Harga minyak dunia melonjak mencapai harga tertinggi selama empat tahun terakhir. Kondisi kian tidak menentu akibat gangguan suplai energi di Selat Hormuz.
30 Apr 2026 20:24 WIB · Internasional
AFP/Hussein FALEH
DUBAI, KAMIS — Harga minyak dunia sempat melonjak tajam hingga menembus level 126 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis (30/4/2026), sebelum akhirnya kembali turun. Lonjakan ini menjadi yang tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak terutama dipicu oleh peningkatan ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran akan kemungkinan eskalasi konflik membuat pelaku pasar bereaksi cepat dengan mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.
Seperti dilaporkan CNN, minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, sempat menyentuh 126,41 dolar AS per barel sebelum terkoreksi sekitar 1,5 persen ke kisaran 116 dolar AS. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) relatif stabil di sekitar 106 dolar AS per barel.
Koreksi harga setelah lonjakan tajam ini mencerminkan ketidakpastian pasar, yakni investor harus menimbang antara risiko geopolitik dan dinamika teknis perdagangan minyak. Salah satu faktor teknis yang berpengaruh adalah berakhirnya kontrak berjangka bulan Juni, yang menggeser volume perdagangan ke kontrak bulan berikutnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/24/3356d2d115392eeddf82207ed4005ebe-cropped_image.jpg)
Kenaikan harga minyak juga terjadi di tengah kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya diplomasi yang belum membuahkan hasil membuat jalur penting pengiriman energi, Selat Hormuz, tetap terganggu dan mempersempit pasokan global.
Kekhawatiran makin menguat lantaran Presiden AS Donald Trump menyatakan blokade atas pelabuhan Iran dapat dilakukan selama berbulan-bulan. Dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin perusahaan minyak, Trump mengatakan, blokade tersebut lebih efektif daripada mengebom Iran.
Komando Tengah AS (Centcom) pada Rabu lalu menyatakan, mereka berhasil memberi tekanan signifikan terhadap Teheran. Centcom mengatakan, mereka berhasil ”menahan” 41 tanker yang mengangkut 69 juta barel minyak asal Iran. Nilai komoditas itu mencapai lebih dari 6 miliar dolar AS.
Kepada Axios, Trump mengatakan blokade tersebut membuat Iran tercekik. ”Dan blokade itu akan berdampak lebih buruk bagi mereka,” kata Trump.
Langkah AS tersebut berpotensi memperpanjang gangguan pasokan energi global dan menjaga harga tetap tinggi dalam jangka menengah. Di sisi lain, Iran memberikan sinyal akan merespons jika tekanan tersebut berlanjut. Ancaman balasan dari Iran semakin memperkuat ketidakpastian dan membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap perkembangan situasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/30/2d3c121ad3188d7947dfc1699f7c822a-IRAN_US_ISRAEL_WAR_137834698.jpg)
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam pernyataan tertulis yang disiarkan televisi nasional Iran mengatakan, Iran memegang kendali atas krisis di Selat Hormuz. ”Hari ini, dua bulan setelah pengerahan militer dan agresi terbesar oleh para perundung di kawasan ini, dan kekalahan memalukan Amerika Serikat, babak baru sedang berlangsung di Teluk Persia dan Selat Hormuz,” kata Mojtaba.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, blokade AS atas pelabuhan Iran akan menjadi gangguan bagi stabilitas di Teluk Persia. Menurut dia, blokade itu bertentangan dengan hukum internasional. ”Oleh karena itu, pasti akan gagal,” kata Pezeshkian.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini berdampak langsung pada arus pasokan energi global.
Situasi tersebut diperparah oleh penurunan drastis jumlah tanker yang melintasi selat tersebut sejak konflik memanas. Aktivitas pengiriman minyak yang biasanya padat kini menyusut signifikan, menambah tekanan pada pasar energi.
Selain faktor pasokan fisik, sentimen pasar juga dipengaruhi laporan mengenai kemungkinan aksi militer lanjutan. Laporan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengganggu infrastruktur energi di kawasan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/22/164706d8a876d23341d33d64fdb01de0-20260422_ADI_Lalulintas_Selat_Hormuz_mumed.png)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/30/1577e7c3bb332f8503428cb88af15970-US_ENERGY_OIL_137870343.jpg)
Lonjakan harga minyak juga mulai berdampak pada harga bahan bakar di tingkat konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata telah mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, mencerminkan efek langsung dari kenaikan harga minyak mentah.
Dilaporkan BBC, di Inggris, harga bensin saat ini rata-rata 157p atau 1,57 pound sterling per liter. Harga ini lebih tinggi 0,24 pound sterling ketimbang sebelum perang AS-Iran dimulai. Harga solar 88,5p (1,89 pound sterling) per liter, naik 0,46 pound sterling dibandingkan dengan harga sebelum perang.
Kepala Kebijakan Asosiasi Motor Kerajaan (RAC) Simon Williams mengatakan, ”Analisis kami tentang biaya grosir menunjukkan bahwa harga bensin sekarang lebih mahal bagi pengecer daripada kapan pun sejak perang dimulai.”
”Pasar bensin cenderung meningkat pada musim semi karena orang-orang di AS mulai lebih banyak mengemudi, sedangkan harga solar sering kali turun karena penggunaan minyak pemanas di Eropa Barat berkurang seiring dengan peningkatan suhu,” tambahnya
Namun, dampak potensialnya lebih luas daripada sekadar harga bahan bakar. Pemerintah Inggris memperingatkan bahwa masyarakat dapat menghadapi kenaikan harga energi, makanan, dan tiket pesawat sebagai akibat dari perang.
Beberapa maskapai penerbangan pun telah mulai menaikkan tarif atau mengurangi penerbangan. Harga pupuk juga mulai meningkat, yang dapat berdampak domino pada harga pangan. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Antonius Tomy TrinugrohoEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar