan Track Race (PTR) yang digelar di Lapangan Babakan Tanara, pada Minggu (16/2/2025). Ratusan orang meramaikan acara, dari anak sekolah yang berlomba, guru yang menjadi pelatih, sampai orangtua yang menonton.
Itu motivasi saya. Kenapa orang luar berlari di sini, tetapi anak-anak Pangalengan tidak bisa menjadi pelari nasional.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/b665866eed64c10cd77ae8c4e32efbc3-IMG_20250216_080759.jpg)
Kepedulian terhadap atletik, khususnya lari, mulai menyala sejak AMTC hadir di Pangalengan pada 2018. Agung mendirikan klub untuk melahirkan pelari-pelari nasional dari wilayah sekitar. Selama ini, wilayah di dataran tinggi itu hanya dijadikan pusat pelatihan nasional untuk pelari jarak jauh.
Bagi pelari jarak jauh, berlatih di dataran tinggi bisa meningkatkan performa. Tubuh mereka dipaksa beradaptasi dengan kondisi oksigen lebih tipis. Itulah salah satu alasan mengapa daerah tinggi, seperti di Kaptagat (Kenya) dan Bekoji (Etiopia), bisa menghasilkan para juara dunia maraton.
Warga Pangalengan hanya sebatas menjadi saksi proses penciptaan pelari nasional sejak 1980-an, mulai dari Eduardus Nabunome, Agus Prayogo, hingga Robi Syianturi. “Itu motivasi saya. Kenapa orang luar berlari di sini, tetapi anak-anak Pangalengan tidak bisa menjadi pelari nasional,” ujar Agung.
Tentu tidak mudah memecah stigma warga sekitar. Atlet bukan pekerjaan yang menjanjikan. Biasanya setelah lulus sekolah, remaja putra di Pangalengan akan berkebun atau menjadi pekerja kasar. Sementara, remaja putri banyak yang langsung dinikahkan ketika sudah cukup umur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/04bcdf36044d8bd4255a0090742b2fbb-IMG_20250215_121711.jpg)
Suci Lestari (17), atlet nasional jalan cepat asal Pangalengan, contohnya. “Nggak pernah terbayangkan saya akan ada di titik ini. Sekarang pun masih seperti, ‘mimpi nggak sih saya ada di sini?’ Soalnya pas kecil memang tidak punya sosok untuk diikuti jejaknya,” katanya.
Suci merupakan atlet asli Pangalengan pertama yang menembus pelatnas atletik. Di AMTC, dia awalnya dilatih untuk menjadi pelari jarak menengah. Namun, seiring perkembangan, bakatnya ternyata lebih cocok untuk disiplin jalan cepat. Adapun Suci diumumkan masuk pelatnas pada Desember 2024.
Dari kisah Suci, terlihat jalur karier yang tepat bagi para pelari asal Pangalengan. Semua itu bisa terwujud karena ekosistem yang mulai terbentuk. Menurut Agung, salah satu aspek terpenting dalam pembentukan ekosistem tersebut adalah kompetisi reguler.
PTR, lomba khusus pelajar Pangalengan, digelar rutin setiap tahun sejak 2018. “Setelah kompetisi, peminat lari jadi makin banyak. Mereka jadi punya tujuan untuk latihan. Sengaja lomba dibuat khusus pelajar di sini, agar kans juara mereka juga lebih besar,” jelas Agung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/08/27/fa2bf729-6b4f-442c-947e-fb2ec6979db2.jpg)
Peminat lari melonjak drastis, terbukti di AMTC. Jumlah atlet yang semula kurang dari 10 orang ketika dibentuk, sudah menjadi 136 orang pada saat ini. Sebanyak 90 persen merupakan warga sekitar. Agung yang semula melatih seorang diri, sekarang sudah dibantu tujuh pelatih lain.
Pelatih-pelatih tersebut diambil dari mantan atlet AMTC. Anggota yang kurang potensial sebagai pelari diarahkan untuk mengambil kuliah di jurusan olahraga. Mereka juga dibekali pengetahuan oleh Agung yang sudah memiliki sertifikasi level 2 World Athletics.
Pihak sekolah turut menjembatani potensi murid. Kelompok kerja guru olahraga dari sekolah-sekolah di Pangalengan dibentuk. Para guru diberikan program oleh AMTC untuk melatih murid yang berminat. Hasilnya, program latihan bisa berjalan tanpa mengganggu pendidikan.
Guru SDN Pelita Utama, Heri Anggara (32), menilai, sepak bola bukan lagi jadi satu-satunya primadona. “Mungkin karena anak-anak melihat peluang jadi pelari. Sudah banyak pelari berprestasi dari Pangalengan. Ada wadahnya juga. Orangtua mereka banyak yang minta dititipkan ke AMTC,” ucapnya.
Pangalengan ini unik, berbeda dengan daerah lain. Secara ekonomi (masyarakat) berada di bawah, jadi mereka berlatih dengan penuh perjuangan. Jadi berlatih bukan kemauan kita, tetapi kemauan dia.
Keberhasilan AMTC sukses melecut ekosistem. Banyak mantan pelari yang kemudian tertarik membuka klub di Pangalengan. Sekarang, sudah ada lima klub di wilayah sekitar. Salah satunya didirikan pelari nasional yang pernah tampil di Olimpiade Atlanta 1996, yaitu Ethel Hudson.
Ethel mengatakan, potensi Pangalengan tuidak hanya dari letak geografis. “Pangalengan ini unik, berbeda dengan daerah lain. Secara ekonomi (masyarakat) berada di bawah, jadi mereka berlatih dengan penuh perjuangan. Jadi berlatih bukan kemauan kita, tetapi kemauan dia,” tuturnya.
Kondisi sosial itu sebenarnya nyaris mirip dengan yang terjadi di Kaptagat dan Bekoji. Warga lokal termotivasi menjadi pelari karena banyak kisah sukses para tetangga yang mampu mengubah nasib. Mereka ingin memperbaiki masa depan dari berlari.
Tentu tidak semua hal ideal tersaji di Pangalengan. Ada masalah serius yang membatasi potensi anak-anak sekitar, yaitu stunting. Rerata tinggi perempuan dewasa antara 140 - 145 sentimeter, sementara jarang ada pria dewasa yang melebihi 170 sentimeter. Tidak sedikit yang mengalami kelainan “kaki x”.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/5c56d36309a1021f590f535326997e84-IMG_20250216_075258.jpg)
Terlepas dari tantangan itu, semua akan baik-baik saja. Ketika punya tujuan besar yang berguna untuk banyak orang, hal-hal baik akan mengikuti. Agung sudah membuktikannya di Pangalengan. Angan-angan untuk mewujudkan kampung pelari sudah jadi kenyataan.
Hal baik terakhir yang bisa dirasakan tampak di Lapangan Babakan Tanara. Tribun yang semula rusak dan terbengkalai, sekarang sudah diperbaiki berkat dukungan pemilik lahan PT Perkebunan Nusantara. Tribun warna-warni itu diduduki oleh para murid dan orangtua yang hadir.
Para atlet kini tidak perlu takut berlatih ketika sedang hujan. Mereka punya tempat berteduh, begitu pun para penonton. “Bagaimana ibu-ibu, bagus tidak tribune yang baru? Nyaman tidak duduk di situ sekarang?” tanya Agung yang diikuti senyum dan anggukan dari para orangtua peserta lomba PTR.
Penulis:
Kelvin Hianusa, Nino Citra Anugrahanto, Pradipta Pandu MustikaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .