KECELAKAAN KAPAL

Di Surabaya, Keluarga Menunggu Informasi Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8

Warga berdatangan ke posko terpadu di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk mencari kabar mengenai keluarga mereka yang menjadi penumpang KM Virgo Transport 8.

13 Sep 2026 20:10 WIB · Nasional

Kompas/Bahana Patria Gupta

Oleh Ambrosius Harto

Pemerintah mendirikan Posko Terpadu Kecelakaan Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/9/2026).

Posko itu menjadi andalan bagi keluarga serta kerabat penumpang dan kru bahtera tersebut yang mengalami kecelakaan di Laut Jawa dekat Kalimantan Selatan pada Minggu pagi. Hingga pukul 19.00 WIB, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 107 orang dalam kondisi selamat dan 6 orang dalam kondisi meninggal.

Berdasarkan siaran tertulis Kementerian Perhubungan, KMP Virgo Transport 8 dihadang cuaca buruk dalam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.

Cuaca buruk memicu kapal buatan Jepang pada 1987 itu listing atau miring ekstrem dan hilang kontak di Laut Jawa sekitar Kepulauan Masalembo. Selanjutnya, feri roll-on roll-off (roro) milik PT Virgo Karya Shipping ini terbalik di perairan Kalimantan Selatan.

Warga mencari kabar keluarganya di Posko Terpadu Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/9/2029).  Kapal berukuran 8.540 GT tujuan Surabaya-Banjarmasin yang dinakhodai Arief Yunianto ini dikabarkan listing dan hilang kontak pada Minggu sekitar pukul 02.00 WIB di di perairan Laut Jawa, Kalimantan Selatan.. Kapal sempat mengabarkan mengalami cuaca buruk di perairan yang berjarak sekitar 80 mil laut (sekitar 148 km) dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin. 
 
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH

Berdasarkan data manifes, kapal yang dinakhodai oleh Arief Yunianto itu membawa 243 orang dan 89 kendaraan bermotor. Sebanyak 243 orang itu terdiri dari 59 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak, 126 penumpang sopir dan kernet, 30 anggota kru, dan 27 mitra kerja.

Sementara kendaraan di kapal itu, antara lain, terdiri dari 22 truk sedang, 47 truk besar, dan 5 tronton bermuatan paket, sayur buah, peralatan, perlengkapan, hingga marmer.

Salah seorang keluarga penumpang, Fredy, mengaku datang ke posko di Pelabuhan Tanjung Perak sejak pukul 09.00 WIB bersama istri dan anak. Mereka bergegas ke posko untuk mencari tahu keberadaan sang adik bernama Stefyansyah, seorang kru musik yang merupakan bagian dari 27 mitra kerja di KMP Virgo Transport 8.

”Saya belum mendapat kabar bagaimana nasibnya. Apakah sudah dievakuasi atau masih dalam operasi SAR,” ujar Fredy, di posko, Minggu petang. Ia juga memantau perkembangan informasi dari media massa hingga media sosial mengenai operasi SAR terhadap kapal itu.

Kalangan keluarga dan kerabat melihat perkembangan informasi di papan Posko Terpadu Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/9/2029). KM Virgo Transport 8 kecelakaan di Laut Jawa dekat Kalimantan Selatan saat mengangkut 243 jiwa dan 89 kendaraan.

Hal senada diutarakan oleh warga lainnya, Sri Hartini. Menjelang tengah hari, ia dan suami datang ke posko untuk mengetahui kabar nasib adiknya yang merupakan sopir kendaraan ekspedisi. ”Tadi saya dari kantor adik lalu ke posko, adik saya sopir ekspedisi barang ke Banjarmasin, naik kapal itu yang kecelakaan,” katanya.

Sri menambahkan, sang adik adalah kerabat dekat satu-satunya. Orangtua mereka telah berpulang bertahun-tahun lalu. ”Tinggal adik saya keluarga dekat yang ada, semoga nasibnya baik,” ujarnya mencoba tabah.

Berdasarkan data posko di Surabaya, sebanyak 113 penumpang dievakuasi oleh beberapa kapal yang melintas di dekat lokasi kecelakaan KMP Virgo Transport 8.

Kapal MV Mauhauw IX mengevakuasi 15 korban selamat dan 1 korban meninggal dunia, KMP Cahaya Bahari Jaya mengevakuasi 22 penumpang, dan KMP Haida mengevakuasi 11 anggota kru Virgo Transport 8.

Warga menunggu kabar keluarganya di Posko Terpadu Kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/9/2029).  Kapal berukuran 8.540 GT tujuan Surabaya-Banjarmasin yang dinakhodai Arief Yunianto ini dikabarkan listing dan hilang kontak pada Minggu sekitar pukul 02.00 WIB di di perairan Laut Jawa, Kalimantan Selatan.. Kapal sempat mengabarkan mengalami cuaca buruk di perairan yang berjarak sekitar 80 mil laut (sekitar 148 km) dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin. 
 
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH

Menurut Sub-Regional Head Jawa PT Pelindo (Persero) Purwanto Wahyu Widodo, pihaknya menyiapkan operasionalisasi posko terpadu selama 24 jam. Posko itu digunakan untuk melayani keluarga dan kerabat penumpang yang memerlukan kepastian serta perkembangan informasi KMP Virgo Transport 8.

”Fokus kami mendukung posko ini demi kemanusiaan agar proses pendataan korban dan koordinasi dengan keluarga berjalan lancar,” kata Purwanto.

Pelindo terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Tim SAR, serta Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Banjarmasin demi informasi yang akurat dan terbarukan.

Di Gapura Surya Nusantara, posko yang didirikan mencakup petugas Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Perak, Disaster Victim Identification Polda Jatim, Kantor SAR Surabaya, dan PT Virgo Karya Shipping.

AISITS

Sementara itu, pengajar sistem perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Dhimas Widhi Handani, mengatakan, kecelakaan KM Virgo Transport 8 terekam dalam Automatic Identification System of ITS (AISITS).

Sesuai data dari remote base station (RBS) dan peladen AISITS, KMP Virgo Transport 8 bertolak dari Surabaya pada Sabtu (12/9/2026) pukul 10.00 WIB. Kapal bergerak dengan kecepatan 0,3-3,5 knot di perairan dermaga sampai Alur Pelayaran Barat Surabaya.

Quote

Tinggal adik saya keluarga dekat yang ada, semoga nasibnya baik.

Laju kapal meningkat selepas APBS menjadi 12-14 knot melalui Selat Madura, lalu Laut Jawa. Bahtera ini bergerak ke timur laut tujuan Banjarmasin. Alat mencatat sinyal terakhir kapal pada pukul 22.33 WIB dalam kecepatan 12,9 knot di Laut Jawa dekat Kepulauan Masalembo di selatan Kalimantan Selatan.

”Setelahnya, data pergerakan kapal berhenti masuk ke sistem. Hilangnya data ini dapat terjadi karena kapal keluar dari jangkauan laporan AISITS. Selain itu, kemungkinan bahwa perangkat AIS transponder di kapal berhenti mengirimkan data,” ujar Dhimas yang juga Kepala Laboratorium Keandalan dan Keselamatan ITS.

Infografik-KM Virgo Transport 8

Dhimas mengatakan, data historis sistem ini krusial untuk mengidentifikasi kecelakaan di laut. Data pergerakan kapal dapat digunakan untuk mengetahui apakah kapal melanggar jalur atau terhenti di lokasi terlarang, misalnya pipa bawah laut dan offshore platform.

AISITS dibekali beragam fitur unggulan untuk mendukung keamanan maritim nasional, misalnya early warning system, ship tracking system, fuel oil monitoring, dan smart buoy monitoring. Sistem juga dilengkapi predictive maneuvering plan, informasi cuaca, dan peta kepadatan lalu lintas kapal atau heat maps.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati