Alih-alih perubahan pemerintahan, serangan AS ke Iran malah akan memicu perang saudara. AS tak punya rencana jelas soal Iran.
29 Jan 2026 17:30 WIB · Internasional
AP/SUEZ CANAL AUTHORITY
TEHERAN, KAMIS — Amerika Serikat dan Iran tetap membuka ruang diplomasi di tengah ancaman serangan dari Presiden Donald Trump. Militer Iran menilai ancaman itu untuk menakut-nakuti. Alih-alih perubahan pemerintahan, serangan ke Iran malah akan memicu perang saudara.
Media Iran, Tasnim, pada Kamis (29/1/2026) mengumumkan komunikasi tak langsung antara AS dan Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan, pesan dikirimkan melalui perantara.
”Kalau Washington mau berbicara, pertama-tama harus menghentikan ancaman,” katanya.
Ia tak menjelaskan isi pembicaraan. Beberapa tahun terakhir, AS-Iran berkomunikasi secara tak langsung lewat perantara. Qatar dan Oman pernah menjalankan peran itu.
Pada Rabu, Trump akhirnya mengumumkan armada AS bergerak mendekati Iran. Kalau Iran tak mau berunding, AS akan melancarkan serangan lebih besar dari Operasi Godam Tengah Malam. Operasi pada Juni 2025 itu berupa pengeboman ke sejumlah lokasi di Iran.
Teheran membalas dengan serangan simbolis ke Pangkalan Al-Udeid di Qatar. Iran juga menghujani Israel dengan rudal dan pesawat nirawak berpeledak.
Sementara itu, sejak dua pekan lalu telah tersiar kabar AS terus menambah kapal perang dan pesawat tempur mendekati Iran. Kapal Induk USS Abraham Lincoln kini telah berada di Laut Arab dengan didampingi tiga kapal perusak berpeluncur rudal. Selain itu, ada tiga kapal tempur pesisir di sekitar Laut Arab.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/05/19/c259edd3-d2a5-4e98-99e1-da839b02b272.jpg)
Gugus tempur didampingi Wing Udara 9. Satuan itu terdiri dari skuadron F-35, F-18, F-15 untuk perangkat serang. Ada juga angkutan taktis CMV-22B Osprey serta beberapa jenis helikopter. Satuan dilengkapi pula sejumlah pesawat intai dan serangan elektronik.
AS mengerahkan kapal logistik ke sekitar gugus tempur laut. Selain itu, ada kapal penjaga pantai AS di sekitar Laut Arab dan Teluk Persia.
Di Timur Tengah, AS telah menyiagakan 37 unit F-15E dan 24 unit A-10 Warthog di Jordania. Sejumlah jet F-16 disiagakan di beberapa lokasi lain. AS punya pangkalan di sekitar Teluk Persia sampai ke Jordania.
Di kapal-kapal permukaan dan kapal selam dari Teluk Persia sampai Laut Mediterania, AS memiliki total 1.018 tabung peluncur rudal yang dapat menjangkau Iran. Untuk Tomahawk, tersedia sedikitnya 450 rudal. Setiap rudal berharga antara 1,4 juta sampai 2 juta dolar AS.
Juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC) Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan, AS sedang menebarkan kekerasan dan ketakutan di antara rakyat Iran. Ancaman Trump dan pejabat lain di AS disebutnya perang psikologis. ”Taktik lama intimasi dan diplomasi paksaan,” ujarnya.
AS, lanjut Naeini, baru saja gagal menghasut rakyat Iran menggulingkan pemerintahan. Oleh karena itu, AS berusaha menebarkan ketakutan lebih lanjut.
Ancaman dan perwujudan ancaman adalah dua hal yang berbeda. Palagan perang Iran akan sangat berbeda dari yang bisa digambarkan AS dan sekutunya.
Pakar Iran pada Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Danny Citrinowicz, mengatakan, strategi AS pada Iran punya banyak masalah. Serangan udara, seperti pada Juni 2025, tak akan menghasilkan perubahan pemerintahan di Iran. ”Apa sebenarnya tujuan strategis yang ingin dicapai dalam konfrontasi dengan Iran?” kata mantan Kepala Bagian Iran pada Divisi Riset Intelijen Militer (Aman) Israel itu.
Mengacu pada pernyataan Menlu AS Marco Rubio, Citrinowicz menyebut bahwa Washington menyadari satu hal pokok. ”Pembunuhan Pemimpin Tertinggi (Ayatollah) Ali Khamenei tidak akan menghasilkan perubahan rezim yang sebenarnya,” ujarnya.
Kalau AS benar-benar punya solusi menentukan, menurut dia, pasti sudah dilakukan. Sayangnya, pemimpin AS sadar tak ada oposisi yang layak dan mampu mengendalikan Iran jika ada perubahan pemerintahan sekarang. Oposisi juga akan kesulitan berkoordinasi bila pemerintah kembali memutus internet.
Bahkan, sampai sekarang Trump tak kunjung bertemu Reza Pahlavi yang selalu menyatakan siap memimpin transisi pemerintahan di Iran. Sejauh ini, Pahlavi hanya bertemu Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff.
Citrinowicz juga menekankan, belajar dari unjuk rasa Desember 2025-Januari 2026, Pemerintah Iran tak akan ragu bertindak brutal lagi untuk mempertahankan kekuasaan. Kondisi itu akan semakin menyulitkan setiap calon oposisi bergerak di Iran. ”Setiap yang dianggap ancaman akan segera dihabisi,” katanya.
Menurut dia, alih-alih perubahan pemerintahan, serangan ke Iran hanya berkemungkinan menghasilkan dua hal. Pertama, berdasarkan pengalaman pada Juni 2025 dan waktu lain, serangan malah meningkatkan sentimen anti-asing dan dukungan terhadap pemerintah.
Kedua, belajar dari pengalaman kawasan, penggulingan pemerintah di Iran justru memicu perang saudara. Sebab, tak ada pihak yang bisa mengendalikan berbagai faksi di Iran. (AP/AFP)
Penulis:
Kris MadaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Nur Adji